Raka dan Laptop Kedua
Bab 7
Udara siang ini terasa berat oleh aroma garam yang terbakar matahari, menempel di seragam santri yang mulai lembap. Aku duduk di sudut ruang belajar, menatap layar laptop yang menampilkan baris-baris kode tak bermakna, sementara Ustazah Rifda berdiri di depan kelas dengan tangan terlipat di dada. Dia baru saja memberikan tantangan yang membuat napas teman-temanku tertahan. "Kalian punya waktu enam puluh detik," ucapnya tenang, suaranya menembus suara kipas angin tua yang berputar malas di langit-langit. "Ceritakan pulau ini tanpa menyebut nama tempat, tanpa menyebut nama kalian sendiri, dan tanpa menyentuh layar digital sedikit pun. Gunakan apa yang kalian lihat dengan mata kepala, bukan melalui lensa kamera."
Aku menggeser kursi, mencoba menyembunyikan getaran di tanganku. Pikiranku justru melayang pada video Bintang yang baru saja aku unggah kemarin malam. Video itu memperlihatkan Bintang yang sedang berlumur oli, sibuk memperbaiki mesin tempel perahu ayahnya di dermaga. Tak disangka, video sederhana itu meledak. Angka tayangan di dasbor kanal melompat jauh di atas rata-rata, menembus angka satu juta hanya dalam hitungan jam. Itu adalah keberhasilan digital pertama kami yang nyata, dan aku merasa dadaku sesak oleh rasa bangga yang bercampur takut.
"Raka?" Ustazah Rifda memanggilku, matanya yang tajam menatapku seolah bisa membaca keraguan yang kusimpan di balik saku baju.
Aku berdiri, berusaha menata napas. "Pulau ini adalah suara mesin perahu yang mati di tengah laut setiap pukul empat pagi," kataku pelan, menatap titik di atas bahu Ustazah. "Ini adalah bau kapur yang luruh dari dinding rumah saat hujan datang, dan langkah kaki orang-orang yang menunggu di dermaga meski tahu perahu yang mereka nanti tidak akan pernah kembali lagi." Suasana kelas menjadi sunyi, hanya derit kayu jendela yang terdengar.
Sebelum Ustazah sempat menanggapi, ponsel di dalam saku sarungku bergetar panjang. Itu Devan. Aku meminta izin dengan isyarat tangan dan melangkah keluar menuju teras samping. Suara Devan terdengar antusias, hampir terlalu bersemangat untuk ukuran manajer agensi yang biasanya dingin. "Raka, video itu luar biasa. Sponsor sangat menyukainya. Tiket kapal ke Surabaya sudah saya siapkan, bukan cuma untukmu, tapi untuk satu teman lagi. Ajaklah siapa saja yang menurutmu bisa diajak bekerja sama."
Aku mematikan sambungan tepat saat Bintang muncul di ujung jalan setapak, langkahnya terburu-buru. Wajahnya pucat, tapi matanya berbinar aneh. Dia segera menarikku ke balik pilar masjid, tangannya gemetar saat menyodorkan layar ponsel miliknya. "Lihat ini, Rak," bisiknya dengan suara serak. "Semalam, koin putar di akunku naik tiga juta. Tiga juta dalam semalam!"
Aku terpaku melihat deretan angka di layar. Namun, sebelum aku sempat membuka mulut untuk mengucapkan selamat, angka-angka itu mulai berkedip liar, memudar, dan perlahan runtuh ke titik nol tepat di depan mata kami berdua.
Aku terdiam. Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan di depan masjid terasa membakar kulit, namun dingin yang merambat dari jemari Bintang lebih menusuk. Angka nol itu statis, menantang, dan tak lagi berubah meski Bintang menekan layar berkali-kali dengan ibu jari yang kasar karena oli mesin. Dia menatap layar itu seolah menunggu keajaiban, seolah angka-angka tersebut hanyalah debu yang tertiup angin dan akan kembali menetap jika dia cukup sabar menanti.
"Mungkin aplikasinya sedang pemeliharaan server," ucapku lirih. Aku mencoba menenangkan diri sendiri, meski di dalam benakku, suara Devan saat menelepon tadi terasa seperti peringatan yang baru saja menemukan wujudnya.
Bintang menggeleng cepat, napasnya memburu. "Bukan pemeliharaan, Rak. Ini tidak masuk akal. Tadi malam, saat aku baru saja selesai membantu Ayah mengelas baling-baling, aku iseng mengecek akun. Saldo itu ada. Tiga juta koin. Aku bahkan sudah menghitung apa yang bisa kubeli dengan itu. Mesin tempel bekas di pengepul bisa didapat dengan harga segitu jika kita beruntung."
Dia menatapku, matanya yang biasa tenang kini penuh dengan guncangan. "Bagaimana mungkin uang sebanyak itu hilang dalam satu kedipan mata?"
Aku tidak menjawab. Aku teringat kontrak yang masih terselip di dalam sarungku. Devan menawarkan tiket kapal, menjanjikan Surabaya sebagai gerbang masa depan, namun di sini, di bawah bayang-bayang masjid, aku melihat bagaimana janji-janji itu mulai menguap. Aku teringat teguran Ayah semalam tentang Sistem pengawasan yang dia buat. Apakah ini yang dia maksud dengan jerat? Bahwa setiap angka yang kami lihat di layar bukanlah milik kami, melainkan angka-angka yang dipinjamkan oleh mereka yang memegang kendali atas server di balik sana?
