Bab 8 Gratis Novel Religi & Keluarga

Laut yang Menagih Janji

Proposal yang Bocor

3 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 8

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Laut yang Menagih Janji

Bab 8

Gratis

Aku meletakkan cangkir kopi yang sudah dingin di atas meja kayu. Di hadapanku, Raka dan Kinanti duduk bersebelahan, tampak seperti dua orang asing yang terperangkap dalam ruangan yang sama. Raka masih memegang map biru yang diberikan Ratri Wibawa sore tadi. Matanya menatap lantai, sementara Kinanti gelisah memainkan ujung kerudung. Bau tanah basah yang terbawa angin dari jendela terbuka terasa begitu pekat, bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang selalu menyengat di ruang kerja ini.

"Katakan padaku, Raka. Bagaimana mungkin draf yang kau simpan di dalam laci terkunci bisa berpindah tangan ke orang luar?" suaraku memecah keheningan. Aku tidak menatap mereka tajam, karena memang sulit membedakan ekspresi wajah mereka dengan jelas akhir-akhir ini. Aku hanya bisa mengandalkan suara dan nada bicara.

"Bu, ini hanya kesalahpahaman teknis. Mungkin ada kebocoran sistem di kantor," sahut Raka dengan nada membela. Ia tidak berani menoleh pada ayahnya yang sedang berdiri mematung di sudut ruangan, membelakangi kami.

Aku beralih pada Kinanti. "Dan kau, Kinanti. Kau bekerja di Tirta Cipta Nusantara. Apakah kau pernah membahas rencana ini sebagai studi kasus di kantormu?"

Kinanti terdiam cukup lama. Napasnya terdengar memburu. Ia meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya memang pernah membicarakannya, Bu. Saat itu kami sedang membahas proyek reklamasi di wilayah pesisir. Saya hanya ingin mencari pendapat kedua yang lebih profesional untuk menimbang gagasan Raka. Saya tidak tahu jika draf itu akan disalin dan dijadikan senjata oleh PT Wibawa Samudra Lestari."

"Itu bukan sekadar senjata, Kinanti. Itu adalah peta kekalahan kita," potong Pratama dengan suara rendah yang menggetarkan meja. Ia berbalik, wajahnya yang penuh gurat lelah tampak kaku.

"Ibu, Kinanti tidak bermaksud buruk. Dia hanya ingin membantu kita keluar dari lilitan utang ini dengan cara yang masuk akal," Raka berdiri, suaranya naik satu oktaf.

Aku berdiri perlahan, merasakan pening yang menyengat di pelipis kanan. Aku tidak ingin mendengar pembelaan itu lagi. Aku melangkah keluar menuju meja tulisku, mengambil jurnal bersampul kulit tua. Tanganku gemetar saat membuka halaman kosong. Aku mengambil pena, menuliskan setiap kata dengan goresan yang lebih tebal dan besar dari biasanya, sebuah upaya sia-sia agar aku bisa tetap membaca apa yang kutulis meski pandanganku mulai memudar menjadi kabut kelabu. Aku menulis tentang rasa kecewa yang tidak bisa kusampaikan dengan suara, tentang bagaimana rumah ini perlahan kehilangan rahasianya sendiri karena ketidaktelitian anak-anak yang merasa sudah dewasa.

Aku menulis dengan penekanan pena yang sangat kuat hingga kertas di bawahnya terasa berlubang. Mataku mulai lelah mengejar bayang-bayang huruf, namun kegelisahan ini menuntut untuk dituangkan ke atas kertas. Setiap kali kulihat Pratama berdiri mematung di dekat jendela, hatiku terasa tertusuk. Ia bukan lagi pria yang dulu datang dengan laptop tua dan mimpi membangun kelas rakyat. Sekarang, ia adalah pria yang menua dengan ketakutan yang ia bungkus dengan kemarahan. Raka masih mencoba menjelaskan sesuatu pada ayahnya, sementara suara Kinanti yang bergetar terdengar seperti dengungan lebah di telingaku. Aku tidak peduli pada penjelasan mereka lagi. Yang kupedulikan adalah bagaimana rumah yang kami bangun dengan keringat selama dua puluh tahun ini perlahan-lahan runtuh oleh niat baik yang tidak pada tempatnya.

"Ayah, kita tidak bisa selamanya menutup mata pada realita finansial yang ada," suara Raka terdengar lebih tenang sekarang, namun tetap penuh dengan tekanan. "Jika kita tidak punya rencana cadangan, maka PT Wibawa Samudra Lestari akan mengambil semuanya tanpa sisa. Setidaknya dengan proposal yang kubuat, kita masih punya kontrol atas tanah barat."

Pratama tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, suara yang selalu terdengar seperti tiupan angin di celah-celah rumah kapur yang mulai retak. Aku mendengar bunyi gesekan kursi kayu saat Pratama berbalik. Ia berjalan mendekat ke arahku, langkahnya berat. Aku segera menutup jurnal itu setengah jalan, lalu meletakkan pena di atasnya. Aku tidak ingin Pratama melihat apa yang baru saja kutulis. Penglihatanku yang semakin kabur membuat ruang di sekitarku tampak seperti lukisan cat air yang luntur terkena hujan.

