Bab 1 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Penjara Berkartu

7 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 1

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Bab Sebelumnya Bab Berikutnya Simpan Bab

Raka dan Laptop Kedua

Bab 1

Gratis

Aku menempelkan kartu poin berwarna biru kusam itu ke pemindai di ambang pintu rumah belajar. Mesin itu mengeluarkan bunyi bip pendek, disusul suara sintesis yang datar.

"Kuota akses internet nol. Silakan selesaikan setoran hafalan Anda," ujar mesin itu tanpa emosi.

Aku menghela napas, menatap layar kecil yang menampilkan angka nol merah menyala. "Tolong, satu kali saja, saya ada turnamen nanti malam," bisaku pada mesin yang tidak memiliki telinga.

"Kuota akses internet nol. Silakan selesaikan setoran hafalan Anda," ulang mesin itu tetap dengan nada yang sama.

Aku memutar bola mata dan menarik kembali kartu itu. Di depanku, barisan santri lain menunggu giliran dengan wajah lelah. Bau kapur tulis dan debu dari jalanan pulau bercampur dengan aroma sisa hujan di udara sore ini. Aku berjalan menjauh, melewati Ustazah Rifda yang sedang berdiri di dekat jendela besar, mengawasi murid-muridnya dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak menatapku, tapi aku tahu dia mendengar bunyi mesin tadi.

"Raka," panggilnya lirih saat aku hendak melintas.

Aku berhenti, menundukkan kepala sekilas sebagai tanda hormat. "Ya, Ustazah?"

"Jangan hanya mengejar peringkat di layar, perhatikan juga apa yang kamu bawa di ingatanmu," ucapnya pelan. Dia tidak marah, hanya ada nada kecewa yang tipis dalam suaranya. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sebelum melangkah keluar menuju asrama.

Malam harinya, saat suasana asrama sudah sepi dan hanya menyisakan suara jangkrik dari balik dinding batu kapur, aku memanjat atap. Di sini, angin laut bertiup kencang, membawa aroma asin yang tajam. Aku mengeluarkan HP bekas dengan layar retak di sudut kiri. Dengan gerakan hafal, aku menghubungkan perangkat ke hotspot yang sinyalnya selalu kuat di area ini, meskipun aku tidak pernah tahu siapa yang menanamnya di sana.

Aku menekan tombol siaran langsung. Dalam hitungan detik, jumlah penonton meroket. Dua puluh ribu orang menatap apa yang aku lihat lewat kamera depan: deretan atap rumah penduduk pulau yang temaram di bawah cahaya bulan. Aku mulai berbicara, mengatur intonasi suara agar terdengar seperti komentator esports profesional, memandu mereka dalam sesi santri ranked.

"Selamat malam, sobat Ombak. Kita mulai sesi latihan malam ini dengan fokus pada ketepatan dan ketenangan," kataku ke arah mikrofon kecil. Komentar mulai mengalir deras di layar, ribuan kata muncul dan hilang sebelum sempat kubaca.

Aku terus memandu permainan, jari-jariku menari lincah di atas layar yang panas. Setelah satu jam, aku memutuskan untuk menyudahi siaran. Saat ibu jariku melayang di atas tombol tutup, sebuah akun dengan nama Layar Satu Kreatif muncul di kolom komentar dengan tulisan berwarna mencolok. Kami mencari kamu sejak tiga bulan lalu.

Jantungku berdegup kencang, bukan karena sisa-sisa adrenalin dari permainan yang baru saja berakhir, melainkan karena kalimat yang tertahan di layar itu. Layar Satu Kreatif. Nama itu terdengar asing sekaligus familiar, seperti sesuatu yang pernah kubaca di forum gim atau sekilas lewat di beranda media sosial saat aku sedang tidak sadar. Aku menatap teks tersebut sekali lagi, mencoba mencari apakah itu mungkin hanya akun bot yang menyebarkan tautan jebakan. Namun, akun itu memiliki lencana verifikasi biru yang tidak mungkin dipalsukan dengan mudah.

Aku tidak langsung mematikan siaran. Jari-jariku gemetar saat aku mencoba membaca komentar-komentar lain yang masuk, namun semuanya tertutup oleh notifikasi pesan pribadi dari akun yang sama. Sebuah ajakan untuk percakapan tertutup. Aku mematikan siaran dengan sekali ketuk, lalu segera memasukkan HP ke dalam saku celana. Udara malam di atap terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku menuruni anak tangga asrama dengan hati-hati, memastikan langkahku tidak menimbulkan bunyi decit yang bisa mengundang perhatian petugas piket malam atau teman sekamar yang belum tidur.

