Raka dan Laptop Kedua
Bab 9
Aku mengetuk pintu kayu kamar Ibu dengan pelan. Suara gesekan kertas di dalam berhenti sejenak sebelum sebuah jawaban terdengar dari balik pintu. Aku melangkah masuk, mendapati Ibu sedang duduk di tepi ranjang dengan kacamata baca bertengger di pangkal hidung. Di tangannya, sebuah dokumen kontrak dari agensi Layar Satu tampak sangat mencolok di antara tumpukan buku-buku lama yang tersusun rapi di meja.
"Ini untuk Surabaya, Bu," kataku sambil meletakkan map biru di atas pangkuannya. Ibu tidak langsung membukanya. Ia menatapku sejenak dengan sorot mata yang tenang, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Tangannya yang halus mulai membuka lembaran-lembaran kertas itu satu per satu.
Aku berdiri di sana, mencoba mengatur napas. Jantungku berdegup biasa saja, tidak ada debar berlebihan, hanya rasa tidak sabar yang menggantung. Ibu mulai membaca, matanya bergerak cepat mengikuti baris demi baris kalimat hukum yang rumit. Semakin jauh ia membaca, semakin tenang raut wajahnya. Ia tidak mengernyit, tidak juga menghela napas, hanya diam dengan keheningan yang terasa seperti air tenang yang menyimpan arus di bawahnya.
"Lima tahun, Raka," gumam Ibu pelan, suaranya jernih namun menusuk. Ia menunjuk satu klausul yang menyatakan bahwa seluruh hak atas nama, wajah, dan kanal milikku sepenuhnya dikuasai oleh agensi dalam jangka waktu tersebut. "Mereka tidak memintamu menjadi kreator, mereka memintamu menjadi komoditas."
Aku terdiam. Aku tahu klausul itu ada, namun aku memilih mengabaikannya demi peluang yang dijanjikan Devan. "Ini kesempatan untuk berkembang, Bu. Semua orang di pulau ini butuh sesuatu yang baru," jawabku, mencoba membela diri meski suaraku terdengar tipis di telingaku sendiri.
Ibu menutup map itu perlahan. Ia tidak menatapku lagi, melainkan menatap ke arah jendela yang terbuka. Angin laut malam ini membawa aroma garam yang pekat. Ibu tidak melarangku, tidak pula bertanya mengapa aku begitu gigih mengejar sesuatu yang jelas-jelas merugikanku. Ia hanya meletakkan map itu di atas meja kayu di samping tempat tidur. "Istirahatlah, Raka. Besok masih ada sekolah," ucapnya singkat. Ibu tidak menandatangani kontrak itu, namun ia juga tidak memanggil Ayah atau mendiskusikannya dengan nada tinggi. Ia hanya mematikan lampu meja, membiarkan ruangan tenggelam dalam remang cahaya bulan yang masuk dari celah kisi-kisi jendela. Aku keluar dari kamar itu dengan perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan, meninggalkan Ibu yang kembali terdiam dalam dunianya sendiri, seolah sedang menungguku jatuh untuk melihat apakah aku bisa bangkit kembali dengan caraku sendiri.
Aku melangkah menuju kamarku dengan langkah yang terasa berat, seolah lantai kayu rumah ini menyimpan magnet yang menahan kakiku. Di luar, suara debur ombak di dermaga terdengar samar, bersahutan dengan gesekan daun kelapa yang tertiup angin laut. Aku masih memikirkan tatapan Ibu tadi. Tidak ada amarah, tidak ada larangan keras yang biasanya berujung pada perdebatan panjang di meja makan. Hanya keheningan yang terasa lebih berat daripada bentakan Ayah sekalipun. Keheningan itu seperti sebuah ruang tunggu yang kosong, dingin, dan sangat mengintimidasi.
Aku merebahkan diri di atas tikar pandan, menatap langit-langit kamar yang mulai retak di beberapa bagian. Ponselku tergeletak di samping bantal, layarnya sesekali menyala menampilkan notifikasi dari Devan. Pesan-pesan itu sekarang terasa seperti duri. "Raka, pastikan besok kontrak sudah di tangan agar tiket keberangkatan bisa segera diproses," tulisnya singkat satu jam yang lalu. Aku mematikan ponsel itu, memutar tubuh ke arah dinding, berusaha mengusir bayangan wajah Bintang yang memohon agar aku tidak membatalkan proyek ini. Bintang butuh uang itu untuk mesin tempel ayahnya, dan aku butuh pengakuan bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang berarti bagi pulau ini.
"Kamu tidak akan mengerti jika tidak mencobanya sendiri," bisikku pada diri sendiri di tengah kegelapan. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis yang membentang di antara dua karang tajam. Di satu sisi ada Ayah dengan Sistem dan aturan ketatnya yang sudah mulai retak, di sisi lain ada dunia luar yang menawarkan pintu keluar namun dengan harga yang mungkin tidak sanggup kubayar.
