Bab 8 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Warnet Gratis

3 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 8

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 8

Gratis

Aku melangkah menembus udara sore yang lembap, bau amis dari dermaga terbawa angin hingga ke depan bangunan kayu bercat kusam itu. Warnet gratis milik Cak Wildan selalu ramai oleh suara riuh anak-anak, meski matahari hampir tenggelam dan azan magrib sebentar lagi berkumandang. Langkahku terhenti di ambang pintu, mataku menyapu deretan layar yang menyala terang, memantulkan wajah-wajah tegang santri yang seharusnya sedang bersiap menuju masjid. Aku tahu apa yang mereka cari di balik papan ketik itu. Bukan sekadar gim, melainkan harapan palsu yang dipompa oleh kode referal dan algoritma yang dirancang untuk menguras uang jajan mereka sampai ke dasar saku.

"Cak, bisa kita bicara sebentar?" kataku, suaraku datar meski ada gejolak yang kupendam. Cak Wildan yang sedang duduk di balik meja kasir menoleh, membetulkan letak kopiahnya dengan gerakan lambat. Ia tidak terlihat terkejut melihatku berdiri di sana.

"Mas Pratama. Tumben mampir ke sini, apa ada yang perlu diperbaiki dari sambungan kabel warnet saya?" jawabnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Ia mematikan rokok di asbak, lalu menunjuk sebuah papan kayu yang dipaku mencolok di dinding. Di sana tertulis jelas: Unit Usaha Yayasan Cahaya Satrio. Di bawahnya, terselip fotokopi surat izin desa yang distempel basah.

Aku mendekat, tidak mempedulikan tatapan anak-anak yang kini mulai melirik ke arah kami. "Tutup akses aplikasi turnamen itu, Cak. Anak-anak ini tidak sedang bermain, mereka sedang diperas. Saya tahu server ini terhubung ke pihak yang sama dengan yang dulu pernah menghancurkan koperasi di sini."

Cak Wildan tertawa kecil, suara itu terdengar kering seperti gesekan amplas di kayu. Ia berdiri, tubuhnya yang tegap menghalangi jalan menuju meja server. "Mas, ini tanah pulau. Izin sudah turun dari kepala desa, dan yayasan ini hanya menyediakan fasilitas agar anak-anak tidak ketinggalan zaman. Bukankah Mas sendiri yang selalu bicara tentang pentingnya melek teknologi?"

Aku mengepalkan tangan di balik saku baju koko. Setiap argumen yang ia keluarkan terasa seperti duri. "Teknologi untuk belajar, bukan untuk judi terselubung."

"Judi atau bukan itu urusan nasib, Mas Pratama," jawab Cak Wildan sambil mencondongkan tubuh ke arahku. Suaranya merendah, hanya bisa kudengar. "Saya tahu anakmu, Raka, siaran dari atap tiap malam. Dia pikir dia cerdas menyembunyikan sinyal di balik frekuensi radio masjid. Pertanyaannya sekarang, apakah Mas ingin tahu siapa lagi yang tahu tentang itu? Daftarnya jauh lebih panjang daripada daftar akun yang ada di dalam Sistem buatanmu sendiri."

Aku terdiam. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa menyesakkan, bercampur bau debu tua dan sirkulasi udara mesin yang berputar tanpa henti. Kalimat Cak Wildan bukan sekadar gertakan, melainkan sebuah pengakuan yang menampar kesadaranku sebagai ayah. Selama ini, aku merasa telah membangun benteng yang kokoh bagi Raka, sebuah sistem pengawasan yang kupikir mampu melindunginya dari pengaruh buruk dunia luar. Namun, di hadapan Cak Wildan, sistem itu tampak seperti tumpukan kartu yang rapuh.

"Apa maksudmu dengan daftar itu?" tanyaku, berusaha menjaga agar suaraku tetap rendah dan terkendali. Aku tidak ingin memancing perhatian lebih lanjut dari anak-anak yang masih sibuk di depan layar. Tanganku yang berada di dalam saku baju koko gemetar hebat. Aku harus tetap tenang, setidaknya sampai aku keluar dari tempat ini dengan membawa jawaban yang masuk akal.

Cak Wildan justru tertawa, sebuah tawa pendek yang tidak menyembunyikan nada meremehkan. Ia melangkah mendekati papan informasi di dinding, jarinya menyentuh stempel basah pada surat izin yang terpasang di sana. "Daftar pelanggan, Mas. Daftar orang-orang yang merasa berhak tahu ke mana anak-anak pulau ini melangkah. Mas pikir hanya Mas yang peduli pada Raka? Ada banyak mata di sini, di setiap sudut dermaga, di setiap warung kopi, bahkan di dalam rumah-rumah yang terlihat tenang di pinggir pantai."

