Laut yang Menagih Janji
Bab 7
Aroma kayu tua dan debu yang mengendap di ruang tamu Darul Hikmah terasa lebih mencekik hari ini. Aku duduk di kursi kayu jati yang kakinya sudah tidak rata, sementara Bapak duduk tegak di seberangku, menatap pintu depan dengan rahang mengeras. Suara mesin mobil berhenti di halaman, diikuti derap langkah kaki yang mantap namun berhati-hati. Ketika pintu terbuka, sosok perempuan dengan setelan formal warna krem melangkah masuk. Ratri Wibawa tidak membawa pengawal atau rombongan. Ia hanya datang sendiri, membawa tas kulit tipis dan sikap tenang yang justru membuat bulu kudukku berdiri.
"Assalamu alaikum," ucapnya pelan. Ia tidak langsung melangkah lebih dalam, melainkan menunggu jawaban Bapak yang butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk sekadar mengangguk.
"Wa alaikum salam. Anda Ratri?" tanya Bapak. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman tertahan.
"Iya, Pak Pratama. Terima kasih sudah menerima saya," jawab Ratri. Ia menoleh ke arahku, melemparkan senyum tipis yang terasa profesional, bukan ramah. Dia duduk dengan sopan di kursi yang kutunjuk, tangannya terlipat di atas pangkuan.
Bapak tidak menawarkan minum. Dia malah menyilangkan tangan di dada. "Langsung saja. Kami tidak punya banyak waktu untuk basa-basi proyek resor atau semacamnya."
Ratri mengangguk mengerti. Dia membuka tasnya, mengeluarkan map biru, tapi tidak membukanya terlebih dahulu. "Saya di sini bukan untuk memaksa. Saya tahu posisi pesantren sedang sulit dengan utang dua koma tiga miliar itu. Kami bisa melunasinya besok pagi. Sebagai gantinya, kami hanya meminta hak atas tanah di sisi barat."
Bapak tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Tanah itu bukan milik kami untuk dijual. Itu tanah koperasi. Kakek saya, Pak Haris, sudah dituduh mencuri dana itu selama dua puluh tahun. Sekarang, Anda datang membawa uang untuk membeli tanah yang bahkan tidak bisa Anda buktikan pemiliknya secara sah?"
Ratri tidak goyah. Dia menatap Bapak dengan sorot mata yang tajam namun penuh hormat. "Saya tahu apa yang terjadi pada Pak Haris di tahun sembilan puluh delapan. Saya tahu dosa keluarga saya di masa lalu. Saya di sini untuk meluruskan, Pak Pratama. Tanah itu akan saya beli secara legal dari koperasi, bukan dari yayasan, agar pesantren tidak lagi terbebani utang dan nama baik Pak Haris bisa dibersihkan melalui kompensasi yang layak."
Bapak berdiri tiba-tiba, kursi kayunya berdecit kasar di atas lantai semen. "Membersihkan nama? Anda pikir nama baik bisa dibeli dengan cek tunai? Anda persis seperti mereka yang dulu datang dengan janji manis di atas kertas."
Bapak berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan aku dan Ratri dalam keheningan yang canggung. Ratri menghela napas panjang, lalu menyodorkan map biru itu kepadaku.
Tanganku gemetar saat menyentuh sampul map plastik yang dingin itu. Aku belum sempat membuka mulut untuk meminta maaf atas sikap Bapak, namun Ratri sudah lebih dulu menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Dia tidak tampak marah atau tersinggung oleh kepergian Bapak yang kasar. Justru, dia terlihat seperti seseorang yang sedang menjalankan tugas yang sudah ia hafal di luar kepala. Keheningan di ruang tamu ini terasa semakin berat karena suara deburan ombak di kejauhan seolah ikut menekan dinding-dinding kayu Darul Hikmah.
"Ayahmu adalah laki-laki yang teguh," kata Ratri pelan, suaranya memecah kesunyian. "Tetapi keteguhan tanpa kompromi sering kali menjadi tembok yang justru memenjarakan pemiliknya sendiri. Dia tidak perlu membenci saya untuk menyelamatkan pesantren ini, Raka."
Aku tidak menjawab. Aku menunduk, menatap map di tanganku. Nama perusahaan yang tercetak di sudut map itu, Wibawa Samudra Lestari, tampak asing sekaligus menakutkan bagi siapa pun yang tinggal di Karang Asta. Aku merasa seperti sedang memegang bom waktu. Kinanti sudah mengingatkanku berulang kali bahwa urusan dengan mereka tidak akan pernah sesederhana jual-beli tanah. Ada jejak-jejak masa lalu yang tertanam jauh di bawah pasir pantai barat, dan sekarang, perwakilan dari keluarga yang pernah memfitnah kakekku justru duduk di hadapanku, menawarkan jalan keluar yang seharusnya membuatku merasa lega, namun justru membuat dadaku sesak.