Aku memejamkan mata, berharap tidur bisa membawa jawaban. Namun, bayangan dokumen biru itu terus muncul di pelupuk mata. Klausul lima tahun itu. Apakah aku benar-benar siap menyerahkan lima tahun hidupku untuk menjadi angka-angka di dasbor agensi? Apakah wajah dan namaku akan terus diputar tanpa henti, sementara aku sendiri hanya menjadi penonton bagi hidupku sendiri? Aku teringat cerita Kakek tentang koperasi yang hancur karena tanda tangan yang salah tempat. Saat itu, Kakek selalu bilang bahwa pena adalah senjata, dan tanda tangan adalah peluru yang bisa menembus jantung pemiliknya sendiri.
"Apa yang kau cari di sana, Raka?" suara itu tiba-tiba terdengar, halus namun jelas. Aku tersentak, terduduk tegak di atas tikar. Ibu sudah berdiri di ambang pintu, hanya siluet yang tertangkap mata karena cahaya dari ruang tengah membelakanginya.
"Aku hanya ingin membantu Bintang, Bu. Dan aku ingin membuktikan bahwa anak pulau bisa bersaing di Surabaya," jawabku jujur, suaraku sedikit bergetar.
Ibu melangkah masuk, duduk di kursi kayu kecil di sudut kamarku. "Membantu orang lain itu mulia, Raka. Tapi jangan sampai kamu membantu mereka dengan cara menghancurkan dirimu sendiri. Kamu tahu apa yang terjadi pada Kakekmu dulu? Dia tidak pernah benar-benar mencuri, tapi dia membiarkan orang lain memegang kendali atas apa yang seharusnya menjadi miliknya." Ibu diam sejenak, menghela napas panjang. "Kamu sudah dewasa, Raka. Ibu tidak bisa melarangmu setiap saat. Tapi, ingatlah bahwa setiap jejak digital yang kamu buat hari ini akan menjadi sejarah yang tidak bisa kamu hapus besok pagi."
Aku ingin bertanya lebih banyak, tapi Ibu sudah berdiri dan beranjak keluar tanpa menoleh lagi. Suara langkahnya di atas lantai kayu menjauh, meninggalkan aku sendirian dengan pikiran yang semakin kalut. Aku kembali memikirkan kontrak itu. Jika Ibu tidak menandatanganinya, apakah Devan akan mencoret namaku? Atau apakah dia akan mencari cara lain untuk menjeratku? Aku merasa seperti sedang terjebak di tengah laut tanpa kompas.
Aku mencoba bangkit, mengambil wudhu di sumur belakang untuk menenangkan pikiran yang terus bergejolak. Suasana malam di pulau begitu kontras dengan hiruk pikuk yang dijanjikan agensi. Di sini, suara jangkrik dan embusan angin adalah satu-satunya irama yang jujur. Aku teringat pada pesan Ustazah Rifda siang tadi. Katanya, kejujuran adalah mata uang yang paling mahal di dunia yang sudah kehilangan arah. Apakah kontrak ini adalah bentuk kejujuran, atau justru bentuk penipuan yang dibungkus rapi dengan bahasa hukum?
Aku kembali ke kamar, menatap tumpukan sarung yang terlipat rapi di sudut. Aku sengaja menaruh dokumen itu di sana, berharap Ibu berubah pikiran di saat terakhir. Namun, hatiku masih bimbang. Aku mengambil satu lembar kertas kosong dari meja belajar, mencoba menulis draft pesan untuk Devan. Aku ingin menanyakan tentang klausul itu, tapi jemariku berhenti di atas layar ponsel. Aku tidak ingin terlihat lemah. Aku tidak ingin dia menganggapku sebagai santri kecil yang takut pada bayang-bayang sendiri.
"Kamu terlalu banyak berpikir, Raka," gumamku lagi, kali ini dengan nada yang lebih sinis terhadap diriku sendiri. Aku merebahkan diri kembali, membiarkan kantuk akhirnya menjemput paksa. Dalam lelap yang tidak tenang, aku memimpikan perahu Bintang yang karam di tengah badai, sementara aku hanya bisa berdiri di dermaga memegang laptop yang tidak menyala. Aku terbangun saat suara azan subuh mulai berkumandang dari kejauhan. Udara pagi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang.
Aku segera beranjak, melaksanakan salat, lalu teringat pada dokumen di dalam lipatan sarung. Tanganku gemetar saat membukanya. Aku berharap kertas itu masih bersih dari tanda tangan, atau setidaknya, aku berharap Ibu sudah membuangnya. Namun, mataku terbelalak saat melihat map biru itu sudah tergeletak di sana. Aku menarik napas dalam, membuka lembaran terakhir. Di baris yang seharusnya dibubuhi tanda tangan wali, terdapat sebuah coretan tinta hitam yang tegas dan tajam. Itu bukan tanda tangan Ibu. Garisnya jauh lebih kaku, lebih bertenaga, dan memiliki lekukan yang terasa sangat asing di mataku. Itu adalah tanda tangan seseorang yang sudah lama tidak memegang pena untuk urusan seperti ini, namun memiliki otoritas yang tidak terbantahkan di rumah ini. Besok paginya formulir di lipatan sarung Raka sudah bertanda tangan wali, dan tulisan itu bukan tulisan ibunya.



