Bab 4 Gratis Novel Religi & Keluarga

Surat Tanpa Nama

Ustazah yang Membaca Hujan

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 4

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Surat Tanpa Nama

Bab 4

Gratis

Suara gerimis yang menghantam atap seng perpustakaan terdengar seperti ketukan ribuan jemari yang tidak sabar. Aku seharusnya memperhatikan papan tulis di depan kelas, namun mataku justru terpaku pada tetesan air yang merembes di sudut jendela kayu yang mulai lapuk. Bau tanah basah bercampur aroma buku tua menyelinap masuk, menciptakan ruang kedap yang terasa semakin menyesakkan.

"Emily, apakah menurutmu struktur kalimat ini sudah cukup untuk menjelaskan kerinduan seorang musafir?"

Ustazah Halimah berdiri tepat di depanku. Suaranya lembut namun tajam, seolah ia bisa membaca gejolak yang sedang kuupayakan untuk disembunyikan di balik buku tata bahasa. Aku tersentak, menutup buku catatan yang sedari tadi kubiarkan terbuka tanpa coretan apa pun.

"Maaf, Ustazah. Pikiran saya melayang," jawabku pelan sambil menunduk. Aku bisa merasakan tatapan teman-teman sekamar yang mulai berbisik, sementara Naila di pojok sana hanya diam dengan wajah yang datar.

Ustazah Halimah meletakkan kapur tulisnya di atas meja. Beliau tidak marah, hanya menatapku dengan sorot mata yang menyimpan ribuan cerita yang tidak pernah beliau ceritakan kepada siapa pun di pesantren ini. Beliau berjalan mendekat, lalu menyentuh pundakku dengan jemari yang terasa sangat kurus.

"Menulis adalah cara kita berdialog dengan sunyi, Emily. Jika hatimu sedang penuh, jangan dipaksa mengurai nahwu yang kaku. Ambil kertas ini, dan tulislah surat untuk orang yang belum datang. Tuliskan apa saja yang ingin kau katakan tanpa perlu mencantumkan nama penerima," ucap beliau sambil menyodorkan selembar kertas HVS putih bersih.

Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Aku menatap kertas kosong tersebut, mencoba membayangkan sosok yang belum pernah kutemui, seseorang yang mungkin berada jauh di seberang pulau, seseorang yang tidak akan menuntutku menjadi istri siapa pun.

Aku mulai menggoreskan pena. Aku menulis tentang perahu yang tidak boleh dipaksa pulang jika laut belum merestuinya. Aku menulis tentang jangkar yang sering kali disalahpahami sebagai beban, padahal ia sedang menjaga agar kapal tidak karam di tengah badai yang tidak terlihat oleh orang-orang di daratan. Aku membiarkan tanganku menari, menumpahkan segala sesak yang selama ini kupendam terkait perjodohan yang disusun Haji Hamid dan ketakutan akan masa depanku yang perlahan dijual oleh orang-orang terdekat.

Setelah selesai, aku menyerahkan kembali kertas itu kepada Ustazah. Beliau membacanya dalam diam. Ruangan kelas menjadi hening, hanya menyisakan suara hujan yang kini berubah menjadi rintik pelan. Ustazah Halimah mengambil pena, menulis sesuatu di bawah baris terakhir tulisanku, lalu melipat kertas itu dengan rapi. Beliau meletakkannya kembali di mejaku sebelum berbalik untuk melanjutkan pelajaran.

Aku menatap lipatan kertas itu dengan jemari yang terasa dingin. Ustazah Halimah sudah kembali ke depan papan tulis, menjelaskan aturan kalimat dalam bahasa Arab dengan nada tenang yang seolah tidak baru saja menjatuhkan bom waktu di mejaku. Aku tidak berani membukanya segera. Rasanya seolah kertas itu menyimpan berat sejarah yang tidak sanggup kupikul sendirian. Di sekelilingku, suasana kelas terasa asing. Naila masih duduk di barisan belakang, jemarinya sibuk memutar-mutar ujung kerudung. Tatapannya tertuju padaku, tajam dan penuh perhitungan, seolah ia bisa mencium aroma rahasia yang baru saja berpindah tangan dari Ustazah kepadaku.

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa berdentum di tenggorokan. Aku tidak mungkin membukanya sekarang. Jika aku melakukannya, bagaimana jika air mataku tumpah atau wajahku berubah pucat? Perhatian orang-orang di ruangan ini adalah hal terakhir yang kuinginkan saat ini. Aku memasukkan kertas itu ke dalam saku rok, tepat di samping buku catatan yang berisi draf tulisanku yang sempat dibaca Naila tanpa izin. Rasa sesak di dadaku justru bertambah. Ada sebuah beban tak kasat mata yang kini mengikatku dengan Ustazah Halimah. Selama ini, beliau adalah sosok yang menjaga jarak dengan penuh kesantunan, seorang guru yang mengajar kami dengan ketegasan seorang ibu, namun kini, ada sebuah jembatan yang seolah baru saja terbangun di antara kami.

