Laut yang Menagih Janji
Bab 5
Aroma amis laut yang menguap dari perairan timur Karang Asta menyengat hidung. Aku mengayuh perahu kayu milik keluarga dengan ritme yang stabil. Di sampingku, Kinanti duduk dengan posisi kaku, tangannya mencengkeram pinggiran perahu seolah takut deburan ombak kecil akan menelan kami sewaktu-waktu. Di kejauhan, siluet kapal keruk pasir raksasa yang berwarna kuning kusam tampak seperti monster besi yang sedang memakan cakrawala. Suaranya menderu rendah, menggetarkan permukaan air hingga ke dada.
"Itu yang mereka sebut sebagai kemajuan, Raka?" Kinanti bertanya dengan suara lirih. Matanya menatap tajam ke arah pipa-pipa besar yang menjulur ke dasar laut. "Teknologi pengerukan itu tidak hanya mengambil pasir, tetapi juga menghancurkan ekosistem pesisir. Jika arusnya diubah, tidak akan ada lagi tempat bagi ikan untuk berkembang biak."
Aku mengangguk pelan. Aku tahu Kinanti sedang memikirkan dampak lingkungan yang lebih luas, sesuatu yang mungkin belum terpikirkan oleh orang-orang di desa. Ayah selalu bersikeras bahwa kita bisa bertahan dengan cara lama, namun melihat pemandangan di depan mata, aku mulai ragu apakah perahu-perahu nelayan kita masih punya masa depan.
"Ayah menganggap mereka hanya lewat, Kin. Dia tidak ingin percaya bahwa pulau ini bisa dijual begitu saja," jawabku sambil mengarahkan kemudi agar tidak terlalu dekat dengan area terlarang.
Kinanti membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot karena embun garam. "Bukan soal menjual, Raka. Masalahnya adalah siapa yang memegang kendali atas izin pengerukan ini. Aku sudah melihat banyak proyek serupa di Jawa, dan polanya selalu sama. Mereka akan datang dengan janji infrastruktur, lalu meninggalkan pantai yang mati setelah pasirnya habis."
Saat kami hampir mencapai alur nelayan yang biasanya tenang, sebuah perahu kecil meluncur cepat memotong jalur kami. Leman berdiri di haluan dengan wajah merah padam. Ia menghentikan lajunya tepat di depan kami. Tangannya yang kasar segera menyambar jaring yang ada di dek perahunya. Tanpa sepatah kata pun, ia melempar isi jaring itu ke arah perahu kami. Bukan ikan yang jatuh mendarat di dek, melainkan gumpalan lumpur hitam yang berbau busuk dan beberapa kerang yang pecah tak berbentuk.
"Ini hasil tangkapan kami hari ini, Raka!" teriak Leman dengan napas yang memburu. "Bukan ikan, bukan juga rezeki. Hanya sampah sisa pengerukan yang membuat mesin perahuku mati berkali-kali."
Leman meludah ke air, lalu menatap tajam ke arah Kinanti yang terdiam kaku. Ia tidak memedulikan keberadaanku sama sekali. Fokusnya adalah pada perempuan asing yang datang bersama putra sulung keluarga yang dulu sangat dihormati di pulau ini.
Aku tertegun melihat gumpalan lumpur itu menodai lantai kayu perahu kami. Bau amis yang tajam dan menyengat dari sedimen dasar laut yang teraduk itu memenuhi udara, mengalahkan aroma garam yang biasanya menenangkan. Leman masih berdiri di sana, dadanya naik turun dengan kasar, matanya yang tajam menyorot Kinanti seolah-olah dia adalah musuh yang baru saja turun dari kapal keruk di kejauhan.
"Leman, tenanglah," kataku sambil mencoba berdiri, meski keseimbangan perahu terganggu oleh gerakan mendadak tadi. "Kami hanya ingin melihat keadaan. Kami tidak tahu kalau situasinya sudah separah ini."
Leman mendengus kasar. Dia tidak menurunkan pandangannya dari Kinanti. "Jangan berpura-pura tidak tahu, Raka. Kamu datang membawa orang kota yang berpakaian rapi, berbicara tentang data dan analisis, sementara di sini, kami sedang sekarat. Ayahmu sudah cukup membuat kami bingung dengan janji-janji kosong soal tanah yang akan dijaga, tapi sekarang? Sekarang kalian datang dengan membawa orang yang bahkan tahu bagaimana cara melegalkan kehancuran ini."
Kinanti akhirnya bergerak. Dia menyeka cipratan lumpur yang mengenai ujung celananya dengan sapu tangan. Wajahnya pucat, namun ketenangannya tidak runtuh. Dia membalas tatapan Leman dengan keberanian yang membuatku kagum sekaligus khawatir. "Saya mengerti kemarahanmu, Pak Leman. Tapi saya di sini bukan untuk membela proyek itu. Saya datang untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi agar kita bisa mencari jalan keluarnya."
