Bab 5 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Undangan Layar Satu

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 5

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 5

Gratis

Bau oli bekas dan debu kapur yang menempel di dinding warnet Cak Wildan terasa lebih pekat dari biasanya. Aku duduk di depan monitor tua, berpura-pura merapikan kode html di balik dasbor kanal RakaOmbak. Jari-jariku gemetar. Di sampingku, Devan Mahesa, pria yang baru turun dari kapal cepat, duduk dengan setelan kemeja yang terlalu rapi untuk pulau sekecil ini. Dia tidak melihat layar, melainkan menatapku dengan senyum yang dipaksakan.

"Ini kesempatan emas, Raka. Piala Layar Satu di Surabaya bukan sekadar turnamen. Ini pintu untuk karier profesionalmu," ujar Devan sambil menyodorkan sebuah map biru berisi formulir kontrak dan undangan resmi. Logo agensi Layar Satu Kreatif tampak mencolok dengan warna emas yang berkilau di atas kertas tebal itu.

Aku menelan ludah. Hadiah utama sebuah laptop gaming canggih dan kontrak kerja dua tahun untuk menjadi kreator eksklusif agensi adalah jawaban atas semua kesulitan perangkat yang selama ini kuhadapi. Namun, mataku tertuju pada kolom di bagian bawah formulir. Sebuah kotak kosong dengan tulisan: tanda tangan wali.

"Hanya perlu tanda tangan orang tua, atau wali yang sah," lanjut Devan lagi. "Agensi akan menanggung semua biaya akomodasi. Kau hanya perlu fokus menjadi ikon santri digital pertama yang kami miliki."

Aku tidak segera menjawab. Pikiranku melayang ke ayah di rumah, yang belakangan ini lebih sering menghabiskan waktu dengan Pak Haris di bengkel. Ayah yang sedang mengetatkan pengawasan dengan Sistem miliknya tidak mungkin mengizinkanku menandatangani kontrak agensi yang tidak ia kenal. Aku melirik Bintang yang berdiri di pojok warnet, wajahnya pucat. Dia tahu apa yang ada di balik janji manis agensi ini. Tanpa suara, aku menarik map itu dan menyelipkannya dengan cepat ke dalam lipatan sarung yang kukenakan. Tekstur kertasnya terasa kasar dan mengganjal di pinggang.

"Aku harus membicarakannya dulu dengan ayah, Mas," kataku pelan, mencoba terdengar tenang meski jantungku berdegup tidak karuan.

Devan mengangguk santai, seolah dia sudah memprediksi jawaban itu. "Tentu. Kami tunggu kabarnya besok pagi sebelum kapal kembali ke kota. Ingat, Raka, waktu tidak menunggu mereka yang ragu."

Dia bangkit, meninggalkan aroma parfum mahal yang kontras dengan bau amis laut di dermaga Karang Asta. Aku segera mematikan monitor. Di luar, suara azan Maghrib mulai bersahutan dari arah masjid Darul Hikmah, terdengar sayup tertiup angin laut. Aku harus bergegas pulang sebelum Ayah mulai curiga. Setiap langkah yang kuambil terasa berat, seolah beban di lipatan sarungku bukan sekadar lembaran kertas, melainkan janji yang akan menyeretku lebih jauh ke dalam arus yang belum siap kuhadapi.

Aku melangkah menembus senja, melewati jalan setapak yang membelah kebun kelapa di belakang masjid. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang menempel di kulit, namun pikiranku tertuju sepenuhnya pada lipatan kertas di balik sarung. Setiap kali kakiku melangkah, sudut map itu menusuk pinggangku, sebuah pengingat fisik bahwa aku baru saja memegang nasib masa depanku. Aku membayangkan wajah Ayah jika dia tahu aku berurusan dengan agensi yang namanya saja sudah membuat Kiai Mahfud dulu, dalam catatan-catatan tua yang kulihat, memperingatkan tentang bahaya eksploitasi. Setibanya di rumah, suara denting sendok di piring porselen terdengar dari ruang makan. Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantung, sebelum melangkah masuk melalui pintu samping.

Ayah dan Pak Haris sedang duduk berhadapan. Di atas meja kayu itu, berserakan beberapa lembar sketsa rancangan elektronik yang tampak kuno, jauh dari kata digital. Pak Haris, dengan kacamata tebal yang bertengger di ujung hidung, terlihat sedang menunjukkan sesuatu pada Ayah. Wajah Ayah tampak lelah, namun matanya tetap tajam, sesekali mengangguk saat Pak Haris menjelaskan letak hambatan pada rangkaian listrik yang ia pegang. Ibu sedang menata piring berisi ikan goreng dan sayur bening, aromanya menenangkan namun tidak cukup untuk meredam kecemasanku. Aku segera melipat sarung lebih rapat, menyembunyikan map itu di balik kursi kayu saat aku duduk.