Saat bel istirahat berbunyi, aku tidak menunggu siapa pun. Aku segera beranjak, mengabaikan panggilan Naila yang terdengar nyaring di belakangku. Aku berjalan cepat menuju perpustakaan. Tempat itu adalah satu-satunya ruang di pesantren ini yang memberikan perlindungan bagi pikiranku. Bau debu dan kertas tua selalu berhasil menenangkan saraf-sarafku yang tegang. Aku mencari sudut yang paling tersembunyi, di balik rak buku sejarah yang jarang disentuh santri lainnya. Aku duduk di lantai, bersandar pada rak kayu yang kokoh, lalu dengan tangan gemetar, aku membuka lipatan kertas itu.

Tulisan tangan Ustazah Halimah terlihat rapi dan tegas. Beliau tidak memberikan komentar panjang lebar mengenai tulisanku tentang perahu dan jangkar. Beliau hanya menuliskan satu kalimat yang membuat duniaku seolah berputar. Dulu ada yang menulis begini di pesantren ini, sebelum ia diusir. Aku terdiam. Kalimat itu bukan sekadar catatan guru kepada murid. Itu adalah sebuah peringatan sekaligus pengakuan. Siapa yang beliau maksud? Apakah orang itu adalah sosok yang selama ini menghantui kuitansi-kuitansi lama yang disimpan Nyai Maryam? Ataukah itu berkaitan dengan nama yang selalu dihindari Kiai Mahfud setiap kali koperasi dibahas dalam rapat yayasan?

Aku menoleh ke arah pintu perpustakaan. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu bukan langkah ringan seorang santri. Itu langkah berat yang familiar. Aku segera melipat kertas itu dan menyembunyikannya di dalam buku teks nahwu. Aku pura-pura membaca ketika sosok itu muncul dari balik rak. Itu Rustam. Wajahnya tampak lelah, dengan bercak semen di lengannya yang menandakan ia baru saja kembali dari proyek fondasi di sisi timur bangunan pesantren. Ia menatapku dengan mata yang redup namun penuh rasa ingin tahu.

"Kamu tidak seharusnya ada di sini, Emily. Haji Hamid sedang mencari-cari kamu di ruang tamu. Katanya ada tamu dari kota yang ingin bertemu calon menantunya," bisik Rustam. Suaranya terdengar serak, ada nada tidak suka yang ia coba tahan. Aku bisa melihat kebencian di matanya bukan tertuju padaku, melainkan pada situasi yang membelenggu kita semua.

Aku berdiri, mencoba bersikap normal meski tanganku masih gemetar. "Kenapa dia mencariku sekarang? Bukankah acara lamaran itu sudah selesai sejak minggu lalu?"

Rustam mendengus. Ia menatap lantai perpustakaan, tepat di arah titik di mana fondasi timur berada. "Mereka tidak pernah puas dengan satu jawaban. Mereka ingin memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil sudah sesuai dengan denah yang mereka buat. Kamu harus berhati-hati. Semakin dalam kamu masuk ke perpustakaan ini, semakin banyak orang yang merasa terancam dengan kehadiranmu. Termasuk orang yang paling dekat denganmu."

Aku menatap Rustam dengan bingung. "Apa maksudmu?"

"Naila sudah bicara dengan editor di kota. Dia tidak hanya menjual tulisanmu, dia menjual akses ke sini. Dia memberitahu mereka bahwa ada seseorang yang tahu tentang rahasia rak timur," jawab Rustam cepat sebelum ia berbalik dan pergi. Ia tidak menungguku untuk bertanya lebih lanjut. Ia menghilang di antara rak-rak buku, meninggalkan aku dalam keheningan yang semakin mencekam.

Kepalaku terasa pening. Informasi yang diberikan Rustam dan catatan dari Ustazah Halimah seolah-olah adalah potongan teka-teki yang mulai membentuk gambar yang mengerikan. Jika Ustazah Halimah tahu tentang penulis yang diusir, dan Naila sudah menjual informasi ini kepada pihak luar, apakah artinya aku hanyalah pion dalam permainan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun? Aku memegang saku rokku erat-erat. Kertas dari Ustazah itu kini terasa seperti bara api. Aku tidak lagi merasa menjadi seorang penulis yang sedang mencari jati diri. Aku merasa seperti seorang tawanan yang sedang memegang kunci selnya sendiri, namun tidak tahu di mana pintu keluar yang sebenarnya.

Aku berjalan keluar dari perpustakaan dengan pikiran berkecamuk. Di kejauhan, aku bisa melihat Haji Hamid berdiri di serambi masjid, berbicara dengan seorang pria asing berpakaian necis yang memegang map tebal. Mereka terlihat sangat akrab, tertawa kecil seolah sedang membicarakan masa depan yang cerah. Hatiku berdesir hebat.

Aku tahu mereka bukan sedang membicarakan masa depanku sebagai istri Fikri. Mereka sedang membicarakan masa depan tanah ini, masa depan pesantren yang dibangun oleh keringat orang-orang yang kini namanya disingkirkan dari buku sejarah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika dulu ada orang yang diusir karena menulis kebenaran, maka aku akan memastikan bahwa kali ini, tulisan itu tidak akan berakhir dengan pengusiran, melainkan dengan pembebasan.

Aku melangkah kembali ke asrama, menyadari bahwa setiap detak jam yang berlalu adalah waktu yang semakin mendekatkan diriku pada kebenaran yang tidak diinginkan oleh siapa pun di rumah ini.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.