Bab 6 Gratis Novel Religi & Keluarga

Surat Tanpa Nama

Buku Kas Tahun Dua Puluh Tujuh

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 6

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Surat Tanpa Nama

Bab 6

Gratis

Udara di perpustakaan lama terasa pengap dan berbau kertas tua yang dimakan rayap. Aku menahan napas, memperhatikan jemari Rustam yang gemetar saat mencoba memasukkan kawat kecil ke lubang kunci lemari nomor tujuh. Rustam menarik napas panjang, peluh menetes dari pelipisnya menuju kerah kemeja yang sudah lusuh. Di luar, suara santri yang sedang mengaji sore terdengar sayup-sayup, seolah jarak antara kami dan kehidupan pesantren yang normal hanyalah selembar dinding kayu.

"Jangan terlalu keras, Rustam. Kalau kuncinya patah di dalam, kita tidak akan punya kesempatan kedua," bisikku. Aku berdiri di dekat pintu, berjaga kalau-kalau ada langkah kaki Ustaz Rasyid yang mendekat.

Rustam tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan giginya, memutar kawat itu dengan ritme yang lambat dan penuh perhitungan. Bunyi klik halus terdengar dari balik pintu lemari besi itu. Rustam menoleh padaku dengan tatapan lega yang getir. Dia menarik tuas besi yang sudah berkarat, dan perlahan, pintu lemari yang selama bertahun-tahun terkunci rapat itu terbuka dengan derit panjang yang memilukan.

"Ini, Mbak Emily," ucap Rustam sambil menarik sebuah buku tebal bersampul kulit hitam. Debu beterbangan di sekitar kami, membuatku sedikit terbatuk. "Ayah bilang, dulu dia sering melihat Kiai menyimpan kuitansi dan catatan di sini sebelum semuanya raib."

Aku meraih buku itu dengan tangan gemetar. Beratnya terasa nyata di telapak tanganku, seolah beban sejarah yang selama ini disembunyikan benar-benar berwujud. Aku membuka halaman depannya. Kertasnya menguning, dengan tulisan angka-angka yang dicatat dengan sangat rapi. Ini adalah buku kas koperasi tahun dua puluh tujuh. Namun, saat aku membalik beberapa lembar ke bagian tengah, jantungku seakan berhenti berdetak. Tiga halaman di bagian tengah buku itu dirobek secara paksa. Tepi kertas yang tersisa terlihat compang-camping, meninggalkan jejak kekerasan yang disengaja.

"Lihat ini," kataku sambil menunjuk bagian bawah halaman yang tersisa. Di sana, tertulis rincian saldo dengan tinta yang masih cukup pekat. Rustam mendekat, matanya menyipit mencoba membaca tulisan tangan yang berada di kolom keterangan bendahara. Aku mengenali guratan pena itu. Huruf-hurufnya tegak, tegas, namun memiliki kelembutan yang sangat akrab di ingatanku. Itu adalah tulisan tangan Ibu.

"Mbak, itu kan tanda tangan Nyai?" tanya Rustam dengan suara rendah.

Aku tidak menjawab. Kepalaku terasa berdenyut. Selama ini, aku mengira Ibu hanyalah seorang perempuan yang pasrah pada setiap keputusan Kiai dan Paman Hamid. Namun, menemukan jejak tulisannya di sini, di tengah catatan yang sengaja dirusak ini, mengubah segalanya. Siapa sebenarnya Ibu di masa itu? Dan apa yang sebenarnya ia sembunyikan dari kami semua di balik ketaatan yang ia tunjukkan selama ini?

Aku mendekap buku kas itu ke dada, merasakan dinginnya sampul kulit yang sudah retak-retak. Debu dari lemari itu seolah ikut menyesaki paru-paruku. Di balik pintu yang setengah terbuka, bayangan rak-rak kayu perpustakaan tampak seperti deretan jeruji raksasa. Rustam masih berjongkok, tangannya yang kasar memegang lutut, menatapku dengan sorot mata yang menuntut penjelasan yang belum bisa kuberikan.

"Kita tidak boleh lama-lama di sini, Mbak," bisik Rustam. Suaranya serak, khas anak laki-laki yang baru saja melalui masa sulit. "Kalau Ustaz Rasyid masuk dan melihat lemari ini terbuka, bukan hanya aku yang akan diusir. Mbak Emily juga bisa dalam masalah besar."

Aku mengangguk pelan. Aku tahu risiko itu. Namun, membiarkan buku ini kembali ke kegelapan terasa seperti pengkhianatan terhadap kebenaran yang baru saja kusingkap. Aku membalik lembaran-lembaran yang tersisa dengan sangat hati-hati. Kertasnya rapuh, hampir hancur jika tersentuh terlalu keras. Di lembar terakhir sebelum bagian yang dirobek, ada sebuah catatan kecil di margin. Tulisannya sangat halus, hampir seperti bisikan di atas kertas.

