Bab 8 Gratis Novel Religi & Keluarga

Surat Tanpa Nama

Laporan Bulan Pertama

1 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 8

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Surat Tanpa Nama

Bab 8

Gratis

Lampu meja berbahan plastik di perpustakaan berkedip-kedip, menyorot tumpukan kertas yang berantakan di hadapanku. Bau debu tua bercampur samar aroma kapur tulis dari ruang kelas di sebelah menempel di udara. Aku menarik napas dalam, membetulkan posisi kacamata yang sedikit melorot, lalu kembali menatap layar laptop yang cahayanya terasa terlalu terang bagi mataku yang lelah. Tanganku gemetar sedikit saat mengetik angka-angka jumlah santri baru di kolom laporan bulan pertama. Ini adalah tugas pertamaku sebagai santri senior yang dipercaya yayasan untuk mendata perkembangan pesantren.

"Fikri, sudah selesai laporannya?" suara berat Haji Hamid tiba-tiba memecah keheningan, membuatku tersentak hingga jemariku berhenti di atas papan tik.

Aku mendongak, mendapati paman dari Emily itu sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Dia memegang sebuah map biru tebal. Aku mengangguk pelan, berusaha menjaga suaraku tetap tenang. "Sedikit lagi, Haji. Saya sedang merapikan jadwal kegiatan mingguan dan denah asrama yang diminta yayasan."

Haji Hamid melangkah mendekat, jarinya mengetuk meja kayu di samping laptopku. "Bagus. Tambahkan bagian ini. Yayasan butuh data yang lengkap untuk rencana pengembangan fasilitas tahun depan," ujarnya seraya meletakkan map tersebut. Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen berisi rincian luas tanah pesantren dan status sertifikat yang tampak sudah ditandatangani.

Aku membaca sekilas angka-angka itu. Ada yang ganjal. Luas tanah yang tertulis di sini tidak sesuai dengan apa yang dulu pernah dikatakan Kiai Mahfud saat mengajar di kelas. "Haji, data sertifikat ini... bukankah ini tanah wakaf yang penggunaannya terbatas?"

Haji Hamid menatapku tajam. Tatapan itu menuntut kepatuhan, mengingatkanku pada cicilan toko bangunan Ibu yang kini menggantung di pundakku. "Fikri, beasiswa yang kamu terima setiap bulan itu tidak jatuh dari langit. Yayasan butuh kelengkapan administrasi agar bantuan bisa terus mengalir ke pesantren ini, termasuk ke toko ibumu yang sedang kesulitan. Kamu ingin Ibu terus berjualan dengan tenang, bukan?"

Aku terdiam. Bayangan wajah Ibu yang letih di balik meja kasir tokonya melintas di pikiranku. Uang beasiswa bulan ini memang sudah habis kubayarkan untuk menutupi tenggat waktu cicilan bank yang jatuh tempo kemarin. Tanpa bantuan yayasan, toko itu bisa disita. Aku menggigit bibir bawah, merasakan sesak di dada yang tak bisa dijelaskan. Dengan tangan yang kaku, aku menarik map biru itu mendekat ke laptopku.

"Baik, Haji. Saya akan menyisipkannya," jawabku lirih, memaksakan diri untuk kembali menatap layar yang kini terasa seperti jebakan yang aku susun sendiri.

Aku mengetikkan angka-angka luas tanah tersebut dengan perasaan yang tidak menentu. Setiap kali tuts keyboard ditekan, rasanya seperti ada sesuatu di dalam diriku yang ikut retak. Haji Hamid tidak beranjak dari sisiku. Ia berdiri di sana, mengawasi gerak jemariku seolah aku adalah seorang juru tulis yang sedang mengerjakan surat wasiat. Bau parfum murahnya yang menyengat bercampur dengan aroma buku-buku tua di perpustakaan, membuat kepalaku sedikit pening. Aku tahu seharusnya aku bertanya lebih jauh kepada Kiai Mahfud, tetapi keberanian itu selalu menguap begitu aku teringat surat peringatan penyitaan yang dikirim bank ke toko Ibu bulan lalu.

"Pastikan formatnya sesuai dengan draf yang diberikan sekretaris yayasan," ucap Haji Hamid sambil menepuk pundakku dua kali. Tepukan itu terasa berat, sebuah beban yang menegaskan posisi kami. Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar dari perpustakaan, langkah kakinya yang mantap bergema di lantai ubin yang dingin. Begitu pintu kayu besar itu tertutup, aku membiarkan bahuku merosot. Aku menatap layar, membaca ulang berkas yang kini mencantumkan sertifikat tanah pesantren sebagai bagian dari aset pengembangan yayasan. Semuanya terlihat rapi, terstruktur, dan tampak sah secara hukum. Namun, di balik kerapian itu, aku merasakan adanya kejanggalan yang sangat nyata.

