Sebelum Ada Gerbang
Bab 7
Aku menajamkan ujung pensil dengan pisau kecil sampai kayunya mengeluarkan aroma pinus yang segar. Di atas meja kayu yang mulai lapuk ini, aku menuliskan laporan untuk Mbah Rahim. Tanganku gemetar sedikit saat menuliskan baris tentang penolakan warga, namun aku terus menekan pensil itu di atas kertas kusam. Mbah harus tahu bahwa amanah ini bukan sekadar tanah, melainkan medan ujian yang jauh lebih berat dari sekadar membangun dinding.
"Ini untuk Mbah Rahim," kataku saat Syamsul masuk ke gubuk tanpa mengetuk. Wajahnya tampak lebih cerah pagi ini, ia mengenakan kemeja yang lebih rapi dari biasanya.
Syamsul menatap amplop yang kuangsurkan dengan tatapan aneh. "Kenapa harus lewat aku? Kamu bisa menitipkannya pada nelayan yang akan ke kota besok," ujarnya dingin.
"Aku butuh orang yang bisa dipercaya untuk memastikan surat ini sampai ke tangan beliau langsung, bukan sekadar ditaruh di pos depan pesantren," jawabku. Aku tahu Syamsul berencana pergi ke kota hari ini untuk urusan pribadinya, sekaligus menemui Pak Naib Kholil untuk menanyakan legitimasi tanah ini.
Syamsul mengambil surat itu, lalu memasukkannya ke dalam tas kulitnya dengan gerakan yang terlalu hati-hati. "Aku akan menemuinya. Tapi jangan harap Pak Naib akan memihak pada kertas yang hanya punya cap jempol mati," ucapnya sebelum melangkah keluar.
Setelah Syamsul pergi, aku segera bergegas menuju tepi pantai. Rasyid dan tiga anak nelayan lainnya sudah menunggu di sana. Pasir basah menjadi papan tulis kami hari ini. Aku berjongkok, menunjukkan cara menarik garis alif yang tegak lurus, menembus permukaan pasir yang datar.
"Ingat, Rasyid. Huruf ini adalah fondasi. Jika awalnya sudah miring, maka ke atasnya akan semakin goyah," ujarku lembut. Anak-anak itu meniru gerakanku dengan jari-jari mereka yang kasar karena sering terkena jaring dan garam laut. Rasyid menatapku dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, seolah ia sedang menggali sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar belajar menulis.
Kami baru saja memulai sesi ketika suara kayu yang dipaksa terlepas terdengar nyaring dari arah gubuk. Aku menoleh. Di sana, di bawah langit yang mulai menggelap, tampak beberapa orang yang kukenal sebagai anak buah Pak Sahri sedang menarik paksa lembaran atap rumbia gubuk kami. Mereka tidak bersuara, hanya bekerja dengan kebencian yang dingin, merobek satu demi satu bagian yang baru kemarin kami susun agar air hujan tidak membasahi lantai tempat kami bersujud.
Aku berlari meninggalkan Rasyid dan anak-anak itu di pantai. Napas memburu di dadaku, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang berusaha kuredam agar tidak tumpah menjadi keributan yang sia-sia. Langkah kakiku terhenti sepuluh langkah dari gubuk. Tiga pria dewasa dengan pakaian lusuh masih sibuk merobek rumbia. Mereka bekerja layaknya sedang mencabut duri yang menancap di kaki. Pak Sahri tidak ada di sana, namun keberadaan orang-orang ini sudah cukup menjelaskan siapa yang memberi perintah. Aku tidak berteriak. Aku hanya berdiri memperhatikan mereka, membiarkan debu rumbia yang kering beterbangan di udara pesisir yang lembap. Salah satu pria itu, yang mengenali kehadiranku, berhenti sejenak. Ia meludah ke pasir, lalu melemparkan selembar atap yang sudah rusak tepat di depanku.
"Tanah ini bukan tempat untuk orang-orang yang tidak tahu cara melaut," ucapnya dengan suara serak. Aku tidak menjawab. Aku hanya mendekat, memungut lembaran rumbia yang jatuh, lalu menumpuknya dengan rapi di sudut yang masih utuh. Tindakanku membuat mereka terdiam. Mereka mungkin mengharapkan aku marah, memaki, atau setidaknya memohon agar mereka berhenti. Namun, aku hanya diam, membersihkan debu di tanganku, lalu mulai menata kembali bagian yang mereka robek. Aku melakukan pekerjaan itu dengan telaten, seolah-olah atap ini adalah bagian dari nyawaku yang tidak boleh lepas begitu saja.