"Raka, kau tidak mengerti," suara Pratama kini terdengar parau. "Tanah itu bukan sekadar aset yang bisa kau bagi dalam draf di komputermu. Itu adalah amanah yang di dalamnya tertanam sejarah yang tidak tertulis di buku-buku ekonomi. Ketika kau membawa proposal itu ke luar rumah, kau bukan hanya membawa rencana. Kau membawa kunci gembok rumah tetanggamu dan menyerahkannya kepada orang yang ingin meruntuhkannya."

Kinanti terisak kecil. Aku tahu ia merasa tersudut. Dia adalah orang luar yang masuk ke tengah badai yang sudah berlangsung jauh sebelum dia mengenal Raka. Sebagai menantu, dia berusaha melakukan yang terbaik, namun dia melakukan kesalahan fatal dengan membawa masalah dapur kami ke meja kantor yang dipenuhi orang-orang berkepentingan. Aku ingin membelanya, tapi rasa sakit di mataku membuat amarah lebih mudah muncul daripada empati.

"Kita semua lelah," kataku, suaraku terdengar lebih dingin dari yang kuinginkan. "Raka, hentikan perdebatan ini. Malam sudah larut. Zahra pasti sudah menunggu di kamar."

"Tapi Bu, kita harus memutuskan sesuatu," Raka menolak menyerah.

"Keputusan sudah dibuat saat kau menyerahkan masa depan kita ke tangan mereka, Raka," Pratama memotong dengan tajam. Ia kemudian melangkah keluar ruangan, meninggalkan kami dalam keheningan yang menyesakkan. Suara pintu kayu yang tertutup rapat menjadi penutup pembicaraan yang tidak membuahkan hasil apa pun.

Aku berdiri dengan susah payah, meraba sisi meja untuk menyeimbangkan tubuh. Kakiku terasa berat, seolah lantai rumah ini pun ikut menolak keberadaanku. Aku berjalan menuju kamar, meninggalkan Raka dan Kinanti yang masih berdiri mematung di ruang kerja. Kinanti menatapku dengan mata sembab, mungkin mengharap sebuah kata penenang, namun aku tidak bisa memberikannya. Aku sendiri sedang berjuang untuk tidak tersesat di dalam rumahku sendiri karena bayang-bayang kabur yang menutupi pandanganku.

Setelah aku masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang, aku merasa sesak. Penyakit ini, glaukoma yang terus menggerogoti saraf mataku, bukan hanya mencuri penglihatanku. Ia mencuri kesabaranku. Aku teringat pada dr. Widya yang menatapku dengan iba di Surabaya. Dia tahu bahwa menulis adalah caraku tetap waras, namun dia juga tahu bahwa setiap huruf yang kutulis adalah taruhan bagi sisa fungsi mataku. Aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan yang sesungguhnya mengambil alih. Dalam gelap, aku lebih bisa melihat wajah masa lalu. Wajah Pak Haris yang tenang saat ia difitnah, wajah Pratama yang muda dan penuh harapan, dan kini wajah Raka yang kebingungan.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah ruang kerja yang baru saja kutinggalkan. Aku lupa membawa jurnal itu. Aku berniat bangkit, namun tubuhku terasa sangat lelah. Aku membiarkannya. Biarlah mereka tahu apa yang kupikirkan. Mungkin dengan cara itu, mereka akan mengerti bahwa ujian yang kuberikan pada Kinanti bukan sekadar permainan, melainkan sebuah bentuk proteksi yang tidak bisa mereka pahami.

Suara langkah kaki itu berhenti. Keheningan menyelimuti rumah, diselingi suara jangkrik di luar jendela dan deburan ombak Karang Asta yang sayup-sayup terdengar. Aku membayangkan Kinanti yang kini berdiri di meja kerja, tangannya yang gemetar menyentuh sampul kulit jurnal tersebut. Dia pasti penasaran dengan apa yang kutulis tentangnya. Dia pasti mengira aku adalah mertua yang kejam yang menyimpan catatan rahasia tentang kegagalan-kegagalannya.

Aku menunggu. Aku menunggu apakah dia akan berteriak, atau menangis, atau mungkin dia akan memilih untuk pergi setelah membaca apa yang kucatat di halaman terakhir. Di sana, aku menuliskan segalanya. Aku menulis tentang bagaimana aku mengamati gerak-geriknya, cara dia menatap peta, cara dia menyembunyikan rasa takutnya pada penggusuran, dan bagaimana aku mencoba menguji apakah dia benar-benar pantas menjadi bagian dari keluarga yang sedang berjuang ini.

Aku mendengar suara napas Kinanti yang tertahan. Lembaran kertas jurnal itu bergeser, suara gesekan yang sangat pelan namun terdengar keras di telingaku. Dia sedang membaca halaman terakhir itu. Aku bisa membayangkan matanya membelalak, jemarinya meremas tepi kertas. Kalimat yang kutulis di sana adalah kejujuranku yang paling pahit. Di balik tirai kamar, aku menunggu reaksi selanjutnya. Namun hanya keheningan yang menyambut. Kinanti diam terpaku saat membaca kalimat terakhir yang tertulis dengan goresan pena yang hampir menembus kertas, "aku menguji anak ini, dan aku tidak suka diriku sendiri karenanya".

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.