Bab 1 Gratis Novel Religi & Keluarga

Surat Tanpa Nama

Kunci Lemari Nomor Tujuh

7 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 1

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Bab Sebelumnya Bab Berikutnya Simpan Bab

Surat Tanpa Nama

Bab 1

Gratis

Aku menarik napas panjang, menahan aroma kopi pahit dan wangi melati yang menyengat dari ruang tamu. Suara tawa Bu Sofiah terdengar renyah, disusul suara paman, Haji Hamid, yang lebih mirip nada berbisik penuh agenda. Aku tidak menunggu izin, kaki telanjangku berjingkat meninggalkan ambang pintu kayu jati, menjauh dari tatapan tajam Nyai Maryam yang seolah sudah tahu aku akan melarikan diri ke tempat paling sunyi di pesantren ini.

"Emily, jangan jauh-jauh, sebentar lagi Fikri datang," bisik Faiz di depan pintu, matanya tidak menatapku tetapi mengawasi arah ruang tamu dengan rahang mengeras.

"Aku hanya ingin membaca, Kak," jawabku pendek, menyambar kerudung instan yang tergeletak di kursi rotan sebelum benar-benar lenyap ke balik lorong.

Langkahku terburu-buru menyusuri selasar perpustakaan yang dingin. Bau kertas tua dan debu yang mengendap bertahun-tahun selalu menjadi pelarian terbaik saat rumah terasa terlalu sesak oleh rencana yang tidak pernah aku susun. Ustaz Rasyid pasti sudah pulang, meninggalkan ruangan ini dalam kendali lampu gantung yang redup dan rak-rak kayu yang berderet tinggi seperti barisan tentara bisu. Aku menyalakan lampu gantung di sudut paling belakang, tepat di tempat debu menari-nari dalam cahaya kuning yang berpijar lemah.

Mataku tertuju pada sebuah lemari besi tua yang terselip di balik tumpukan koran bekas. Lemari nomor tujuh. Biasanya lemari itu dibiarkan terbuka, namun hari ini sebuah gembok kuningan menggantung kaku di sana. Di atasnya, sebuah buku inventaris bersampul kulit hitam tergeletak, permukaannya tertutup lapisan debu tebal yang saat aku tiup, membuatku terbatuk kecil.

"Apa yang kau sembunyikan di sini, Ayah?" gumamku sambil membuka halaman pertama buku itu. Tulisan tangan Ayah yang tegak dan tegas mendominasi setiap baris, berisi daftar aset koperasi yang sudah lama gulung tikar. Namun, jariku berhenti di halaman terakhir yang kertasnya terasa lebih kasar dan tebal dibanding lembar lainnya.

Ada coretan tinta hitam yang menembus serat kertas di sana. Tulisan tangan itu tampak lebih terburu-buru, berbeda dengan kerapian catatan lainnya, seolah ditulis dalam keadaan tidak tenang. Aku mendekatkan wajah, memastikan baris huruf yang mulai memudar oleh usia namun masih terbaca dengan jelas oleh penglihatanku.

DH-17, fondasi timur, jangan dibongkar.

Aku terdiam. Fondasi timur adalah tempat Rustam dan ayahnya bekerja selama berbulan-bulan memperbaiki dinding perpustakaan yang retak akibat gempa tahun lalu. Jika tempat itu menyimpan rahasia yang bahkan Ayah minta untuk tidak dibongkar, mengapa Haji Hamid begitu bersemangat menyerahkan denah tanah pesantren kepada orang-orang dari kota? Sebuah bunyi gesekan lantai di balik rak membuatku tersentak, menutup buku dengan cepat.

Aku mendekap buku itu ke dada, merasakan jantungku berdetak tidak beraturan di balik kain gamis. Suara gesekan lantai itu terdengar lagi, kali ini disusul derit kayu yang tertekan beban berat. Aku mencoba mengatur napas, memastikan suara embusanku tidak mengkhianati keberadaanku di balik rak buku yang menjulang. Siapa pun yang ada di sana, dia bergerak dengan kehati-hatian yang tidak wajar. Aku tidak berani menoleh, namun bayangan seseorang yang memanjang di lantai kayu akibat cahaya lampu gantung membuat nyaliku menciut. Bayangan itu berhenti tepat di samping rak buku tempat aku bersembunyi.

"Siapa di sana?" tanyaku, suaraku terdengar lebih gemetar daripada yang aku inginkan.

Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian perpustakaan yang mendadak terasa mencekam, seolah udara pun ikut membeku. Aku memberanikan diri mengintip melalui celah sempit di antara dua buku ensiklopedia. Di sana, di balik rak, aku melihat sepasang sandal jepit yang sudah tipis di bagian tumit. Itu bukan sandal Ustaz Rasyid yang selalu rapi, bukan pula sandal kulit milik Faiz. Itu milik Rustam.

Aku mengembuskan napas panjang, sedikit lega namun tetap waspada. Aku keluar dari persembunyian, memergokinya yang sedang memegang linggis kecil dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat, matanya menatap tajam ke arah lemari nomor tujuh yang sedang aku kunci dengan buku inventaris di tanganku.

