Laut yang Menagih Janji
Bab 4
Udara subuh di Karang Asta terasa lebih menusuk dari biasanya. Aku terjaga saat kegelapan masih memeluk kamar. Tanganku meraba ke samping, mencari tepian meja kayu tempat biasa aku meletakkan kacamata dan jam tangan. Jemariku menghantam permukaan meja yang kosong, kemudian bergeser hingga ujung jari menyentuh permukaan dingin. Aneh. Biasanya lampu baca di sudut ruangan sudah dinyalakan Pratama jika ia bangun lebih dulu. Aku mencoba bangkit, namun kepalaku terasa berat, dan kabut tebal seolah menutupi pandanganku. Aku mencoba berdiri, meraba dinding kayu yang terasa akrab, menuntun langkahku menuju tempat wudhu.
"Emily? Kau sudah bangun?"
Suara Pratama terdengar dari arah sudut ruangan. Ia baru saja masuk melalui pintu penghubung. Aku tertegun, mencoba menetralkan napas agar ia tidak curiga dengan kegagapan gerakku.
"Iya, Mas. Aku kira listrik padam lagi," jawabku sembari berpura-pura membetulkan kerudung. Aku masih belum bisa melihat dengan jelas di mana ia berdiri, hanya bayang-bayang samar yang meliuk di antara cahaya lampu yang mulai berpendar terang.
"Listrik menyala sejak tadi. Mungkin matamu yang lelah," ucapnya pelan. Ia mendekat, jemarinya yang kasar menyentuh bahuku. Aku menahan diri untuk tidak memejamkan mata. "Aku tidak bisa tidur. Ada surat baru yang masuk ke meja kerja tadi malam. Surat dari PT Wibawa Samudra Lestari."
Aku merasakan otot bahuku menegang seketika. Nama perusahaan itu terdengar seperti duri di telingaku. Aku mencoba menatap ke arah sumber suaranya, namun yang kutangkap hanyalah gradasi kelabu yang menyakitkan.
"Mereka mengirim tawaran lagi?" tanyaku, membiarkan suaraku tetap datar meski jantungku berdetak tidak keruan.
Pratama menghela napas panjang. Ia berjalan menjauh, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai kayu yang berderit. "Mereka tidak sekadar menawarkan harga tanah, Emily. Mereka melampirkan draf perjanjian yang menuntut pengosongan lahan barat dalam waktu kurang dari satu bulan. Mereka bahkan sudah menunjuk notaris sendiri untuk memproses peralihan hak tersebut."
Ia berhenti sejenak, lalu terdengar bunyi kertas yang disingkap kasar. Pratama kembali mendekat, kali ini ia berdiri tepat di depanku. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang lelah.
"Ratri Wibawa menandatangani surat itu sendiri," sambung Pratama dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri. "Dia menyebutkan soal penyelesaian utang pesantren sebagai syarat mutlak. Kau tahu, Emily, cara dia menekan kita, cara dia menyebut nama perusahaan itu, nadanya persis sama seperti saat Ayah dulu bercerita tentang orang-orang yang merampas koperasi di tahun 1998. Dingin dan tidak memberi ruang untuk bernapas."
Aku terdiam sejenak. Tanganku yang tadi meraba dinding perlahan turun dan meremas ujung mukena. Nama itu, Ratri Wibawa, bagaikan gema dari masa yang seharusnya sudah terkubur bersama kerangka kayu koperasi lama di gudang belakang. Pratama masih berdiri di sana, di depanku, namun bagi mataku, ia hanyalah siluet yang memudar di antara cahaya lampu kuning yang berpendar tidak stabil. Aku harus berhati-hati. Jika ia menyadari bahwa kegelapan yang kualami bukan sekadar masalah lampu atau kelelahan, maka pertahanan yang kubangun selama berbulan-bulan akan runtuh seketika.
"Mas, duduklah sebentar," ujarku, mencoba menjaga suara agar tetap tenang. Aku menuntun langkahku perlahan, menghafal jarak antara meja kayu dan kursi bambu dengan insting yang mulai menajam. Aku duduk di kursi itu, merasakan permukaannya yang sedikit kasar. Pratama mengikuti, dan aku bisa mendengar suara derit kursi di hadapanku. "Jika mereka sudah menunjuk notaris, berarti mereka merasa memiliki legitimasi yang kuat. Apakah kita sudah memeriksa kembali buku kas yang ditinggalkan Ayah?"
Pratama menghela napas panjang. Aku bisa membayangkan ia sedang memijat pelipisnya, kebiasaan yang ia lakukan setiap kali merasa terhimpit. "Nabil sudah memeriksanya tadi sore. Ada catatan transaksi yang janggal di tahun 1998, tepat sebelum koperasi dinyatakan bangkrut. Namun, Ratri seolah tahu persis di mana titik terlemah kita. Dia tidak hanya membawa utang pesantren sebagai senjata. Dia membawa daftar ahli waris tanah barat yang sudah dia beli haknya. Separuh dari empat puluh anggota koperasi itu sudah menjual hak mereka kepada perusahaannya."