"Pergilah jika kalian ingin pergi," kataku tenang tanpa menoleh sedikit pun. "Tapi jangan rusak apa yang tidak kalian bangun." Mereka saling pandang. Ada kebingungan di wajah mereka. Kekerasan yang mereka lakukan tidak disambut dengan kekerasan balik, melainkan dengan ketenangan yang justru membuat mereka merasa janggal. Akhirnya, tanpa sepatah kata lagi, mereka berbalik arah dan pergi menuju dermaga. Aku menatap punggung mereka hingga hilang ditelan bayang-bayang perahu yang bersandar. Aku tahu ini belum selesai. Mereka akan kembali, mungkin dengan alasan yang lebih kuat atau cara yang lebih kejam. Namun, untuk saat ini, aku harus memastikan gubuk ini tetap berdiri, meski hanya dengan sisa-sisa rumbia yang compang-camping.
Sore itu, langit Karang Asta berubah warna menjadi kelabu pekat. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang menusuk hidung. Aku kembali ke pantai tempat Rasyid masih berdiri, mematung dengan jari-jari yang masih tertanam di pasir. Ia tidak beranjak sejak tadi. Aku mendekatinya, lalu merapikan garis alif yang sempat kami buat bersama. "Jangan takut, Rasyid," bisikku pelan. Ia menatapku, matanya yang redup kini menyala oleh sesuatu yang tidak bisa kupahami sepenuhnya. "Mereka tidak suka kita belajar, Ustaz," jawabnya lirih. Aku mengangguk, menyadari bahwa ketakutan adalah senjata utama yang digunakan orang-orang itu untuk menjaga dusun ini tetap dalam kegelapan.
Malam harinya, aku duduk di dalam gubuk yang kini atapnya berlubang di beberapa titik. Cahaya teplok bergoyang-goyang, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu yang lapuk. Aku menunggu Syamsul. Seharusnya dia sudah kembali sebelum matahari terbenam. Pikiranku melayang pada surat yang kubawa. Apa yang akan dikatakan Pak Naib Kholil? Mungkinkah beliau mau membantu mencari jalan keluar atas konflik tanah ini, atau justru beliau akan menganggapku sebagai santri yang keras kepala yang hanya membawa masalah ke dusun ini? Aku teringat pesan Mbah Rahim sebelum aku berangkat ke sini. Beliau tidak pernah menjanjikan kemudahan. Beliau hanya berpesan agar aku menjaga amanah itu, meski harus merangkak di atas tanah yang tak diinginkan siapa pun.
Suara derap langkah kaki di luar gubuk memecah keheningan malam. Aku segera berdiri dan membuka pintu. Syamsul muncul dengan wajah yang sulit dibaca. Dia terlihat berbeda. Kopiah hitam yang dikenakannya tampak baru, bahannya halus dan tidak berdebu seperti kopiah yang biasa ia pakai di pesantren. Ia tidak langsung bicara, hanya menatapku dengan sorot mata yang terasa jauh. "Bagaimana hasilnya?" tanyaku tidak sabar. Syamsul tidak menjawab. Dia meletakkan sebuah bungkusan di atas meja, lalu perlahan mengeluarkan sebuah surat dengan amplop yang disegel lilin merah. Aku meraih surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Aku mengamati segel lilin tersebut. Di sana terdapat ukiran yang sangat kukenal. Bukan stempel resmi dari kantor urusan agama, bukan pula cap jempol nelayan yang kasar, melainkan sebuah lambang rumit yang menggambarkan untaian padi dan simbol kemudi perahu. Itu adalah lambang keluarga Wibawa.
Jantungku berdegup kencang. Aku menatap Syamsul yang kini sedang menyulut rokok, duduk santai di pojok gubuk seolah-olah dia tidak membawa petaka. "Ini surat dari siapa, Sul?
" tanyaku dengan suara yang tertahan. Syamsul menghembuskan asap rokok ke udara, matanya menatap langit-langit gubuk yang berlubang. "Itu surat jawaban dari kota.
Pak Naib bilang, dia tidak bisa ikut campur dalam urusan tanah yang sudah dicatat dalam buku desa. " Aku tertegun.
Jadi, selama ini dia tidak menemui Pak Naib, melainkan menemui orang-orang Raden Wibawa. Segel lilin itu terasa panas di tanganku, sebuah pengkhianatan yang dibungkus dengan formalitas.



