Sebelum Ada Gerbang
Bab 5
Tanah ini terasa keras dan dingin di bawah telapak kakiku. Aku berjalan menyusuri garis batas yang pernah digambarkan Kiai dalam peta kasar beliau. Angin laut membawa aroma garam pekat yang menusuk hidung, bercampur dengan bau amis sisa tangkapan yang tertinggal di pasir. Langkahku terhenti tepat di titik yang seharusnya menjadi fondasi surau nanti. Di sana, tertancap sepotong kayu kasar dengan tulisan cat hitam yang belum kering benar: RWK. Aku mengusap tanda itu dengan ujung jempol, merasakan tekstur kayu yang tajam.
"Ini sudah tidak masuk akal, Mahfud. Kita sedang melawan orang yang punya surat segel di tangan kepala dusun," suara Syamsul memecah sunyi. Ia berdiri beberapa langkah di belakangku, wajahnya kuyu dan pakaiannya tampak lebih kusut daripada kemarin. Ia tidak menatap tanah itu dengan harapan, melainkan dengan ketakutan seorang yang sadar bahwa ia sedang menantang badai dengan tangan kosong.
"Kita tidak melawan orang, Sul. Kita hanya sedang mendirikan apa yang sudah diamanahkan," jawabku tanpa menoleh. Aku terus melangkah, mengukur luas petak yang tersisa dari cengkeraman patok itu. Setiap langkahku adalah janji yang aku pikul atas nama Kiai Rahim.
Syamsul mendekat, suaranya merendah, hampir seperti bisikan yang penuh keputusasaan. "Ayo ke kota. Kita temui juragan itu. Kita berunding. Mungkin dia mau memberi kita tempat sedikit di ujung tanjung ini, asal kita punya surat resmi dari camat. Jangan biarkan kita mati konyol di sini hanya karena selembar kertas yang bahkan tidak diakui oleh buku desa."
Aku tidak menjawab. Aku membiarkan ajakan itu terbang dibawa angin laut. Fokusku beralih pada gubuk tua di balik rimbun semak yang sempat disinggung penduduk sebagai tempat terkutuk. Kayu-kayunya lapuk, atapnya bolong di sana-sini, namun posisinya menghadap kiblat dengan tepat. Aku mulai membersihkan tumpukan sampah plastik dan jerami yang berserakan di bagian dalam gubuk. Tangan kiriku menarik serat-serat kayu yang sudah membusuk, sementara tangan kananku menyapu debu tebal di lantai tanah.
Tidak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki yang ragu-ragu di luar. Aku menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki kurus berdiri mematung di ambang pintu. Matanya yang besar menatap tajam ke arah tas kain tempat aku menyimpan mukena dan sajadah kecil. Aku mengenali bocah itu. Dialah yang kemarin berdiri di balik kerumunan warga saat Ki Darmo mengusir kami dengan kasar. Ia tidak berkata apa-apa, namun tangannya perlahan terangkat untuk membasuh wajah dengan sisa air di botol plastiknya, memulai wudhu dengan cara yang sangat berhati-hati.
Aku meletakkan sapu lidi yang terbuat dari ranting kering. Anak itu masih berdiri di sana, di ambang pintu gubuk yang sudah kubersihkan sebisa mungkin. Cahaya matahari sore yang mulai meredup masuk melalui celah-celah dinding kayu, menerangi debu-debu yang melayang di udara. Tanpa sepatah kata, aku membentangkan sajadah tipis di atas lantai tanah yang sudah kupadatkan dengan kaki. Anak itu bergerak maju, gerakannya kaku namun pasti. Ia melangkah masuk ke dalam gubuk, melepaskan sandalnya, lalu berdiri di saf belakangku.
"Siapa namamu?" bisikku pelan sebelum memulai niat.
"Rasyid," jawabnya singkat. Suaranya serak, mungkin karena jarang berbicara atau terlalu lama menahan sesuatu di dalam dada.
Aku mengangguk, lalu mengangkat tangan untuk takbiratul ihram. Suasana di dalam gubuk tiba-tiba berubah. Bau amis laut dan aroma garam yang tadi begitu menusuk kini seolah tertahan di luar, berganti dengan kesunyian yang khidmat. Aku mulai melafalkan surat Al-Fatihah dengan tartil. Setiap ayat yang keluar dari mulutku terasa lebih berat dari biasanya, seolah tanah di bawah kami ikut mendengarkan. Syamsul tidak ikut. Ia masih berdiri di luar, memunggungi gubuk kami, menatap ke arah laut lepas dengan bahu yang merosot. Dia memilih untuk tidak ikut bersujud di atas tanah yang menurutnya adalah tanah sengketa.
Setelah salat usai, aku tetap duduk diam sejenak, memanjatkan doa agar amanah ini tidak menjadi beban yang menghancurkan. Rasyid masih di belakangku, posisinya masih sama seperti saat kami memulai, tidak terburu-buru untuk pergi. Aku menoleh perlahan dan melihatnya sedang menunduk, tangannya meremas ujung baju kumalnya.
"Mengapa kau datang ke sini, Rasyid? Bukankah orang-orang di dusun bilang tempat ini tidak boleh dijamah?" tanyaku pelan.