Aku memejamkan mata sejenak, berpura-pura sedang berpikir keras untuk menutupi pandanganku yang semakin kabur. "Separuh? Itu artinya posisi kita sangat lemah di mata hukum."
"Itulah yang membuatku geram," suara Pratama meninggi satu oktaf, ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. "Mereka tidak membeli tanah itu untuk dikembangkan menjadi resor ramah lingkungan seperti yang mereka gembar-gemborkan di media. Mereka membeli tanah itu untuk memutus akses air ke teluk timur. Begitu tanah barat dikuasai, tanggul akan dibangun permanen dan nelayan Karang Asta tidak akan punya lagi alur untuk melaut. Mereka akan dipaksa menjadi buruh di resor yang dibangun di atas kuburan kakek dan nenek mereka sendiri."
Aku meraih tangan Pratama di atas meja. Jemarinya dingin dan gemetar. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan gairahnya ketika bicara soal keadilan, namun kali ini ada kecemasan yang mendalam. "Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi, Mas. Pesantren mungkin punya utang, tapi tanah itu bukan milik pesantren. Tanah itu milik orang-orang yang dulu dipercaya oleh Ayah untuk mengelolanya."
"Aku tahu itu, Emily. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Raka? Dia pulang dengan gagasan rasional tentang menyelamatkan sisanya dengan menjual sebagian. Dia tidak tahu bahwa 'sebagian' yang dia maksud adalah jantung dari kehidupan pulau ini. Dia tidak tahu bahwa kita tidak berhak menjual sesuatu yang bukan milik kita secara mutlak."
Aku mencoba menatap wajahnya, namun yang kulihat hanyalah bintik-bintik cahaya yang menari-nari. Aku harus mengalihkan pembicaraan ini sebelum ia mulai menanyakan kenapa aku tidak menanggapi dokumen-dokumen yang dia tumpuk di meja. Aku berdiri, berpura-pura mengambil air wudhu ke arah kamar mandi yang letaknya sudah kuhafal di luar kepala.
"Nanti setelah salat, kita panggil Raka dan Kinanti," kataku sambil melangkah dengan sangat hati-hati. "Kita harus jujur soal status tanah itu. Kinanti mungkin punya pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana membatalkan klaim legal yang dibangun di atas bukti-bukti yang tidak lengkap. Dia punya akses ke dokumen yang tidak bisa dijangkau orang awam."
Pratama terdiam. Aku tahu ia sedang menimbang-nimbang. Ia selalu sulit mempercayai orang luar, bahkan meski itu adalah calon menantunya sendiri. Namun, pilihan kami sudah sangat terbatas. Aku sampai di depan pintu kamar mandi, menyentuh gagang pintu dengan tangan yang sedikit berkeringat. Aku menoleh ke arah ruang tengah, meski yang kulihat hanya kegelapan yang pekat.
"Mas," panggilku pelan.
"Ya?"
"Jangan biarkan kebencian ini mengalahkan akal sehatmu. Jika kau melawan mereka dengan cara yang sama seperti mereka melawan kita, kita tidak akan pernah menang. Kita hanya akan menjadi bagian dari siklus yang mereka inginkan."
Pratama tidak menjawab. Ia hanya mengembuskan napas panjang, suara yang selalu terdengar seperti ratapan bagi pulau ini. Aku masuk ke kamar mandi, menutup pintu, dan membiarkan air dingin membasuh wajahku. Di balik pintu itu, aku mendengar langkah kakinya yang berat menjauh menuju ruang tengah, kembali menatap tumpukan berkas yang menjerat hidup kami.
Aku bersimpuh di atas sajadah. Tanganku meraba ke depan, mencari posisi yang tepat untuk memulai shalat tahajud. Di tengah keheningan subuh, aku bisa mendengar suara ombak yang menghantam dermaga di kejauhan. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang semakin lambat, sebuah peringatan bahwa waktu kami tidak banyak. Aku mencoba memfokuskan pikiranku pada doa, namun bayangan masa lalu terus berputar di kepala. Aku teringat kembali pada nada bicara Pratama tadi.
Ada sesuatu yang janggal yang baru kusadari saat ia menyebut nama Wibawa. Nadanya bukan sekadar geram atau marah. Itu adalah nada yang sama dengan yang digunakan Ayah, mendiang Kiai Mahfud, saat ia bercerita tentang Haris tua dua puluh empat tahun yang lalu. Nada yang membawa serta trauma, ketidakpercayaan, dan luka yang tak kunjung sembuh. Pratama, suamiku yang selalu berusaha tampil rasional di depan anak-anaknya, ternyata menyimpan dendam yang sama dalam, yang selama ini ia bungkus rapat di balik jurnal dan alat-alat bengkelnya. Dia tidak hanya sedang melawan perusahaan; dia sedang melawan hantu-hantu masa lalu yang menolak untuk beristirahat dengan tenang.