Catatan itu berbunyi tentang ketidaksesuaian dana pembangunan fondasi timur dengan jumlah setoran anggota. Ada angka-angka yang dicoret, diganti, dan dihitung ulang. Nama bendahara pencatat tertulis di sudut bawah dengan huruf tegak yang sangat familiar. Aku mengenali setiap lekuk huruf itu. Itu adalah tulisan tangan Ibu. Tanganku mulai gemetar hebat hingga buku itu hampir terjatuh ke lantai kayu yang berdebu.

"Mbak, kenapa? Apa ada sesuatu yang buruk?" Rustam bangkit berdiri, berusaha mengintip isi buku yang kusembunyikan.

Aku menggeleng, berusaha menstabilkan napas. "Ibu mencatat ini, Rustam. Ibu terlibat dalam pencatatan koperasi ini. Tapi lihat, halaman setelahnya hilang. Seseorang sengaja merobeknya agar jejak transaksi itu tidak bisa dilacak kembali."

Kami berdua terdiam. Suasana perpustakaan terasa semakin mencekam. Bunyi detak jam dinding tua di kantor Ustaz Rasyid di ujung lorong terdengar seperti lonceng kematian bagi rahasia yang selama ini dijaga Kiai. Aku teringat bagaimana Ibu sering duduk di depan meja tulisnya larut malam, menulis sesuatu di buku harian yang selalu disimpannya di laci terkunci. Aku mengira itu hanya resep masakan atau catatan pengajian. Ternyata, itu adalah bagian dari ingatan yang berusaha ia kubur dalam-dalam.

Rustam mengambil inisiatif untuk menutup kembali lemari itu. Dia menggunakan kawatnya lagi dengan gerakan yang lebih terampil, memastikan pengait di dalam kunci itu kembali pada posisinya semula. Suara bunyi klik yang menyatu dengan derit pintu kayu terdengar samar. Begitu pintu tertutup rapat, dia segera membersihkan jejak debu di lantai dengan ujung kemejanya.

"Kita harus pergi sekarang," ucap Rustam pelan. Dia memberiku isyarat untuk keluar lewat jendela samping yang menghadap ke kebun belakang.

Aku menyimpan buku kas itu di balik jilbab lebar yang kupakai, membiarkannya tersembunyi di balik lipatan kain. Perasaan bersalah dan rasa ingin tahu bertarung di dalam diriku. Apakah aku harus bertanya langsung pada Ibu? Atau justru ini adalah cara agar aku bisa memahami mengapa selama ini Ibu selalu tampak menahan diri setiap kali Kiai berbicara tentang koperasi lama?

Kami merayap di sepanjang tembok luar perpustakaan, menghindari sorot lampu koridor yang mulai menyala satu per satu. Angin malam mulai berembus dingin, membawa aroma air laut dari arah pantai Karang Asta. Aku merasa seperti pencuri di rumahku sendiri. Namun, di dalam kegelapan itu, aku justru merasa lebih dekat dengan identitas pesantren yang sebenarnya dibandingkan saat aku duduk di depan mimbar pengajian.

Sesampainya di sudut asrama, Rustam berhenti. Dia menoleh ke arah jendela kamarku yang masih tertutup rapat. "Mbak, apa pun yang ada di dalam buku itu, jangan sampai orang lain tahu. Paman Haji Hamid tidak akan tinggal diam jika tahu kita telah membuka segel sejarah yang dia bangun dengan fitnah."

"Aku mengerti, Rustam. Terima kasih karena sudah membantuku," jawabku sambil memberikan sedikit uang saku yang kumiliki, meski ia sempat menolak.

Aku masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu. Naila sudah tidur di ranjangnya, napasnya teratur, seolah tidak ada beban dunia yang ia pikul. Aku duduk di lantai, di bawah lampu belajar yang remang-remang, lalu mengeluarkan buku kas tua itu dari balik pakaianku. Bau kertas tua menyengat, membawa aroma masa lalu yang getir.

Aku kembali menatap tulisan tangan itu. Ibu tidak hanya mencatat uang, dia mencatat sebuah kesaksian. Jika halaman itu dirobek, berarti ada nama seseorang yang ingin dihilangkan dari sejarah pesantren. Nama yang mungkin menjadi kunci mengapa Ayah dulu tega mengusir seseorang yang tak bersalah. Tanganku menyentuh huruf-huruf itu sekali lagi. Kini aku tahu, rahasia ini bukan lagi sekadar milik Kiai atau Haji Hamid, tapi juga rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat dalam diamnya Ibu.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.