Bab 4 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Peti Alat dari Sumberjati

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 4

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 4

Gratis

Bau bengkel tua yang menempel pada jaket kulit ayahku selalu menjadi penanda paling jujur bagi rumah kapur ini. Pak Haris berdiri di ambang pintu, membawa peti kayu besar berisi alat-alat kelistrikan yang sudah dipakainya sejak aku masih balita. Debu halus dari dermaga seolah mengikuti langkah kakinya. Ia tidak bicara banyak saat aku membantunya menurunkan peti itu ke lantai ruang tengah yang dingin. Ia hanya menatap langit-langit, lalu beralih ke deretan rak buku yang berdebu.

"Aku akan tinggal di sini selama semusim, Pratama," ucapnya pelan, suaranya parau namun tegas. Ia meletakkan topi petnya di atas meja makan. "Mataku mulai lelah. Sebelum benar-benar rabun, aku ingin melihat apa saja yang sudah kalian bangun di sekolah ini."

Aku mengangguk, merasakan beratnya tanggung jawab yang tiba-tiba menekan pundakku. "Rumah belajar sudah berkembang banyak, Yah. Ada sistem baru yang kami pasang untuk mengelola arus informasi santri."

Pak Haris tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju sudut ruangan, tempat laptop-laptop lama tersusun rapi di atas meja kayu. Aku merasa perlu menunjukkan padanya bahwa aku telah belajar dari kesalahan masa lalu. Aku menyalakan monitor, memperlihatkan antarmuka sistem yang kubangun dengan bantuan Nabil. Di sana terpampang peta trafik digital, daftar akun santri yang terhubung dengan akses sekolah, dan jam layar yang diatur secara ketat.

"Lihat ini, Yah," kataku sambil menunjuk barisan kode di layar. "Kami mendata setiap akun yang keluar masuk. Tidak ada lagi celah untuk menyembunyikan akses ilegal. Kami belajar dari fitnah koperasi itu. Sekarang, semuanya transparan dan terukur."

Ayah hanya menatap layar itu dengan tatapan datar, seolah melihat sesuatu yang asing dan tidak menarik baginya. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan deretan kartu poin yang kususun untuk para santri. Tangannya yang kasar terulur, menyentuh tepi meja dengan hati-hati. Ia tidak memuji sistem itu, tidak pula mengkritiknya. Ia justru memperhatikan tangan-tanganku yang gemetar saat menutup jendela aplikasi pengawasan.

"Apakah anak-anak di sini tahu di mana batasnya?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh padaku. "Di mana mereka boleh merusak barang dan belajar dari pecahan itu sendiri?"

Aku tertegun, tidak siap dengan pertanyaan filosofis yang justru terdengar seperti sebuah peringatan. Sebelum aku sempat merangkai jawaban, ia membungkuk dan membuka pengait peti alatnya. Suara denting logam beradu dengan tang dan solder memenuhi ruangan. Di antara tumpukan alat-alat yang kukenal sejak kecil, tangannya berhenti pada sebuah kotak seng kecil yang kusam. Ia menatap kotak itu sejenak dengan wajah yang berubah pucat, lalu dengan gerakan cepat, ia menutup kembali tutup peti itu sebelum aku sempat melihat isinya lebih jauh.

Aku terdiam sejenak. Suara denting logam yang baru saja memenuhi ruangan seolah menyisakan gema yang menyesakkan dada. Ayah masih menunduk, tangannya yang penuh guratan bekas luka akibat solder dan debu besi tetap berada di atas peti kayu itu. Ada keheningan yang janggal, sebuah jeda yang tidak biasa bagi kami yang sudah lama terpisah oleh jarak dan ketidakpercayaan. Aku menatap punggungnya yang kini sedikit membungkuk. Dulu, punggung itulah yang selalu menjadi benteng, namun juga menjadi tembok yang memisahkan impianku dari restunya. Sekarang, di ruang tengah rumah kapur ini, tembok itu terasa semakin nyata, berlapis debu masa lalu yang enggan ia bersihkan.

"Ayah," panggilku pelan, mencoba memecah suasana. "Kotak itu... apakah itu milik kakek?"

Pak Haris tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang mulai mengabur menatap jendela yang terbuka ke arah dermaga. Suara debur ombak di kejauhan terdengar masuk, membawa aroma garam yang tajam. Ia mengabaikan pertanyaanku, seolah kotak seng itu adalah rahasia yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun, termasuk aku, anaknya sendiri. Ia berdiri tegak, memutar badannya, dan menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan kepenatan bertahun-tahun.

"Kalian terlalu sibuk mengatur layar, Pratama," suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Kalian pikir dengan mendata setiap ketukan keyboard, setiap detik waktu yang mereka habiskan di depan monitor, kalian bisa menjamin mereka tidak akan jatuh? Dunia tidak bekerja seperti kuitansi koperasi yang kalian tata dengan rapi di buku besar."

