Bab 7 Gratis Novel Religi & Keluarga

Surat Tanpa Nama

Penjaga Lampu

2 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 7

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Surat Tanpa Nama

Bab 7

Gratis

Udara sore di depan perpustakaan terasa lembap, membawa bau amis dari pasar Karang Asta yang terbawa angin laut. Aku merapatkan jemari di balik lengan gamis, memastikan secarik kertas putih itu tidak tertekuk. Di tanganku, tinta hitam yang baru kering membentuk kata-kata yang kupilih dengan sangat hati-hati. Aku bukan penyair, tapi aku adalah pengamat. Aku telah melihat bagaimana buku kas koperasi itu dirobek, dan aku telah mendengar bisik-bisik tentang tanah pesantren yang kini diincar oleh orang-orang berjas rapi dari kota.

Aku melangkah mendekati majalah dinding kayu yang sudah mulai lapuk. Dengan gerakan cepat, aku menempelkan kertas itu di antara jadwal piket santri dan pengumuman lomba pidato. Nama pengirim di bagian bawah sengaja kukosongi, hanya kutuliskan sebuah julukan: Penjaga Lampu.

"Sedang apa, Emily?" suara itu membuatku tersentak. Naila berdiri di belakangku, matanya menyipit, mencoba membaca tulisan yang baru saja kutempel.

"Hanya menempel pengumuman," jawabku singkat, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar gemetar.

Naila mendekat, kepalanya miring ke kanan. Ia membaca deretan kalimat itu dengan suara pelan. "Penjaga Lampu? Tulisan tentang apa ini? Soal koperasi? Emily, ini berbahaya. Kamu tahu apa yang terjadi kalau orang-orang yayasan membacanya?"

"Aku hanya menulis kebenaran yang tidak berani mereka bicarakan, Naila," bisikku sambil menarik lengannya untuk segera pergi dari sana. "Tolong, jangan katakan pada siapa pun kalau aku yang menulis ini."

Kami berjalan menjauh saat beberapa santri mulai mengerumuni majalah dinding. Terdengar gelak tawa dan bisik-bisik penasaran. Seseorang berseru, "Siapa yang menulis ini? Isinya tentang buku kas yang hilang!"

Aku tidak menoleh lagi, meski langkahku terasa berat. Di balik punggungku, keributan kecil mulai pecah. Seorang santri senior menunjuk-nunjuk kertas itu dengan wajah heran, sementara yang lain mulai berdebat tentang siapa yang berani menantang kebijakan pengurus. Aku merasa seolah sedang melemparkan batu ke kolam yang tenang, dan sekarang riaknya mulai meluas, menyentuh tiang-tiang kayu masjid dan dinding-dinding batu pesantren yang menyimpan terlalu banyak rahasia.

Beberapa menit kemudian, aku melihat Ustaz Rasyid berjalan cepat dari arah kantor yayasan. Langkahnya tegas, matanya tertuju pada kerumunan di depan majalah dinding. Wajahnya yang biasanya teduh tampak menegang saat ia mencapai papan pengumuman itu. Tanpa sepatah kata pun, ia menyuruh para santri untuk membubarkan diri. Tangannya terulur, merobek kertas itu dengan gerakan halus namun pasti. Para santri kecewa, mereka berharap ada penjelasan, tapi Ustaz Rasyid tetap diam.

Aku memperhatikan dari balik pilar masjid saat Ustaz Rasyid melakukan aksinya. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat bagaimana jemari Ustaz yang biasanya memegang pena untuk mengoreksi nahwuku, kini melakukan gerakan yang begitu hati-hati pada kertas itu. Beliau tidak meremasnya menjadi gumpalan sampah. Beliau melipatnya dengan presisi, seolah kertas itu adalah dokumen berharga yang harus diselamatkan dari tangan-tangan jahil yang mungkin akan menganggapnya sekadar coretan iseng. Aku menahan napas saat beliau memasukkan surat itu ke saku saku baju kokonya yang berwarna putih bersih. Tidak ada ekspresi marah di wajahnya, hanya gurat lelah yang kurasa selalu menetap di sana sejak tahun-tahun terakhir.

Sore itu, suasana pesantren berubah janggal. Pengumuman yang kutulis tentang kejanggalan dalam pengelolaan koperasi, meski samar dan tanpa menyebut nama siapa pun, telah menjadi api kecil yang membakar rasa penasaran para santri. Beberapa santri senior, termasuk Fikri, terlihat berdiri di dekat lokasi majalah dinding yang kini kosong. Fikri menatap papan kayu itu dengan dahi berkerut, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki yang baru saja dihapus dari pandangan. Aku memilih untuk berbalik dan melangkah menuju asrama putri. Aku tidak ingin terlibat dalam perdebatan atau pertanyaan yang mungkin muncul jika seseorang melihatku berdiri terlalu dekat dengan lokasi kejadian.

Setibanya di kamar, Naila sudah menunggu dengan wajah cemas. Ia menutup pintu rapat-rapat sebelum mendekatiku. "Kamu benar-benar nekat, Emily. Kalau Kiai tahu itu tulisanmu, apa yang akan terjadi? Ayahmu tidak akan tinggal diam jika martabat pesantren dipertaruhkan demi tulisan anonim seperti itu," bisiknya, tangannya menarik ujung kerudungku dengan gelisah.

