Sebelum Ada Gerbang
Bab 9
Aroma garam dan amis ikan yang biasanya akrab di hidung kini terasa menyesakkan. Di hadapanku, sebuah perahu motor kayu bersandar dengan angkuh di tepian Karang Asta. Raden Wibawa Kusumo turun dengan langkah mantap, dibuntuti putranya, Sastro, yang memegang tas kulit tebal. Di belakang mereka, Syamsul berdiri dengan kepala tertunduk, sesekali mencuri pandang ke arahku. Aku memegang erat kayu penyangga gubuk yang mulai lapuk ini, merasakan getaran debu yang jatuh ke pundakku.
"Kiai muda," sapa Raden Wibawa tanpa menunggu salamku. Ia menyapu pandangan ke sekeliling tanah gersang ini dengan senyum tipis yang tidak menyentuh matanya. "Saya sudah melihat rencana pembangunan tambak garam di sini. Tanjung ini terlalu berharga jika hanya dijadikan tempat merenung. Saya punya tanah lain yang lebih subur di sisi barat pulau, lengkap dengan akses air bersih. Saya akan berikan itu untuk Anda, ditambah uang tunai sebagai modal membangun pesantren yang layak. Bukan di tempat terkutuk ini."
Syamsul melangkah maju, tangannya gemetar namun suaranya berusaha tegas. "Mahfud, dengarkan Raden. Beliau ingin menolong kita. Kamu tahu kondisi gubuk ini tidak akan bertahan menghadapi musim angin timur. Terima tawarannya, kita bisa mulai lagi di tempat yang lebih baik," bisiknya dengan nada memohon yang terasa asing. Aku menatap Syamsul, menilik sisa-sisa sahabat yang kukenal di pesantren, namun yang kutemukan hanyalah bayangan orang lain yang kini mengenakan kemeja rapi pemberian juragan.
Aku tidak menjawab segera. Kualihkan pandangan ke arah Rasyid yang sedang duduk di sudut gubuk, memegang papan tulis kayu dengan jemari yang penuh noda arang. Anak itu menatapku dengan mata yang penuh harap dan ketakutan. Aku menarik napas dalam, membiarkan angin laut mengisi paru-paruku dengan keberanian yang tersisa dari pesan Mbah Rahim.
"Tanah ini bukan milik saya, Raden," ucapku tenang. Suaraku tidak bergetar meski puluhan warga dusun mulai berkerumun di balik pagar bambu, menonton drama yang sedang kami mainkan. "Tanah ini diwakafkan untuk anak-anak pesisir yang ingin belajar. Saya hanyalah penjaga, bukan pemilik yang bisa menukar amanah dengan uang tunai atau tanah di tempat lain."
Sastro tertawa pendek, suara yang terdengar tajam di tengah deburan ombak. "Amanah? Kertas tua itu sudah tidak punya kekuatan hukum. Ayah saya membawa buku desa yang mencatat tanah ini sebagai jaminan utang. Jangan sampai keteguhan hati Anda justru menjadi awal kehancuran masa depan murid-murid Anda sendiri."
Aku tetap berdiri tegak, meski kakiku terasa berat di atas tanah yang sedang diperebutkan. "Jika memang ini adalah kehancuran, biarlah kehancuran itu terjadi di atas fondasi yang benar. Saya tidak akan menjual mimpi anak-anak ini dengan harga berapa pun."
Suasana di sekitar gubuk mendadak senyap. Angin laut yang tadi berembus kencang seolah tertahan oleh ketegangan yang menggantung di udara. Warga dusun yang berkerumun di balik pagar bambu saling berbisik, namun tak ada satu pun yang berani melangkah maju. Pak Sahri, yang sejak tadi berdiri di barisan paling depan dengan tangan terlipat di dada, meludah ke tanah. Tatapan matanya yang tajam tertuju padaku, menyimpan amarah yang belum meledak. Di samping Raden Wibawa, Syamsul tampak memucat. Ia menarik lengan baju sang juragan, seolah ingin segera pergi dari tempat yang ia anggap sarang masalah ini.
Raden Wibawa tidak marah. Ia justru menghela napas panjang, sebuah gestur yang dipenuhi rasa kasihan yang dibuat-buat. Ia melirik putranya, Sastro, yang masih berdiri memegang tas kulit dengan wajah angkuh. Sastro menatapku seolah aku adalah serangga yang tak sengaja hinggap di sepatu mahalnya. Mereka berdua adalah representasi dari dunia yang selama ini asing bagiku, dunia di mana segalanya bisa diukur dengan angka dan kuitansi, dunia di mana tanah hanyalah komoditas yang berpindah tangan melalui goresan pena di atas kertas kosong.
Aku tidak memberi mereka jalan keluar. Aku tetap berdiri di depan pintu gubuk, menghalangi pandangan mereka ke bagian dalam tempat Rasyid masih duduk mematung. Rasyid perlahan meletakkan papan tulis kayunya. Ia tidak lagi menatapku dengan ketakutan, melainkan dengan tatapan yang mulai memahami apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan di sini. Ia adalah anak pertama yang mau belajar dariku, anak yang telah kehilangan ayahnya di laut dan kini mencoba menemukan arah di daratan yang tidak ramah ini. Jika aku menyerah sekarang, tempat ini akan hilang, dan mimpi Rasyid untuk bisa membaca dunia akan ikut terkubur bersama fondasi kayu yang lapuk ini.
