Laut yang Menagih Janji
Bab 6
Bau antiseptik menyambut kami saat pintu kaca itu terbuka. Aku menggenggam jemari Zahra, mencari kepastian lewat sentuhan kulitnya yang hangat. Ruangan ini tidak terlalu besar, namun setiap langkah yang kuayunkan terasa begitu berat, seolah lantai yang kupijak melesak ke bawah. Aku berpura-pura sibuk merapikan tas, memastikan naskah revisi buku yang kubawa tersimpan rapi, padahal mataku hanya melihat bayangan kabur yang menari-nari di dinding. Kami datang ke Surabaya dengan alasan urusan penerbitan, sebuah kebohongan yang kupaksakan agar Pratama tidak perlu tahu.
"Mari, Ibu Emily. Silakan duduk di sini," suara dokter Widya terdengar tenang. Ia menyapaku dengan nada yang familiar, seolah kami adalah kawan lama yang baru saja berjumpa setelah sekian lama.
Aku duduk di kursi yang terasa dingin. Zahra menarik kursi di sampingku, napasnya terdengar teratur, namun aku tahu ia sedang memerhatikan setiap gerakan tanganku yang kaku. Aku mencoba menatap ke arah sumber suara, berusaha menjaga agar sorot mataku tidak terlihat kosong atau sekadar menatap titik yang salah di ruangan ini.
"Apa kabarnya, Ibu? Saya sudah membaca bab terakhir yang Ibu kirimkan bulan lalu. Sangat menyentuh tentang bagaimana angin laut bisa mengubah segalanya," ucap dokter Widya sembari mulai menyiapkan alat periksa.
Aku tersenyum tipis, sebisa mungkin menutupi rasa cemas yang merayap di dadaku. "Terima kasih, Dokter. Saya hanya mencoba menulis apa yang saya rasakan di sana. Suasana di pesisir memang selalu membawa banyak cerita yang tak kunjung usai."
"Baik, mari kita mulai pemeriksaan rutinnya," ujar dokter Widya. Ia memintaku mendekat ke mesin pemeriksaan. Cahaya terang tiba-tiba menusuk mata kananku, membuatku meringis pelan. Aku terbiasa dengan kegelapan di rumah, namun cahaya ini terasa terlalu agresif.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi, hanya terdengar suara detak mesin yang ritmis. Zahra diam seribu bahasa di pojok ruangan. Aku bisa merasakan tatapannya yang tajam tertuju pada layar monitor di depan dokter. Tiba-tiba, dokter Widya menghela napas panjang. Ia menjauhkan alat pemeriksa dan melepaskan sarung tangan lateksnya dengan suara yang berderit pelan di keheningan ruang praktik.
"Ibu Emily, saya harus bicara jujur mengenai kondisi mata Ibu saat ini," kata dokter Widya dengan nada yang lebih berat dari sebelumnya. Ia tidak langsung menatapku, melainkan menatap lembar hasil pemeriksaan di tangannya. "Glaukoma ini sudah berada pada tahap lanjut. Sisa lapang pandang Ibu saat ini hanya tinggal empat puluh persen. Kita harus segera mengambil tindakan sebelum sisa yang ada ikut tergerus."
Aku terdiam. Kalimat itu bukan sekadar diagnosis, melainkan vonis yang meruntuhkan benteng pertahanan yang kubangun selama berbulan-bulan. Empat puluh persen. Angka itu terasa seperti sisa air di dalam ember bocor yang terus menetes di musim kemarau panjang. Aku melirik ke arah Zahra. Anak itu mematung, jemarinya terkunci erat di pangkuan, wajahnya pucat pasi. Ia mendengar semuanya. Rahasia yang kupelihara dengan dedikasi seorang penjaga mercusuar kini bocor ke telinga orang lain, tepat di hadapan dokter yang selama ini kuharap bisa menjadi sekutu.
"Zahra, tunggu di luar sebentar ya, Nak," kataku dengan suara yang kuusahakan tetap tenang, meski getaran di dalamnya tak bisa kusembunyikan.
Zahra menggeleng pelan, lalu berdiri dengan langkah kaku. "Tidak, Ibu. Aku akan tetap di sini." Suaranya parau, namun ada ketegasan yang tak lazim di sana. Ia menatap dokter Widya dengan mata yang berkaca-kaca, seolah menuntut jawaban atas ketidakadilan yang menimpa ibunya. Aku hanya bisa menghela napas, membiarkannya tetap berada di sana. Mungkin sudah saatnya ia tahu bahwa dunia orang dewasa tidak selalu tentang apa yang terlihat di permukaan, tetapi tentang bagaimana kita bertahan di balik layar yang gelap.
Dokter Widya membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap kami berdua secara bergantian. "Saya paham ini sulit diterima, Ibu Emily. Namun, glaukoma tidak menunggu kita siap. Saraf mata Ibu terus tertekan, dan jika kita tidak segera melakukan tindakan bedah, kita tidak bisa menjamin sisa penglihatan ini akan bertahan lebih dari satu tahun lagi."
"Apakah ada pilihan lain?" tanyaku pelan, jemariku meraba tepian tas kulit yang sudah mulai mengelupas. Aku teringat Pratama, suamiku yang selalu yakin bahwa setiap masalah punya jalan keluar teknis jika kita mau bekerja cukup keras. Jika dia tahu ini, dia pasti akan menjual apa pun yang tersisa di bengkel untuk membiayai operasi ini, mengabaikan fakta bahwa kami pun tengah berjuang melawan jeratan utang pesantren.