Aku merasa tersindir, namun aku menahan diri untuk tidak membela diri. "Ini bukan tentang mengekang, Yah. Ini tentang perlindungan. Kami tidak ingin ada lagi anak yang terjebak dalam arus informasi yang merusak, seperti yang terjadi pada Nabil atau anak-anak lain di pulau ini."

Pak Haris tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu lapuk. "Perlindungan? Atau ketakutan? Dulu aku dikunci dalam kotak fitnah karena orang-orang terlalu takut untuk melihat kebenaran di luar catatan mereka sendiri. Dan sekarang, kau membangun kotak itu sendiri dengan tanganmu."

Ia berjalan menuju rak buku, menyentuh salah satu jurnal yang kusimpan di sana. Tangannya yang kasar berhenti di sampul buku yang sudah menguning. Aku tahu ia sedang membaca judulnya, sebuah catatan tentang rancangan kelas rakyat yang dulu pernah coba kami diskusikan sebelum ia memutuskan untuk pergi dari pulau ini. Ia tidak membukanya. Ia hanya membiarkan jemarinya menari di atas sampul, seolah sedang menyentuh memori yang menyakitkan.

"Tadi kau bertanya di mana anak-anak boleh merusak barang," aku mencoba kembali ke topik awal, berusaha mencari celah untuk menyentuh sisi emosionalnya yang dulu pernah dekat denganku. "Aku sudah menyediakan bengkel untuk mereka. Mereka bisa belajar membedah mesin, menyolder papan sirkuit, dan mengerti bagaimana barang rusak diperbaiki. Itu bagian dari kurikulum kita."

Ayah kembali menatapku. Kali ini tatapannya melunak, namun ada kesedihan yang tersembunyi di balik garis-garis keriput di wajahnya. "Membedah mesin itu mudah, Pratama. Kau tahu mana sekrup yang harus dilepas, mana kabel yang harus disambung. Tapi bagaimana dengan hati mereka? Saat mereka menyentuh layar, mereka tidak sedang berhadapan dengan besi. Mereka berhadapan dengan keinginan yang tidak pernah bisa kau batasi dengan aturan Sistem apa pun."

Aku terdiam. Benar apa yang ia katakan. Sistem yang kubangun memang mampu melacak trafik, mampu memblokir situs, namun ia tidak pernah bisa melacak rasa penasaran seorang anak yang merasa tertinggal. Aku teringat pada Raka, pada adik-adik santri yang sering datang ke warnet hanya untuk merasakan dunianya diakui oleh orang lain. Mereka tidak butuh sistem keamanan. Mereka butuh tempat untuk pulang saat dunia digital mereka hancur.

"Besok, aku akan mengajar mereka di bengkel," lanjut Pak Haris setelah lama terdiam. "Aku tidak akan menggunakan laptop. Aku akan menggunakan alat-alat ini. Jika kau ingin melihat, datanglah. Tapi jangan bawa monitor itu. Jangan bawa daftar akunmu. Aku hanya ingin melihat tangan mereka saat memegang timah solder."

Aku mengangguk pelan. Ada rasa haru yang menjalar di hatiku. Pak Haris, yang selama ini membenci teknologi, justru menawarkan diri untuk kembali ke bengkel. Ini bukan sekadar ajakan untuk mengajar, ini adalah tawaran perdamaian. Sebuah kesempatan bagi kami untuk memperbaiki hubungan yang retak karena salah paham masa lalu.

"Terima kasih, Yah," ucapku dengan tulus. Aku merasa beban di pundakku sedikit terangkat. Meskipun ia tidak memberiku akses untuk melihat apa yang ada di dalam kotak seng itu, setidaknya ia bersedia tinggal di sini, di rumah ini, untuk sementara waktu.

Pak Haris mengangguk pendek. Ia kembali menatap peti alatnya. Ia mengeluarkan sebuah obeng tua, lalu mulai menata alat-alatnya di atas meja. Ia tampak begitu teliti, seolah sedang menyusun kembali hidupnya yang berserakan. Aku meninggalkan ruangan, membiarkannya larut dalam dunianya sendiri. Saat aku hendak menutup pintu, aku mendengar suara kotak seng itu dibuka kembali. Kali ini, ia tidak menutupnya dengan terburu-buru. Ia membukanya perlahan, dan dari sela-sela pintu yang belum tertutup rapat, aku melihat tangannya mengeluarkan selembar kertas yang sudah sangat tua, disobek di bagian ujungnya, dan mulai membacanya dengan saksama di bawah cahaya lampu yang temaram. Aku tidak bertanya apa itu. Aku hanya tahu bahwa malam ini, rumah kapur ini tidak lagi terasa dingin bagi kami berdua.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.