Bab 2 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Log Jam Dua Belas

7 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 2

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 2

Gratis

Lampu meja kerjaku berkedip pelan, sebuah peringatan halus bahwa tegangan listrik di pulau ini memang tidak pernah bisa diajak kompromi. Di layar monitor, log Sistem yang telah kubangun bertahun-tahun menampilkan deretan angka yang tidak lazim. Ini bukan sekadar trafik data rutin untuk keperluan perpustakaan atau riset siswa. Sejak tengah malam, ada arus keluar-masuk yang sangat besar dari titik akses di atap asrama. Angkanya melonjak tajam, seolah-olah ada seseorang yang sedang memindahkan perpustakaan digital ke dalam sebuah perangkat yang haus daya.

Aku menghela napas, menggosok pelipis yang mulai terasa berdenyut. Emily baru saja melewati ruang kerja dengan nampan teh hangat, menatapku dengan sorot mata yang sudah hafal di luar kepala. Dia tidak bertanya, hanya meletakkan teh itu di sudut meja, sedikit jauh dari tumpukan berkas sebelum melangkah pergi. Begitu dia menutup pintu, aku memanggil Nabil. Dia datang dengan wajah pucat, masih mengenakan sarung yang dikenakan dengan terburu-buru.

"Mas Pratama memanggil?" tanyanya pelan. Suaranya serak, khas santri yang baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak.

Aku menunjuk layar monitor, membiarkan kursor bergerak di atas alamat perangkat yang mencurigakan itu. "Coba lihat ini, Nabil. Siapa yang menggunakan akses atap pada jam sedini ini dengan beban sebesar ini?"

Nabil mendekat, matanya menyipit saat membaca deretan kode unik perangkat tersebut. Jemarinya gemetar saat dia menyentuh pinggiran meja. Dia tidak segera menjawab, melainkan menatapku dengan tatapan yang penuh beban. Ada ketakutan di sana, jenis ketakutan yang aku kenal saat aku sendiri masih muda dan terjebak dalam pusaran yang tidak kupahami.

"Itu alamat perangkat yang terhubung langsung ke antena pusat, Mas," ucap Nabil sambil menelan ludah. "Tapi aku tidak punya akses untuk membuka isinya sendirian. Aturan kita jelas, Mas sendiri yang membuatnya. Semua pembukaan log harus dilakukan di depan dua saksi agar tidak ada tuduhan sepihak."

Aku terdiam. Nabil benar. Aku sendiri yang menetapkan protokol itu setelah kekacauan yang menghancurkan masa muda Pak Haris, ayahku. Aku menatap jam dinding yang menunjukkan angka dua belas lewat lima menit. Jam yang sama, suasana yang sama, dan rasa sesak yang sama saat aku dulu membongkar laptop di kamar kos yang pengap. Tanganku bergerak secara otomatis untuk menutup laporan itu. Aku tidak ingin melihat nama pemiliknya. Aku tidak ingin menjadi hakim bagi seseorang yang mungkin saja hanya sedang mencari jalan keluar dari rasa penat, sesuatu yang dulu tidak pernah kuberikan pada ayahku sendiri.

Nabil masih berdiri di sana, napasnya memburu pelan, menunggu instruksi selanjutnya yang tak kunjung keluar dari mulutku. Ruangan ini mendadak terasa begitu sempit, dipenuhi oleh aroma kopi sisa tadi sore dan debu yang menari di bawah sorot lampu neon yang redup. Di luar, suara debur ombak yang menghantam karang Karang Asta terdengar konstan, sebuah pengingat bahwa pulau ini tidak pernah benar-benar tidur. Aku mematikan monitor. Layar hitam itu kini memantulkan wajahku yang mulai menua, dengan garis-garis lelah yang menumpuk di sekitar mata. Aku tahu, dengan menutup laporan ini, aku sedang menunda sebuah masalah yang mungkin akan meledak di kemudian hari. Namun, biarlah. Untuk malam ini, aku memilih menjadi orang yang tidak tahu apa-apa.

"Sudah, Nabil. Kembali istirahatlah. Besok masih ada jadwal mengajar koding untuk kelas lanjutan," ucapku sambil berbalik memunggungi meja. Aku tidak memandangnya, namun aku bisa merasakan dia masih bimbang. Tangannya sempat terangkat seolah ingin mengatakan sesuatu, namun dia urung. Mungkin dia sadar bahwa aku sedang tidak ingin berdebat soal protokol keamanan atau soal siapa yang sebenarnya memiliki akses di jam-jam terlarang seperti ini.

