Sebelum Ada Gerbang
Bab 2
Bau amis ikan teri yang dijemur di bawah matahari terik menyengat hidung, bercampur dengan aroma garam yang dibawa angin dari arah tanjung. Aku duduk di sudut pasar, memilah tumpukan ikan asin yang akan dijual Mbok Rukayah siang nanti. Jari-jariku lincah bergerak, menyisihkan ikan yang sudah hancur. Di balik bakul bambu tempatku menyimpan timbangan, sebuah buku tua bersampul kain lusuh terselip rapi. Aku melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, lalu menyentuh punggung buku itu dengan ujung telunjuk. Hanya dengan merasakan tekstur kertasnya, rasa gelisahku sedikit mereda.
"Maryam, sudah berapa keranjang yang kau pilah?" suara Ibu memecah lamunanku. Aku segera menutup buku itu dengan kain pelapis bakul.
"Sudah tiga, Bu. Sepertinya hari ini harga ikan sedang turun, banyak nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan berlebih," jawabku sambil berdiri. Ibu menghela napas panjang, wajahnya yang penuh kerutan tampak lebih lelah dari biasanya. Ia tidak menyahut, hanya sibuk mengikat karung-karung ikan dengan tali rafia yang kasar.
Tak lama kemudian, langkah berat seseorang terdengar mendekat. Itu Bapak. Ia datang dengan wajah yang berbeda dari biasanya, ada gurat kebanggaan yang ganjil. Ia meletakkan sebilah kayu penyeimbang di tanah dengan bunyi debum yang keras.
"Perahu baru kita sudah dijamin," ujar Bapak tanpa membalas salam. Ia duduk di bangku kayu, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kotor karena minyak mesin. "Raden Wibawa setuju meminjamkan modal setelah aku menyerahkan surat gadai tanah itu. Sekarang, perahu kita tidak akan lagi kalah cepat dengan perahu nelayan lain."
Ibu terdiam, matanya menatap tajam ke arah Bapak. "Tanah itu bukan milik kita sepenuhnya, Pak. Masih ada hak mendiang Haji Marzuki di sana. Apa Bapak yakin tidak akan ada masalah di kemudian hari?"
Bapak mendengus, matanya menatap kosong ke arah pelabuhan di kejauhan. "Haji Marzuki sudah lama di liang lahat. Tanah itu tidak memberi kita makan, tapi perahu ini akan melakukannya. Lagi pula, tadi di dermaga, aku melihat dua orang asing turun dari perahu kayu. Mereka memakai sarung dan peci, tampak seperti santri dari tanah Jawa. Mereka membawa barang bawaan yang banyak."
Aku merasakan detak jantungku berdesir tidak nyaman. Dua orang pesantren di pelabuhan? Apakah mereka datang untuk mencari tanah itu?
"Mereka pasti akan mencari tempat untuk menetap," lanjut Bapak dengan suara yang merendah, dingin dan penuh peringatan. "Kalau orang pesantren mengetuk, jangan bukakan pintu. Kakekmu sudah cukup memberi mereka, dan aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apa yang kini menjadi jaminan perahu kita."
Aku menunduk, pura-pura kembali memeriksa tumpukan ikan asin yang tersisa. Jemariku gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba merambat naik dari telapak kaki. Bapak tidak pernah bicara dengan nada seberat itu, kecuali saat ia menceritakan tentang perahu Zainal yang hilang ditelan ombak delapan tahun lalu. Ia selalu benci pada laut, tapi lebih benci lagi pada tanah yang katanya dulu diberikan kakekku kepada orang-orang yang hanya tahu cara mengaji, bukan cara bertahan hidup.
"Mereka pasti akan mencari Ki Darmo," Bapak menambahkan, suaranya kini terdengar seperti geraman di tenggorokannya. Ia menatapku seolah mencari tanda-tanda pembangkangan di wajahku. "Dusun ini kecil, Maryam. Tidak ada yang luput dari catatan di buku desa. Jika kau melihat mereka, pastikan kau tidak menoleh. Urusan kita dengan tanah itu sudah selesai di tangan Raden Wibawa. Jangan ada lagi urusan dengan surat-surat tua atau janji-janji kiai."
Aku hanya mengangguk pelan. Di bawah bakul, buku yang tadi kusimpan terasa seperti bara api. Aku tahu Bapak tidak bisa membaca tulisan yang ada di dalamnya, tetapi ia tahu bahwa kakekku, Haji Marzuki, adalah seorang pria yang menyimpan rahasia di dalam mushaf dan kertas-kertas tua. Kakek pernah berpesan, jauh sebelum ia wafat, bahwa tanah di ujung tanjung itu bukan milik siapa-siapa, melainkan milik mereka yang ingin menuntut ilmu. Namun, bagi Bapak, ilmu hanyalah kemewahan yang tidak bisa dimakan.