Leman tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat kering dan pahit. "Jalan keluar? Tidak ada jalan keluar dari laut yang sudah mati. Mesin perahuku terbakar kemarin karena pasir yang tersedot ke dalam pompa. Paman saya sudah kehilangan nyawanya di alur ini karena arus berubah akibat pengerukan mereka. Dan sekarang kamu bicara tentang memahami?"
Aku meraih kemudi, mencoba menjaga jarak agar perahu tidak saling berbenturan. "Leman, kami sedang berusaha membatalkan rencana penjualan tanah barat itu. Aku tidak akan membiarkan pesantren dan tanah koperasi jatuh ke tangan mereka."
"Tanah barat?" Leman meludah lagi ke samping perahu. "Kalian pikir tanah itu adalah satu-satunya masalah? Lihat ke arah dermaga sana. Lihat papan reklame besar yang berdiri di sana. Mereka tidak butuh tanah kalian untuk menghancurkan kami. Mereka hanya butuh izin yang sudah ditandatangani oleh tangan-tangan yang dibayar mahal di tingkat kabupaten."
Kinanti tampak menggigil. Aku tahu dia memikirkan berkas yang dia bawa dari kantornya di Semarang. Berkas yang membuktikan bahwa ada manipulasi data dalam kajian lingkungan proyek ini. Namun, rahasia itu adalah pedang bermata dua. Jika dia menggunakannya, dia akan kehilangan pekerjaannya dan menghadapi tuntutan hukum. Jika dia diam, maka kampung ini akan tenggelam dalam ketidakadilan.
"Aku tahu siapa yang mendanai ini semua, Leman," suara Kinanti pelan namun tegas. "Bukan hanya perusahaan yang kamu lihat di papan itu. Ada konsorsium yang lebih besar yang memanipulasi izin lingkungan."
Leman mendekatkan perahunya. Kayu perahu kami beradu dengan suara decit yang ngilu. "Kamu terlalu banyak tahu untuk seseorang yang baru datang beberapa hari. Bagaimana mungkin kamu tahu tentang konsorsium jika kamu bukan bagian dari mereka?"
Aku meletakkan tanganku di pundak tanganku di bahu Kinanti, mencoba melindunginya dari tatapan Leman yang penuh kecurigaan. "Dia tunanganku, Leman. Dia orang yang akan membantuku membongkar ini semua. Kami tidak berada di pihak yang sama dengan mereka."
"Benarkah?" Leman beralih menatapku, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Raka, kamu sudah lama pergi dari sini. Kamu tidak tahu bagaimana desa ini berubah menjadi sarang intrik. Marzuki bukan lagi kepala desa yang dulu kita kenal. Dia sudah menjadi kaki tangan mereka sepenuhnya."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara ombak yang menampar lambung perahu dan deru mesin kapal keruk di kejauhan yang tidak pernah berhenti. Kinanti menarik napas panjang, tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya. Aku bisa melihat jari-jarinya gemetar sedikit, tetapi dia menguatkan diri.
"Leman," panggil Kinanti. "Jika aku bisa membuktikan bahwa izin lingkungan itu cacat secara hukum karena data arus yang dipalsukan, apakah kamu mau membantu kami membawa ini ke pengadilan? Kita butuh bukti di lapangan untuk mendukung data tersebut."
Leman terdiam. Dia memandang kejauhan, ke arah kampung kami yang tampak begitu rapuh dari kejauhan. "Pengadilan? Kita sudah kalah sebelum sidang dimulai, Nak. Mereka punya uang, mereka punya aparat, dan mereka punya tanda tangan kepala desa kita sendiri."
Aku mengangguk, menyadari bahwa apa yang dikatakan Leman benar. Namun, ada sesuatu yang harus diselesaikan. Aku menatap Leman, mencoba mencari kejujuran di matanya. "Leman, kami butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi di balai desa. Marzuki tidak mungkin berani melakukan ini sendirian tanpa dukungan orang-orang perusahaan."
Leman menunduk, menatap jaringnya yang masih tersangkut sisa-sisa lumpur. Kemudian, dengan nada yang sangat dingin, dia berkata, "Kalian ingin tahu? Pergilah ke balai desa nanti malam. Bacalah dokumen izin yang dipajang di papan pengumuman. Di sana tertulis jelas siapa konsultan yang menyusun kajian lingkungan itu, dan nama kantor tempat tunanganmu bekerja tertulis dengan tinta hitam yang tebal."