Syamsul mendekatiku, langkahnya ragu-ragu. Ia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru ombak yang menghantam karang. Mahfud, kamu tidak mengerti. Mereka punya banyak cara untuk membuatmu terusir dari sini. Jangan keras kepala. Kiai Rahim pasti mengerti jika situasinya sudah seperti ini. Jangan korbankan dirimu untuk tanah yang bahkan tidak diakui oleh kepala dusun sendiri. Aku menatap Syamsul, menatap matanya yang dulu sering kami gunakan untuk menatap bintang-bintang di pesantren, sebelum kami tahu bahwa dunia di luar sana begitu kejam.
Sul, kamu yang dulu mengajariku arti ikhlas di pesantren, kini memintaku untuk menukar amanah dengan kenyamanan, jawabku pelan, memastikan hanya dia yang mendengar. Syamsul terdiam. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena ia tahu bahwa kata-kataku menusuk tepat ke nuraninya yang masih tersisa. Ia memalingkan wajah, kembali ke sisi Raden Wibawa tanpa sepatah kata pun. Ia telah memilih jalannya, dan aku pun telah memilih jalanku. Kebersamaan kami di masa lalu kini telah terbelok menjadi dua garis yang tidak akan pernah bertemu lagi.
Raden Wibawa kemudian melangkah maju. Ia tidak menatapku lagi, melainkan menatap papan kayu yang menjadi dinding gubuk kami. Papan itu sudah tua, berlumut, dan penuh lubang, namun di sanalah kami belajar, di sanalah kami sujud, dan di sanalah harapan anak-anak seperti Rasyid tumbuh. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kayu itu dengan ujung jarinya yang bersih. Anda tidak punya apa-apa di sini, selain kehampaan. Jika Anda tetap bertahan, Anda hanya akan membiarkan anak-anak ini kelaparan sementara Anda sibuk menjaga kertas yang tidak berharga, ujarnya dengan nada rendah namun penuh ancaman.
Aku tidak menjawab. Aku membiarkan keheningan menjadi jawabanku. Beberapa warga mulai membubarkan diri, merasa bahwa pertunjukan ini sudah mencapai puncaknya namun tidak menghasilkan apa-apa. Pak Sahri berbalik, pergi tanpa menoleh, meninggalkan jejak kaki di pasir yang basah. Aku kembali ke dalam gubuk, menutup pintu kayu yang berderit. Rasyid masih duduk di sana, menatapku dengan napas tertahan. Ia memegang mushaf tua yang sudah lusuh di sampulnya. Kiai, apakah mereka akan kembali lagi? tanyanya dengan suara serak.
Aku duduk di sampingnya, mengambil papan tulis kayu yang tadi ia gunakan. Di sana tertulis rangkaian huruf hijaiyah yang ia pelajari hari ini. Rasyid, belajar tidak selalu harus mudah. Kadang-kadang, kita harus belajar di tengah badai, jawabku sambil mengusap pundaknya. Sore itu, kami menghabiskan waktu dengan mengulang bacaan. Cahaya matahari mulai meredup, membiaskan warna jingga di atas permukaan laut yang tenang. Rasyid menyelesaikan surah pertamanya dengan suara yang terbata-bata namun jernih, sebuah kemenangan kecil yang tidak bisa dibeli dengan tanah atau uang tunai mana pun.
Di luar, langkah kaki Raden Wibawa menjauh menuju dermaga kayu tempat perahunya menunggu. Suara mesin perahu motor mulai menderu, memecah kesunyian senja yang baru saja turun. Aku berdiri di ambang pintu, melihat perahu itu perlahan meninggalkan tepian Karang Asta. Sastro berdiri di buritan, menatap kembali ke arah gubuk kami dengan pandangan yang sulit diartikan. Syamsul tidak menoleh sedikit pun. Ia menunduk, sibuk dengan catatan-catatan di buku kecil yang selalu ia bawa, sebuah simbol dari profesi barunya sebagai juru tulis juragan.
Aku berdiri di sana cukup lama, membiarkan angin senja membasahi wajahku. Aku tahu ini bukan akhir dari segalanya. Ancaman mereka baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih besar akan datang saat musim angin timur tiba. Namun, melihat Rasyid yang kini bisa merangkai ayat dengan benar, aku merasa bahwa fondasi yang kubangun ini tidak akan semudah itu hancur. Tanah ini memang tidak diinginkan siapa pun, kecuali oleh mereka yang sedang merintis masa depan di atas perahu yang sudah tak terpakai.
Saat perahu itu sudah hampir mencapai tengah laut, Raden Wibawa berteriak ke arah gubuk, suaranya terbawa angin, terdengar dingin dan pasti. Kiai muda, kata Wibawa sambil naik ke perahunya, semua pesantren pada akhirnya butuh orang seperti saya. Saya sabar.



