Sebelum Ada Gerbang
Bab 1
Cahaya lampu teplok di sudut ruangan berdansa liar, menari di atas permukaan kertas yang sudah menguning dan berlipat-lipat. Kiai Abdurrahim menyodorkan sehelai kertas lusuh itu kepadaku dengan tangan yang gemetar halus. "Mahfud, ini bukan sekadar bukti tanah, ini janji yang tertunda empat puluh tahun," ucap beliau pelan, suaranya parau menembus kesunyian malam di ruang dalam pesantren.
Aku menerima kertas itu dengan hati-hati. Ada bekas cap jempol berwarna hitam pekat di bagian bawah, tanda dari seseorang yang sudah lama berpulang ke pangkuan semesta. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan deburan angin malam dari arah barat, tempat di mana Karang Asta tersembunyi di balik kabut laut. Pesan kiai sepuh ini terasa berat, seberat beban yang tiba-tiba diletakkan di pundakku yang belum genap dua puluh lima tahun.
"Mbah, tanah ini di Karang Asta?" tanyaku, mencoba memastikan ingatan yang samar tentang cerita beliau dulu. Kiai mengangguk pelan, kemudian menunjuk sebuah bungkusan kain di sampingnya. Di dalamnya terdapat uang kertas yang terlipat rapi, hasil penjualan sapi kesayangan beliau.
"Pergilah ke sana, dirikan tempat belajar di tanah yang tidak diinginkan siapa pun," lanjutnya tanpa mempedulikan tatapan heran dari keluarga kiai yang berdiri di ambang pintu. Ning Halimah memalingkan wajah, bahunya sedikit bergetar, seolah beban amanah ini adalah dinding pemisah yang sedang dibangun di antara kami tanpa sempat terucap salam perpisahan.
Aku terdiam. Rencana hidupku yang telah tersusun rapi, menjadi menantu beliau dan melanjutkan pengabdian di sini, kini runtuh dalam sekali tiup. Namun, Syamsul, yang sedari tadi duduk bersimpuh di sudut ruangan, tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya yang tajam menatapku sekilas sebelum beralih ke arah Kiai Abdurrahim dengan tatapan yang sulit kuartikan.
"Izinkan saya menemani Mahfud, Kiai," suara Syamsul memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia menunduk dalam, tangannya yang terampil menulis naskah-naskah pesantren kini mencengkeram ujung sarung dengan erat. Kiai Abdurrahim menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh ke depan, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Kalian berangkatlah saat perahu pertama menuju pesisir utara berlayar besok subuh," jawab Kiai. Beliau bangkit dari duduknya, mendekat ke arahku, dan menepuk bahuku dengan sisa tenaga yang ia miliki. Rasa dingin malam meresap ke tulang, namun kehangatan tangan beliau terasa seperti janji yang harus segera dilunasi. Aku hanya bisa mengangguk, lidahku kelu oleh rasa hormat dan kecemasan yang mulai tumbuh perlahan. Kiai menatap mataku lekat-lekat sebelum berbisik, "Kertas ini sah di hadapan Allah, Fud, di hadapan manusia itu urusanmu."
Subuh belum benar-benar menyapa ketika kami melangkah keluar dari gerbang pesantren. Kabut tipis menyelimuti jalanan tanah yang becek setelah diguyur hujan semalam. Syamsul berjalan tepat di belakangku, langkahnya mantap namun aku bisa mendengar napasnya yang tidak teratur. Kami membawa satu tas kulit berisi pakaian, mushaf, serta bungkusan kain berisi uang dan kertas wakaf yang terasa membakar saku bajuku. Tidak ada perpisahan yang manis. Tidak ada Ning Halimah yang melambai atau kiai sepuh yang memberkati di depan pintu. Hanya kesunyian dusun yang baru terbangun dan dingin yang menusuk kulit.
"Apakah kau yakin dengan jalan ini, Fud?" tanya Syamsul tiba-tiba saat kami mencapai persimpangan menuju dermaga kecil.
Aku berhenti sejenak, menoleh kepadanya. Syamsul menunduk, menatap ujung sandalnya yang kotor oleh lumpur. Wajahnya yang biasanya tenang tampak tegang. Aku tahu ia menyimpan sesuatu, sebuah kegelisahan yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik rapi tulisannya. Aku menarik napas dalam, membiarkan udara pagi memenuhi paru-paruku.
"Ini amanah, Sul. Bukan perihal yakin atau tidak, tapi perihal sampai atau tidak," jawabku datar. Aku kembali melangkah, membelah kabut yang mulai menipis.
Sesampainya di dermaga, perahu-perahu nelayan sudah mulai bersiap melaut. Bau amis ikan dan kayu lapuk menyambut indra penciumanku, aroma yang akan menjadi bagian dari keseharianku mulai hari ini. Kami menaiki perahu kayu milik seorang pedagang yang akan menuju pelabuhan besar sebelum menyeberang ke pulau Karang Asta. Aku duduk di buritan, memandang siluet pesantren yang perlahan mengecil, hilang ditelan bayang-bayang pepohonan.