Sesampainya di kamar, aku tidak langsung membaringkan tubuh. Cahaya lampu neon di koridor masuk lewat celah pintu, memantul di lantai keramik yang dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, mengeluarkan kembali HP bekas itu. Pikiranku melayang pada pesan tadi. Tiga bulan. Mereka mengaku mencariku selama itu. Apakah mereka memantau siaranku dari awal? Apakah mereka tahu tentang hotspot yang kupakai tanpa izin? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku merasa seolah-olah aku sedang diawasi dari balik dinding-dinding pulau ini.

Aku membuka ruang obrolan dengan akun tersebut. Tidak ada basa-basi, hanya sebuah instruksi singkat yang menyertakan alamat sebuah kafe di dermaga kota, bukan di pulau ini. Mereka tahu aku siapa, di mana aku berada, dan mungkin mereka tahu bahwa aku baru saja memenangkan turnamen amatir yang diselenggarakan oleh admin SpinKing. Aku menatap layar itu lama sekali, hingga baterai HP yang tersisa sepuluh persen menunjukkan tanda peringatan merah. Keputusan untuk membalas atau membiarkannya adalah pertaruhan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Zahra, adikku, tiba-tiba bergerak di ranjang sebelah. Dia mengigau pendek, menyebut nama kucingnya, lalu kembali terlelap. Aku tersenyum tipis, rasa bersalah menyelinap di dadaku. Zahra adalah alasan aku memulai akun ini, alasan mengapa aku ingin mendapatkan uang ekstra untuk membeli buku dan membiayai sekolahnya agar dia tidak perlu lagi memikirkan biaya SPP yang menunggak. Namun, sekarang, mimpiku untuk membantu keluarga tampak berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang bisa menarik perhatian orang-orang yang mungkin punya agenda terselubungan dengan yayasan yang selama ini dihindari oleh Pak Haris dan Pratama.

Aku teringat nasihat Ustazah Rifda sore tadi. Jangan hanya mengejar peringkat di layar. Apakah dia tahu? Apakah para guru di rumah belajar menyadari bahwa santri mereka kini menjadi komoditas bagi agensi luar? Aku tidak berani menjawabnya sendiri. Aku memutuskan untuk mematikan HP dan menyembunyikannya di balik tumpukan sarung di lemari. Malam itu, tidur terasa sangat sulit. Suara ombak yang menghantam dermaga di kejauhan terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu yang kupunya sebelum seseorang datang mengetuk pintu asramaku.

Paginya, aku bangun saat azan subuh belum berkumandang. Aku bergegas menuju kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin yang menggigilkan kulit. Di masjid, aku melihat Pak Sahlan sedang menyapu halaman dengan kepala tertunduk. Ayah Bintang itu terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya. Aku menghampirinya, berniat menyapa, namun lidahku kelu. Aku hanya bisa mengangguk hormat, yang dibalasnya dengan senyum getir. Dia mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi di dunia digital anaknya, dan aku tidak punya keberanian untuk menjadi orang pertama yang mengatakannya.

Setelah salat, aku tidak langsung kembali ke kamar. Aku berjalan menuju dermaga, menatap perahu-perahu kayu yang tertambat. Angin pagi membawa aroma ikan dan solar. Aku membayangkan jika aku pergi ke kota, menemui orang-orang dari Layar Satu Kreatif itu, mungkin aku bisa mendapatkan kontrak resmi. Uang itu bisa melunasi utang keluarga, bisa membelikan mesin tempel untuk Pak Sahlan, dan mungkin, bisa membuatku berhenti menjadi santri yang selalu dikejar-kejar oleh sistem kuota rumah belajar.

Namun, di saat yang sama, aku teringat pada laptop milik Pratama yang sering ia simpan rapat-rapat. Dia selalu bilang bahwa teknologi adalah alat, bukan tujuan. Jika aku menerima tawaran mereka, apakah aku masih menjadi diriku sendiri, atau aku hanya akan menjadi pion dalam permainan yang mereka kendalikan? Aku menatap cakrawala, di mana matahari mulai muncul dari balik garis laut. Keputusanku mungkin akan mengubah segalanya, termasuk hubunganku dengan orang-orang di pulau ini. Aku menarik napas panjang, menghirup udara asin yang menusuk hidung, dan bersiap menghadapi hari di mana aku harus memilih antara amanah atau tawaran yang berkilau di layar HP.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.