"Bintang," panggilku pelan. "Jangan kau masukkan lagi uang ke sana. Apapun yang terjadi, jangan pernah lagi."
Bintang tertawa pahit. Dia memasukkan ponselnya ke saku dengan kasar. "Mudah bagimu bicara, Rak. Kau punya segalanya. Ayahmu punya Sistem, punya rumah belajar, punya kehormatan. Aku? Aku hanya punya perahu sewaan dan utang yang harus kubayar sebelum mesin itu ditarik kembali oleh pemiliknya. Jika koin itu hilang, maka perahu itu juga hilang. Dan jika perahu itu hilang, tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap berada di dermaga."
Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku pun terikat. Bahwa undangan dari Devan bukanlah tiket kebebasan, melainkan surat panggilan untuk masuk lebih dalam ke dalam labirin yang Ayah sendiri selalu peringatkan untuk dihindari. Namun, aku hanya diam. Aku teringat tugas dari Ustazah Rifda tadi. Ceritakan pulau ini. Mungkin inilah pulau yang sebenarnya. Bukan hanya debur ombak dan aroma garam, melainkan tentang kami yang terjebak di antara mimpi-mimpi digital yang rapuh dan kenyataan hidup yang semakin sempit.
Kami berjalan kembali ke arah kelas dengan langkah berat. Bintang tidak lagi bicara tentang koin, namun aku bisa melihat bahunya yang merosot. Dia tampak lebih tua dari usianya. Di kejauhan, aku melihat Pak Sahlan sedang berdiri di dermaga, menatap cakrawala dengan tangan yang terlipat di belakang punggung. Dia tampak seperti patung garam yang menunggu perahunya kembali, namun perahu itu tidak pernah datang. Ayah sering bilang bahwa di pulau ini, harapan sering kali menjadi beban yang paling berat untuk dipikul, karena kita tidak pernah diajarkan cara melepaskannya.
Sesampainya di kelas, suasana sudah tidak lagi tegang. Ustazah Rifda sedang merapikan buku-buku di meja, wajahnya tampak tenang, seolah dia sudah tahu apa yang akan terjadi di luar sana. Dia menatap kami yang baru saja masuk dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tidak bertanya ke mana kami pergi, tidak juga menanyakan kenapa ponselku bergetar. Dia hanya menunjuk ke arah kursi kami.
"Waktu kalian habis," katanya singkat. "Tapi pelajaran tentang pulau ini baru saja dimulai. Jangan mencari jawaban di balik layar jika kalian bahkan belum tahu apa yang kalian cari di tanah tempat kalian berpijak."
Aku duduk di bangku kayu yang keras. Tanganku meraba saku sarung, memastikan map kontrak itu masih ada. Aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Di satu sisi, ada Devan dengan tawaran gemerlap Surabaya dan uang yang bisa menyelesaikan masalah Bintang, namun di sisi lain, ada kenyataan yang baru saja terjadi di layar ponsel sahabatku. Uang itu tidak pernah ada. Atau lebih tepatnya, uang itu memang milik mereka yang bisa mematikannya kapan saja mereka mau.
Aku menatap layar laptop yang mati di depanku. Bayanganku sendiri terpantul di sana, samar dan tak jelas. Aku adalah Raka, santri yang mencoba menjadi kreator, yang mencoba membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kaki sendiri. Namun, saat ini, aku merasa seolah-olah seluruh duniaku adalah sebuah simulasi yang sedang diatur oleh seseorang yang bahkan tidak mengenal siapa aku.
"Rak," Bintang berbisik di sampingku saat Ustazah Rifda mulai membagikan lembar tugas baru. "Apa menurutmu Devan benar-benar ingin menolong kita?"
Aku menoleh padanya. Aku ingin mengatakan ya. Aku ingin memberikan harapan yang sama seperti yang dia harapkan dariku. Namun, aku teringat wajah Ayah saat dia menyita ponsel-ponsel santri dan menetapkan Sistem pengawasan itu. Dia bukan sedang menjadi penjara, dia sedang berusaha mencabut kail yang sudah terlanjur menancap di tenggorokan kami.
"Kita akan tahu saat kita sampai di Surabaya nanti, Bintang," jawabku, meski aku sendiri tidak yakin apakah aku akan membawa kontrak itu atau meninggalkannya di bawah paku kosong di bengkel kakek.
Saat bel sekolah berbunyi, menandakan akhir dari hari yang panjang, aku melihat ke luar jendela. Langit mulai berubah warna menjadi jingga gelap, warna yang sama dengan yang sering digambarkan oleh kakek tentang masa lalunya. Masa lalu yang penuh dengan fitnah dan penghianatan, masa lalu yang mungkin akan terulang kembali jika aku tidak segera mengambil keputusan. Aku tahu, apa pun yang aku pilih, pulau ini akan tetap sama. Dia akan tetap menelan mimpi-mimpi anak mudanya, satu per satu, lewat cara yang paling halus, yaitu melalui layar yang selalu ada di dalam saku kami.



