Surat Tanpa Nama
Bab 2
Aroma bubuk kopi robusta yang halus bercampur dengan bau kayu tua di dapur ndalem. Aku menuangkan air panas dari ceret tembaga ke dalam gelas yang sudah disiapkan, memastikan takarannya pas sebelum menyajikan nampan ini untuk Kiai Mahfud. Ibu sudah berpesan berulang kali agar aku bertindak santun, tidak banyak bicara, dan menunduk saat berhadapan dengan beliau. Ini adalah bentuk pengabdian yang seharusnya, pikirku, demi menjaga kedekatan keluarga kami dengan pengasuh pesantren yang sangat dihormati ini.
"Fikri, taruh di meja kerja saja," suara berat Kiai Mahfud terdengar dari ruang tengah. Beliau sedang memeriksa beberapa berkas yayasan dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Aku mengangguk pelan, meletakkan nampan dengan hati-hati, lalu mundur beberapa langkah untuk memberi ruang.
"Terima kasih, Fikri. Kamu anak yang baik. Kamu sudah bicara dengan Emily mengenai rencana perjodohan kita?" pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku terdiam sejenak. Aku bahkan belum berani menatap mata Kiai, apalagi membahas perihal pribadi seperti itu. Sebelum aku sempat merangkai jawaban, Haji Hamid muncul dari balik pintu samping dengan langkah lebar. Wajahnya tampak lebih cerah dari biasanya, kontras dengan suasana ndalem yang selalu tenang.
"Fikri, mari ikut saya sebentar ke beranda. Ada yang perlu kita bicarakan mengenai masa depan pesantren dan posisi kamu di sini," ujar Haji Hamid sambil menepuk bahuku. Aku mengikuti langkahnya keluar, melewati koridor yang mengarah langsung ke halaman perpustakaan. Sesaat sebelum kami sampai di pintu kayu, aku melihat sosok Emily berlari kecil ke arah pintu perpustakaan di sisi barat. Rambutnya yang biasanya rapi sedikit berantakan dan wajahnya tampak pucat. Gadis itu tidak menoleh, seolah dunia di sekitarnya sudah tidak lagi penting.
"Fikri, dengarkan baik-baik," Haji Hamid memulai percakapan saat kami sampai di pojok beranda. "Saya tahu ini bukan hal yang mudah bagi anak muda seperti kamu. Tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya sudah bicara panjang lebar dengan Emily pagi tadi. Dia sudah mengangguk, Fikri. Dia setuju dengan pinangan ini."
Aku terpaku. Detik itu juga, ingatanku kembali pada sosok Emily yang baru saja kulihat lari ketakutan menuju perpustakaan. Wajah Emily tadi sama sekali tidak menunjukkan raut seorang gadis yang baru saja menyetujui masa depannya. Kenapa dia tampak seperti sedang melarikan diri? Haji Hamid masih menatapku dengan senyum yang tidak sampai ke matanya, menunggu reaksimu, sementara pikiranku justru tertuju pada sosok Emily yang menghilang di balik pintu perpustakaan, tempat yang seharusnya tertutup bagi siapa saja kecuali pengelola.
Aku terdiam sejenak. Angin laut yang membawa aroma garam menyapu beranda, menampar wajahku yang terasa kaku. Kalimat Haji Hamid menggantung di udara, berat dan menyesakkan. Jika Emily benar-benar telah setuju, mengapa langkahnya tadi tampak seperti seseorang yang sedang dikejar bayang-bayang? Aku menelan ludah, mencoba mencari keberanian untuk bertanya, namun tatapan Haji Hamid yang tajam membuat lidahku kelu.
"Apakah dia benar-benar mengatakannya sendiri, Paman?" tanyaku pelan, berusaha menjaga suara agar tetap tenang meski dadaku bergejolak. Haji Hamid menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja marmer dengan denting yang cukup keras.
"Fikri, anak muda sering kali merasa bingung dengan perasaan mereka sendiri. Emily adalah gadis yang baik, dia tahu kewajibannya sebagai putri seorang Kiai. Tentu saja dia mengangguk. Dia mengerti bahwa masa depan pesantren ini bergantung pada stabilitas yang kita bangun bersama," jawabnya dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca atau jadwal pengajian mingguan.
Aku memandang ke arah perpustakaan. Pintu kayu tua itu masih tertutup rapat. Ada sesuatu yang janggal, sebuah disonansi yang tajam antara kata-kata paman Kiai Mahfud ini dengan kenyataan yang baru saja kutangkap dengan mataku sendiri. Emily tadi tidak terlihat seperti calon pengantin yang bahagia. Dia terlihat seperti seseorang yang memegang rahasia besar dan harus segera menyembunyikannya sebelum terlambat. Aku merasa seolah sedang berdiri di atas jembatan gantung yang sewaktu-waktu bisa putus, sementara Haji Hamid terus meyakinkanku bahwa jembatan itu aman untuk dilalui.
"Saya hanya khawatir jika dia merasa tertekan, Paman," kataku lagi, memberanikan diri untuk menatap mata pria di depanku ini. Haji Hamid tertawa kecil, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya.