"Sudah selesai dari warnet, Raka?" tanya Ayah tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada sketsa di meja. Tangannya yang terampil memindahkan letak komponen di atas kertas dengan pensil, gestur yang sama saat dia dulu memperbaikiku jika aku salah mengerjakan soal matematika. Aku mengangguk pelan, menjawab dengan salam yang dibalas dengan suara serak oleh Pak Haris. Pak Haris menatapku sekilas, tatapannya seolah menembus lipatan kain sarungku, seolah dia tahu ada sesuatu yang aku sembunyikan di sana. Aku merasa panas dingin, namun aku berusaha menjaga pandanganku tetap tertuju pada piring.

"Tadi ada orang dari kota, Mas Devan namanya," kataku, mencoba memulai percakapan sebelum dia bertanya lebih lanjut. Ayah berhenti menulis. Dia meletakkan pensilnya perlahan, lalu menoleh ke arahku. Suasana di ruang makan mendadak hening, hanya suara gesekan sendok Ibu yang menjadi latar belakang. "Dia manajer dari Layar Satu. Katanya mereka mencari kreator santri untuk turnamen di Surabaya." Ayah tidak langsung membalas. Dia menyesap teh hangatnya, lalu kembali menatap sketsa di depannya seolah-olah percakapanku tadi hanyalah gangguan kecil yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan proyek bengkelnya.

"Layar Satu," gumam Pak Haris, suaranya parau. Dia meletakkan sketsa itu dengan hati-hati. "Nama yang dulu sering muncul di koran-koran lama tentang kasus tanah pesantren, Pratama. Apa mereka kembali lagi ke pulau ini?" Ayah menatap Pak Haris, lalu berpaling padaku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekecewaan yang samar, namun lebih dominan adalah kewaspadaan. "Jangan pernah melibatkan diri dengan mereka, Raka. Kamu belum tahu bagaimana cara mereka bekerja. Mereka tidak mencari kreator, mereka mencari aset yang bisa diperas sampai kering lalu dibuang." Aku hanya bisa terdiam, tanganku mencengkeram erat ujung sarung di bawah meja. Map itu terasa semakin berat.

Ibu datang membawa teko berisi air putih, dia tidak banyak bicara, hanya tersenyum tipis sebelum kembali ke dapur. Aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri, terjebak di antara keinginan untuk meraih mimpi menjadi kreator profesional dan rasa hormat yang mendalam pada Ayah yang tidak pernah menginginkan keterlibatan agensi dalam hidup kami. Ayah kemudian mulai menceritakan tentang rencana perbaikan turbin angin di dermaga, sebuah proyek yang dia kerjakan bersama Pak Haris untuk membantu nelayan. Dia tampak begitu bersemangat, sebuah kontras yang tajam dengan pembicaraan tentang agensi tadi. Namun, aku tahu ini adalah cara Ayah mengalihkan pembicaraan, caranya menjaga agar pembicaraan tidak berlanjut ke arah yang tidak ia inginkan.

Setelah makan malam selesai dan Pak Haris pamit ke kamarnya, Ayah memintaku tetap duduk. Lampu ruang tengah yang agak redup membuat bayangan wajah Ayah terlihat lebih tegas, lebih tua dari yang aku ingat. Dia tidak memintaku mengeluarkan map itu, namun dia tahu. Dia selalu tahu. "Ayah sudah mendengar dari beberapa santri tentang apa yang terjadi di warnet Cak Wildan," suaranya pelan namun berat. "Tentang kode referal itu. Tentang SpinKing. Dan sekarang mereka datang membawa kontrak. Raka, dunia digital yang kamu ikuti itu tidak seaman yang kamu bayangkan. Setiap klikmu, setiap videomu, setiap kode yang kamu bagikan, itu semua adalah jejak yang mereka gunakan untuk menjeratmu."

Aku ingin membela diri, ingin menjelaskan bahwa aku hanya ingin membuat konten yang bermanfaat, bahwa aku tidak berniat menjadi bagian dari judi online itu. Namun, kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Ayah menatapku dalam-dalam, lalu berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju rak buku di sudut ruangan, mengambil sebuah perangkat kecil berbentuk tablet yang sudah dimodifikasi dengan sistem operasi yang dia bangun sendiri. Ini adalah Sistem yang dia banggakan, yang dia harap bisa menjadi benteng bagi para santri di rumah belajar.

"Mulai malam ini," ucap Ayah dengan nada final yang tidak terbantahkan, "Ayah akan menerapkan aturan baru dalam Sistem. Semua akun media sosial milik santri di Darul Hikmah, tanpa kecuali, harus didaftarkan ke dalam database pusat yang Ayah kelola. Termasuk akunmu, Raka. Dan akun Zahra. Semua akan diawasi secara langsung, setiap unggahan harus melalui verifikasi manual sebelum bisa dipublikasikan." Aku terperangah. Aturan ini bukan sekadar pengawasan, ini adalah pengekangan. Jika akunku masuk dalam Sistem Ayah, maka impianku untuk mengikuti turnamen Surabaya akan tamat saat itu juga. Ayah menatapku sekali lagi, seolah menunggu protes, namun dia kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan, meninggalkan aku sendirian di bawah lampu yang berkedip, memikirkan bagaimana cara agar map di lipatan sarungku tidak menjadi bukti pengkhianatanku sendiri.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.