Bab 3 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Duo Ombak

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 3

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 3

Gratis

Suara dengung kipas pendingin di warnet Cak Wildan terdengar seperti lebah raksasa yang terjebak di dalam ruangan pengap. Bau rokok kretek dan sisa kopi dingin menguar dari sudut meja, beradu dengan aroma amis laut yang tertiup angin dari celah jendela. Aku menekan tombol terakhir di keyboard mekanik yang sudah licin permukaannya. Di layar monitor, tulisan besar 'VICTORY' muncul dengan warna emas yang mencolok. Bintang bersorak di sebelahku, kursinya berderit tajam saat ia melompat berdiri.

"Kita menang, Rak! Lima ratus ribu rupiah, man!" seru Bintang sambil menepuk punggungku keras. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena antusiasme yang meledak-ledak. Wajahnya yang biasanya pucat karena sering kurang tidur kini memerah penuh kemenangan.

Aku tersenyum tipis, merasakan kelegaan yang samar. Uang itu bukan jumlah yang besar bagi orang kota, tapi bagi kami, ini bisa menutupi sewa perahu Pak Sahlan selama dua minggu ke depan. Aku melihat ke arah meja kasir, tempat Cak Wildan sedang sibuk memperbaiki kabel yang terkelupas. Tidak ada yang peduli pada kami, dan itulah keuntungannya.

"Jangan langsung ditarik tunai, nanti habis untuk jajan," kataku sambil menggeser kursi. Aku berniat mematikan sesi komputer sebelum Cak Wildan datang menagih biaya pemakaian.

Bintang tidak mendengarkan. Jari-jarinya sudah menari di atas layar ponselnya yang retak. "Bukan jajan, Rak. Aku mau masukkan ini ke koin putar di SpinKing. Kalau beruntung, modal lima ratus ribu ini bisa jadi lima juta dalam sejam. Aku sudah punya strateginya."

Aku tertegun. "Bintang, jangan. Itu judi. Kita baru saja menang dengan usaha, jangan dibuang begitu saja ke sistem yang kita tidak tahu siapa pemegangnya."

"Ini bukan judi, ini investasi digital," balas Bintang cepat. Ia menunjukkan layar ponselnya. Di sana, aplikasi dengan logo roda keberuntungan berwarna ungu sudah terbuka. Saldo koinnya bertambah cepat setelah ia memasukkan kode referal milikku.

Dari balik tumpukan kardus mi instan di dekat pintu, Zahra muncul dengan mata berbinar. Adikku itu sudah berdiri di sana sejak tadi, mengintip layar monitor kami dengan rasa ingin tahu yang besar. "Wah, itu koin yang sering Kak Raka bahas di siaran ya?" tanya Zahra polos. Ia mendekat, memperhatikan deretan angka dan kode yang muncul di layar Bintang. "Kode yang ada di profil Kakak kan?"

Aku membeku. Ingatan tentang kode referal yang kupasang sembilan tahun lalu di kolom profil kanal siaranku mendadak menghantam. Aku tidak pernah menghapusnya karena mengira tak ada orang yang akan benar-benar menggunakannya. Sekarang, Zahra sudah menghafal kode itu di luar kepala.

Aku berusaha meraih ponsel Bintang, tetapi dia lebih cepat. Jarinya menekan layar dengan penuh keyakinan, mengirimkan lima ratus ribu rupiah hasil keringat kami ke dalam mesin digital yang tidak pernah kami lihat bentuk fisiknya. Suara derit kursi kayu yang ditarik oleh Zahra terdengar nyaring di ruangan yang tiba-tiba terasa pengap. Adikku itu menatap layar dengan tatapan lapar yang tidak kukenal. Ada rasa bangga yang tidak pada tempatnya di wajah Zahra ketika dia menyebutkan angka-angka kode yang terpampang di bio profilku. Seolah-olah dia baru saja menemukan rahasia besar yang bisa mengangkat derajat keluarga kami.

"Itu kode keberuntungan, kan?" tanya Zahra lagi, suaranya naik satu oktaf. "Teman-temanku di TPQ juga sering membicarakannya. Mereka bilang kalau pakai kode itu, kita bisa dapat tambahan saldo setiap kali orang lain kalah."

Duniaku seakan miring. Aku menoleh ke arah Bintang, berharap dia akan tertawa atau mematikan aplikasi itu, tetapi dia justru terlihat makin terpaku pada layar. Matanya melebar, mengikuti pergerakan roda keberuntungan yang berputar di dalam ponselnya. Aku merasa mual. Aroma asap rokok di warnet ini tiba-tiba menusuk hidung, membuat kepalaku berdenyut hebat. Bagaimana bisa kode yang kupasang sebagai lelucon saat aku masih kecil, saat aku bahkan belum memahami apa itu ekonomi digital, kini menjadi pusat perhatian adikku sendiri?

"Zahra, dengar Kakak. Jangan pernah pakai kode itu. Jangan pernah bicara soal kode itu pada siapa pun lagi," kataku dengan suara tertahan. Aku mencoba bersikap tenang, tidak ingin Cak Wildan yang duduk di kasir mendengar perdebatan kami. Namun, suaraku justru terdengar bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.