"Rustam, apa yang kau lakukan di sini saat jam istirahat?" tanyaku pelan, berusaha menjaga suaraku tetap datar meski tanganku masih memegangi buku inventaris itu dengan erat.

Rustam tersentak, hampir menjatuhkan linggisnya ke lantai kayu. Dia mematung sejenak sebelum menundukkan kepala, gestur yang selalu dia lakukan setiap kali merasa bersalah di hadapan keluarga Kiai. "Maaf, Ning. Saya hanya disuruh mengambil sesuatu yang tertinggal di bawah rak ini oleh Ayah sebelum beliau hilang di laut."

"Sesuatu? Apa itu?" cecarku.

Rustam terdiam cukup lama. Dia melirik ke arah buku yang aku pegang, lalu menatap lemari besi itu dengan tatapan penuh duka. "Ayah bilang, ada titipan yang tidak boleh diketahui orang lain. Beliau bilang, jika pesantren ini mulai terlihat tidak aman, saya harus memastikan sesuatu tetap terkubur di fondasi timur. Saya tidak tahu apa itu, Ning. Saya hanya ingin menepati janji pada Ayah."

Perkataan Rustam membuatku merinding. Jika Ayah menuliskan peringatan di buku inventaris, dan Pak Sanusi meninggalkan pesan untuk anaknya tentang hal yang sama, berarti ini bukan sekadar rahasia koperasi. Ini adalah jantung dari pesantren yang selama ini ditutupi oleh narasi keberhasilan yayasan. Aku menatap buku di tanganku, lalu menatap Rustam yang tampak begitu rapuh.

"Kau tahu apa arti DH-17?" tanyaku, memberinya kesempatan untuk jujur.

Dia menggeleng pelan, wajahnya tampak jujur dalam ketidakpastiannya. "Saya hanya tahu itu bukan sekadar nomor lemari. Itu adalah kode untuk titik di mana kami dulu membangun fondasi. D.H. untuk Darul Hikmah, dan 17 adalah jumlah tiang penyangga yang kami tanam sedalam tiga meter ke dalam tanah. Ayah bilang, di bawah tiang ketujuh belas, ada sesuatu yang harus dijaga agar tanah ini tetap menjadi milik santri."

Aku tidak membalas. Pikiranku melayang pada Haji Hamid yang begitu antusias menyerahkan denah tanah pesantren kepada pengurus yayasan di Surabaya. Jika mereka membongkar fondasi timur, mereka tidak hanya akan menemukan artefak atau dokumen, mereka akan menemukan bukti bahwa tanah ini memiliki sejarah yang tidak bisa diperjualbelikan dengan uang muka kontrak penerbitan. Aku menatap lemari nomor tujuh sekali lagi. Gembok itu tampak begitu angkuh, menyimpan rahasia yang mungkin bisa mengubah nasib keluargaku.

"Kembalilah ke rumahmu, Rustam. Jangan pernah katakan pada siapa pun bahwa kau melihatku di sini, atau bahwa kau tahu soal fondasi timur," perintahku dengan nada yang aku usahakan terdengar tegas. "Jika ada yang bertanya, katakan saja kau sedang mencari alat yang tertinggal setelah pekerjaan selesai."

Rustam mengangguk, lalu bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Kepergiannya meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Aku kembali menatap lemari nomor tujuh. Tanganku yang gemetar meraih kunci yang terselip di balik buku inventaris. Ayah menyimpan kunci ini di dalam buku yang dia tulis sendiri, sebuah kebodohan yang manis jika dia berniat merahasiakannya, atau justru sebuah tanda bahwa dia memang ingin ditemukan oleh orang yang tepat.

Aku memasukkan kunci itu ke lubang gembok. Bunyi logam yang beradu terasa nyaring di telingaku. Aku memutar kunci itu perlahan, hingga terdengar bunyi klik yang menandakan lemari itu terbuka. Saat pintu besi itu aku tarik, bau apek menyergap, bercampur dengan aroma kertas tua yang lembap. Di dalamnya, tidak ada emas atau perhiasan, melainkan tumpukan berkas yang disusun rapi berdasarkan tahun, dengan label yang ditulis tangan menggunakan tinta hitam.

Aku mengambil salah satu berkas yang paling atas. Isinya adalah catatan keuangan koperasi tahun dua puluh tujuh tahun yang lalu, lengkap dengan kuitansi dan surat-surat yang ditandatangani oleh Nyai Maryam. Di sana, tertera nama seseorang yang sangat familiar, seseorang yang namanya sering disebut-sebut oleh Fikri sebagai tokoh filantropis, namun di sini, dia tertera sebagai pihak yang meminjam dana koperasi dengan bunga yang tidak masuk akal. Ini adalah bukti yang dicari Faiz selama bertahun-tahun, bukti yang membuat Ayah dirobek halaman buku kasnya karena tidak mampu melawan tekanan.

Aku tidak bisa bernapas lega. Setiap lembar dokumen yang aku buka adalah sebuah pengkhianatan yang dibungkus rapi dengan jubah kebaikan. Aku membalik lembar terakhir dari buku inventaris yang aku pegang tadi, dan di sana, tertulis kalimat yang seolah menjadi penutup dari segalanya: DH-17, fondasi timur, jangan dibongkar.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.