Bab 10 Gratis Novel Religi & Keluarga

Raka dan Laptop Kedua

Kartu Merah

3 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 10

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Raka dan Laptop Kedua

Bab 10

Gratis

Udara di dalam bengkel terasa lebih berat dari biasanya. Bau oli bekas dan debu kayu yang menempel di rak perkakas seolah menyatu dengan kegelisahan yang mengendap di dada. Aku mematikan monitor server yang sedari tadi menampilkan deretan log merah. Sistem pengawasan yang kubangun selama dua tahun terakhir tidak lagi melindunginya. Sistem itu justru menolak kartu Raka, menganggapnya sebagai entitas asing yang tidak terdaftar, padahal aku tahu betul siapa yang memegang akses itu.

Pintu bengkel berderit. Raka masuk dengan langkah ragu, matanya tertuju pada meja kerja yang bersih dari alat-alat koding. Aku sudah menunggunya di sana, tepat di bawah lampu neon yang berkedip lemah.

Aku meraih kartu poin milik Raka dari atas tumpukan dokumen. Tanpa sepatah kata, kartu plastik tipis itu kubanting ke permukaan meja kayu hingga menimbulkan bunyi dentum yang tajam. Kartu itu bukan kunci, melainkan bukti bahwa ia telah melangkah terlalu jauh ke tempat yang tidak pernah kuizinkan.

"Apa ini?" tanyaku, membiarkan suaraku tetap rendah meski hatiku bergejolak. Aku menunjuk kartu yang tergeletak di antara debu.

Raka tidak segera menjawab. Ia menatap kartu itu dengan tatapan yang sulit kubaca. Ada sisa-sisa keberanian yang ia ambil dari dunianya sendiri, dunia yang tidak lagi sepenuhnya bisa kupantau lewat layar.

"Itu kartu yang ayah berikan, bukan?" suara Raka terdengar datar, namun ada nada menantang di sana.

"Ini adalah penanda bahwa akunmu tidak lagi dikenal oleh sistem yang ayah buat. Kau mencoba masuk ke kanal yang tidak lagi aman, Raka. Apa kau tahu apa yang kau pertaruhkan di sini?"

Raka menarik napas panjang, bahunya sedikit tegak. "Ayah dulu juga dilarang, kan? Kakek melarang ayah menyentuh perangkat itu karena beliau takut. Ayah juga melakukan hal yang sama padaku sekarang, melarang tanpa memberi ruang untuk bicara."

Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada bantingan kartu tadi. Aku menatapnya, mencari jejak anak kecil yang dulu selalu duduk di sampingku sambil memperhatikan kode-kode yang kutulis. Kini, yang berdiri di depanku adalah seorang remaja yang merasa bahwa laranganku hanyalah gema dari ketakutan masa lalu yang tidak relevan baginya.

"Ini bukan soal melarang tanpa alasan. Ini soal tanggung jawab yang belum bisa kau pikul," kataku, mencoba mengendalikan emosi yang mulai merambat naik ke tenggorokan.

"Tapi Ayah sendiri yang bilang bahwa teknologi adalah amanah. Kalau begitu, kenapa sekarang Ayah takut saat aku mencoba memegang amanah itu sendiri?"

Sebelum aku sempat membalas, langkah kaki pelan terdengar di ambang pintu bengkel. Pak Haris masuk dengan nampan berisi dua cangkir kopi yang mengepulkan asap tipis ke udara. Ia tidak menatap kami, namun kehadirannya memenuhi ruangan dengan otoritas yang tenang.

Pak Haris meletakkan nampan di atas meja kayu yang kasar. Aroma kopi robusta pekat seketika menguar, mendominasi bau oli dan logam bengkel. Beliau tidak terburu-buru. Tangannya yang berurat menata cangkir dengan gerakan lambat dan terukur, seolah-olah ia tidak melihat ketegangan yang membeku di antara aku dan Raka. Aku melirik tangannya yang gemetar sedikit saat meletakkan cangkir milikku. Itu adalah tangan yang sama yang dulu pernah dituduh mencuri dana koperasi di pesantren, tangan yang sama yang menyobek halaman-halaman sejarah untuk menyelamatkan martabat keluarganya dari fitnah yang tidak pernah berhenti mengejar.

"Kopi pahit tidak akan meredakan kepala yang panas, Tama," ucap Pak Haris tanpa menoleh. Suaranya serak, khas suara orang yang lebih banyak diam daripada bicara. Ia menatap Raka sejenak, tatapan yang mengandung kasih sayang namun juga peringatan yang sangat tajam. "Raka, pulanglah ke rumah. Ibumu sedang menyiapkan makan malam. Jangan buat dia menunggu lebih lama lagi."