"Kiai tidak seharusnya membiarkanmu pergi sendirian," gumam Syamsul lagi, suaranya hampir hilang ditelan deru mesin perahu yang mulai dinyalakan nelayan. Ia duduk di sampingku, tangannya terus memilin ujung sarung.
"Beliau percaya padaku. Dan kau ada di sini, itu sudah cukup," balasku tanpa menoleh. Aku ingin percaya pada persahabatan kami, pada tahun-tahun yang kami habiskan di bangku santri, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu yang tak bisa kujabarkan dengan kata-kata.
Perjalanan laut itu panjang dan melelahkan. Matahari perlahan naik, membakar kulit kami hingga memerah. Sepanjang jalan, aku hanya mematung, menatap cakrawala yang tak ada ujungnya. Pikiranku melayang pada pesan kiai. Tanah yang tak diinginkan siapa pun. Karang Asta. Nama itu terdengar asing sekaligus menantang.
"Kau tahu, Fud," Syamsul memecah sunyi lagi setelah berjam-jam kami terdiam. "Orang-orang di kota bilang, tanah di Karang Asta adalah tanah sengketa. Banyak yang menginginkannya, tapi tak ada yang berani memilikinya karena kutukan laut dan sengketa waris yang tak kunjung selesai."
Aku menoleh tajam ke arahnya. "Dari mana kau tahu soal itu?"
Syamsul tersentak kecil. Ia membetulkan letak kacamata yang melorot di hidungnya. "Aku mendengar desas-desus saat di pasar kemarin. Hanya obrolan nelayan, jangan terlalu dipikirkan," ujarnya tenang, meski aku menangkap kilatan aneh di matanya.
Aku tidak membalas. Aku hanya meraba saku bajuku, memastikan kertas wakaf itu masih di sana. Kertas lusuh dengan cap jempol Haji Marzuki itu adalah satu-satunya peganganku. Jika dunia menolak kedatanganku, aku akan berdiri di atas tanah itu dengan caraku sendiri. Aku teringat wajah kiai sepuh saat memberikan kertas itu. Ada kesedihan yang mendalam di matanya, bukan karena ia melepas murid kesayangannya, tapi karena ia tahu betapa sulit jalan yang akan kutempuh.
Menjelang sore, pulau itu akhirnya terlihat. Karang Asta muncul seperti raksasa tidur yang dikelilingi ombak yang pecah di bebatuan karang. Rumah-rumah kayu tampak tersebar tidak teratur di sepanjang pesisir. Bau garam dan asap dapur membumbung, menyatu dengan senja yang mulai temaram. Aku berdiri, merapikan pakaian yang kusut.
"Kita sampai," kataku lebih kepada diriku sendiri.
Syamsul berdiri di sampingku, menatap pulau itu dengan tatapan yang sulit terbaca. Ia tampak lebih tenang daripada saat kami berangkat. Apakah ia sudah tahu apa yang menanti kami di sana? Apakah ia sebenarnya sudah merencanakan sesuatu sebelum kami meninggalkan pesantren?
"Apa rencanamu setelah kita mendarat?" tanya Syamsul pelan. Suaranya terdengar seperti sedang memastikan langkah selanjutnya.
"Mencari rumah Haji Marzuki. Bertemu dengan keluarganya. Memberitahu mereka bahwa amanah ini harus segera dijalankan," jawabku yakin.
Syamsul tertawa kecil, suara yang terdengar hambar. "Kau sangat lugu, Mahfud. Di tempat seperti ini, ikrar wakaf hanyalah kertas pembungkus ikan jika tidak ada kekuatan yang mendukungnya. Kau butuh lebih dari sekadar niat baik."
Aku menatapnya tajam. "Aku tidak mencari kekuatan duniawi, Sul. Aku mencari restu. Aku hanya menjalankan tugas."
Perahu merapat ke dermaga kayu yang sudah reyot. Beberapa nelayan memperhatikan kami dengan tatapan curiga. Kami turun dengan tas di pundak, melangkah melewati tumpukan jaring yang berbau busuk. Di kejauhan, aku melihat seorang perempuan muda sedang menimbang ikan di bawah bakul besar, tangannya cekatan memilah ikan asin. Pandangannya sempat bertemu denganku, namun ia segera membuang muka.
"Ingat, Mahfud," Syamsul berbisik di telingaku saat kami berjalan menjauh dari dermaga. "Di sini, tanah bukan sekadar ruang untuk belajar. Tanah adalah napas. Dan mereka tidak akan membiarkan napas itu dicuri oleh orang asing."
Aku tidak menjawab. Langkahku mantap menuju pusat dusun. Aku tahu, di depan sana ada perlawanan yang sudah menunggu. Namun, aku tidak akan mundur. Pesan kiai sepuh terngiang kembali di telingaku, memberikan kekuatan yang tak bisa dijelaskan oleh logika manusia. Aku memegang erat amanah itu di dadaku, sebuah janji yang harus kuselesaikan, meski harus dengan nyawaku sendiri sebagai gantinya.