"Saya tidak datang sebagai musuh," lanjutnya, kali ini nadanya sedikit lebih rendah, hampir seperti berbisik. "Saya tahu apa yang kalian lakukan di sini. Saya tahu tentang usaha kalian merintis kembali rumah belajar, tentang utang yang melilit pesantren, dan tentang ketidakmampuan kalian untuk membebaskan tanah itu dari status sengketa. Saya hanya ingin membantu. Saya bisa memastikan utang itu lunas, dan saya bisa memastikan tanah itu memiliki status hukum yang jelas melalui musyawarah dengan ahli waris koperasi yang tersisa. Saya tidak akan mengambil tanah itu secara paksa."
Aku mendongak, menatap matanya yang tenang. "Bagaimana Anda bisa begitu yakin kami akan sepakat? Setelah semua yang terjadi, setelah bapak saya kehilangan bengkelnya hanya karena tidak mau menjual tanah itu?"
Ratri tersenyum tipis. Senyum itu tidak tampak menghina, justru terlihat lelah. "Karena saya tahu, suatu saat nanti, kalian akan kehabisan pilihan. Dan saya ingin saat itu tiba, kalian tahu bahwa ada seseorang yang benar-benar menghormati kakekmu, Pak Haris. Dia adalah orang yang jujur, Raka. Hanya saja, dia berada di tangan orang yang salah pada waktu yang salah."
Dia bangkit dari kursinya, merapikan setelan kremnya yang tampak kontras dengan suasana pesantren yang sederhana dan berdebu. Dia tidak menunggu aku mempersilakannya pergi. Dia tahu kapan harus mengakhiri percakapan ini sebelum emosi Bapak benar-benar meledak jika kembali lagi ke ruangan ini. Aku berdiri, secara refleks melakukan gestur untuk mengantarnya, namun dia memberi isyarat agar aku tetap duduk.
"Simpan map itu," katanya sambil melangkah menuju pintu. "Baca dengan teliti. Saya tahu kamu punya ide bagus soal bagaimana tanah itu bisa dikelola tanpa harus mengubahnya menjadi beton yang mati. Mungkin kamu akan menemukan bahwa kita sebenarnya tidak terlalu berbeda dalam memandang masa depan pulau ini."
Aku mengikuti langkahnya sampai ke ambang pintu. Di luar, matahari mulai condong ke barat, melemparkan cahaya keemasan yang pucat ke arah dermaga. Mobil Ratri sudah menanti di halaman. Tanpa menoleh lagi, dia masuk ke dalam kendaraannya dan meluncur pergi, meninggalkan debu yang beterbangan di udara. Aku kembali ke kursi, napas tertahan di tenggorokan saat aku meletakkan map itu di atas meja kayu yang kasar.
Tanganku sedikit bergetar ketika jemariku menarik klip pengikat map tersebut. Aku tidak berharap menemukan apa pun selain draf kontrak jual beli yang standar atau mungkin daftar aset koperasi yang sudah mereka beli. Namun, saat helai demi helai kertas di dalamnya terungkap, mataku melebar. Napas seakan terhenti di kerongkongan. Di dalam map itu, tidak ada dokumen hukum yang berat atau sertifikat tanah. Yang ada hanyalah sebuah proposal yang terjilid rapi. Aku mengenal sampul itu. Aku mengenal tata letak tulisannya, font yang kupilih, bahkan beberapa revisi kecil yang kupikir hanya tersimpan di dalam laptop pribadiku yang sering mengalami error.
Itu adalah proposal pengembangan kawasan terbatas yang pernah aku susun sebagai latihan pribadi, sebuah konsep di mana tanah barat dipertahankan sebagai zona ekosistem yang terintegrasi dengan pesantren, tanpa resor, tanpa reklamasi, dan tanpa penggusuran. Aku belum pernah mengirimkan draf ini kepada siapa pun. Aku belum pernah menunjukkannya bahkan kepada Kinanti, karena aku sendiri merasa itu hanyalah mimpi yang terlalu idealis untuk diterapkan. Namun, di sini, di tanganku, proposal itu sudah ada.
Lengkap dengan catatan tangan di bagian margin yang berisi kritik teknis dan saran penguatan yang sangat tajam, seolah-olah seseorang telah mengintip isi kepalaku selama berbulan-bulan. Di bawah catatan itu, tertera inisial yang kukenali dengan sangat baik. Ratri tidak hanya tahu siapa kakekku. Dia tahu persis apa yang sedang aku rencanakan, dan dia telah menyimpan draf yang bahkan tidak pernah meninggalkan ruang kerjaku.



