Sebelum Ada Gerbang
Bab 4
Aku sedang menjemur ikan teri di halaman ketika langkah kaki yang asing terdengar di jalan setapak berbatu. Dua laki-laki berpakaian kain sarung lusuh dan baju koko yang tampak kusam karena debu perjalanan berjalan menuju rumah kami. Mereka tampak ragu, berhenti tepat di depan pagar kayu yang reyot. Salah satu dari mereka, yang berwajah lebih muda dengan sorot mata tajam, memegang sebuah tas kulit yang sudah retak di beberapa bagian. Aku segera menunduk, membelakangi mereka, pura-pura sibuk memilah tumpukan ikan yang mulai mengering di bawah terik matahari.
"Permisi," suara laki-laki itu terdengar berat, namun sopan. Ia mengucapkan salam dengan pelan. "Apa ini benar rumah mendiang Haji Marzuki?"
Aku mendengar suara Bapak membanting pintu kayu dari dalam rumah. Ia keluar dengan wajah merah padam, tangannya masih memegang pisau untuk menyisik ikan. "Siapa yang kau cari?" tanya Bapak tanpa menoleh pada mereka. Suaranya dingin, sekeras batu karang yang menopang dusun ini.
"Kami datang dari Jombang, Pak. Ingin menanyakan perihal amanah tanah yang pernah diwakafkan Haji Marzuki untuk tempat belajar anak-anak pesisir," jawab laki-laki itu sambil mencoba melangkah mendekat.
Bapak meludah ke tanah, tepat di depan sepatu laki-laki itu. "Tanah itu sudah gadaikan. Jangan bawa-bawa orang mati ke depan pintuku untuk mencuri warisan yang belum kalian miliki. Pergi sebelum aku memanggil orang-orang dusun untuk mengusir kalian dengan cara yang tidak menyenangkan!"
Laki-laki itu terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak membalas makian Bapak. Ia hanya menunduk sebentar, memberi hormat dengan gestur tangan yang asing bagiku, lalu berbalik pergi. Temannya yang sedari tadi hanya diam tampak menarik lengan baju laki-laki itu, membisikkan sesuatu dengan nada gusar. Mereka melangkah menjauh, meninggalkan jejak kaki di atas tanah yang kering.
Aku terus mematung, menatap punggung mereka hingga tertutup pepohonan kelapa. Di balik bayang-bayang pohon, aku melihat Rasyid, bocah yatim itu, mengintip dari balik semak. Ia tampak penasaran, mengikuti kedua orang asing tersebut dari kejauhan dengan langkah-langkah kecil yang hati-hati. Aku merasa ada tarikan aneh di dadaku. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil gayung kayu berisi air minum dari kendi di dapur. Aku berlari kecil menuju sumur di belakang rumah, di mana Rasyid biasanya menunggu saat ketakutan.
"Rasyid," bisikku saat menemukannya berjongkok di dekat dinding bambu. Ia terlonjak kaget. "Jangan ikuti mereka terlalu jauh. Ini, minumlah."
Rasyid menerima air itu dengan tangan gemetar. Ia menatap ke arah orang pesantren tadi. "Kak Maryam, apakah orang-orang itu benar bisa membaca kitab seperti yang Bapak bilang? Kalau mereka bisa, apa mereka mau mengajari aku membaca juga?"
Aku terdiam sejenak, membiarkan pertanyaan Rasyid menggantung di udara. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma asin yang menusuk hidung dan suara deburan ombak yang tidak pernah berhenti di balik dusun. Di kejauhan, dua sosok berpakaian sarung itu semakin mengecil, tampak seperti titik hitam di antara hamparan kapur dan pasir putih yang memutih oleh terik matahari. Aku menyerahkan sisa air dalam gayung itu kepada Rasyid, lalu mengusap bahunya yang kurus dengan cemas.
"Jangan bertanya pada orang asing, Rasyid. Dusun ini tidak menyukai mereka," bisikku meski hatiku sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan peringatan itu. Rasyid menatapku dengan mata yang jernih namun penuh luka, sisa-sisa duka atas kematian ayahnya yang ditelan badai tahun lalu. Anak itu tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar apa pun selain cara bertahan hidup di antara jaring-jaring perahu yang koyak.
