Bab 6 Gratis Novel Religi & Keluarga

Sebelum Ada Gerbang

Sedekah Laut dan Sisa Beras

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 6

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Sebelum Ada Gerbang

Bab 6

Gratis

Bau kemenyan dan amis ikan asin bercampur di udara pagi yang lembap. Ki Darmo berdiri di dermaga kayu, tangannya yang kasar merentang lebar, meminta jatah sedekah laut dari setiap kepala keluarga yang lewat. Bapak mendorongku dengan siku, memaksaku mendekat. Di tangan Bapak, sebuah bungkusan kain berisi beras kualitas terbaik, sisa dari simpanan yang seharusnya untuk makan kami seminggu ke depan. Aku tahu, Bapak melakukan ini bukan karena takut pada laut, melainkan karena ia tidak ingin Ki Darmo mencatat namanya sebagai pembangkang di buku desa yang legendaris itu.

"Ini untuk keberkahan perahu kita, Darmo," ujar Bapak sambil menyerahkan bungkusan itu. Matanya melirik ke arah saku celanaku, tempat aku menyimpan beberapa keping uang receh hasil menjual buku catatan di pasar kabupaten. Tanpa menunggu perintah, aku mengeluarkan koin-koin itu dan meletakkannya di atas meja kecil milik sang dukun. Ki Darmo tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang keruh.

"Semoga laut tidak menuntut lebih, Sahri," jawab Ki Darmo pelan. Ia menyapu daftar nama di buku lusuhnya dengan jari telunjuk yang menghitam karena tembakau.

Aku menoleh ke arah tanjung. Angin mulai naik, membuat permukaan laut beriak lebih keras. Di sana, di gubuk tua yang hampir roboh, aku melihat sosok laki-laki itu. Mahfud. Ia tidak ikut berkumpul di dermaga bersama kami. Alih-alih merapat ke kerumunan, ia justru sibuk berlarian di pinggir pantai. Tangannya cekatan menarik tali-tali perahu milik nelayan yang tadi malam lupa diikat dengan benar. Perahu-perahu itu mulai terombang-ambing, siap terseret arus jika ia tidak segera menambatkannya pada patok kayu yang lebih kuat.

"Lihat orang gila itu," gumam Bapak. Urat lehernya menegang. "Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya menyentuh perahu orang tanpa izin."

"Dia hanya membantu, Pak," sahutku pelan, meski aku tahu suaraku hanya akan memicu kemarahan.

Bapak tidak mendengar. Ia melangkah cepat menuju pantai, tangannya mengepal erat. Perahu miliknya, yang baru saja diperbaiki dengan susah payah, adalah salah satu yang sedang dipegang oleh Mahfud. Tanpa memedulikan angin yang kencang, Bapak berteriak memerintahkan Mahfud untuk menjauh. Mahfud menoleh, wajahnya tenang meski ia baru saja tersungkur karena hempasan ombak yang tiba-tiba meninggi. Ia tidak membalas teriakan Bapak. Ia justru melepaskan tali perahu Bapak setelah memastikan simpulnya aman, lalu mundur perlahan menuju gubuknya.

"Jangan pernah mendekati harta orang lain, dasar santri sombong!" teriak Bapak lagi. Suaranya tenggelam oleh deru ombak yang menghantam karang. Ibu menarik lenganku, menjauh dari keributan itu, wajahnya pucat pasi melihat tatapan para nelayan lain yang mulai menghakimi keberadaan Mahfud.

Aku terus menatap Mahfud yang berjalan lunglai menuju gubuknya. Punggungnya basah kuyup, menahan beban angin yang semakin tidak bersahabat. Di belakangku, Bapak masih memaki, suaranya parau oleh kebencian yang seolah tak punya dasar. Bapak tidak mempedulikan bahwa perahunya kini aman justru karena tangan laki-laki yang ia benci itu. Ki Darmo, di tempatnya berdiri, hanya tertawa kecil sambil mengisap rokok klobotnya. Asap kelabu mengepul, menari-nari di udara sebelum tertiup angin laut. Aku bisa merasakan tatapan tajam Ki Darmo beralih padaku, lalu pada arah kepergian Mahfud. Ada sesuatu yang tidak beres di balik senyum tipis itu, seolah ia sedang menghitung kerugian yang harus ditanggung oleh siapa saja yang berani melawan arus tradisi yang ia bangun.

