Surat Tanpa Nama
Bab 5
Aroma solar yang terbawa angin dari dermaga selalu berhasil membuat kepalaku pening. Aku melangkah melewati serambi masjid, berusaha menjaga ritme napas agar tetap tenang sebelum bertemu Paman Hamid. Di tanganku, sebuah amplop cokelat tebal terasa lebih berat dari biasanya. Pagi tadi, seorang kurir dari kota menitipkannya kepada Paman, dan kini ia memanggilku ke ruang kerjanya yang selalu berbau kayu tua dan debu.
"Fikri, ini peluang besar untukmu," ujar Paman Hamid saat aku baru saja duduk di kursi kayu jati miliknya. Ia menyodorkan amplop itu dengan senyum yang tertahan di sudut bibir. "Yayasan Cahaya Satrio melihat potensi besar pada santri berprestasi seperti dirimu. Mereka ingin memberikan beasiswa pendidikan sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah setiap bulan. Jumlah yang lebih dari cukup untuk meringankan beban ibumu di toko, bukan?"
Aku menerima amplop itu. Jemariku gemetar saat menyentuh tekstur kertasnya yang halus, sangat kontras dengan tangan kasarku yang baru saja selesai membantu membersihkan gudang belakang. Di dalamnya, beberapa lembar dokumen formal tersusun rapi. Syaratnya sederhana namun menuntut ketelitian: aku harus mengirimkan laporan bulanan mengenai kegiatan belajar mengajar di pesantren, termasuk perkembangan santri dan kondisi lingkungan yayasan.
"Mengapa mereka memilih saya, Paman?" tanyaku pelan, menatap lurus ke mata pria paruh baya di depanku. Ada sesuatu yang mengganjal, sebuah keraguan yang tidak bisa kuberi nama, namun aku tidak mungkin menolaknya begitu saja.
"Karena mereka percaya pada dedikasimu. Mereka butuh seseorang di dalam yang bisa menjembatani arus informasi," jawab Paman Hamid dengan suara yang tenang, hampir seperti desah angin. Ia menunjuk ke arah tumpukan berkas lain di atas mejanya. "Cukup tanda tangani lembar persetujuan itu. Setelah itu, kamu bisa fokus belajar tanpa perlu memikirkan biaya syahriyah atau utang yang membebani tokomu."
Aku mengangguk pelan, mengeluarkan pulpen dari saku baju koko. Aku merasa seolah sedang menyetujui sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kontrak beasiswa. Paman Hamid kemudian memberikan lembar rekomendasi yang harus aku lampirkan. Aku membalik lembar tersebut untuk membaca syarat dan ketentuan lebih detail, namun perhatianku tertuju pada kolom rekomendasi di bagian bawah. Mataku menyipit saat membaca nama yang tertera di sana, diikuti dengan tanggal yang membuat tenggorokanku mendadak kering. Rekomendasi itu tertulis atas nama Haji Hamid, dan tanggalnya tepat satu bulan sebelum aku mengajukan diri untuk beasiswa ini. Aku terdiam, menatap tanda tangan Paman yang tampak begitu tegas dan terencana, seolah masa depanku sudah ditentukan bahkan sebelum aku sempat memintanya.
Aku menatap angka pada tanggal itu sekali lagi, memastikan penglihatanku tidak salah. Sebulan sebelum aku bahkan tahu tentang yayasan ini, Paman Hamid sudah menyiapkan jalan bagiku. Napas di dadaku terasa memburu, namun aku berusaha menjaga wajahku tetap datar. Paman Hamid masih bersandar di kursi kerjanya, menungguku membubuhkan tanda tangan. Suasana ruangan itu hening, hanya suara detak jam dinding kayu yang terdengar memekakkan telinga.
"Ada yang salah, Fikri?" tanya Paman Hamid. Suaranya tidak lagi selembut tadi. Ada nada tajam yang menyelinap, sebuah ketidaksabaran yang ia coba sembunyikan di balik senyum tipisnya.
Aku menggeleng pelan, menutup amplop itu dengan gerakan lambat. "Tidak, Paman. Saya hanya merasa ini terlalu tiba-tiba. Beasiswa sebesar ini, dengan syarat yang melibatkan pelaporan detail kegiatan pesantren, rasanya sangat besar bagi seorang santri tingkat akhir seperti saya."
"Dunia di luar sana sedang bergerak cepat, Fikri," balas Paman Hamid sambil berdiri, merapikan letak pecinya di depan cermin tua yang menggantung di sudut ruang. "Kita di pesantren ini tidak bisa terus-menerus menutup mata dari perubahan. Yayasan Cahaya Satrio ingin memastikan bahwa investasi mereka tepat sasaran. Bukankah kamu sendiri yang sering mengeluh tentang kondisi atap ruang kelas yang bocor setiap musim hujan? Uang ini bukan hanya untukmu, tapi juga untuk masa depan sekolah ini."
