Sebelum Ada Gerbang
Bab 8
Bau anyir ikan asin dan debu kayu yang lembap menyambutku saat aku menggeser posisi tikar pandan di pojok kamar. Ibu sedang di pasar, Hasan entah ke mana, dan Bapak masih di laut. Ini kesempatan langka. Aku tahu Bapak sering menyimpan berkas-berkas penting di balik tumpukan tikar yang jarang dipakai di sudut ruangan. Tanganku gemetar sedikit saat jemariku menyentuh permukaan tikar yang kasar. Di bawah sana, terselip sebuah amplop cokelat yang sudah kusam, terlipat dua dan berdebu.
Aku membukanya pelan. Lembaran kertas di dalamnya tampak kaku, penuh dengan cap jempol yang sudah memudar di bagian bawah. Mataku menyapu baris-baris tulisan itu. Jantungku terasa melambat saat membaca deretan angka yang tertulis di sana. Itu bukan sekadar surat utang biasa. Jumlahnya luar biasa besar, jauh melampaui harga tiga perahu yang pernah Bapak beli setelah Zainal hilang. Ada nama Bapak di sana, tertulis dengan tinta hitam yang masih cukup jelas, namun aku mengenal goresan tangan di balik dokumen ini.
"Maryam? Apa yang kau cari di situ?"
Aku tersentak dan segera menutupi kertas itu dengan lipatan tikar. Hasan berdiri di ambang pintu, matanya yang bulat menatapku curiga. Adiknya itu kini tampak lebih kurus, dengan bau laut yang selalu melekat di bajunya. Ia mendekat, lalu duduk di sampingku dengan sorot mata yang sulit dibaca untuk anak seusianya.
"Bukan apa-apa, Hasan. Hanya mencari sapu lidi yang terselip," jawabku berusaha tenang. Aku menatapnya lekat. "Tadi Ibu bilang kamu pergi ke tempat orang pesantren itu lagi. Apa benar?"
Hasan mengangguk pelan. Ia tidak menunduk seperti biasanya. "Sudah tiga kali, Mbak. Di sana tenang. Mereka tidak bicara tentang sedekah laut atau kutukan ombak. Mereka hanya bicara tentang huruf-huruf yang bisa dirangkai jadi kata."
Aku menelan ludah. Keberanian adikku ini membuatku takut. Jika Bapak tahu Hasan sering ke sana, bisa dipastikan akan ada keributan besar. Namun, pikiranku kembali pada kertas di balik tikar tadi. Aku teringat sesuatu yang membuat tengkukku dingin. Tanggal yang tertera di surat gadai itu tertulis dua bulan setelah Kakek wafat. Tanggal itu tidak mungkin dibuat oleh tangan Bapak yang bahkan harus mengeja untuk membaca nama sendiri. Tulisan tangan di surat itu terlalu rapi, terlalu resmi, dan aku sangat mengenal siapa yang memiliki gaya tulisan seperti itu di dusun ini.
"Hasan, apa Bapak pernah bicara soal surat ini dengan Ki Darmo?" tanyaku pelan, suaraku nyaris berbisik. Hasan hanya menggeleng, namun ia sempat melirik ke arah tikar yang tadi aku singkap. Ia tahu, sama seperti aku, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di bawah lantai kayu rumah kami.
Aku membiarkan Hasan keluar dari kamar tanpa mengejarnya. Tanganku kembali meraba bawah tikar, menarik lembaran kertas itu keluar sepenuhnya. Cahaya petromaks yang mulai meredup di ruang tamu tidak cukup terang, namun cukup bagi mataku untuk membedah setiap goresan tinta di atas kertas yang mulai rapuh. Aku menatap cap jempol Bapak di sana. Jempol itu tampak dipaksakan, mungkin ditekan saat ia sedang mabuk atau saat ia dalam keadaan bingung oleh tekanan Ki Darmo. Namun, bagian yang membuat darahku berdesir bukan cap jempol itu, melainkan deretan kalimat yang menjelaskan detail tanah tanjung.
Tanah itu disebut sebagai jaminan atas perahu yang dibeli Bapak. Namun, angka yang tertera di sana sangat tidak masuk akal. Nilainya setara dengan tiga buah perahu besar, padahal aku tahu betul perahu yang kami gunakan sekarang hanyalah perahu bekas yang dibeli dengan mencicil sisa hasil tangkapan. Ada selisih besar di sana. Selisih yang disengaja. Selisih yang membuat Bapak selamanya tidak akan pernah bisa melunasi utangnya. Seolah-olah sejak awal, tujuannya bukan agar Bapak membayar, melainkan agar tanah itu jatuh ke tangan pihak lain yang memegang catatan hutang ini.