Setelah Rasyid pergi, aku kembali ke dalam rumah dengan perasaan gelisah yang sulit dijelaskan. Bapak masih menggerutu di beranda, menyalahkan orang-orang pesantren yang dianggapnya sebagai perampok kedamaian. Ia tidak tahu bahwa setiap kata makinya terasa seperti pisau yang mengiris hatiku. Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu, membiarkan cahaya temaram masuk melalui celah dinding bambu yang rapat. Kotak seng peninggalan kakek masih di sana, tersembunyi di bawah tumpukan kain sarung yang jarang dipakai.
Tanganku bergetar saat membuka tutup kotak yang berdecit nyaring. Di dalamnya terdapat sebuah mushaf tua yang halamannya sudah menguning dan beberapa helai kertas bertuliskan huruf Arab gundul yang kakek simpan dengan rapi. Sejak kecil, aku diam-diam belajar mengeja huruf-huruf itu sendiri, meski Bapak selalu melarangku memegang buku selain buku catatan hasil tangkapan ikan. Aku menyadari bahwa kakek bukan nelayan biasa. Ia adalah orang yang berilmu, dan di setiap sudut rumah ini, seolah masih ada sisa-sisa wibawa kakek yang kini coba dihilangkan Bapak dengan surat gadai palsunya.
Sore itu, Bapak memanggilku dari dapur dengan suara yang nyaring. Ia menyuruhku menyiapkan makan malam, sementara ia sibuk membersihkan jaring bersama orang-orang bayaran Raden Wibawa. Aku tahu mereka sedang merencanakan sesuatu untuk memastikan tanah di ujung tanjung itu benar-benar jatuh ke tangan juragan sebelum orang-orang pesantren itu sempat melakukan tindakan apa pun. Aku melayani Bapak dengan diam, meski pikiranku melayang pada dua orang tadi. Mereka tidak terlihat seperti perampok. Wajah laki-laki yang memegang tas kulit itu tampak letih, namun ada ketenangan yang tidak kutemukan pada orang-orang di dusun ini.
Saat malam tiba, dusun menjadi begitu sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali deru ombak yang memecah keheningan. Bapak sudah mendengkur di ruang depan, kelelahan setelah seharian bekerja. Aku kembali masuk ke kamar dan mengeluarkan selembar kertas yang pernah aku ambil dari tumpukan barang kakek tahun lalu. Aku belum pernah benar-benar membaca isinya karena takut ketahuan. Dengan bantuan pelita kecil yang kubawa ke bawah selimut, aku mulai meneliti kembali kertas yang kini terasa sangat berat di tanganku.
Aku menggeser pelita lebih dekat. Mataku menelusuri setiap coretan pena yang sudah memudar. Pada baris pertama, tertulis sebuah ikrar. Aku mengeja kata demi kata, mencoba menyambungkan bunyi yang membentuk sebuah nama. Dadaku sesak saat aku sampai pada deretan huruf yang menyebutkan nama pemberi wakaf. Itu adalah nama kakekku, Haji Marzuki. Bukan nama orang lain. Bukan nama yang diklaim Bapak atau Ki Darmo. Nama itu tertulis jelas, disahkan dengan cap jempol yang sudah samar, namun bentuknya masih bisa dikenali oleh siapa pun yang teliti.
Aku tersentak. Selama bertahun-tahun, Bapak selalu berteriak bahwa kakek tidak meninggalkan apa pun selain utang. Ternyata, selama ini ada amanah besar yang sengaja disembunyikan. Kertas itu bukan sekadar catatan, melainkan janji kakek kepada seseorang di Jombang. Aku teringat lagi pada laki-laki yang tadi diusir Bapak. Mereka datang membawa misi yang sama, membawa nama yang sama dengan yang tertulis di kertas ini. Aku merasa seolah seluruh dunia di sekitarku runtuh. Bapak telah membohongi kami semua, menjual tanah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak dusun belajar demi perahu yang kini sering kali pulang dengan jaring kosong.
Aku mematikan pelita, membiarkan kamar menjadi gelap gulita. Suara napas Bapak di luar terdengar semakin jauh. Aku memeluk kertas itu erat-erat di dadaku, merasakan detak jantungku yang berpacu kencang dalam sunyi. Aku menyadari bahwa kedatangan dua orang asing itu bukanlah sebuah gangguan, melainkan sebuah pertanda. Sejak saat itu, setiap kali aku mendengar suara langkah kaki di luar rumah, aku tidak lagi merasa takut. Aku merasa seolah-olah aku sedang menunggu sesuatu yang sudah seharusnya terjadi sejak lama. Baru malam itu Maryam sadar nama yang tertulis di kertas orang asing itu adalah nama kakeknya.