Aku merasakan tenggorokanku kering. Jika benar apa yang dikatakan Wildan, maka selama ini Raka tidak hanya diawasi olehku, tetapi oleh sebuah jaring yang jauh lebih luas dan lebih gelap daripada yang bisa kubayangkan. Aku memikirkan malam-malam di mana Raka izin pergi ke masjid, atau saat ia menghabiskan waktu berjam-jam di atap dengan alasan mencari sinyal untuk tugas sekolah. Semuanya kini terasa seperti sebuah pertunjukan yang telah dipersiapkan, di mana anakku adalah pemain utamanya.

"Siapa saja mereka?" desakku sekali lagi. Aku menatap tajam ke matanya, mencoba mencari celah kebohongan di sana. Namun, Cak Wildan hanya membalas tatapanku dengan pandangan kosong yang datar, seolah ia sedang membacakan daftar belanjaan biasa.

"Itu bukan sesuatu yang bisa kukatakan secara gratis, Mas," jawabnya santai. Ia kembali duduk ke kursi kasirnya, memutar bolpoin di sela jari-jarinya. "Yayasan ini punya cara untuk mendata siapa saja yang berkepentingan. Mereka bukan orang asing. Mereka adalah tetangga, guru, bahkan orang-orang yang setiap hari menyalami tangan Mas di pintu masjid. Mereka tahu bahwa Raka adalah kunci untuk membuka pintu bagi sponsor besar yang ingin masuk ke desa ini."

Aku teringat pada Nabil, pada Rifda, dan pada setiap orang yang pernah mempertanyakan Sistem yang kubangun. Apakah mereka juga bagian dari daftar itu? Atau justru mereka adalah korban dari pengintaian yang sama? Ketidakpikiranku berpacu, menghubungkan potongan-potongan peristiwa dari rapat guru hingga somasi yang sempat terlintas di benak kami. Jika Raka benar-benar menjadi komoditas bagi yayasan, maka posisiku sebagai orang tua tidak lagi cukup untuk melindunginya. Aku butuh bantuan, tapi dari siapa? Di pulau ini, kepercayaan adalah barang mewah yang mulai langka.

Aku keluar dari warnet dengan langkah berat. Suara azan magrib baru saja berkumandang dari kejauhan, memecah kesunyian senja yang semakin kelam. Aku tidak kembali ke rumah belajar, melainkan berjalan menuju bengkel Pak Haris. Aku butuh seseorang yang tidak memiliki kepentingan dengan layar atau yayasan, seseorang yang telah melihat bagaimana fitnah bisa menghancurkan hidup tanpa perlu sebuah komputer.

Sesampainya di bengkel, aku menemukan Pak Haris sedang menyolder komponen kecil di meja kerjanya. Aroma timah cair menyengat hidungku. Ia tidak mendongak saat aku masuk, seolah sudah tahu kedatanganku. "Sistemmu mulai retak, Pratama?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya parau namun tenang.

Aku menarik kursi kayu dan duduk di depannya. "Mereka tahu, Pak. Mereka tahu tentang Raka. Cak Wildan menyebutkan daftar orang-orang yang memantau Raka lebih panjang daripada daftar akun di sistem saya."

Pak Haris meletakkan alat soldernya. Ia menatapku dengan mata yang mulai sayu, namun tetap tajam. "Orang-orang di sini lapar akan perubahan, Pratama. Mereka mengira perubahan itu ada di dalam kotak-kotak digital yang dibawa yayasan. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menggali lubang untuk diri mereka sendiri. Kau harus menghentikan Raka sebelum dia benar-benar terjebak dalam kontrak yang tidak bisa dia mengerti."

"Bagaimana cara menghentikannya tanpa harus menghancurkan kepercayaan Raka padaku?" tanyaku putus asa. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis yang bisa putus kapan saja.

Pak Haris menghela napas panjang. Ia mengambil selembar kertas tua dari laci mejanya, sebuah dokumen yang tidak pernah kutahu keberadaannya. "Berhenti mengawasi layar, mulailah mengawasi orang. Kunci sebenarnya bukan pada kode akses atau kata sandi. Kunci itu ada pada restu yang kau berikan atau kau tahan sebagai orang tua. Jangan biarkan Raka menanggung beban yang bahkan kau sendiri belum siap untuk membawanya."

Aku menatap kertas itu, sebuah draf surat perjanjian lama yang tidak pernah selesai. Di sana tertulis nama-nama yang kukenal, nama-nama yang dulunya adalah kawan, sebelum akhirnya berubah menjadi bagian dari sistem kekuasaan yang kini mencekik desa kami. Malam itu, di bengkel yang remang-remang, aku menyadari bahwa perjuanganku bukan lagi tentang teknologi, melainkan tentang mempertahankan integritas keluarga di tengah arus yang berusaha menyeret kami ke dasar.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.