"Baik, Mas. Mohon maaf jika saya membuat Mas terganggu," jawabnya lirih sebelum melangkah keluar dengan pelan. Pintu kayu jati tua itu berderit saat ditutup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam ruang kerjaku. Aku masih berdiri di sana, menatap jendela yang menampilkan kegelapan total di luar sana. Bayangan masa lalu tentang ruang kos yang pengap di Surabaya, tentang tumpukan kabel yang semrawut, dan tentang kecurigaan ayahku yang tak pernah putus, tiba-tiba menyerangku begitu nyata. Ayah selalu merasa bahwa setiap kali aku menyalakan komputer, aku sedang menyembunyikan sesuatu yang haram. Dan di sinilah aku sekarang, menjadi orang yang memegang kunci akses itu, namun memilih untuk berpaling.

Emily muncul kembali, kali ini membawa selimut tipis. Dia tidak bertanya tentang apa yang terjadi dengan Nabil atau mengapa aku masih terjaga di jam dua belas lewat lebih. Dia hanya meletakkan selimut itu di bahuku dengan kelembutan yang selalu berhasil membuatku merasa menjadi manusia lagi setelah seharian berurusan dengan sistem yang kaku. Dia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus membiarkan kesunyian menjadi ruang bagi suaminya untuk berpikir. Aku memegang jemarinya sejenak, merasakan kulitnya yang dingin terkena angin malam. Kami tidak butuh kata-kata untuk memahami bahwa beban di pulau ini tidak pernah ringan bagi siapa pun.

"Mas belum tidur?" tanyanya dengan nada rendah. Aku menggeleng pelan, lalu menghela napas panjang hingga paru-paruku terasa sesak oleh udara asin yang terbawa angin dari dermaga. Aku tidak menceritakan tentang log data di atap asrama. Aku tidak menceritakan bagaimana sistem yang kubangun dengan penuh ketelitian kini justru menjadi lubang pengintai bagi siapa pun yang memiliki keberanian untuk memanjat. Aku hanya menatapnya, mencari ketenangan yang selama ini menjadi pondasi bagi rumah tangga kami. Emily hanya mengangguk, lalu berbalik pergi ke kamar, meninggalkan aku sendirian di ruang kerja yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Aku kembali menoleh ke arah layar yang sudah mati. Ada sesuatu yang janggal dalam cara data itu bergerak. Polanya tidak acak. Itu adalah transmisi terencana. Seseorang sedang mengirimkan data dalam jumlah besar ke luar pulau, mungkin ke server agensi atau entitas lain yang tidak kukenal. Jika aku membukanya, jika aku mengundang dua saksi untuk memverifikasi siapa pelakunya, aku akan terpaksa menyeret anak itu ke dalam ruang interogasi. Aku akan terpaksa memberikan hukuman, menegakkan aturan, dan mungkin, menghancurkan masa depan seseorang yang sedang mencari cara untuk keluar dari kepenatan hidup di pulau ini. Aku teringat wajah murid-murid di kelas, teringat bagaimana Raka seringkali menatap layar dengan mata yang menyiratkan harapan dan keputusasaan yang sama. Apakah Raka pelakunya? Pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku, namun aku segera menepisnya. Aku tidak ingin tahu.

Aku berjalan menuju meja kerja Pak Haris yang ada di sudut ruangan, tempat di mana alat-alat manual disimpan dengan sangat rapi. Di sana, di bawah tumpukan kertas laporan bengkel yang sudah berdebu, ada jam weker tua milik ayah yang masih tersimpan. Jam itu berhenti di angka yang sama dengan waktu di monitor saat aku membukanya tadi: dua belas lewat lima. Jam itu adalah saksi bisu dari sejarah kelam keluarga kami, ketika fitnah koperasi menghancurkan nama baik ayah.

Saat itu, ayah tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada laptop yang aku bongkar di kos. Dia tidak pernah percaya bahwa aku hanya belajar, bukan mencuri. Sekarang, di depan perangkat yang sama-sama menjadi pusat kecurigaan, aku justru melakukan hal sebaliknya. Aku memilih untuk tidak memeriksa, tidak menghakimi, dan tidak mencari tahu siapa pemilik perangkat yang menggunakan akses atap tersebut.

Aku menutup laporan itu tanpa membaca nama pemiliknya, sebuah tindakan yang ayahku dulu tidak pernah lakukan untukku.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.