"Untuk tahap lanjut seperti ini, tidak ada jalan lain yang lebih efektif daripada operasi untuk menurunkan tekanan intraokular," jawab dokter Widya. Ia mengambil selembar formulir, menuliskan beberapa catatan di sana, lalu meletakkannya di meja. "Saya tahu Ibu adalah seorang penulis. Ibu pasti tahu bahwa metafora sering kali membantu kita memahami kenyataan, namun di ruang ini, saya harus berbicara dengan bahasa medis yang lugas. Ibu harus jujur kepada keluarga, terutama kepada Bapak Pratama. Beban yang Ibu tanggung sendirian ini hanya akan mempercepat kerusakan saraf mata Ibu akibat stres yang berlebihan."
Zahra melangkah mendekat, ia meraih tanganku. Hangat telapak tangannya menjadi pengingat bahwa aku tidak benar-benar sendirian. "Ibu harus bilang pada Ayah," bisik Zahra. Suaranya pecah di tengah kalimat, namun ada kekuatan yang merambat dari jemarinya ke pergelangan tanganku. "Ayah tidak akan menyalahkan Ibu. Ayah hanya akan marah kalau dia tahu kita menyembunyikan ini dari dia."
Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai keramik yang tampak buram dan bergaris-garis seperti labirin yang tak berujung. Keheningan di ruangan itu menjadi sangat mencekam. Bunyi detak jam dinding seolah terdengar lebih keras dari biasanya, menandai detik-detik yang terbuang percuma. Aku merasa seperti sedang menanti ombak besar yang pasti akan menghantam, namun aku tidak punya perahu untuk berlindung.
"Kalian bisa berdiskusi di rumah," lanjut dokter Widya, kali ini suaranya lebih lembut, nyaris seperti seorang teman yang sedang berbagi rahasia. "Saya tidak akan memaksakan tindakan hari ini, tapi jangan menunda terlalu lama. Karang Asta membutuhkan Ibu, dan saya yakin keluarga Ibu juga demikian."
Setelah kami keluar dari ruang praktik, Surabaya terasa begitu asing. Cahaya lampu kota yang biasanya memukau kini tampak sebagai bauran warna yang menyakitkan. Zahra memapahku menuju taksi, matanya waspada, menjaga setiap langkahku agar tidak tersandung. Di dalam mobil, dia terus menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan melalui jemarinya yang dingin.
"Zahra, kau harus berjanji padaku," kataku saat taksi mulai melaju meninggalkan rumah sakit. "Apapun yang kau dengar tadi, jangan katakan pada siapa pun, termasuk Ayah. Setidaknya sampai buku ini selesai. Aku tidak bisa berhenti sekarang. Aku sudah berjanji pada Rinjani untuk menyerahkan naskah ini bulan depan, dan buku ini adalah satu-satunya cara agar pesantren bisa melunasi utang tanpa harus menjual tanah itu kepada mereka."
Zahra terisak pelan. "Tapi Ibu, bagaimana kalau Ibu benar-benar tidak bisa melihat sama sekali sebelum buku itu selesai? Siapa yang akan menjaga Ibu di sana?"
Aku memandang ke arah jendela taksi, meskipun yang kulihat hanyalah bayang-bayang gelap dan cahaya lampu yang menyilaukan. "Laut tidak pernah bertanya apakah nelayan itu bisa melihat cakrawala atau tidak sebelum ia menelan perahunya, Zahra. Dia hanya menuntut janji untuk tetap melaut. Aku sudah berjanji pada Kiai Mahfud, pada Pak Haris, dan pada tanah itu sendiri bahwa aku akan menceritakan kebenaran tentang koperasi. Jika aku menyerah karena mataku, maka fitnah itu akan tetap abadi."
Sesampainya di penginapan, aku segera membuka laptop. Cahaya layar yang kontras dengan kegelapan kamar membuat mataku perih. Aku mulai mengetik, meraba huruf-huruf di papan ketik dengan hafalan yang sudah mendarah daging. Zahra duduk di lantai, membacakan kembali catatannya tentang kapal keruk yang ia rekam di pelabuhan. Kami bekerja dalam sunyi, dikelilingi oleh tumpukan kertas dan bau kopi yang sudah dingin. Inilah rumah kami sekarang, sebuah ruang sempit di kota asing, di mana kebenaran tentang sebuah pulau diperjuangkan oleh seorang perempuan yang perlahan kehilangan dunianya.
Aku tertegun sejenak saat mencoba membayangkan kembali deburan ombak di tanah barat, suara gesekan pasir yang diangkut kapal, dan aroma garam yang selalu menempel di baju Pratama setiap kali ia pulang dari bengkel. Semuanya terasa begitu nyata, seolah aku bisa menyentuhnya. Namun, saat aku memejamkan mata, hanya kegelapan yang menyambut. Aku bertanya-tanya, apakah ingatan adalah satu-satunya cahaya yang tersisa untukku. Di sela-sela ketikan, aku teringat pertanyaan dokter Widya tadi sebelum kami keluar. Dia telah memegang naskah bab pesisir yang kukirim, menatapku dengan tatapan menyelidik yang membuat bulu kudukku berdiri. Dia bertanya apakah bab tentang pesisir yang begitu hidup itu ditulis dengan penglihatan yang sudah seperti ini.



