Bab 3 Gratis Novel Religi & Keluarga

Surat Tanpa Nama

Ikan Asin dan Buku Catatan

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 3

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Surat Tanpa Nama

Bab 3

Gratis

Bau amis ikan asin yang menyengat dari pasar Karang Asta selalu terbawa angin hingga ke kamar asrama kami. Naila duduk di lantai, jari-jarinya yang kasar karena sering membantu ibunya memilah ikan, gemetar saat menghitung uang di dalam kaleng bekas biskuit. Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan bahunya dengan lesu.

"Kurang dua ratus ribu lagi, Emily," bisik Naila tanpa menatapku. Matanya sembab, menatap sisa lembaran lusuh di pangkuannya. "Ibu bilang jika bulan ini tidak setor penuh, rentenir itu akan datang lagi ke pasar. Aku tidak tahu harus cari ke mana lagi."

Aku meletakkan buku catatan yang baru saja kuselesaikan tulisannya. Di dalamnya ada draf riset tentang arsip koperasi yang kutemukan di perpustakaan. Namun, melihat punggung Naila yang tampak sangat kecil, semua rahasia pesantren itu mendadak terasa jauh. Aku beranjak, membuka kotak kayu di bawah tempat tidurku, dan mengambil bungkusan kecil berisi tabungan yang kukumpulkan dari uang saku selama setahun. Itu adalah uang yang rencananya akan kupakai untuk membeli buku referensi sastra di Surabaya.

"Ini, Naila. Pakai saja dulu," kataku sambil menyodorkan bungkusan itu. Aku tidak butuh penjelasan lebih lanjut untuk tahu betapa sesaknya menjadi dia.

Naila mendongak, matanya membelalak tidak percaya. Ia mengambil bungkusan itu dengan tangan gemetar, lalu memelukku erat. "Terima kasih, Emily. Kau penyelamatku. Aku tidak akan melupakan ini."

Aku hanya tersenyum tipis, berusaha menenangkan detak jantungku sendiri. Bagiku, itu hanya uang. Namun, bagi Naila, itu adalah napas panjang yang ia butuhkan untuk bisa tidur tenang malam ini. Kami berdua terdiam lama, membiarkan suara jangkrik di balik dinding bambu asrama mengisi ruang yang mulai terasa dingin.

Setelah Naila tertidur lelap dengan napas yang lebih teratur, aku kembali berkutat dengan buku catatanku. Aku tidak menyadari bahwa Naila hanya berpura-pura tidur. Ketika ia merasa aku sudah cukup terbuai oleh kantuk, ia bergerak pelan, menyelinap ke arah meja belajarku, dan mengambil buku catatan yang terbuka lebar itu. Ia mulai membacanya dengan saksama. Cahaya lampu minyak yang meredup membuat bayangannya menari-nari di dinding, tampak seperti raksasa yang sedang mengintai mangsanya.

Lama ia terdiam, hingga akhirnya ia menutup buku itu perlahan dan menatapku yang masih berpura-pura menulis. "Emily," suaranya pelan namun penuh penekanan, "tulisanmu ini terlalu bagus untuk kau simpan sendiri di laci kayu yang berdebu. Dunia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok-tembok pesantren ini."

Aku tertegun, menoleh ke arahnya. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya yang berkilat aneh.

Aku tertegun, menoleh ke arahnya. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya yang berkilat aneh. Cahaya lampu minyak yang meredup di sudut asrama membuat wajahnya tampak lebih tirus dari biasanya. Aku merasakan dingin merayap di tengkuk, sebuah perasaan janggal yang tidak bisa kujelaskan. Apakah aku baru saja memberikan kunci rahasia pesantren kepada orang yang salah? Aku ingin merebut kembali buku itu, namun tanganku terasa berat. Naila meletakkan buku itu kembali ke atas meja dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang sangat berharga dan berbahaya sekaligus.

"Kau tahu, Emily?" Naila melanjutkan ucapannya dengan nada yang kini terdengar lebih tenang, bahkan cenderung menghanyutkan. "Bakatmu dalam merangkai kata adalah karunia. Sayang sekali jika hanya berakhir menjadi catatan pinggir yang dimakan rayap. Aku mengenal orang di Surabaya, editor yang sering mencari penulis muda dengan sudut pandang unik tentang pesantren. Mereka tidak mencari cerita tentang santri yang rajin mengaji, mereka mencari cerita tentang apa yang tidak terkatakan di sini. Dan tulisanmu? Ini adalah emas."

Aku menggeleng pelan, hatiku mencelos. "Ini hanya catatan pribadi, Naila. Bukan untuk konsumsi publik. Aku menulisnya hanya untuk memastikan bahwa aku tidak melupakan apa yang kutemukan di perpustakaan. Ini bukan untuk dijual atau diterbitkan."

Naila tertawa kecil, suara yang terdengar asing di telingaku. Ia bangkit dari lantai, merapikan sarungnya, lalu berjalan mendekat ke arahku. Aroma ikan asin yang tadi melekat pada pakaiannya kini bercampur dengan aroma minyak tanah yang terbakar. Ia memegang pundakku, tatapannya begitu intens. "Kau terlalu naif, Emily. Kamu pikir dunia akan peduli jika kamu diam saja? Dengan menerbitkannya, kamu justru bisa melindungi dirimu sendiri. Jika namamu dikenal, Haji Hamid tidak akan berani memaksamu menikah dengan Fikri dengan semudah ini. Kamu akan menjadi milik publik, bukan milik yayasan."

