Bab 6 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Rapat Guru

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 6

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 6

Gratis

Udara di ruang rapat rumah belajar terasa lebih gerah dari biasanya. Aroma kopi dingin yang ditinggalkan Nabil di sudut meja bercampur dengan debu kapur yang menempel di papan tulis. Aku berdiri di depan, merapikan tumpukan kertas laporan akses jaringan santri yang baru saja kusortir. Di depan sana, Rifda menatapku dengan sorot mata yang tajam, hampir seperti menantang, sementara jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu jati yang mulai aus.

"Mas Pratama, bukankah aturan pendaftaran akun ini mulai terasa seperti penjara bagi mereka?" tanya Rifda dengan nada yang tenang namun menusuk. Ia menunjuk ke arah daftar panjang kanal media sosial milik para santri yang kini wajib diverifikasi manual setiap pagi. "Mereka datang ke sini untuk belajar suara mereka sendiri, bukan untuk menjadi koleksi data di bawah pengawasan ketat yang kau sebut Sistem itu."

Aku menghela napas panjang, mencoba menjaga nada suaraku tetap rendah. Aku mengingat kembali kekacauan yang terjadi beberapa tahun lalu, saat akses data yang terbuka bebas menyeret banyak orang ke dalam jurang penyesalan. "Ini bukan soal mengekang, Rifda. Ini soal perlindungan. Kau tahu apa yang terjadi jika akses itu tidak dikunci. Kita sudah pernah melihatnya sendiri," jawabku sambil melirik ke arah lemari besi yang menyimpan cadangan log tahun-tahun lalu.

Aku berjalan mendekati papan tulis, menunjuk paku kecil yang tertancap di sisi bingkai kayu. "Dulu, kunci akses itu selalu digantung di paku ini. Nabil yang memegangnya, dan lihat apa yang terjadi. Aku tidak bisa membiarkan sejarah itu terulang hanya karena kita terlalu abai pada bahaya yang mengintai di balik layar ponsel mereka."

Rifda berdiri, ia tidak gentar sedikit pun meski aku sudah membawa argumen tentang keamanan. "Keamanan tidak selalu berarti menutup pintu rapat-rapat, Mas. Jika kita terus-menerus menanamkan rasa takut, santri-santri ini tidak akan pernah belajar mengenali jurang itu sendiri. Mereka akan jatuh karena mereka tidak tahu bagaimana cara berjalan di tepian tanpa diawasi," sahutnya tegas. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara deburan ombak samar dari kejauhan yang menghantam dermaga.

Di kursi paling belakang, Nabil yang sedari tadi terdiam akhirnya bergerak. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menimbulkan bunyi denting porselen yang memecah keheningan ruangan. Semua mata tertuju padanya. Ia menatapku, lalu menatap paku kosong yang masih terpasang di dinding, seolah mengingat beban masa lalunya sendiri.

"Yang menyelamatkan saya dulu bukan kunci yang dicabut dari paku itu, Mas Pratama," ucap Nabil pelan, suaranya parau namun jelas terdengar. "Melainkan sesuatu yang saya beri untuk dibuat, sebuah tanggung jawab nyata yang membuat saya berhenti menatap layar dan mulai bekerja dengan tangan saya sendiri."

Kata-kata Nabil menggantung di udara, terasa jauh lebih berat daripada teguran Rifda. Aku merasakan detak jantungku sendiri di ujung telinga. Paku itu, yang selama bertahun-tahun kuanggap sebagai simbol pengendalian dan disiplin, tiba-tiba tampak seperti paku yang menancap di kulit kayu yang lapuk. Aku menatap Nabil, pria yang dulu kusebut sebagai murid terbaikku sebelum kehancuran digital itu merenggut semuanya. Ia tidak menunduk. Ia menatapku dengan mata yang tenang, tanpa amarah, tanpa niat untuk mempermalukan, hanya kejujuran yang menelanjangi keyakinanku sendiri. Aku terdiam, tidak mampu merangkai kalimat sanggahan yang logis. Biasanya, aku selalu punya jawaban untuk setiap keraguan, sebuah rumusan Sistem yang mampu menjelaskan mengapa langkah tertentu harus diambil. Namun kali ini, mulutku terkunci rapat.

Rifda memecah keheningan dengan menarik napas panjang. Ia tidak mencoba menekan kemenangannya atas argumen ini. Ia justru berbalik menatap jendela, ke arah laut yang warnanya sudah berubah menjadi kelabu senja. "Kita terlalu sibuk membangun pagar, Mas Pratama. Kita lupa bahwa pagar yang terlalu tinggi justru membuat mereka ingin memanjatnya, bukan untuk belajar, tapi untuk melihat apa yang ada di balik sana karena rasa penasaran yang terlarang," ucap Rifda pelan. Ia melangkah mendekati meja, menyentuh tepi laporan yang baru saja kutandatangani. "Sistem ini, sebagaimana pun baik niatnya, tidak akan bisa menahan keinginan seseorang untuk mencari pengakuan di tempat yang salah. Mereka butuh alasan untuk tidak mencari validasi di luar, bukan alasan untuk takut pada kita."

