Sebelum Ada Gerbang
Bab 10
Rasyid menarik ujung bajuku dengan tangan yang gemetar. Dia bilang Mahfud sudah menunggu di kolong perahu bekas yang kini dijadikan surau darurat. Aku menoleh ke arah dapur, mendapati Mbok Rukayah sedang menumbuk garam dengan irama yang konstan dan tajam. Ibu tidak bicara, dia hanya mengangguk pelan, seolah memberi izin untuk melihat apa yang sebenarnya dibawa pemuda dari Jombang itu. Aku berjalan menyusuri pantai, melewati jejeran perahu yang bersandar miring di atas pasir basah.
Mahfud duduk di atas tumpukan jaring yang berbau amis. Di depannya, selembar kertas tua yang terlipat rapi terhampar di atas papan kayu. Saat aku mendekat, dia tidak berdiri. Dia hanya menggeser posisi duduknya dan menunjuk kertas itu dengan ujung pensil. Mbok Rukayah menyusul beberapa langkah di belakangku, berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menyapu setiap sudut surau perahu itu dengan waspada.
"Ini bukan untuk pamer, Maryam," bisik Mahfud, suaranya pelan namun tegas. "Aku hanya ingin kau membaca apa yang tertulis di sini. Orang-orang di dusun ini tidak pernah memberitahumu apa yang sebenarnya ada di balik ikrar ini."
Aku meraih kertas itu. Kertasnya kasar, warnanya sudah menguning dimakan usia. Aku mulai mengeja deretan huruf yang tersusun di sana. Jantungku berdenyut lebih lambat saat mataku menangkap kata demi kata. Tulisan di dokumen ini jauh lebih jelas daripada coretan Ki Darmo di buku desa yang selalu dia simpan di balik kain hitam. Aku membaca dengan suara pelan namun yakin.
"Tunggu," kataku, jemariku menelusuri kalimat yang tertulis di tengah halaman. "Ini tidak menyebutkan nama Kiai Rahim sebagai penerima. Di sini tertulis untuk anak-anak pesisir. Ini wakaf untuk orang-orang di sini, bukan untuk siapa pun yang mengaku pengasuh pesantren."
Mahfud menatapku, matanya memancarkan rasa lega yang tertahan. "Syamsul selalu membacanya sebagai titipan pribadi. Dia sengaja membelokkan arahnya agar tanah ini terlihat seperti milik Kiai yang bisa digugat kapan saja."
"Kau baru saja membaca sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di bawah air laut," sebuah suara berat memotong pembicaraan kami. Bapak sudah berdiri di depan pintu surau yang rendah, bayangannya memanjang di atas lantai kayu yang berderit. Dia tidak membawa parang, namun otot-otot lengannya menegang. Bapak tidak mendekat ke arah Mahfud. Dia justru berjalan ke lambung perahu dan menghantamkan tangannya dengan keras ke kayu tua itu hingga suaranya bergema ke seluruh pantai.
Getaran dari hantaman tangan Bapak pada lambung perahu merambat ke telapak kakiku, menjalar melalui kayu-kayu tua yang menjadi saksi bisu pembangunan surau ini. Suasana di dalam surau seketika senyap. Ibu yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, perlahan melangkah masuk, namun matanya tetap tertuju pada suaminya sendiri, bukan pada Mahfud atau padaku. Aku masih memegang kertas itu, jemariku gemetar meski aku berusaha keras untuk tetap tenang. Bapak tidak menatap Mahfud. Dia menatap papan kayu yang baru saja dipukulnya, seolah sedang menghitung berapa kali lagi kayu itu bisa menahan beban sebelum akhirnya lapuk dan hancur.
"Kau pikir dengan membaca tulisan itu kau sudah menjadi pemilik sah tanah ini, Mahfud?" suara Bapak terdengar parau, penuh dengan beban yang kurasakan setiap kali dia pulang melaut tanpa hasil. Dia berbalik, matanya yang lelah menatap Mahfud dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, namun ada juga sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti keputusasaan yang dipaksakan. "Kakekmu, Haji Marzuki, memberikan tanah ini saat anak-anaknya sendiri belum punya cukup garam untuk dimakan. Dia menyerahkan semuanya kepada orang-orang yang katanya membawa ilmu, sementara keluarga kami harus menelan ludah dan menahan lapar setiap kali angin barat berhembus kencang."
Mahfud tidak membela diri. Dia hanya duduk tegak, tangannya terlipat di atas lutut, menunjukkan ketenangan yang justru membuat Bapak tampak semakin tidak stabil. "Saya tidak pernah mengklaim tanah ini sebagai milik pribadi, Pak Sahri. Amanah Kiai Rahim hanya satu, memastikan anak-anak di sini punya tempat untuk belajar. Agar mereka tidak harus menempuh jalan yang sama dengan yang Bapak lalui."
Bapak tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak mencapai matanya. "Belajar? Apa gunanya membaca huruf jika isi perut tidak bisa diisi dengan buku? Apa gunanya tulisan di kertas itu jika nelayan tetap harus menyetor upeti kepada Ki Darmo hanya agar bisa melaut di perairan sendiri?"