Ada logika yang masuk akal di sana, namun hatiku menolak untuk setuju. Aku teringat pesan Ayah tentang menjaga adab dan kehormatan keluarga. Apakah aku akan mengkhianati Ayah demi kebebasanku sendiri? Naila melihat keraguanku, lalu ia menarik tangannya kembali. "Terserah padamu. Tapi pikirkanlah baik-baik. Uang yang kamu berikan tadi, mungkin itu hanya sedikit dari apa yang bisa kamu hasilkan jika tulisannmu diterbitkan. Ibu tidak perlu lagi berurusan dengan rentenir, dan kamu bisa keluar dari penjara ini."

Aku terdiam. Malam itu, aku tidak bisa tidur meski mataku terasa perih. Suara detak jam dinding kayu di koridor asrama terdengar seperti langkah kaki seseorang yang sedang berjalan mendekat. Naila tampak tenang dalam tidurnya, napasnya teratur dan dalam. Aku memandangi buku catatanku yang tergeletak di meja. Sampulnya yang kusam menyimpan rahasia tentang DH-17, tentang ketidakadilan masa lalu, dan tentang fitnah yang merusak hidup Pak Haris. Jika apa yang dikatakan Naila benar, mungkin aku memang perlu sebuah senjata.

Namun, aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan antusiasme Naila. Bukankah tadi ia hampir menangis karena utang ibunya? Sekarang, ia tampak begitu bersemangat tentang kemungkinan uang dari royalti buku. Apakah ia benar-benar memikirkan masa depanku, atau ia hanya sedang mencari cara untuk keluar dari jerat utangnya sendiri melalui namaku? Aku menatap langit-langit kamar yang penuh dengan bercak air bekas bocor saat musim hujan. Pikiran-pikiran liar mulai muncul. Mungkin saja, dunia memang sekejam yang dikatakan Naila, dan aku hanya terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Keesokan paginya, suasana pesantren terasa lebih menyesakkan. Kabar tentang rencana perjodohan antara aku dan Fikri sudah menyebar hingga ke dapur umum. Beberapa santriwati melihatku dengan tatapan kasihan, sementara yang lain menatapku dengan rasa iri yang kentara. Naila bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia membantuku menyiapkan kitab untuk pelajaran Ustazah Halimah, seolah-olah percakapan semalam tidak pernah terjadi. Namun, setiap kali ia menatapku, aku merasa ia sedang menghitung nilai jual dari setiap kata yang kutulis.

Aku pergi ke perpustakaan saat jam istirahat. Aku perlu memastikan bahwa dokumen yang kutemukan kemarin masih berada di tempatnya. Rak timur yang disebut sebagai DH-17 terlihat begitu kokoh dan tidak tersentuh. Aku menyentuh permukaan batu di fondasi tersebut. Ada getaran aneh yang menjalar ke jemariku. Apakah ini benar-benar rahasia yang harus dijaga, ataukah ini hanya artefak sejarah yang seharusnya dibongkar agar kebenaran bisa terungkap? Aku teringat tatapan Fikri kemarin saat ia melihatku di perpustakaan. Ada keraguan yang sama di matanya. Mungkin kami berdua sedang terjebak dalam jaring yang sama.

Aku kembali ke kamar menjelang waktu ashar. Naila sudah tidak ada di sana. Di meja belajarku, buku catatan itu sedikit bergeser dari posisi semula. Aku yakin ada orang yang membukanya lagi. Aku menghela napas panjang. Kepercayaan adalah barang mewah di tempat ini, dan aku merasa baru saja kehilangan separuh dari milikku. Aku duduk di kursi kayu, mencoba menulis kembali, namun pikiranku buntu. Naila masuk ke kamar beberapa saat kemudian dengan membawa nampan berisi teh hangat. Wajahnya berseri-seri.

"Aku sudah bicara dengan seseorang, Emily. Mereka tertarik. Mereka hanya butuh salinan dari catatanmu. Tidak perlu semuanya, hanya bagian tentang koperasi dan sejarah pesantren yang tidak pernah diceritakan di buku teks buku sejarah resmi," ujar Naila sambil meletakkan teh di hadapanku. Ia tidak menungguku bicara. Ia mengambil kertas dan pulpen, lalu mulai menyodorkannya kepadaku dengan tatapan yang mendesak.

Aku terdiam. "Siapa yang kau hubungi, Naila? Kita bahkan belum sepakat untuk melakukan ini."

Naila tersenyum tipis, kali ini senyum itu tampak lebih sadis. "Seseorang yang bisa memberikan kita jalan keluar, Emily. Seseorang yang tahu bagaimana cara menjatuhkan orang-orang yang selama ini menindas kita. Kamu ingin melawan, bukan? Inilah caranya. Tulisan ini terlalu bagus untuk disimpan sendiri, dan dunia berhak tahu siapa yang selama ini menyembunyikan kebenaran di balik tembok pesantren ini."

Aku menatap Naila, lalu menatap kertas putih yang kosong itu. Aku merasakan sebuah jebakan sedang dipasang, namun aku tidak tahu apakah aku yang akan terjerat di dalamnya atau orang-orang yang selama ini membelenggu hidupku. Aku belum tahu itu bukan pujian, melainkan rencana.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.