Aku duduk di kursi kayu, merasa seluruh energi yang kupakai untuk menyusun kebijakan ini menguap begitu saja. Di depanku, tumpukan formulir pendaftaran akun santri terlihat begitu kering dan tak bernyawa. Aku teringat Raka, anak itu pasti sedang duduk di suatu sudut rumahnya, memegang laptop yang diam-diam menyembunyikan kontrak dari agensi yang tidak pernah kuinginkan. Jika aku terus menekan mereka dengan Sistem ini, apakah aku justru sedang mendorong mereka ke pelukan orang-orang seperti Devan tanpa mereka sadari? Apakah pengawasan yang kubangun hanyalah cermin dari rasa takut yang sama yang pernah dirasakan ayahku saat menghadapi koperasinya dulu? Pertanyaan itu menghantamku jauh lebih keras daripada protes Rifda.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" suaraku terdengar serak. "Membiarkan mereka terjun tanpa pelampung ke lautan digital yang penuh dengan jerat judi dan eksploitasi? Apa kau pikir itu adil bagi mereka yang masih terlalu muda untuk mengerti bahwa setiap klik mereka adalah kerugian bagi orang lain?"

Nabil berdiri, berjalan pelan ke arah papan tulis. Ia tidak mengambil spidol. Ia hanya menatap paku di dinding itu sekali lagi, lalu beralih menatapku. "Tugas kami dulu di bengkel, Mas, bukan hanya memperbaiki mesin yang rusak. Tugas kami adalah mengerti cara kerja mesin itu dari baut yang paling kecil. Jika kita ingin mereka selamat, ajarkan mereka cara membangun sesuatu yang benar, bukan sekadar membatasi apa yang boleh mereka lihat. Berikan mereka tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menjadi penonton atau kreator konten yang haus pengikut. Berikan mereka sesuatu untuk dibuat dengan tangan mereka sendiri, sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh koin putar manapun."

Ruangan itu terasa semakin sempit oleh kebenaran yang baru saja diucapkan. Aku menoleh ke arah lemari besi. Di sana, di dalam tumpukan dokumen yang selama ini kujaga dengan ketat, tersimpan jejak-jejak masa lalu yang sering kali ingin kulupakan. Aku menyadari satu hal krusial. Sistem yang kubangun memang berhasil memetakan data, tapi gagal memetakan jiwa anak-anak itu. Aku terlalu terpaku pada data masuk dan keluar, pada keamanan jaringan, dan pada verifikasi manual, hingga lupa bahwa mendidik adalah tentang menumbuhkan kepercayaan diri, bukan menciptakan ketergantungan pada sebuah pengawasan.

Aku berdiri, berjalan mendekati Nabil. "Apa kau tahu apa yang dimaksud dengan sesuatu untuk dibuat itu?" tanyaku pelan, menuntut jawaban yang lebih konkret dari sekadar metafora.

Nabil tersenyum tipis. Ia menunjuk ke arah bengkel Pak Haris yang terletak di seberang halaman, tempat di mana peti alat tua itu kini diletakkan. "Ayahmu sudah memulainya, Mas. Ia tidak sedang mengajar mereka untuk melawan teknologi dengan kebencian. Ia sedang mengajar mereka cara menghargai alat, cara memperbaiki sesuatu yang rusak, dan cara memahami bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan dengan sekali tekan tombol enter. Itu adalah tanggung jawab yang nyata."

Aku terdiam cukup lama. Di luar, suara azan Magrib mulai berkumandang dari kejauhan, membelah kesunyian pulau. Aku tahu rapat ini tidak akan menghasilkan revisi kebijakan yang instan. Aku tahu aku tidak bisa seketika membubarkan Sistem yang telah menghabiskan waktu setahun untuk kurancang. Namun, aku juga tahu bahwa cara pandangku baru saja retak oleh kejujuran Nabil. Aku menatap paku di dinding itu untuk terakhir kalinya, membayangkan betapa selama ini aku bertindak sebagai polisi atas kehidupan mereka, sementara mereka sebenarnya hanya butuh seorang guru yang mau duduk bersama tanpa rasa curiga.

"Aku butuh waktu untuk memikirkan ini semua," kataku pelan, memecah ketegangan yang masih tersisa di antara kami. "Rapat ini selesai untuk hari ini. Tapi besok, kita akan bicara lagi. Bukan tentang aturan akun, tapi tentang bagaimana kita bisa membawa bengkel itu ke dalam kurikulum rumah belajar."

Rifda mengangguk singkat, lalu beranjak pergi tanpa sepatah kata pun. Ia tahu bahwa pengakuanku bukanlah sebuah kekalahan, melainkan langkah awal dari sebuah perubahan yang lebih besar. Nabil pun ikut beranjak, namun sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti sejenak di sampingku. Ia tidak melihat ke arahku, namun ia menatap paku kosong di bingkai kayu itu dengan tatapan yang penuh dengan sisa-sisa ingatan lama.

"Mas Pratama," panggilnya tanpa menoleh, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam dalam deru angin yang membawa aroma laut masuk ke ruangan. "Yang menyelamatkan saya dulu bukan kunci yang dicabut dari paku itu, melainkan sesuatu yang diberi untuk dibuat, dan tak seorang pun di ruangan itu, termasuk kau, berani menjawab."

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.