Laut yang Menagih Janji
Bab 10
Cahaya lampu ruang tamu terasa lebih menyilaukan dari biasanya. Aku menghitung langkah dari kursi kayu dekat jendela menuju meja makan kayu jati yang sudah dipoles ulang pagi tadi. Setiap sudut furnitur ini adalah hafalan, sebuah peta tak terlihat yang kubangun di dalam kepala saat mataku mulai kehilangan ketajaman detail. Ayah Kinanti, Pak Bambang, duduk di seberang Pratama yang tampak kaku seperti kayu yang baru dikeringkan.
"Kopi ini sangat enak, Pak Pratama," ujar Pak Bambang seraya meletakkan cangkir porselen dengan perlahan. Suara denting porselen yang beradu dengan tatakan adalah satu-satunya tanda bahwa suasana di ruangan ini sedang diisi oleh sesuatu selain ketegangan.
Pratama mengangguk tipis. Tangannya yang kasar terlipat di atas meja. "Itu kopi lokal dari kebun belakang, Pak. Bukan kopi kemasan yang biasa ditemui di kota," sahut suamiku dengan nada datar. Aku tahu dia sedang menahan diri agar tidak meledak soal tawaran tanah yang sempat Raka diskusikan tanpa sepengetahuannya.
Aku menuangkan teh ke cangkir ibu Kinanti. Tanganku sedikit bergetar, namun segera kusembunyikan dengan menarik napas panjang. "Silakan dinikmati, Bu. Rumah kami mungkin tidak semegah yang Ibu bayangkan, tapi kami selalu menghargai tamu yang datang dengan niat baik," ucapku dengan senyum yang kuusahakan terlihat tenang. Aku tidak berani menatap langsung wajah mereka, takut bayangan kabur yang selama ini kusembunyikan akan terbaca oleh tatapan iba.
Ibu Kinanti tersenyum hangat, namun matanya menatap berkeliling ruang tamu dengan cemas. "Kami hanya ingin yang terbaik untuk Raka dan Kinanti. Mereka sudah dewasa, dan kami percaya mereka tahu cara membangun masa depan," katanya sambil melirik ke arah anak gadisnya yang duduk diam di sisi Raka.
Pak Bambang berdeham, lalu menatap Pratama lurus. "Saya tahu rasanya mempertahankan tanah, Pak Pratama. Dulu, di kampung halaman saya, kami kehilangan segalanya karena proyek waduk. Tanah warisan kakek saya raib dalam semalam karena klaim pembangunan demi kemajuan," suaranya merendah, sarat dengan kepahitan yang nyata. "Saya tidak ingin hal itu terulang pada anak saya. Saya hanya ingin memastikan bahwa mereka tidak perlu menanggung beban utang atau sengketa yang tidak mereka mulai."
Pratama menegakkan punggung. Dia tidak memberikan jawaban emosional seperti yang kubayangkan. "Tanah ini bukan sekadar properti, Pak Bambang. Ini adalah amanah yang di dalamnya tertanam jejak hidup orang-orang yang tidak pernah mengkhianati tanahnya sendiri," jawabnya dingin.
Aku menghela napas, merasa atmosfer di ruangan ini semakin berat. Aku harus mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin panas. Namun, Pak Bambang justru condong ke arahku, suaranya kini nyaris berupa bisikan yang hanya bisa kudengar. "Emily, saya tahu sesuatu yang mungkin perlu Anda ketahui tentang tempat kerja menantu Anda," ucapnya pelan.
Aku merasakan jemariku mencengkeram kain taplak meja. Pak Bambang masih mencondongkan tubuh, bau samar rokok cengkeh dari pakaiannya terbawa angin yang masuk dari celah jendela. Di sampingnya, Pratama masih diam membatu, wajahnya yang penuh guratan lelah tampak tidak peduli dengan bisikan yang baru saja dilontarkan lelaki itu. Aku mencoba mengolah setiap kata, menimbang maknanya di balik kabut yang kini menyelimuti pandanganku. Jika benar apa yang dikatakan Pak Bambang, maka keterlibatan Kinanti dalam kajian lingkungan bukan sekadar ketidaksengajaan administratif. Ada pola yang lebih dalam, sebuah lingkaran yang entah bagaimana mencoba menarik kami semua masuk ke dalamnya.
"Maksud Anda apa, Pak?" tanyaku dengan suara yang serak. Aku berusaha menjaga agar nada bicaraku tetap datar, tidak ingin memancing perhatian Pratama atau Kinanti yang sedang terdiam di ujung meja.
Pak Bambang menarik diri, kembali ke posisi duduk tegak, namun tatapannya tidak lepas dariku. "Perusahaan yang menggusur tanah saya dulu, PT Tirta Cipta Nusantara, menggunakan konsultan lingkungan yang sama dengan tempat Kinanti bekerja saat ini. Mereka memiliki sistem yang serupa dalam memetakan lahan rakyat, memanipulasi data arus, hingga akhirnya mengklaim tanah itu sebagai zona reklamasi atau proyek strategis lainnya. Saya melihat nama firma itu di dokumen yang pernah Kinanti bawa pulang. Saya hanya ingin Anda berhati-hati, Bu Emily. Jangan sampai niat baik anak-anak kita menjadi alat untuk mereka yang ingin menguasai pulau ini."