Aku duduk di tepi dipan kayu yang dingin. "Aku tidak sedang mempertaruhkan martabat pesantren, Naila. Aku justru sedang mencoba menyelamatkannya dari orang-orang yang menganggap tanah ini sebagai aset yang bisa dijual kapan saja. Apakah kamu tidak melihat bagaimana Paman Hamid mulai mengatur segalanya? Dari beasiswa Fikri hingga kontrak-kontrak yang tidak masuk akal itu?"

Naila terdiam, ia duduk di sampingku. "Tapi, Penjaga Lampu? Nama itu? Kamu pikir orang akan mengerti maksudmu? Mereka hanya akan menganggap itu sebagai gangguan. Apalagi setelah Ustaz Rasyid tadi bertindak cepat. Beliau pasti sudah dipanggil oleh pengurus yayasan untuk memastikan tidak ada lagi kertas serupa yang menempel di sana besok pagi."

Aku tidak menjawab. Pikiranku justru tertuju pada gerakan tangan Ustaz Rasyid. Jika beliau benar-benar ingin memusnahkan surat itu, beliau bisa saja membakarnya di tempat atau merobeknya hingga menjadi debu di depan para santri. Namun, beliau menyimpannya. Apakah itu berarti Ustaz Rasyid sebenarnya juga menyimpan keresahan yang sama? Ataukah beliau hanya ingin menjadikan surat itu sebagai bukti untuk melacak siapa penulisnya agar bisa ditegur secara pribadi?

Malam itu, setelah salat Isya berjamaah, aku menyempatkan diri lewat di depan perpustakaan. Lampu ruangan itu masih menyala redup, menembus celah jendela kayu yang sudah termakan rayap. Aku melihat bayangan siluet seseorang di balik kaca. Itu Ustaz Rasyid. Beliau sedang duduk sendirian, dikelilingi tumpukan buku tua yang berdebu. Di tangannya, aku melihat secarik kertas yang tadi sore beliau ambil dari mading. Beliau membacanya lagi, perlahan, seolah sedang menimbang setiap kata yang kutulis dengan penuh kepedihan.

Aku bersembunyi di balik bayang-bayang pohon mangga besar di halaman tengah. Rasanya aneh. Selama ini, aku merasa sendirian dalam perjuangan mengungkap rahasia koperasi dan tanah pesantren ini. Rustam membantuku membuka lemari, tapi dia lebih banyak bertindak sebagai tangan daripada kepala. Namun, melihat Ustaz Rasyid memperlakukan surat itu dengan rasa hormat, sebuah harapan baru muncul di dadaku. Mungkin, aku tidak harus sendirian. Mungkin, selama ini ada orang-orang di dalam sistem ini yang juga menunggu kesempatan untuk bicara.

Aku ingat pesan almarhumah Ustazah Halimah sebelum beliau jatuh sakit parah. Beliau pernah berkata bahwa kebenaran sering kali terpaksa bersembunyi di balik diam, menunggu seseorang yang cukup berani untuk membacanya. Apakah Ustaz Rasyid adalah orang yang dimaksud? Apakah beliau selama ini diam karena terikat oleh aturan yayasan, namun hatinya masih tersimpan di masa lalu yang bersih dan jujur?

Saat aku beranjak pergi, aku mendengar suara langkah kaki dari arah kantor pengurus yayasan. Itu Paman Hamid, berjalan dengan langkah cepat bersama seorang pria yang tidak kukenal. Mereka tampak sedang berdiskusi dengan nada suara yang rendah namun penuh tekanan. Paman Hamid berhenti sejenak di depan pintu perpustakaan, mengetuknya dengan keras sebelum masuk tanpa menunggu jawaban. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi aku melihat Ustaz Rasyid berdiri dengan tegak, menyembunyikan sesuatu di balik buku besar yang sedang ia buka. Sesuatu yang kutahu pasti adalah kertas bertanda Penjaga Lampu itu.

Aku kembali ke kamar dengan perasaan yang berkecamuk. Tugas pertamaku sudah selesai. Surat itu memang dicabut, tapi ia tidak dimusnahkan. Ia berpindah tempat, dari dinding kayu yang umum menuju saku seseorang yang mungkin tahu lebih banyak daripada yang pernah ia ceritakan padaku. Ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan pembuka dari komunikasi yang jauh lebih sunyi namun lebih berbahaya di masa depan. Aku membaringkan tubuhku, menatap langit-langit kamar yang gelap, dan menyadari bahwa setiap huruf yang kutulis kini memiliki bobot yang berbeda. Aku telah menaruh kepercayaan pada seseorang yang bahkan belum kutahu pasti di pihak mana ia berdiri.

Besok, aku harus mencari cara lain. Jika mading tidak lagi aman, aku harus menemukan tempat lain untuk meletakkan surat-surat berikutnya. Mungkin rak buku di bagian timur perpustakaan, tempat yang paling jarang dikunjungi namun paling dekat dengan rongga batu yang ditemukan Rustam. Jika Ustaz Rasyid memang orang yang tepat, beliau akan menemukan surat berikutnya di sana. Dan jika beliau bukan, maka setidaknya aku telah menaruh kebenaran itu di tempat yang seharusnya.

Aku menutup mata, namun bayangan Ustaz Rasyid yang menyimpan surat itu terus berputar di kepala. Beliau bukan sekadar guru nahwu yang kaku, melainkan seorang saksi yang mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan beban di pundaknya. Saat suara azan Subuh mulai menyelinap melalui celah jendela, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan berhenti menulis. Penjaga Lampu akan terus menyalakan sinarnya, meski di tengah badai yang paling gelap sekalipun. Aku yakin, setidaknya satu orang telah mulai membaca apa yang selama ini terkubur dalam diam.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.