Raka sempat ragu. Ia menatap kartu plastik yang tergeletak di meja, lalu menatapku. Ada keinginan untuk membantah, untuk menjelaskan bahwa dunianya tidak seburuk yang kubayangkan, namun ia tahu batas. Ia mengangguk pelan, menyalami tangan Pak Haris dengan takzim, lalu berbalik pergi tanpa menatapku. Langkah kakinya terdengar samar di atas lantai tanah sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kayu yang mulai keropos.

Aku menghela napas panjang, memijat pangkal hidungku yang terasa ngilu. "Dia tidak mengerti, Pak. Dia pikir dia sedang berjuang, padahal dia hanya sedang menjerat dirinya sendiri dalam sistem yang sudah dirancang untuk menelannya. Aku sudah mencoba membatasi aksesnya, tapi agensi itu licik. Mereka tahu bagaimana cara masuk melalui celah yang tidak bisa kututup dengan firewall."

Pak Haris menarik kursi kayu tua dan duduk. Ia menatap meja kerja yang kosong. "Kau terlalu fokus pada layar, Tama. Kau pikir kalau kau bisa mematikan log atau memblokir kartu, masalah selesai. Tapi anak itu tidak sedang memegang mesin. Dia sedang memegang harapan untuk temannya. Dan kau tahu, harapan adalah hal yang paling sulit dikendalikan oleh kode apa pun."

Aku terdiam. Apakah aku memang seegois itu? Apakah aku sedang mengulangi kesalahan ayahku, mencoba mengatur kehidupan seseorang demi alasan keamanan yang sebenarnya hanya untuk menenangkan kecemasan pribadiku sendiri?

"Dulu di Sumberjati," lanjut Pak Haris, suaranya kini terasa lebih jauh, seolah ia sedang menarik memori dari lubang yang paling gelap, "aku pun melakukan hal yang sama padamu. Aku melarangmu menyentuh radio rusak, aku melarangmu belajar koding karena aku takut kau akan berakhir seperti diriku. Dituduh, dibuang, dan dianggap sampah masyarakat hanya karena aku tahu sesuatu yang tidak seharusnya diketahui orang-orang berkuasa."

Aku menatapnya. "Aku hanya ingin melindunginya, Pak. Aku tahu apa yang terjadi pada Devan. Aku tahu apa yang mereka lakukan pada kreator lain. Aku tidak ingin Raka menjadi korban berikutnya."

"Melindungi seseorang bukan berarti memenjarakannya dalam kotak amanahmu sendiri, Tama," jawab Pak Haris. Ia menyesap kopinya pelan. "Kau membangun sistem pengawasan ini karena kau takut kehilangan kontrol. Tapi lihat dirimu sekarang. Semakin kau mengontrol, semakin jauh anak itu berlari. Dia tidak lari darimu, dia lari dari ketidakpercayaan yang kau tunjukkan padanya."

Suasana di dalam bengkel mendadak sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari luar dan detak jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim. Aku menatap kartu plastik itu lagi. Kartu yang seharusnya menjadi alat untuk mendidik, kini justru menjadi simbol perpecahan. Aku merasa gagal bukan sebagai teknisi, melainkan sebagai seorang ayah dan seorang guru.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku hampir berbisik.

Pak Haris menatapku dengan mata yang jernih, menembus pertahanan diri yang selama ini kubangun. "Berhentilah mencoba menjadi Tuhan atas masa depan anakmu. Berikan dia ruang untuk jatuh, karena hanya dengan jatuh dia akan belajar untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Kalau kau terus memegangi tangannya, dia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menyeberangi laut tanpa harus bertanya pada orang lain."

Aku menatap cangkir kopi yang sudah mulai dingin. Ada rasa sesal yang menyusup di sela-sela kegelisahanku. Aku telah begitu terobsesi dengan keamanan digital, sehingga aku lupa bahwa nilai yang diajarkan di meja makan jauh lebih berharga daripada semua log server yang pernah kubuat.

Pak Haris berdiri. Ia menepuk pundakku pelan, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. "Kau ingat bengkel di Sumberjati? Tempat di mana kau belajar merakit radio pertamamu sebelum semuanya hancur?"

Aku mengangguk pelan. "Tentu saja. Tempat itu adalah saksi bisu dari semua kerja keras kita."

Pak Haris tersenyum getir. Ia berjalan menuju sudut bengkel, menyentuh deretan kunci-kunci tua yang tersimpan rapi di dinding. Ia mengambil satu kunci dengan gagang besi yang sudah berkarat namun masih kokoh. Ia meletakkannya kembali di meja, tepat di depan kartu akses Raka yang kubanting tadi.

"Kunci bengkel Sumberjati masih ada di sini, Tama," ucap Pak Haris dengan nada yang tenang namun menusuk tepat ke ulu hatiku. "Kalau kau masih ingin membantingnya sekali lagi, silakan. Tapi lakukanlah dari sisi meja yang lain, di mana kau bukan lagi orang yang memberi instruksi, melainkan orang yang belajar mendengarkan."

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.