Bab 9 Gratis Novel Religi & Keluarga

Laut yang Menagih Janji

Musyawarah yang Terbelah

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 9

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Laut yang Menagih Janji

Bab 9

Gratis

Udara di dalam balai desa terasa pengap, bercampur dengan aroma keringat dan bau amis sisa pasang laut yang menempel di jaket para nelayan. Aku duduk di barisan depan, tepat di sisi meja kayu yang permukaannya sudah dimakan rayap. Di seberangku, Marzuki berdiri dengan senyum yang dipaksakan. Dia baru saja membacakan daftar lowongan kerja untuk proyek reklamasi, seolah-olah tawaran itu adalah sebuah anugerah bagi warga yang kehilangan alur laut mereka. Di sudut ruangan, Leman berdiri dengan tangan terlipat di dada. Enam puluh nelayan di belakangnya tidak mengeluarkan suara, namun tatapan mereka tajam, menghujam langsung ke arah papan tulis yang memuat denah perluasan pantai.

"Kalian semua tahu, laut bukan lagi milik kita jika kita membiarkannya mati perlahan," ucap Leman. Suaranya rendah tapi memenuhi seluruh sudut balai. Tidak ada teriakan, hanya ketegangan yang menekan dada.

Marzuki terkekeh, meski tangannya sedikit gemetar saat menyentuh tumpukan kertas. "Jangan naif, Leman. Kita butuh uang untuk memutar roda ekonomi desa. Utang yayasan bukan hal yang bisa dibayar dengan doa saja."

Kepala desa itu kemudian menoleh ke arahku. Dia memberikan isyarat dengan dagunya. "Raka, kamu yang baru pulang dari kota. Kamu paham bagaimana dunia luar bekerja. Jelaskan pada mereka, apakah bertahan di sini tanpa modal akan membawa kita ke mana-mana?"

Aku berdiri perlahan. Kursi kayu itu berderit nyaring, memecah keheningan yang menyesakkan. Tanganku dingin, meski udara di dalam balai begitu panas. Aku sudah menyiapkan argumen rasional tentang efisiensi, tentang menyelamatkan sisa tanah barat agar aset pesantren tidak disita sepenuhnya. Bagiku, ini adalah matematika sederhana. Bagiku, ini adalah cara terakhir untuk menjaga agar Darul Hikmah tidak benar-benar lenyap.

"Menurut hitungan saya, menjual sebagian kecil tanah barat adalah langkah taktis," kataku dengan suara yang kuusahakan tetap tenang. "Dengan dana itu, kita bisa melunasi kewajiban dan membiayai renovasi asrama. Kita menyelamatkan yang utama dengan mengorbankan yang kurang krusial."

Suara riuh langsung memecah suasana. Beberapa nelayan mulai bersorak, menyoraki kata-kataku seolah aku baru saja mengkhianati mereka. Leman memandangku dengan ekspresi kecewa yang dalam. Aku merasa seperti orang asing di tanah kelahiranku sendiri, seseorang yang membawa logika kota ke dalam ruang yang hanya mengerti soal harga diri dan warisan leluhur.

"Itu tanah bukan untuk diperjualbelikan, Raka!" sahut seorang nelayan dari sudut balai. Sorakan itu semakin keras, menutupi penjelasanku yang belum selesai. Aku berusaha tetap berdiri tegak, mencoba mencari dukungan dari barisan belakang tempat ayahku duduk di antara kerumunan warga yang mulai terbakar amarah.

Aku menoleh ke arah barisan kursi paling belakang. Di sana, di antara bayang-bayang tiang balai yang tidak tersentuh lampu neon, Ayah duduk dengan punggung tegak yang kaku. Rambut putihnya tampak kontras dengan dinding balai yang kusam. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun memegang kunci inggris dan obeng kini terlipat di atas pangkuan. Dia tidak menatapku. Matanya tertuju pada papan tulis di depan, pada denah yang digambar Marzuki dengan garis-garis tebal yang memotong akses nelayan ke laut timur.

"Dengar, Bapak-bapak," suaraku mulai serak, berusaha menembus bising protes yang kian menjadi. "Saya mengerti kekhawatiran kalian. Tanah itu memang punya sejarah, tapi kita sedang membicarakan kelangsungan asrama. Kalau kita tidak melakukan sesuatu sekarang, tanah itu bukan hanya akan berpindah tangan, tapi kita akan kehilangan hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Saya membawa solusi yang bisa dihitung secara teknis. Kita bisa mengamankan sertifikat untuk tanah sisanya jika kita melepaskan bagian barat yang memang sudah terbebani utang."