Aku meraih ponselku yang tergeletak di samping buku catatan. Ada pesan singkat dari Ibu yang masuk sepuluh menit yang lalu. Isinya pendek saja, menanyakan apakah bulan ini aku sudah menerima uang beasiswa tambahan untuk biaya tambahan material bangunan. Tanganku gemetar saat membalas pesan itu dengan kata-kata yang menenangkan, padahal hatiku sendiri sedang berontak. Aku adalah santri yang dididik untuk jujur, namun di sini, di bawah sorotan lampu meja yang redup, aku sedang memanipulasi kebenaran demi mempertahankan atap rumah Ibu.

Setelah memastikan semua data masuk ke dalam folder yang diminta, aku menekan tombol kirim. Email itu melesat ke alamat server yayasan dalam hitungan detik. Selesai. Laporan bulan pertama ini sekarang menjadi milik mereka sepenuhnya. Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, mencoba mengatur napas. Suasana perpustakaan terasa begitu sunyi, hanya ada suara dengung kipas angin tua di langit-langit yang berputar lesu. Aku mencoba membayangkan masa depan yang dijanjikan Haji Hamid, namun yang terbayang justru wajah Emily. Apa yang akan dia katakan jika dia tahu apa yang baru saja kulakukan? Aku selalu menjaga jarak dengannya bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena aku merasa tidak layak berdiri di dekatnya dengan semua rahasia yang mulai menumpuk di pundakku.

Aku mengumpulkan semua buku yang berserakan di atas meja. Sebelum beranjak pergi, mataku tertuju pada rak kayu di sudut ruangan. Di sanalah aku sering melihat Emily menghabiskan waktu berjam-jam sendirian. Ada sesuatu di rak itu, sesuatu yang membuat Emily terlihat berbeda setiap kali ia keluar dari ruang perpustakaan. Apakah dia juga sedang menyembunyikan sesuatu? Atau mungkin, justru dia yang sedang mencoba mengungkap apa yang selama ini coba kututupi dengan laporan ini? Pertanyaan itu membuatku merasa tidak nyaman. Aku segera memadamkan lampu meja dan bergegas menuju asrama.

Di jalan setapak menuju asrama santri, udara malam terasa begitu dingin. Angin laut membawa aroma garam yang tajam, mengingatkanku bahwa pesantren ini berdiri di atas tanah yang sedang diperebutkan oleh banyak kepentingan. Aku berpapasan dengan Ustaz Rasyid di dekat gerbang. Ia tampak membawa tumpukan buku yang dibungkus kain sarung, matanya yang teduh menatapku sejenak sebelum ia memberikan anggukan sopan. Aku membalas salamnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Aku merasa seperti pencuri yang baru saja keluar dari rumahnya sendiri.

Sesampainya di kamar, aku tidak langsung tidur. Aku duduk di tepi ranjang, menatap dinding kapur yang mulai mengelupas di beberapa bagian. Aku teringat pembicaraan dengan Haji Hamid tadi. Dia selalu menyebut tentang masa depan pesantren, tentang modernisasi, dan tentang kemajuan. Namun, mengapa kemajuan itu harus dibayar dengan tanda tangan palsu dan data yang dimanipulasi? Aku teringat wajah Ibu yang tersenyum saat melihatku berangkat ke pesantren ini lima tahun lalu. Dia bangga karena anaknya akan menjadi orang yang berilmu dan berakhlak. Jika dia tahu apa yang dilakukan anaknya hari ini, apakah dia masih akan tersenyum seperti itu?

Aku bangkit dan mengambil wudu. Air dingin yang menyentuh kulit wajahku terasa seperti pengingat akan kesucian yang harus selalu kujaga. Aku bersimpuh di atas sajadah yang sudah usang, mencoba mencari ketenangan dalam sujud. Namun, bayangan dokumen-dokumen itu tetap membayang. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa lagi mundur. Laporan itu sudah ada di tangan pengurus yayasan, dan konsekuensinya akan segera terlihat di minggu-minggu mendatang. Aku hanyalah seorang santri yang terjepit di antara idealisme pesantren dan kenyataan pahit ekonomi keluarga. Mungkin ini adalah harga yang harus kubayar untuk mempertahankan posisi yang kuinginkan.

Saat aku mencoba memejamkan mata, suara langkah kaki terdengar di koridor asrama. Santri-santri lain sudah terlelap, tetapi pikiran mereka mungkin lebih ringan daripada pikiranku. Aku kembali menatap langit-langit kamar. Aku telah melakukan apa yang diminta Haji Hamid, bukan karena aku setuju dengan rencananya, melainkan karena aku tidak punya pilihan lain. Cicilan toko Ibu sudah terbayar, dan itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku tidur malam ini meski dengan perasaan bersalah yang terus menghantuiku. Aku hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar, dan aku baru saja melangkah ke dalam kotak yang telah disiapkan untukku. Fikri tetap mengirimnya, karena uang beasiswa bulan itu sudah dipakai membayar cicilan toko ibunya.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.