Mbok Rukayah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu aku menyembunyikan sesuatu di bawah bakul itu, namun ia memilih diam. Ia adalah perempuan yang telah belajar memendam segalanya demi kedamaian rumah tangga kami. Ia mengambil sisa ikan asin, memasukkannya ke dalam wadah besar, lalu berjalan menuju pasar tanpa suara. Ia tidak membantah Bapak, namun aku melihat bahunya merosot, tanda bahwa ia pun merasa ada yang tidak beres dengan keputusan suaminya menggadaikan tanah kepada juragan tanah seperti Raden Wibawa.
Aku berdiri, meninggalkan bekas pasir di kain sarungku. Aku harus memastikan bahwa buku itu aman. Jika orang pesantren itu benar-benar mencari tanah kakek, mereka akan datang membawa bukti. Dan aku tahu, di dalam kotak seng yang disimpan Ibu di bawah ranjang, ada sesuatu yang lebih dari sekadar ikrar wakaf biasa. Ada sebuah catatan kecil yang ditulis kakek, tentang sebuah harapan agar tanah itu tidak pernah menjadi hak milik pribadi siapapun.
"Maryam, kau mau ke mana?" tanya Bapak saat aku mulai melangkah pergi menjauh dari pasar.
"Mencuci peralatan di sumur, Pak," jawabku singkat tanpa menoleh. Aku tidak berani menatap matanya sekarang. Ada kebohongan yang mulai tumbuh di antara kami, dan aku takut jika ia menatapku terlalu lama, ia akan tahu bahwa aku sudah membaca surat-surat yang seharusnya hanya milik orang dewasa.
Aku berjalan melewati rumah-rumah kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang semakin pekat. Di pelabuhan, aku melihat dua sosok pria yang tadi disebutkan Bapak. Mereka berdiri di sana, dikelilingi oleh warga dusun yang menatap dengan curiga. Salah satu dari mereka, yang berwajah lebih muda dan tampak membawa tas kain besar, terlihat sedang berbicara dengan seorang nelayan tua. Nelayan itu menunjuk ke arah tanjung dengan gerakan tangan yang kasar, seolah mengusir mereka pergi.
Aku berhenti di balik pohon kelapa, memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Pria itu tampak tenang, meski di sekelilingnya orang-orang mulai berbisik-bisik tidak sedap. Ia tidak marah, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk, lalu mulai berjalan mengikuti arah yang ditunjuk nelayan tadi. Arah menuju Tanjung Kelir, tempat di mana tanah kakekku berada. Tanah yang kini telah digadaikan Bapak sebagai jaminan perahu baru.
Ada rasa sesak di dadaku. Mereka datang dengan keyakinan, sementara kami di sini hidup dalam ketakutan akan kehilangan. Apakah mereka tahu bahwa tanah yang mereka cari sudah tidak lagi menjadi tanah kosong? Apakah mereka tahu bahwa ada orang-orang yang telah menanti dengan senjata di tangan untuk menolak kehadiran mereka?
Aku terus mengamati. Pria itu berhenti sejenak di depan sebuah batu besar, lalu mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Ia melihat kertas itu dengan saksama, lalu menatap ke arah tanah lapang di ujung tanjung. Matanya tampak seperti mencari sesuatu yang sudah lama hilang. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, namun ada sesuatu dalam cara berdirinya yang membuatku merasa bahwa ia bukan orang asing biasa. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang pulang ke rumah, meski rumah itu sudah tidak lagi mengenali pemiliknya.
Aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi. Aku harus tahu apa yang mereka bawa. Aku tahu itu berisiko, apalagi setelah Bapak memberikan perintah tegas tadi siang. Namun, rasa penasaran ini lebih kuat daripada rasa takutku pada kemarahan Bapak. Jika kakekku benar-benar mewakafkan tanah itu, bukankah aku memiliki hak untuk tahu apa isi ikrar tersebut? Bukankah seharusnya tanah itu menjadi tempat bagi orang-orang seperti Rasyid, anak yatim yang selalu diusir dari pasar karena dianggap pengganggu?
Aku kembali ke rumah sebelum matahari terbenam. Rumah kami sepi, hanya terdengar suara deburan ombak yang menghantam karang di belakang dusun. Bapak masih di pelabuhan, sibuk mengurus perahu barunya bersama orang-orang Raden Wibawa. Ibu sedang memasak di dapur, aroma asap kayu bakar memenuhi ruangan. Aku masuk ke kamar, melirik ke arah ranjang tempat kotak seng itu disimpan. Aku menyentuh permukaannya yang dingin, lalu teringat pesan Bapak tadi siang.
"Kalau orang pesantren mengetuk, jangan bukakan pintu," kata Bapak, "kakekmu sudah cukup memberi mereka."



