Surat Tanpa Nama
Bab 9
Bau solar yang tajam menembus udara ruang makan, menyelimuti aroma sisa sambal goreng teri yang tadi disajikan Ibu. Aku meletakkan sendok, menatap pintu dapur yang baru saja terbuka. Faiz berdiri di sana, mengenakan jaket kumal dengan noda minyak yang seolah menjadi seragam baru bagi kakakku itu. Rambutnya berantakan, terpapar angin laut selama tiga bulan di atas kapal barang, namun tatapannya tetap tajam saat menyapu ruangan.
"Baru pulang, Faiz?" suara Ayah terdengar berat. Beliau tidak menoleh, tetap fokus pada piringnya, namun aku bisa melihat urat di pelipisnya menegang.
Faiz tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, menarik kursi kayu di sebelahku, lalu mengembuskan napas panjang. "Kapal baru bersandar di dermaga tadi siang, Pak. Arus sedang tidak bersahabat."
"Tapi pengajian rutin selama tiga bulan ini kamu tinggalkan," sahut Ayah dingin. "Sebagai putra sulung, tanggung jawabmu bukan di atas geladak kapal, melainkan di mimbar ini. Kamu sudah mempermalukan keluarga dengan absen berkali-kali."
Faiz menyeka keringat di dahinya dengan lengan jaket. Bau solar itu semakin menyengat, membuat Naila yang duduk di depanku sedikit menggeser duduknya. Faiz menatap Ayah, tidak ada keraguan di matanya meski ia tahu betul bahwa melawan pendapat Ayah adalah hal yang tabu.
"Saya pulang untuk memastikan keadaan adik saya, Pak," ucap Faiz datar. "Bukan untuk memimpin pengajian yang isinya hanya berisi perintah memaksakan kehendak kepada Emily."
Suasana meja makan mendadak hening. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen seolah menjadi suara paling keras di ruangan itu. Ibu menunduk, memilin ujung kerudungnya dengan jemari yang gemetar. Aku merasa udara di ruangan ini menipis. Faiz berani menyuarakan apa yang selama ini hanya berputar di kepalaku.
"Kamu tidak punya hak bicara soal itu," balas Ayah, suaranya naik satu oktaf. Beliau meletakkan sendok dengan keras. "Pinangan itu adalah jalan terbaik agar pesantren ini tetap berdiri. Kalau kamu tidak mau jadi pewaris, jangan mengatur adikmu."
Faiz terkekeh kecil, sebuah tawa kering yang tanpa kegembiraan. Ia menatap Ayah dengan sorot mata yang penuh kelelahan, namun tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mundur. Ia menegakkan tubuhnya, menatap langsung ke arah Ayah tanpa berkedip.
"Saya memang tidak mau, Pak," jawab Faiz tenang. "Sejak awal, saya tidak pernah menginginkan kursi itu jika harus ditebus dengan mengorbankan masa depan adik saya. Saya tidak akan membiarkan Emily menjadi pion dalam permainan yang bahkan saya sendiri tidak tahu siapa pemenangnya."
Ayah berdiri dari kursinya. Kursi kayu itu berderit kasar di atas lantai semen, menciptakan suara yang menyayat keheningan malam di ruang makan. Wajahnya memerah, bukan karena marah yang meledak-ledak, melainkan karena rasa malu yang tertahan di balik kedisiplinan yang selama ini ia agungkan. Ibu segera meraih tangan Ayah, berusaha menenangkan, namun Ayah menepisnya dengan lembut. Beliau menatap Faiz dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam, seolah ia sedang melihat orang asing yang baru saja masuk ke rumahnya dan merusak tatanan yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
"Kamu pikir kapal barang itu membuatmu lebih tahu tentang dunia daripada aku?" tanya Ayah dengan nada rendah yang justru terdengar lebih menakutkan. "Kamu pergi membawa bau kotor itu ke rumah yang dibangun dengan kesucian ilmu. Kamu tidak tahu apa yang sedang dihadapi pesantren ini. Kamu tidak tahu berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga agar atap perpustakaan tidak roboh atau agar dapur tetap mengepul setiap hari."
Aku hanya bisa menatap piringku yang isinya sudah dingin. Naila di sampingku juga tidak berani beranjak. Aku tahu Faiz benar, namun cara dia menyampaikannya di depan Ayah seperti menyiramkan bensin ke api yang sudah berkobar. Faiz tidak beranjak. Ia tetap duduk tegak, tangannya yang kasar dengan kuku-kuku yang menghitam karena noda oli tampak kontras di atas taplak meja yang bersih.
"Saya tahu tentang utang yayasan, Pak," ujar Faiz. Suaranya tenang, namun ada getaran ketegasan di sana. "Saya tahu Haji Hamid membawa orang-orang dari kota dengan janji-janji manis. Tapi apakah kita harus menjual adik saya sendiri untuk menutupi kesalahan pengelolaan itu? Apakah nilai sebuah pesantren hanya diukur dari tanahnya saja?"
Ayah tidak menjawab. Beliau memalingkan wajah ke arah jendela yang terbuka, menatap kegelapan malam di luar. Suara debur ombak dari arah pantai Karang Asta terdengar samar, membawa bau garam yang bercampur dengan aroma minyak dari tubuh Faiz. Aku merasa sesak. Aku adalah alasan di balik pertengkaran ini, dan kenyataan itu membuat dadaku terasa sempit.
