Sebelum Ada Gerbang
Bab 3
Bau amis ikan busuk dan garam yang tajam menyengat hidung kami begitu malam turun sempurna. Kami sudah mengetuk lima pintu rumah, namun setiap kali aku menyebut pesantren, pintu itu ditutup sebelum aku sempat menyelesaikan salam. Kini, kami berdiri di bawah gubuk garam yang bocor di ujung Tanjung Kelir, tempat di mana angin laut berhembus tanpa penghalang dan menusuk hingga ke tulang. Syamsul duduk memeluk lututnya, wajahnya tertutup bayang-bayang gelap. Dia tidak bicara apa pun sejak kami diusir dari pintu terakhir tadi.
"Kita tidak bisa terus begini, Mahfud," bisik Syamsul memecah sunyi. Suaranya serak, terdengar seperti keluhan, bukan saran. "Orang-orang di sini menganggap kita wabah, bukan tamu."
Aku menghela napas, membersihkan pasir yang menempel di sarungku. "Ini amanah kiai, Sul. Kita tidak datang sebagai tamu yang meminta jamuan, tapi sebagai orang yang memegang hak atas tanah ini."
Syamsul hanya mendengus pelan, sebuah bunyi yang terasa janggal di tengah suara ombak yang menghantam karang. Sebelum aku sempat membalas, sebuah cahaya obor mendekat dari arah jalan setapak. Sosok laki-laki tua dengan raut muka keras dan tangan yang kasar muncul, memegang secarik kertas yang sudah lusuh. Di belakangnya, beberapa nelayan lain mengepung kami dengan tatapan dingin. Laki-laki itu adalah Ki Darmo, kepala dusun yang tadi siang sempat kami lihat di balai desa.
"Orang pesantren tidak punya tempat di Karang Asta," ujar Ki Darmo tanpa basa-basi. Suaranya berat, didominasi oleh kewibawaan yang dipaksakan. "Di sini, setiap perahu yang melaut harus membayar sedekah laut. Kalian datang membawa kertas, tapi kalian tidak membawa rasa hormat pada laut."
Aku berdiri tegak, meski kakiku gemetar menahan dingin. Aku mengeluarkan gulungan ikrar wakaf dari balik baju. "Kami datang atas nama Haji Marzuki, Ki. Tanah ini diwakafkan untuk pendidikan. Kertas ini saksinya."
Ki Darmo menyorotkan obornya ke arah kertas itu. Dia tidak tampak gentar. Sebaliknya, dia tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan kayu tua. Dia memanggil salah satu nelayan di belakangnya, memberi isyarat untuk mendekat. Tangannya yang kasar menyambar kertas itu dari tanganku dengan kasar. Dia membolak-balik kertas tersebut di bawah cahaya api obor yang menari-nari tidak stabil.
"Kalian santri ini memang pintar berkhayal," ucap Ki Darmo sambil melempar kembali kertas itu ke atas tanah berpasir. "Kalian membawa kertas tua ini seolah-olah itu kunci kerajaan. Sayangnya, tanah yang kalian sebut wakaf itu sudah lama digadaikan oleh pemiliknya untuk biaya perahu. Buku desa mencatatnya atas nama juragan di kota. Ayahku yang menulis kertas itu," kata Darmo, suaranya kini merendah dan penuh intimidasi, "tapi ayahku sudah mati, dan orang mati tidak bersaksi."
Aku memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Debu pantai melekat pada permukaan kertas, menutupi sebagian tulisan tangan kiai sepuh yang menyalin ikrar itu bertahun-tahun silam. Suara tawa Ki Darmo masih tertinggal di udara, beradu dengan deburan ombak yang seolah mengejek niat suci kami. Syamsul tidak bergerak, ia hanya menatap ujung kakinya, seolah-olah ia sedang menghitung butiran pasir yang menempel di sandal jepitnya yang sudah tipis.
"Ki, kiai kami di Jombang bukan orang yang sembarangan mengirim santri," kataku, mencoba menjaga suara agar tidak pecah oleh emosi. "Beliau mengenal Haji Marzuki lebih baik dari siapa pun di dusun ini. Beliau tahu apa yang diamanahkan dan kepada siapa amanah itu dititipkan."
Ki Darmo meludah ke tanah, tepat di dekat sepatuku. Dia memutar tubuhnya, membelakangi kami, namun suaranya tetap menggelegar di ruang gubuk yang sempit ini. "Di Karang Asta, kiai dari jauh tidak punya suara. Yang punya suara adalah mereka yang melaut setiap subuh, yang membelah ombak dengan perahu gadai, dan yang tahu persis siapa pemilik tanah ini di catatan buku desa. Kalian hanya membawa mimpi dari tempat yang tidak tahu pahitnya hidup di sini."