Bintang menoleh, wajahnya masih memerah karena euforia. "Kenapa harus dilarang, Rak? Lihat, saldoku bertambah. Ini rezeki. Pak Sahlan pun tidak pernah melarangku selama uangnya jelas. Kau terlalu kaku. Duniamu terlalu sempit di antara buku-buku di Darul Hikmah." Kalimat itu diucapkan Bintang dengan nada yang tidak biasa. Ada nada meremehkan yang baru pertama kali kudengar dari sahabat yang sudah bertahun-tahun berbagi nasi bungkus denganku.

Aku tidak menjawab. Aku berdiri dan segera membereskan kabel mouse, lalu mematikan komputer dengan paksa. Layar monitor yang tadinya memancarkan cahaya biru terang kini berubah menjadi hitam pekat. Cahaya dari lampu gantung yang redup membuat bayangan kami di lantai terlihat seperti raksasa yang tidak stabil. Aku menarik lengan Zahra, mengajaknya keluar dari warnet sebelum aku benar-benar meledak di depan Cak Wildan.

Udara malam di dermaga terasa dingin, namun keringat dingin masih membasahi tengkukku. Aku berjalan cepat, menyeret Zahra yang tampak bingung dengan perubahan sikapku. Di kejauhan, lampu perahu nelayan terlihat seperti titik-titik kecil di atas air hitam. Suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti peringatan yang konstan. Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut. Jika kode itu menyebar di kalangan anak-anak, aku tahu konsekuensinya bukan hanya soal uang, melainkan soal kepercayaan yang akan rusak selamanya.

"Kak, kenapa marah? Zahra cuma mau bantu Kakak dapat poin lebih banyak," suara Zahra memecah kesunyian malam. Dia berhenti melangkah, menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan tipis, dia terlihat sangat kecil dan rapuh.

Aku berlutut di depannya, mensejajarkan pandangan. "Bukan soal poin, Zahra. Itu bukan uang sungguhan. Itu jebakan. Kakak memasang kode itu bertahun-tahun lalu karena iseng, bukan karena Kakak ingin orang-orang kehilangan uang mereka karena tergiur janji palsu." Aku menatap wajahnya, mencari sisa-cari sisa kepolosan yang biasanya selalu ada di sana setiap kali dia menonton siaranku. Namun, yang kutemukan adalah sorot mata yang penuh ambisi.

"Tapi teman-temanku bilang Kakak sukses karena aplikasi itu," bantahnya pelan. "Mereka bilang Kakak bisa beli laptop baru karena poin dari sana."

Aku tertegun. Jadi, rumor itu yang beredar di sekolah? Mereka pikir kesuksesan digital yang kucapai dengan susah payah berasal dari mesin judi ini? Hatiku mencelos. Selama ini aku mengira aku membangun kredibilitas dengan konten edukasi, dengan riset malam-malam, dan dengan keringat yang menetes saat aku mencoba membetulkan perangkat lunak yang rusak. Ternyata, di mata orang-orang terdekatku, aku hanyalah seorang pemain mesin keberuntungan.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa akal sehatku. "Dengar, Zahra. Apa pun yang kau dengar, itu bohong. Jangan pernah sentuh aplikasi itu lagi. Uang yang kau cari dengan cara instan hanya akan membawamu pada masalah yang tidak bisa kau selesaikan."

Kami berjalan pulang dalam diam. Langkah kaki kami di atas jalan setapak yang berbatu terdengar berirama. Aku memikirkan Bintang yang masih tertinggal di warnet, mungkin sedang mempertaruhkan sisa uang kemenangannya. Aku memikirkan Cak Wildan yang mengelola warnet ini sebagai unit usaha, dan aku memikirkan bagaimana sebuah kode referal bisa mengikat nasib anak-anak pulau dalam sebuah lingkaran yang tak terlihat.

Sesampainya di rumah, rumah kapur yang terasa sangat sunyi, aku segera menuju ke meja kerjaku. Aku membuka laptop lamaku, sebuah perangkat yang sudah sering mengalami masalah teknis namun selalu bisa diandalkan. Tanganku gemetar saat membuka pengaturan profil akunku. Aku harus menghapus kode itu sekarang juga. Namun, saat aku mengklik kolom bio, aku teringat sesuatu. Kode itu bukan sekadar deretan angka. Kode itu terikat pada sistem yang agensi Layar Satu gunakan untuk memantau trafikku. Jika aku menghapusnya sekarang, apakah mereka akan tahu bahwa aku sudah menyadari jebakan ini?

Aku menatap layar yang berkedip-kedip. Zahra yang tadi sempat mengintip ke arah layar laptopku sebelum dia pergi ke kamar, tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Dia menatap layar itu dengan tatapan yang sama persis saat dia menghafal kode tadi. Dalam sekejap, aku sadar bahwa kode itu bukan hanya sebuah teks di bio, melainkan sebuah warisan yang salah arah. Aku baru saja menyadari bahwa adikku sendiri, yang sembilan tahun lalu masih bayi saat aku pertama kali menaruh deretan angka itu di sana, kini telah menjadi salah satu bagian dari sistem yang ingin kuhancurkan.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.