Ibu menarik ujung kerudungku, memberi isyarat agar aku segera beranjak. Kami berjalan pulang menyusuri pematang yang licin oleh sisa air pasang. Di sepanjang jalan, nelayan-nelayan lain membicarakan aksi Mahfud dengan nada cemooh. Mereka menyebut santri itu sebagai orang asing yang sok suci, yang mencoba mencari muka dengan berpura-pura baik hati. Aku hanya bisa menunduk, meremas kain kotak seng di dalam tas kain yang kubawa. Di sana, di antara lipatan baju, tersimpan ikrar wakaf kakek yang kini terasa begitu berat. Aku tahu Mahfud benar, dan aku tahu Bapak sangat salah, namun kebenaran itu seolah menjadi beban yang tidak sanggup kupikul sendirian di depan pintu rumah kami yang reyot.

Sesampainya di rumah, Bapak membanting pintu dengan kasar. Ia duduk di lantai kayu, masih dengan napas terengah karena emosi. Ia mengambil mushaf peninggalan kakek yang selama ini ia anggap sebagai pengingat akan nasib sial keluarga kami. Padahal, aku tahu dari surat-surat lama yang kubaca, bahwa mushaf itu adalah satu-satunya bukti bahwa tanah yang sekarang ia gadai bukanlah miliknya untuk diperlakukan sesuka hati. Bapak tidak pernah membuka isinya untuk dibaca, ia hanya memegangnya saat sedang marah besar, seolah buku itu adalah benda sakral yang bisa memberinya kekuatan untuk mengusir Mahfud dari pulau ini.

"Anak itu tidak tahu diri," gerutu Bapak sambil melempar mushaf ke atas meja. "Dia datang ke sini hanya untuk mengacau. Dia pikir dengan menambatkan perahu, dia bisa membeli hati nelayan di sini? Tidak akan ada yang sudi memberi ruang bagi orang pesantren di Karang Asta."

Aku tidak menjawab. Aku sibuk menyiapkan air hangat untuk membasuh kaki Bapak. Di sudut dapur, Ibu sedang menata ikan asin yang akan dijual ke pasar besok pagi. Wajah Ibu tampak letih, gurat-gurat kecemasan di dahinya terlihat lebih dalam dari biasanya. Ia tahu bahwa Bapak tidak akan berhenti sampai Mahfud benar-benar hengkang dari pulau ini, meski itu berarti kami harus kehilangan tanah yang selama ini menjadi sandaran hidup.

"Jangan terlalu dipikirkan," bisik Ibu saat ia mendekatiku. Suaranya sangat pelan, hampir tak terdengar di atas suara debur ombak yang masih menderu di luar rumah. Ia melirik Bapak yang mulai terlelap karena kelelahan. "Bapakmu hanya takut kehilangan satu-satunya hal yang ia anggap milik kita. Dia tidak mengerti bahwa ada banyak hal yang memang sudah bukan milik kita sejak lama."

Aku menatap Ibu dengan saksama. "Tetapi, Bu, apa yang dilakukan Mahfud itu baik. Dia membantu para nelayan tanpa meminta imbalan apa pun. Bukankah itu yang diajarkan dalam agama? Saling menolong tanpa pamrih?"

Ibu menghela napas panjang. Ia mengambil kain lap dan mulai mengelap meja yang penuh dengan sisa garam. "Agama itu luas, Maryam. Namun, di Karang Asta, Ki Darmo punya aturan sendiri. Orang-orang di sini percaya bahwa laut punya penunggunya, dan sedekah yang kita berikan adalah harga untuk keselamatan kita. Mahfud mungkin punya niat baik, tapi dia belum mengerti bahwa di tempat seperti ini, kebaikan yang melawan arus sering kali dianggap sebagai ancaman."

"Apakah kita harus selalu mengikuti aturan Ki Darmo, Bu?" tanyaku penuh selidik. Aku merasa keberanianku tumbuh sedikit demi sedikit, didorong oleh pengetahuan yang kini kusimpan rapat di kotak seng.

Ibu berhenti bergerak. Ia menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kilatan sedih di sana, sebuah bayangan masa lalu yang mungkin ingin ia lupakan selamanya. Ia meletakkan kain lapnya dan meraih bahuku, menarikku lebih dekat ke arahnya.

"Kamu tahu kenapa kakekmu dulu sangat gigih membela tanah ini?" tanya Ibu tiba-tiba, suaranya kini terdengar sangat dingin, hampir seperti bisikan angin yang menusuk tulang. "Dia bukan orang yang percaya pada takhayul Ki Darmo. Dia percaya bahwa tanah ini milik mereka yang mau mengolahnya dengan niat yang bersih, bukan untuk kepentingan pribadi atau untuk sekadar menumpuk kekayaan."

Aku tertegun. Jadi, selama ini Ibu tahu? Ibu tahu bahwa kakek memang mewakafkan tanah itu untuk pesantren, dan Ibu tahu bahwa apa yang dilakukan Bapak saat ini adalah sebuah pengingkaran atas amanah kakek sendiri?

"Kakekmu dulu juga tidak ikut sedekah laut," kata Ibu, "lihat apa yang terjadi pada tanahnya."

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.