Bab 3 Gratis Novel Religi & Keluarga

Laut yang Menagih Janji

Angka di Meja Ayah

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 3

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Laut yang Menagih Janji

Bab 3

Gratis

Bau debu kapur yang mengendap di ruang tengah terasa lebih tajam malam ini. Aku duduk di atas tikar pandan, memandang meja kayu jati warisan Kakek Haris yang kini dipenuhi tumpukan kertas tagihan berwarna kuning pucat. Di hadapanku, Ayah duduk tegak dengan bahu yang tampak lebih ringkih dari yang kuingat. Tangannya yang kasar, penuh bekas luka bakar akibat solder dan arus pendek, sesekali gemetar saat ia merapikan posisi map di atas meja.

Kinanti duduk di sampingku, punggungnya lurus. Ia hanya mengangguk sopan saat Ayah menyalaminya tadi, sebuah gestur formalitas yang terasa dingin dan berjarak. Ibu berada di sudut ruangan, duduk dengan kepala menunduk. Cahaya lampu gantung yang redup membuat bayangannya tampak memanjang, seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu di balik lipatan kain sarungnya.

"Utang pesantren sudah menyentuh angka dua koma tiga miliar, Raka," suara Ayah memecah keheningan. Ia tidak menatap mataku, melainkan terpaku pada deretan angka yang dicetak tebal di dokumen itu. "Asrama di sisi pantai bukan lagi bangunan, itu hanya tumpukan bata yang perlahan ditelan laut. Kita tidak bisa membiarkannya runtuh lebih jauh."

Aku menarik napas panjang, mencoba menyusun kalimat yang terdengar rasional. Ini adalah momen yang sudah kupersiapkan selama berbulan-bulan di kota. "Yah, kita punya tanah di sisi barat. Empat ribu meter persegi yang hanya ditumbuhi semak belukar. Itu tegalan yang tidak produktif dan tidak tersentuh proyek apa pun selama dua dekade ini. Jika kita menjualnya sekarang, kita bisa melunasi seluruh cicilan dan memperbaiki asrama sebelum musim hujan tiba."

Aku menggeser sebuah sketsa denah di atas meja, berharap Ayah mau melihatnya. Kinanti melirik sketsa itu, lalu beralih menatap tangan Ayah yang tiba-tiba mengepal di atas permukaan kayu yang kasar. Ruangan itu terasa mendadak pengap. Bau laut dari arah jendela yang terbuka membawa aroma amis yang menyesakkan dada.

Ayah tidak langsung menjawab. Ia bangkit berdiri dengan gerakan perlahan, kursi kayunya berderit nyaring di atas lantai semen yang retak. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela, tepat ke arah barat, tempat tanah itu berada. Ia tidak melirik sedikit pun ke arahku atau Kinanti. Sikap diamnya yang membatu itu terasa lebih menakutkan daripada bantahan apa pun yang pernah ia ucapkan selama masa kecilku.

"Ayah," panggilku, suaraku sedikit bergetar.

Belum sempat Ayah membalas, Paman Faiz yang sejak tadi diam di pojok ruangan akhirnya membuka suara. Ia menggeser duduknya, menatap kami dengan pandangan yang sulit diartikan. "Tawaran untuk tanah itu sudah masuk dua hari sebelum kamu sampai di sini, Raka."

Aku terpaku. Kalimat Paman Faiz seolah menjadi tamparan yang membuat udara di ruangan itu mendadak beku. Aku menoleh ke arah Ayah, berharap ia akan membantah atau setidaknya menunjukkan ekspresi terkejut, namun ia tetap mematung. Punggungnya yang lebar itu tampak seperti tembok yang tak berniat membuka pintu bagi siapapun. Kinanti, yang duduk di sampingku, meremas ujung blusnya dengan kuat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu melalui keheningan yang menyesakkan ini.

"Dua hari?" tanyaku pelan, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Siapa yang berani mengajukan penawaran untuk tanah yang bahkan tidak memiliki plang dijual?"

Ayah berbalik perlahan. Matanya yang biasanya memancarkan ketegasan, kini tampak redup, menyimpan lelah yang tak terkatakan. Ia tidak menatapku, melainkan menatap Paman Faiz, seolah ada percakapan rahasia yang sudah mereka selesaikan jauh sebelum aku menginjakkan kaki di dermaga. Paman Faiz, dengan wajah yang teduh namun menyiratkan beban, menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tampak usang. Kertas itu sudah terbuka, memperlihatkan kop surat perusahaan yang membuatku menahan napas.

PT Wibawa Samudra Lestari. Nama itu tertulis dengan huruf tebal yang angkuh di sudut atas surat.

"Mereka tidak butuh plang, Raka," ujar Paman Faiz sambil meletakkan surat itu tepat di tengah meja, di atas denah yang tadi kubawa. "Mereka hanya butuh waktu. Dan tampaknya, waktu yang mereka tunggu sudah tiba saat utang pesantren ini jatuh tempo. Mereka tidak datang sebagai pembeli biasa, mereka datang sebagai pemegang surat utang kita. Tawaran itu bukan sekadar negosiasi harga tanah, itu adalah tuntutan."