Aku tidak segera menjawab. Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras dari apa pun yang pernah kudengar selama berminggu-minggu terakhir. Kinanti, calon menantuku, berada di tengah-tengah badai yang mungkin tidak dia sadari sepenuhnya, atau mungkin, dia justru menjadi pion yang sedang digerakkan tanpa dia ketahui. Aku teringat jurnal yang kutulis, tentang bagaimana aku menguji ketulusan anak itu. Kini, ujian itu terasa seperti lelucon yang pahit. Bagaimana mungkin aku menuntut kejujuran dari seseorang jika dia sendiri mungkin sedang tersesat di dalam labirin kepentingan perusahaan yang bahkan tidak dia kenali wajah aslinya?
"Terima kasih sudah memberitahu saya," bisikku pelan. Aku menoleh ke arah Pratama, berharap dia bisa melihat kecemasan yang terpancar dari wajahku, namun suamiku itu justru sedang menatap keluar jendela, memandangi mercusuar yang samar-samar tampak di kejauhan. Keheningan yang panjang kembali menyelimuti ruang tamu kami.
Kinanti akhirnya memecah kesunyian dengan suara yang sedikit bergetar. "Ayah, Ibu, kami sebenarnya sudah berencana untuk bicara soal ini setelah acara formal selesai. Raka dan saya sudah tahu bahwa ada banyak hal yang tidak beres dengan proyek reklamasi di pantai timur. Kami tidak ingin menutupi apa pun lagi."
Raka mengangguk, dia menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh tekad. "Yah, tawaran penjualan tanah barat yang aku ajukan dulu adalah kesalahan besar. Aku sudah membaca data yang dibawa Kinanti. Perusahaan itu menggunakan klausul yang sama dengan yang dipakai untuk menggusur lahan di tempat asal Pak Bambang. Mereka tidak menginginkan tanah itu untuk resor. Mereka menginginkan akses ke alur air yang akan menghancurkan tambak-tambak nelayan di sisi barat."
Pratama akhirnya menoleh. Sorot matanya tajam, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada kemarahan yang meluap seperti biasanya. Yang ada hanyalah sebuah pengakuan akan realitas yang lebih luas. Dia menatap Raka, lalu beralih ke Kinanti. "Kamu tahu apa yang kamu pertaruhkan jika kamu membuka data itu, Kinanti? Pekerjaanmu, masa depanmu, bahkan mungkin tuntutan hukum dari perusahaan itu sendiri. Mereka tidak akan diam jika rahasia mereka dibongkar oleh karyawannya sendiri."
Kinanti menegakkan punggungnya. "Saya sudah siap, Pak. Saya datang ke sini bukan hanya untuk melamar Raka, tapi karena saya merasa bertanggung jawab atas apa yang sudah saya bantu buat. Saya tidak ingin menjadi bagian dari sejarah yang nantinya akan menghancurkan tempat ini, seperti yang terjadi pada tanah keluarga saya."
Aku mendengarkan semua itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa takut kehilangan penglihatan yang selama ini kusembunyikan di balik jurnal, kini terasa tidak ada artinya dibandingkan dengan ancaman nyata yang sedang mengintai keluarga kami. Aku teringat buku kas lama yang disimpan Pak Haris, dan bagaimana fitnah itu pernah meruntuhkan nama baik ayah mertuaku. Sejarah seolah berulang, namun kali ini, aktor-aktornya menggunakan seragam yang lebih rapi dan bahasa yang lebih teknis.
Acara lamaran itu selesai dengan cara yang jauh dari bayanganku. Tidak ada tawa yang lepas atau rencana masa depan yang manis. Yang tersisa adalah kesepakatan diam-diam untuk melindungi pulau ini. Setelah orang tua Kinanti berpamitan, suasana rumah terasa sangat sepi. Aku meraba meja, mencari gelas teh yang belum habis. Pratama mendekat, tangannya menyentuh bahuku dengan lembut, sebuah gestur yang jarang dia lakukan di depan orang lain.
"Kita harus bicara dengan Leman dan warga nelayan lainnya," ucap Pratama pelan. "Jika data yang dibawa Kinanti itu benar, maka kita punya bukti kuat untuk melawan gugatan mereka di pengadilan nanti."
Aku mengangguk, meski penglihatanku semakin buram. Aku bisa merasakan detak jantungku yang berpacu. Malam itu, aku kembali ke kamar dengan langkah yang hati-hati. Aku tidak lagi menulis di jurnal. Aku tahu, apa pun yang akan terjadi besok, aku harus siap menghadapinya dengan mata yang perlahan gelap, namun dengan hati yang mulai melihat kebenaran yang sesungguhnya. Sebelum aku sempat memejamkan mata, Pak Bambang kembali mendekat ke pintu, dia sempat berbisik bahwa perusahaan yang menggusur tanahnya dulu memakai konsultan yang sama dengan tempat Kinanti bekerja sekarang.