Leman melangkah maju. Dia tidak lagi menjaga jarak. Dia berdiri tepat di depanku, menghalangi pandanganku ke papan tulis. Napasnya berat, bau garam dan keringat menyengat hidungku. "Kamu bicara tentang hitungan teknis, Raka. Tapi apa kamu pernah menghitung berapa kali Kakek Haris sujud di tanah itu sebelum dia difitnah? Apa kamu pernah menghitung air mata nelayan yang sujud syukur di sana saat hasil tangkapan melimpah? Tanah itu bukan komoditas. Itu adalah harga diri kami yang tersisa setelah laut kalian keruk habis-habisan."

Suasana balai semakin tidak terkendali. Beberapa orang mulai berdiri. Mereka tidak lagi mempedulikan sopan santun musyawarah desa. Pak Marzuki, yang tadi sempat tersenyum penuh kemenangan, kini tampak pucat. Dia tahu situasi ini bisa berubah menjadi kerusuhan kapan saja. Dia mencoba mengetuk meja kayu dengan botol air mineral, tapi suaranya kalah oleh riuh umpatan dan bantahan.

"Raka, turun! Jangan jual tanah leluhur!" seseorang berteriak dari pintu masuk. Itu adalah salah satu nelayan tua yang dulu pernah belajar membaca di bawah bimbingan Kiai Mahfud.

Aku merasa kepalaku berdenyut. Aku hanya ingin membantu. Aku ingin membawa rasionalitas ke tempat yang sudah terlalu lama digerogoti mitos dan sentimentil masa lalu. Kinanti benar tentang satu hal, bahwa orang-orang di sini akan melihat setiap tawaran sebagai bentuk pengkhianatan. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Beban utang itu nyata. Angka dua koma tiga miliar itu bukan ilusi. Jika kami tidak bertindak, yayasan akan runtuh.

Aku kembali menatap Ayah. Dia masih di sana, di barisan belakang. Tiba-tiba, gerakannya menarik perhatianku. Dia tidak lagi duduk dengan tenang. Tangannya yang gemetar perlahan menekan kursi kayu di depannya. Aku melihat otot lehernya menegang. Dia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang sangat dalam, seolah dia sedang menghirup seluruh udara pengap di balai ini untuk terakhir kalinya.

Aku menghentikan kalimatku. Suasana mendadak hening. Orang-orang di sekitarku menyadari ada sesuatu yang terjadi di belakang. Leman juga menoleh, mengikuti arah tatapanku. Ayah berdiri. Dia tidak melihat ke arahku, tidak juga melihat ke arah Marzuki atau nelayan yang berteriak. Dia menatap ke arah pintu keluar, ke arah laut yang gelap di balik dinding-dinding balai yang mulai rapuh.

Dia melangkah tenang, namun langkahnya begitu berat dan berwibawa sehingga kerumunan nelayan di barisan belakang secara spontan bergeser untuk memberinya jalan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dia tidak membela gagasanku, tapi dia juga tidak mendukung Marzuki. Dia hanya berjalan melewati mereka, langkahnya teratur, meninggalkan aroma bengkel tua yang selalu melekat pada pakaiannya.

Saat bahunya menembus pintu kayu, seluruh balai terdiam. Kepergiannya terasa seperti sebuah pemutusan hubungan. Dia tidak menunggu jawabanku, tidak menunggu perdebatan selesai, dan tidak sudi lagi berada dalam ruangan yang menawar-nawarkan tanah warisan. Bagiku, itu adalah sikap ayah yang keras kepala. Namun bagi nelayan dan warga yang hadir di sana, kepergian Pratama adalah sebuah pernyataan mutlak. Mereka menafsirkan punggung yang menjauh itu sebagai jawaban final dari pesantren: tidak ada negosiasi, tidak ada penjualan, dan tidak ada masa depan yang dibangun di atas tanah yang digadaikan.

Aku terpaku di depan meja. Proposal di tanganku terasa tidak berguna, selembar kertas yang kehilangan konteksnya. Marzuki tampak kehilangan pegangan, wajahnya kini berubah cemas karena tahu bahwa tanpa dukungan Pratama, rencana reklamasi yang ia tandingan yang ia siapkan akan menemui jalan buntu. Leman menatap pintu keluar yang masih terbuka, lalu menatapku dengan sorot mata yang sulit kujelaskan. Itu bukan lagi kebencian. Itu adalah rasa kasihan.

"Kamu sudah dengar jawaban ayahmu, Raka," bisik Leman. Suaranya tidak lagi menantang, melainkan dingin dan datar. "Sekarang, apa lagi yang akan kamu bawa ke sini?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap debu yang beterbangan di sela-sela cahaya lampu, menyadari bahwa apa yang tadi aku anggap sebagai penyelamatan, bagi orang lain di ruangan ini hanyalah sebuah upaya penghancuran. Ayah tidak hanya pergi meninggalkan balai desa, dia telah membawa pergi legitimasi yang selama ini coba kupaksakan dalam setiap rancangan teknis yang kubawa dari kota. Di luar sana, suara ombak menghantam dermaga dengan irama yang lebih keras, seolah laut sedang tertawa melihat upayaku yang sia-sia.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.