Suara langkah kaki di lantai kayu depan rumah membuatku terlonjak. Aku segera melipat kertas itu, menyembunyikannya di dalam lipatan kain sarung yang tergantung di dinding, tepat sebelum pintu depan berderit terbuka. Ibu masuk dengan keranjang ikan yang separuhnya masih berisi ikan teri. Wajahnya lelah, guratan di sudut matanya semakin jelas tertimpa cahaya lampu yang berpijar tidak stabil. Ia tidak langsung menatapku, melainkan meletakkan keranjang itu di sudut dapur dengan gerakan yang berat.
"Masih ada sisa beras sedikit di kaleng," suara Ibu datar, nyaris tanpa emosi. Ia menghampiriku di kamar, lalu duduk di tepi ranjang bambu yang berderit. "Jangan terlalu sering melamun, Maryam. Dunia di luar sana tidak akan menunggu kita selesai berpikir. Apalagi kalau Bapakmu pulang dengan tangan kosong lagi karena ombak sedang tidak bersahabat."
Aku menatap Ibu, memperhatikan tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mengolah ikan. "Bu, apakah Bapak pernah meminjam uang sebanyak harga tiga perahu ke Ki Darmo?"
Ibu terdiam cukup lama. Ia tidak terkejut dengan pertanyaanku, justru raut wajahnya berubah menjadi lebih dingin. Ia memalingkan muka, menatap dinding kayu yang berlumut di bagian bawah. "Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?"
"Aku menemukan surat di bawah tikar, Bu. Surat gadai tanah tanjung. Angkanya tidak masuk akal. Bapak tidak mungkin mendapatkan perahu semahal itu dengan utang sebesar itu. Apakah Bapak dijebak?"
Ibu menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar seperti beban yang baru saja diangkat sebagian. "Perahu itu dibeli sebulan setelah Zainal hilang. Bapakmu saat itu kehilangan akal. Dia tidak bisa melaut, tidak bisa berhenti memikirkan kakakkmu yang hilang ditelan badai. Dia butuh kesibukan agar tidak gila. Ki Darmo datang menawarkan jalan keluar. Dia memberikan perahu itu, katanya sebagai bantuan sesama warga. Ternyata itu bukan bantuan, itu jeratan. Bapakmu tidak bisa membaca surat itu, Maryam. Dia hanya menuruti apa yang dikatakan Ki Darmo. Dia percaya bahwa dengan mencap jempol di sana, dia sudah melakukan hal yang benar untuk keluarga."
Aku merasakan dadaku sesak. "Jadi Ibu tahu? Ibu tahu bahwa tanah kakek dipertaruhkan untuk perahu yang bahkan tidak sepadan nilainya?"
"Apa gunanya tahu jika kita tidak punya kekuatan untuk melawan?" Ibu menatapku tajam. "Ki Darmo memegang buku desa. Dia yang mencatat siapa pemilik tanah, dia yang menentukan siapa yang berhak melaut. Jika kita melawan, kita tidak akan bisa makan. Hasan tidak akan bisa sekolah. Kita akan terusir dari sini."
Aku terdiam. Hasan yang tadi berdiri di ambang pintu sekarang sudah duduk di pojok, mendengarkan percakapan kami dengan mata yang berkaca-kaca. Dia adalah anak yang cerdas, anak yang sudah mulai mengerti bahwa rumah yang kami tinggali ini dibangun di atas fondasi kebohongan. "Aku sudah tiga kali ke tempat orang pesantren itu, Bu," suara Hasan memecah kesunyian. "Di sana tidak ada yang memaki. Mereka tidak bicara tentang utang. Mereka hanya bicara tentang belajar. Aku ingin belajar seperti mereka. Aku tidak mau menghabiskan hidupku di laut hanya untuk membayar utang Bapak yang sebenarnya tidak pernah ada."
Ibu memeluk Hasan, bukan untuk memarahi, melainkan untuk meredam tangisnya. Aku kembali teringat pada surat di balik tikar. Aku mengambilnya lagi dengan tangan yang lebih tenang sekarang. Aku memperhatikan baris-baris huruf yang tertulis di sana. Sebagai satu-satunya perempuan di dusun yang bisa membaca, aku tahu persis bagaimana bentuk huruf yang ditulis oleh Ki Darmo. Dia selalu menulis dengan gaya yang kaku namun teratur, dengan guratan pena yang menekan kuat pada kertas, seolah ingin memastikan setiap huruf itu permanen.
Aku membawa surat itu ke dekat lampu. Aku mulai menghitung bulan. Kakek wafat pada bulan ketiga dalam kalender desa. Surat ini dibuat pada bulan kelima. Kakek baru saja dikebumikan saat surat ini dibuat. Aku sangat mengenali goresan tangan di balik dokumen ini. Itu bukan tulisan Bapak, bukan tulisan tangan orang kota, dan bukan pula tulisan tangan juru tulis dari pihak lain. Itu adalah tulisan tangan yang setiap hari kulihat di buku desa saat Ki Darmo mencatat setoran ikan para nelayan. Itu tulisan Ki Darmo.