"Emily tidak perlu kamu bela," lanjut Ayah tanpa menoleh. "Dia cukup dewasa untuk mengerti bahwa hidup di pesantren berarti siap untuk menyerahkan apa yang diminta oleh kepentingan orang banyak. Dia adalah anak Kiai, bukan anak yang bebas menentukan jalan hidupnya sendiri di luar sana."
Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepala. "Pak, saya juga punya pilihan. Saya tidak mau dipinangkan dengan Fikri hanya untuk urusan administrasi yang saya sendiri tidak mengerti," kataku pelan namun cukup jelas. Suaraku tidak bergetar, meski hatiku mencelos saat melihat tatapan Ayah yang kini beralih kepadaku.
Ayah menatapku tajam. "Ini bukan soal mau atau tidak, Emily. Ini soal kelangsungan segalanya. Kamu pikir siapa yang membiayai pendidikanmu selama ini? Siapa yang membuatmu bisa duduk di perpustakaan dan menulis surat-surat itu?"
Aku tertegun. Apakah Ayah tahu tentang surat-surat itu? Ataukah beliau hanya mengacu pada biaya sekolahku secara umum? Sebelum aku sempat bertanya, Faiz kembali bersuara, memotong ketegangan yang mulai menyesakkan.
"Kalau Bapak membutuhkan uang, saya bisa bekerja lebih keras lagi di pelabuhan. Saya bisa mengirimkan bagian saya lebih banyak. Tapi tolong, jangan libatkan Emily dalam transaksi ini. Dia punya bakat yang tidak seharusnya mati di balik dapur dan urusan rumah tangga orang lain."
Ayah tertawa sinis. "Pekerjaanmu di kapal itu tidak akan cukup untuk menutupi lubang yang sudah digali oleh Yayasan Cahaya Satrio. Kamu hanya seorang anak muda yang sombong karena merasa sudah melihat dunia luar. Kamu tidak tahu apa itu tanggung jawab yang sebenarnya."
Ibu akhirnya angkat bicara, suaranya parau. "Sudahlah, Pak. Faiz baru saja sampai. Biarkan dia istirahat. Kita bisa bicara lagi besok setelah kepala dingin."
Namun Ayah tetap teguh pada pendiriannya. Beliau melangkah mendekati Faiz, berdiri menjulang di hadapan anak sulungnya itu. Jarak mereka begitu dekat hingga aku bisa melihat betapa miripnya guratan di wajah mereka berdua, meski satu tampak lelah oleh laut dan yang lain lelah oleh beban di pundak.
"Kamu pulang dengan bau solar dan membawa perlawanan yang sia-sia," ucap Ayah dengan nada dingin. "Jika kamu merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan nasibmu sendiri, maka pergilah. Tapi jangan pernah sebut diri kamu sebagai bagian dari keluarga ini jika kamu tidak mau menjalankan amanah yang ada di pundakmu."
Faiz tidak gentar. Ia berdiri dari kursinya, menyamai tinggi Ayah. Bau solar dari jaketnya memenuhi ruangan, seolah menjadi simbol kebebasan yang tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang terbiasa dengan kenyamanan di dalam rumah yang mulai rapuh ini. Aku tahu, jika Faiz pergi, aku akan kehilangan sekutu terkuatku di rumah ini. Aku akan sendirian menghadapi Haji Hamid dan segala tipu muslihatnya.
"Saya tidak pernah menginginkan posisi itu, Pak," ujar Faiz, suaranya kini terdengar sangat lelah, bukan karena lelah fisik, melainkan karena lelah menghadapi kebuntuan. "Tapi saya juga tidak akan membiarkan adik saya menjadi korban dari ketidakmampuan Bapak dalam mengelola pesantren ini. Jika Bapak ingin saya tetap di sini dengan syarat saya harus menjual masa depan Emily, maka jawabannya adalah tidak."
Ayah terdiam sejenak. Matanya menyipit, menatap Faiz seolah ingin mencari celah di mana beliau bisa menekan anak itu. Namun Faiz tidak menunjukkan tanda-tanda untuk tunduk. Keheningan yang tercipta di ruang makan itu begitu berat, seakan-akan setiap detik yang berlalu sedang menguji keteguhan hati kami masing-masing.
"Kamu pikir kamu bisa menyelamatkannya?" tanya Ayah dengan nada penuh cemooh. "Kamu bahkan tidak punya tempat tinggal tetap. Kamu hanya pengembara di atas air."
"Setidaknya saya memiliki kejujuran, Pak," jawab Faiz. "Sesuatu yang mulai hilang dari rumah ini."
Ayah menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang sangat berat seolah beliau sedang menelan harga dirinya sendiri. Beliau melangkah mundur, lalu menunjuk ke arah pintu dapur dengan tangannya yang gemetar. Beliau tidak lagi berteriak, suaranya justru terdengar sangat datar, namun tajam seperti sembilu yang siap mengiris apa saja yang menghalangi jalannya.
"Kalau kamu tidak mau jadi pewaris, jangan mengatur adikmu," kata Ayah dengan nada final yang mutlak, dan Faiz menjawab bahwa ia memang tidak mau.