"Tekanan adalah bagian dari pendewasaan, Fikri. Kamu sendiri, bukankah kamu ingin segera membuktikan baktimu pada pesantren ini? Ibu kamu, Bu Sofiah, sudah banyak berkorban untuk memastikan kamu bisa menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan posisi ini. Apakah kamu ingin mengecewakan beliau hanya karena keraguan yang tidak berdasar?" sentilan itu telak mengenai ulu hatiku. Nama ibu, toko bahan bangunan yang cicilannya selalu tertunda, dan harapan-harapan yang dipikulnya di pundakku terasa seperti batu besar yang menindih punggungku.
Aku menunduk, menatap retakan pada ubin beranda. Haji Hamid benar. Keluargaku tidak punya kemewahan untuk meragukan apa pun yang ditawarkan oleh pihak pesantren. Jika aku menolak, apa yang akan terjadi pada toko ibu? Apa yang akan terjadi pada beasiswa yang selama ini membiayai hidupku dan adik-adikku? Aku hanyalah santri yang beruntung, seorang penerima kebaikan yang harus tahu diri.
"Saya mengerti, Paman," jawabku akhirnya. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, lebih patuh dari yang sebenarnya aku rasakan.
"Bagus. Bersiaplah. Kita akan meresmikan semuanya setelah Kiai Mahfud kembali dari perjalanan umrahnya. Kamu hanya perlu fokus pada notulen rapat yayasan dan memastikan semua dokumen administrasi berjalan lancar. Serahkan urusan Emily kepada saya, dia hanya perlu sedikit waktu untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya nanti," ujar Haji Hamid sambil berdiri. Dia menepuk bahuku sekali lagi, kali ini dengan tekanan yang lebih kuat, sebuah tanda otoritas yang sulit untuk dibantah.
Aku ditinggalkan sendirian di beranda. Suara ombak dari pesisir Karang Asta terdengar lebih nyaring sekarang, menghantam dinding batu karang dengan ritme yang konstan. Aku berjalan perlahan menuju area perpustakaan, kakiku seolah memiliki kehendak sendiri. Aku tidak ingin mengintip, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi Emily, namun bayangan wajah gadis itu yang berlari tadi terus menghantui pikiranku. Itu bukan wajah seorang gadis yang baru saja memberikan persetujuan masa depan.
Sesampainya di depan pintu perpustakaan, aku terhenti. Di dalam sana, sunyi. Tidak ada suara buku yang dipindahkan, tidak ada suara langkah kaki. Aku mendekatkan telingaku ke daun pintu. Masih tetap sunyi. Aku teringat apa yang dikatakan Haji Hamid tadi pagi, tentang bagaimana dia sudah bicara dengan Emily. Jika itu benar, mengapa Emily memilih untuk bersembunyi di tempat yang paling jarang dikunjungi orang? Tempat yang menyimpan ribuan dokumen tua yang tidak pernah disentuh oleh siapa pun.
Aku menyadari satu hal yang membuat tengkukku merinding. Jika Haji Hamid berbohong, maka apa yang sebenarnya dia rencanakan dengan menarikku ke dalam skenario ini? Aku bukan hanya sekadar calon menantu. Aku adalah alat, atau mungkin saksi, yang sedang dipersiapkan untuk membenarkan setiap tindakan yang dia ambil di belakang Kiai Mahfud. Aku memegang gagang pintu perpustakaan yang dingin itu, namun aku tidak berani membukanya. Ketakutan akan apa yang mungkin kutemukan di balik pintu itu lebih besar daripada rasa penasaranku.
Aku berbalik dan menjauh dari sana dengan langkah terburu-buru. Aku harus menemui Ibu. Aku harus memastikan bahwa toko tidak dalam bahaya, bahwa semua yang dikatakan Haji Hamid tentang masa depan kami adalah benar. Namun, saat aku berjalan melewati lorong menuju asrama, aku berpapasan dengan Rustam. Bocah itu tampak membawa tumpukan kain tua, wajahnya tertunduk dalam. Dia tidak menyapaku, tidak seperti biasanya. Ada ketegangan pada bahunya yang tidak biasa.
"Rustam?" panggilku pelan.
Dia berhenti sejenak, namun tidak mendongak. "Ya, Kang Fikri?"
"Apa kamu melihat Emily di perpustakaan?"
Rustam terdiam, napasnya terdengar sedikit memburu. "Saya hanya tukang kuli, Kang. Saya tidak memperhatikan siapa yang masuk dan keluar. Saya hanya menjalankan tugas saya membersihkan gudang."
Dia segera berlalu sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut. Ada sesuatu yang sedang terjadi di pesantren ini, sesuatu yang bergerak di bawah permukaan, di balik dinding-dinding kapur yang tampak tenang. Aku merasa seolah sedang berjalan di atas es tipis. Aku kembali ke ndalem, namun setiap langkah terasa lebih berat. Di dalam ruang tengah, Kiai Mahfud masih duduk dengan kacamata yang sama, menatap kertas-kertas di depannya dengan tatapan kosong. Beliau tidak menyadari bahwa di luar sana, di beranda, di balik pintu perpustakaan, dan di dalam ingatan orang-orang, sebuah kebohongan besar sedang dirajut menjadi kenyataan.
Aku mengambil nampan kopi yang sudah dingin. Aroma robusta yang tadi begitu menenangkan, kini terasa getir. Aku menyadari bahwa mungkin, aku tidak pernah benar-benar mengenal orang-orang yang ada di sekitar sini. Termasuk gadis yang katanya sudah mengangguk padaku, padahal aku sendiri melihatnya melarikan diri seperti sedang diburu oleh ketakutan yang paling dalam.