Dia melambai pada para nelayan di belakangnya. Tanpa kata, mereka membubarkan diri, meninggalkan kami dalam kegelapan yang kembali merayap di gubuk garam. Hanya sisa api obor yang perlahan padam di tanah yang menyisakan kepulan asap tipis. Bau garam yang sangat pekat kini terasa mencekik. Aku terduduk lemas, melipat kertas itu dengan hati-hati ke dalam lipatan sarungku.
"Sudah kubilang, Mahfud," suara Syamsul memecah kesunyian setelah beberapa lama. Dia mendongak, matanya yang tajam menatapku dengan sorot yang sulit kubaca. "Tempat ini tidak menginginkan kita. Kiai Rahim mungkin berniat baik, tapi beliau tidak melihat apa yang terjadi di lapangan. Tanah ini bukan sekadar tanah kosong. Ini adalah napas bagi orang-orang yang kelaparan. Bagaimana mungkin kita meminta mereka merelakan tanah ini untuk sebuah surau yang bahkan belum ada batunya?"
Aku menatap Syamsul. Ada nada bicara yang terasa asing, bukan nada sahabat yang biasanya berdiskusi denganku di kamar pesantren saat kami masih menghafal matan kitab. "Sul, apakah kamu juga berpikir kita harus menyerah?"
Syamsul tidak langsung menjawab. Dia bangkit, membersihkan sisa garam di celana panjangnya yang sudah kusut. Dia menatap ke arah laut yang gelap gulita. "Menyerah bukan pilihan yang mudah setelah menempuh perjalanan selama ini. Tapi, kita perlu strategi. Kita tidak bisa melawan kepala dusun yang memegang buku desa dengan hanya bermodalkan secarik kertas yang dianggap sampah oleh mereka. Kita butuh cara lain agar mereka tidak lagi melihat kita sebagai perampok warisan."
Aku tidak membalas. Aku memikirkan pesan Mbah Rahim. Beliau mengatakan bahwa tanah yang tak diinginkan siapa pun adalah tempat yang paling subur untuk ilmu. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Tanah ini adalah tanah yang diinginkan semua orang, dan kami hanyalah orang luar yang datang membawa masalah baru bagi mereka. Aku membaringkan tubuh di atas lantai kayu gubuk yang kasar. Dingin lantai menembus sarung, tapi rasa dingin di hatiku jauh lebih tajam.
Aku teringat wajah orang-orang yang kami temui sejak tiba di dermaga tadi siang. Tatapan curiga, bisik-bisik di pasar, dan pintu-pintu yang tertutup rapat. Mereka bukan orang jahat, mereka hanya sedang bertahan hidup di pulau yang keras. Jika aku menjadi mereka, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama. Namun, tugas ini adalah amanah. Aku tidak bisa begitu saja berbalik arah hanya karena satu malam yang penuh penolakan.
"Besok, kita coba bicara lagi dengan beberapa orang di pasar," kataku, lebih kepada diriku sendiri. "Mungkin ada yang masih ingat siapa Haji Marzuki yang sebenarnya. Mungkin masih ada yang tahu kebenaran di balik surat gadai itu."
Syamsul hanya diam. Dia kembali memeluk lututnya, wajahnya kembali tenggelam dalam bayang-bayang malam. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Apakah dia masih sahabat yang sama yang kukenal di pesantren, ataukah perjalanan ini telah mengubah sesuatu di dalam dirinya? Aku memejamkan mata, mencoba mencari ketenangan dalam lantunan doa dalam hati, namun yang terdengar hanyalah debur ombak yang tak henti-hentinya menabrak karang, seolah-olah laut sedang menuntut sesuatu dari kami. Kami adalah tamu yang tidak diinginkan, membawa mimpi yang dianggap dusta, dan berhadapan dengan hukum yang tidak tertulis namun sangat mematikan di dusun ini.
"Haji Marzuki tidak mungkin menelantarkan keluarganya," gumamku pelan. "Pasti ada alasan mengapa dia mewakafkan tanah ini. Dan alasan itu adalah kunci yang sedang dicari oleh Ki Darmo."
Aku tidak menyadari kapan kantuk akhirnya menjemput. Di tengah gubuk garam yang bocor, ditemani bau amis dan dingin yang menusuk, aku memimpikan sebuah gerbang yang berdiri kokoh. Gerbang yang tidak terbuat dari ego, melainkan dari sisa-sisa perahu yang kini sudah hancur dihantam nasib. Namun, saat aku terbangun, yang kulihat hanyalah wajah Ki Darmo yang berdiri di ambang pintu gubuk, menatap kami dengan tatapan yang merendahkan.
"Kalian masih di sini?" tanya Ki Darmo, suaranya parau. "Kukira kalian sudah sadar dan pergi dengan perahu pertama pagi ini. Jangan bermimpi bisa membangun apa pun di tanah yang sudah digadaikan dengan meterai darah. Ayahku yang menulis kertas itu," kata Darmo, "tapi ayahku sudah mati, dan orang mati tidak bersaksi."