Ia mendongak, matanya yang besar menatapku lekat. Ada kebencian, namun juga ada rasa haus akan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. "Mereka bilang kau orang pesantren yang datang membawa kertas kosong. Mereka bilang kau perampok tanah yang sudah punya pemilik sah," ucapnya, suaranya kini lebih lancar meski tetap bernada menantang.
Aku tersenyum tipis. "Aku membawa ikrar wakaf, bukan kertas kosong. Dan tanah ini diwakafkan oleh kakek dari gadis yang tinggal di rumah papan dekat dermaga, bukan untuk dirampok, melainkan untuk tempat belajar."
Rasyid terdiam, mencerna kata-kataku. "Ayahku pernah melaut bersama Pak Sahri. Perahu mereka dihantam badai besar tiga tahun lalu. Pak Sahri selamat, tapi ayahku tidak pernah kembali. Sejak itu, Pak Sahri sering marah kalau ada yang bicara soal tanah atau warisan. Dia bilang, hidup ini keras karena orang-orang seperti kalian datang membawa beban ke tanah yang sudah susah payah kami hidupi."
Aku tertegun. Jadi, bocah ini adalah anak dari nelayan yang menjadi korban dalam petaka laut yang sering diceritakan orang-orang dusun. Pak Sahri, laki-laki keras kepala yang menjadi kunci dari setiap pintu yang tertutup di desa ini, adalah orang yang selamat sementara ayah anak di depanku ini harus meregang nyawa di tengah ganasnya ombak. Hubungan mereka bukan sekadar tetangga, melainkan hubungan antara penyintas dan keluarga yang ditinggalkan.
"Aku tidak bermaksud menambah beban," kataku dengan suara yang lebih lembut. "Aku hanya ingin membangun tempat agar anak-anak di sini tidak harus selalu menatap laut dengan ketakutan atau kebencian. Bukankah belajar membaca dan mengaji lebih baik daripada membiarkan tanah ini terus jadi sengketa?"
Rasyid tidak menjawab, namun ia tidak pergi. Ia justru mulai membantu mengumpulkan sisa-sisa kayu perahu yang berserakan di sekitar gubuk. Ia bekerja dalam diam, seolah-olah tindakan memungut sampah dan kayu itu adalah cara baginya untuk menolak kenyataan pahit yang disampaikan orang-orang dewasa di dusunnya. Aku melihat Syamsul berjalan mendekat dari kejauhan, wajahnya masih masam. Ia melihat kami berdua dengan tatapan meremehkan.
"Sudah selesai main-mainnya?" tanya Syamsul saat ia sampai di pintu gubuk. "Jangan lupa, besok kita harus pergi ke kota. Kalau kita tidak menemui juragan itu, besok lusa sudah tidak ada tanah lagi yang tersisa untuk kita pijak. Kau lihat patok itu? Mereka sudah mulai memagari semuanya."
"Aku tidak akan ke kota, Sul. Aku akan tetap di sini," jawabku tegas.
Syamsul mendengus keras. "Terserah kau. Aku sudah bilang, kiai sepuh itu sudah tua, dia tidak tahu apa yang terjadi di sini. Dia mengirim kita ke lubang buaya. Aku tidak mau mati konyol demi sebuah ikrar yang sudah koyak oleh zaman."
Syamsul memutar arah dan berjalan menjauh menuju gubuk garam yang ia tempati. Aku membiarkannya pergi. Aku tahu hatinya sudah terlalu jauh dari tujuan awal kami. Aku kembali menatap Rasyid yang sedang menyusun batu-batu kecil sebagai pembatas halaman. Ada ketabahan yang tidak biasa pada anak seusianya. Ia tidak bicara soal tanah, soal hukum, atau soal juragan yang serakah. Ia hanya bicara soal bagaimana ia merasa asing di rumahnya sendiri karena tidak ada tempat baginya untuk menaruh harap.
Sore perlahan berubah menjadi senja. Warna jingga menyapu langit di atas Tanjung Kelir, memantul di air laut yang tenang seolah badai tidak pernah ada. Aku merasa berat di pundakku sedikit berkurang. Mungkin benar, amanah ini tidak akan selesai dalam semalam, dan mungkin aku tidak akan pernah menang di meja hukum. Namun, melihat Rasyid yang kini duduk bersimpuh di sampingku, membersihkan sisa-sisa debu dari sajadah, aku merasa telah menemukan fondasi yang sebenarnya.
"Besok, datanglah lagi," kataku sambil melipat sajadah.
Rasyid mengangguk kecil. "Aku akan membawa adikku, kalau boleh."
Aku mengangguk mantap. "Bawa siapa saja yang ingin belajar. Kita akan mulai dari huruf pertama."
Saat ia melangkah keluar dari gubuk, bayangannya memanjang di tanah yang masih disengketakan itu. Aku memperhatikan punggungnya yang kecil, punggung yang seharusnya bisa menjadi sandaran bagi keluarganya. Aku teringat kembali pada Pak Sahri yang membenciku, pada Syamsul yang sudah menyerah, dan pada patok kayu bertuliskan RWK yang menancap angkuh di depan sana. Segalanya terasa begitu menyesakkan, namun aku harus tetap bertahan. Orang pertama yang salat di belakangku adalah anak yang ayahnya mati di laut yang kini ia hadapi.