Aku terdiam. Kalimat Paman Hamid tentang atap bocor terasa seperti senjata yang diarahkan tepat ke hatiku. Ibu di rumah sedang kesulitan, toko bahan bangunan kami terancam penyitaan, dan aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak membebani beliau lagi. Namun, keterlibatan Paman yang begitu jauh dalam administrasi beasiswa ini membuat perutku mulas. Mengapa harus Paman yang merekomendasikan? Mengapa harus sekarang, saat Emily baru saja mulai sering membicarakan hal-hal yang tidak kumengerti tentang sejarah koperasi tua?
"Saya akan membawanya pulang terlebih dahulu, Paman. Saya ingin membacanya lebih teliti sebelum menandatangani komitmen ini," kataku mantap, berusaha mengakhiri pertemuan itu sebelum kecurigaanku semakin terlihat.
Paman Hamid menatapku tajam. Tatapan itu tidak lagi seperti seorang paman yang sedang membantu keponakannya, melainkan seorang pengusaha yang sedang mengamati pion catur. "Tentu saja. Tapi ingat, Fikri, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Banyak santri lain yang mengantre di luar sana, berharap bisa mendapatkan dukungan yang sama. Jangan sampai keraguanmu justru menutup pintu keberuntungan yang sudah terbuka lebar untuk keluarga kita."
Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berat. Udara sore di luar terasa lebih dingin dari biasanya. Aku berjalan menyusuri koridor perpustakaan, melewati deretan rak kayu yang menyimpan ribuan kitab dan catatan sejarah. Di sudut mata, aku melihat Ustaz Rasyid sedang menyapu lantai, gerakannya teratur namun tampak lelah. Beliau melirik ke arahku, lalu mengangguk singkat sebagai salam. Aku membalasnya dengan tundukan kepala, namun langkahku terhenti saat melihat Emily sedang berdiri di dekat rak timur. Ia sedang memegang sebuah buku tua, jemarinya menyusuri permukaan rak yang berbatu kasar.
"Fikri?" Emily menoleh, matanya tampak sembap. Ia menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya saat melihatku mendekat.
"Sedang apa di sini, Emily? Sudah mau Maghrib," tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan dari amplop di tanganku.
Emily tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya. "Hanya mencari jawaban atas pertanyaan yang belum selesai. Kamu sendiri? Mengapa terlihat begitu pucat setelah dari ruangan Paman Hamid?"
Aku menatapnya ragu. Ingin rasanya aku menceritakan tentang dokumen beasiswa itu, tentang tanggal yang ganjil, dan tentang rasa cemas yang kini menyelimutiku. Namun, aku ingat posisi Emily. Ia adalah putri Kiai, sementara aku hanyalah santri yang sedang dalam sorotan karena perjodohan yang diatur orang tua kami. Jika aku bicara, apakah itu akan membuat posisinya semakin sulit?
"Hanya masalah beasiswa," jawabku singkat. Aku memandangi rak timur tempat Emily berdiri. Dinding batu di sana tampak tidak rata, seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di balik fondasi. "Emily, apa menurutmu ada sesuatu di pesantren ini yang sengaja tidak ingin diketahui oleh siapa pun?"
Emily tertegun. Ia melepaskan pegangannya dari rak dan menatapku dengan sorot mata yang dalam. "Setiap rumah memiliki lemari tua yang terkunci rapat, Fikri. Masalahnya bukan pada kuncinya, tapi pada keberanian kita untuk membukanya dan menerima apa yang ada di dalamnya."
Aku tidak membalas lagi. Langkahku terasa kaku saat aku meninggalkan perpustakaan menuju masjid. Suara azan Maghrib mulai berkumandang dari kejauhan, memecah keheningan senja. Aku merasa terjebak dalam arus yang tidak bisa kuhentikan. Di satu sisi, ada tanggung jawab untuk membantu Ibu dan menjaga masa depan pesantren melalui beasiswa ini. Di sisi lain, ada kejanggalan yang terus berdenyut di kepalaku setiap kali aku mengingat tanggal yang tertera di dokumen Paman Hamid. Rekomendasi itu tertulis atas nama Haji Hamid, dengan tanggal sebulan sebelum aku mengajukan diri untuk beasiswa ini. Tanggal itu menjadi bukti nyata bahwa posisiku di sini telah diatur, direncanakan, dan mungkin, dikendalikan oleh seseorang yang bahkan tidak bisa kupahami tujuannya.