Aku meraih surat tersebut. Tanganku gemetar saat membaca klausul-klausul yang tertulis di dalamnya. Bahasanya sangat teknis, dingin, dan mematikan. Mereka tidak hanya menginginkan tanah barat, mereka menginginkan akses penuh atas wilayah pesisir yang selama ini menjadi sandaran hidup nelayan. Jika tanah itu berpindah tangan, maka rencana pembangunan resor yang mereka gadang-gadang akan segera menyapu bersih sisa-sisa perkampungan kami. Kinanti ikut membaca, matanya bergerak cepat mengikuti baris demi baris, wajahnya perlahan memucat.

"Ini jebakan," bisik Kinanti. Suaranya nyaris tak terdengar, namun cukup tajam untuk memecah keheningan ruangan. "Di kantor, aku pernah melihat draf kasar model arus yang mereka buat. Jika tanah barat ini dikuasai dan reklamasi dimulai, bukan hanya asrama yang akan hilang. Seluruh dermaga dan akses melaut warga akan tertutup secara permanen oleh sedimen pasir. Mereka tidak berniat membangun resor, mereka berniat mematikan Karang Asta."

Aku mendongak, menatap Ayah. "Yah, apakah Ayah tahu siapa mereka sebenarnya? Mereka adalah orang-orang yang selama ini kita hindari. Bagaimana mungkin Ayah membiarkan mereka masuk ke dalam urusan pesantren?"

Ayah akhirnya menatapku. Tatapan itu tajam, namun bukan kemarahan yang kulihat di sana, melainkan sebuah kepasrahan yang menyakitkan. "Apa yang bisa aku lakukan, Raka? Aku sudah menjual hampir seluruh alat bengkel kakekmu. Aku sudah mengetuk pintu setiap donatur yang kukenal. Utang ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah tanggung jawab atas tempat di mana anak-anak belajar mengaji dan menghafal Quran. Jika aku harus menukar tanah yang selama ini tidak kita manfaatkan demi keberlangsungan hidup pesantren, apakah itu pilihan yang salah?"

"Tanah itu bukan milik kita untuk dijual, Yah!" sergahku. Aku teringat pesan Kakek Haris di masa lalu, tentang sejarah tanah itu yang selalu ia jaga dengan nyawa dan martabatnya. "Tanah itu adalah tanah koperasi. Ada nama-nama orang tua santri dan warga yang dulu mempercayakan hak mereka kepada Kakek. Kita tidak bisa menjualnya hanya untuk membayar utang yang bahkan bukan disebabkan oleh kesalahan kita."

"Lalu apa maumu?" Ayah membentak, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak. "Membiarkan asrama itu rubuh ke laut? Membiarkan santri-santri kita tidak punya tempat bernaung? Apakah itu yang disebut adab? Apakah itu yang disebut menjaga amanah?"

Ibu, yang sejak tadi terdiam di sudut, perlahan bangkit. Ia meraba dinding dengan hati-hati, sebuah gerakan yang membuatku tersadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan penglihatannya. Ia melangkah mendekati meja, tangannya yang halus menyentuh lengan Ayah dengan lembut. Ayah yang tadinya kaku, seketika melunak. Bahunya turun, dan ia menghela napas panjang yang terdengar seperti sebuah rintihan.

"Pratama," suara Ibu lembut, namun memiliki kekuatan yang mampu menghentikan perdebatan kami. "Jangan buat keputusan dalam keadaan marah. Tanah itu memang tanah yang menagih janji. Tapi bukan janji untuk dijual, melainkan janji untuk dijaga. Jika memang kita harus kehilangan sesuatu, biarlah itu bukan tanah yang menyimpan sejarah perjuangan orang-orang tua kita."

Kinanti berdiri, ia mengumpulkan lembaran-lembaran dokumen yang tadi kubawa dan merapikannya. Ia menatap Ayah dengan pandangan penuh rasa hormat namun tetap tegas. "Pak, izinkan saya melihat dokumen utang itu lebih dalam. Mungkin ada celah hukum yang bisa kita manfaatkan sebelum kita menyerahkan tanah itu. Saya tahu bagaimana cara mereka bekerja, dan saya yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan di balik klausul cessie yang mereka buat."

Ayah terdiam. Ia menatap Kinanti cukup lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah menantu yang baru dikenalnya ini bisa dipercaya. Kemudian, ia mengangguk tipis. Itu adalah gestur persetujuan yang paling mahal yang pernah kulihat darinya. Namun, sebelum kami sempat mengatur langkah selanjutnya, Paman Faiz kembali bersuara.

"Semuanya sudah terlambat, Raka," ucap Paman Faiz. Ia menunjuk ke arah tumpukan kertas di meja, tepat di bawah surat dari PT Wibawa Samudra Lestari. "Tawaran itu bukan tawaran pertama. Mereka sudah mengirimkan notifikasi resmi melalui Kepala Desa Marzuki, tepat dua hari sebelum kamu menginjakkan kaki di pulau ini."

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.