Ibu akhirnya bergerak, dia mendekat ke arah Bapak dan meletakkan tangannya di lengan suaminya. "Sahri, sudah. Anak-anak sedang mendengarkan. Jangan buat segalanya menjadi lebih rumit dari yang sudah ada," bisik Ibu dengan suara yang sangat lembut, namun nadanya memberikan perintah yang tidak bisa dibantah. Bapak menepis tangan Ibu, tetapi gerakannya tidak kasar. Dia hanya berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kayu perahu yang melengkung.
Aku berdiri di antara mereka, memegang erat kertas ikrar tersebut. "Bapak, ini tertulis untuk anak-anak pesisir. Bukan untuk Kiai, bukan untuk Raden Wibawa, dan bukan untuk Ki Darmo. Ini adalah hak kami, hak semua orang di dusun ini," kataku, mencoba memberanikan diri meski suaraku masih sedikit bergetar. Aku melirik Mahfud, berharap dia akan mengatakan sesuatu yang bisa meredakan ketegangan, namun Mahfud tetap diam. Dia membiarkanku berbicara, membiarkanku mengambil peran dalam konflik ini.
"Hak?" Bapak mengulang kata itu dengan nada mengejek. Dia menatapku tajam. "Kau tahu berapa banyak keringat yang Bapak teteskan di laut ini agar kau bisa belajar membaca? Dan sekarang kau menggunakan kemampuanmu itu untuk menentang Bapak sendiri? Kau membela orang asing yang datang membawa kertas tua dan janji kosong?"
"Ini bukan janji kosong, Pak," Mahfud akhirnya angkat bicara, suaranya tetap tenang dan terukur. "Saya datang ke sini dengan membawa amanah. Saya tidak meminta tanah ini secara cuma-cuma. Saya bekerja, saya membangun surau ini dengan tangan saya sendiri, dan saya mengajar anak-anak tanpa meminta bayaran sepeser pun. Saya hanya ingin menjaga agar tanah ini tidak jatuh ke tangan mereka yang hanya ingin mengeruk keuntungan."
Bapak memicingkan mata, menatap Mahfud dari atas ke bawah, seolah baru pertama kali melihat siapa sebenarnya santri dari Jombang ini. "Kau keras kepala, sama seperti orang-orang pesantren lainnya. Kalian pikir bisa mengubah dunia hanya dengan membaca kitab dan membangun surau kayu di pinggir pantai yang sewaktu-waktu bisa diterjang badai." Bapak kembali memukul lambung perahu, kali ini lebih keras, hingga debu-debu halus jatuh dari langit-langit surau yang terbuat dari jalinan daun kelapa kering.
"Tanah ini," Bapak berhenti sejenak, napasnya tersengal, "tanah ini seharusnya menjadi mahar untuk Maryam. Jika memang tanah ini begitu berharga, maka biarkan tanah ini menjadi penjamin masa depan putriku, bukan untuk sekadar tempat orang-orang duduk bersila setiap sore. Apa kau sanggup membayar harga itu, Mahfud?"
Keheningan menyelimuti surau. Aku menoleh ke arah Mahfud, menunggu jawabannya. Mahfud menatapku sebentar, lalu beralih menatap Bapak dengan kesungguhan yang membuat bulu kudukku berdiri. "Jika itu yang Bapak kehendaki, maka saya akan menjadikannya mahar. Saya akan melunasi segala hutang yang ada di atas tanah ini, dan saya akan memastikan bahwa tanah ini tetap menjadi milik Maryam dan anak-anak pesisir, sampai kapan pun."
Bapak menatap Mahfud dalam-dalam, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia membalikkan badan dan melangkah keluar dari surau. Suara langkahnya di atas pasir pantai terdengar berat, menjauh perlahan menuju rumah kami. Ibu menatapku dengan mata yang sembab, memberi isyarat padaku untuk segera pulang. Aku masih berdiri mematung di sana, memegang kertas ikrar wakaf yang kini terasa sangat berat di tanganku. Mahfud berdiri, dia menghela napas panjang dan menatap ke arah laut yang tenang, seolah sedang mencari jawaban di balik cakrawala.
"Maryam," panggil Mahfud pelan. Aku menoleh, "Simpan kertas itu. Jangan berikan kepada siapa pun, bahkan kepada Bapakmu sendiri jika dia sedang dalam keadaan marah seperti tadi." Aku mengangguk, lalu bergegas menyusul Ibu yang sudah berjalan cukup jauh di depan. Malam mulai turun, dan angin laut terasa semakin dingin, membawa bau garam dan amis yang menusuk hidung, namun untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa tanah ini bukan lagi sekadar tempat tinggal yang diperebutkan, melainkan sebuah masa depan yang harus kami jaga bersama.
Aku tidak tahu bagaimana Mahfud akan menepati ucapannya, bagaimana dia akan membayar mahar yang begitu besar di tengah tekanan Raden Wibawa dan muslihat Ki Darmo. Namun melihat punggung Bapak yang perlahan hilang ditelan kegelapan malam, aku sadar bahwa pertempuran ini baru saja dimulai. Besok, saat matahari terbit, aku akan kembali ke surau ini, membawa lebih banyak pertanyaan dan mungkin, sedikit lebih banyak keberanian untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan.



