Surat Tanpa Nama
Bab 10
Aku mendapati Rustam sedang berdiri di sudut perpustakaan yang remang, tangannya yang kasar karena kapur dan pasir tampak kontras saat ia merapikan tumpukan kitab kuning di rak paling ujung. Ia tidak menoleh saat aku mendekat. Bau debu dan sisa aroma laut yang selalu melekat pada pakaiannya memenuhi udara di sekitar rak kayu tua ini. Hari ini langkahnya tampak lebih berat, seolah ia sedang memikul beban yang lebih besar daripada sekadar tumpukan buku.
"Sudah selesai, Rustam?" tanyaku pelan, berusaha menjaga suaraku agar tidak memecah keheningan perpustakaan yang mulai ditinggalkan santri lain menjelang waktu Asar.
Rustam berhenti sejenak. Ia menunduk, menatap lantai papan yang mulai lapuk dimakan usia. "Ini yang terakhir, Mbak Emily. Saya sudah izin pada Ustaz Rasyid untuk tidak kembali lagi besok."
Aku terpaku. "Kenapa tiba-tiba? Bukankah kamu masih harus menyelesaikan hafalan semester ini?"
Rustam memutar tubuhnya, menatapku dengan sorot mata yang sulit kujabarkan. Ada sisa kesedihan di sana, namun juga ketegasan yang kupahami sebagai bentuk kepasrahan seorang anak yang harus menggantikan posisi ayahnya. "Syahriyah saya sudah menunggak tiga bulan, Mbak. Sembilan ratus ribu itu terlalu besar untuk Ibu. Saya tidak mungkin membiarkan adik-adik saya berhenti sekolah hanya karena saya masih ingin duduk di sini."
Aku terdiam. Kalimatnya menghantamku. Di rumah utama, Ayah dan Haji Hamid sedang sibuk merancang masa depanku seolah aku hanyalah pion dalam papan catur mereka, sementara di sini, di sudut gelap perpustakaan, seorang kawan justru harus melepaskan masa depannya demi sesuap nasi. Aku merasa sangat kecil di hadapan realita yang ia bawa.
"Saya akan jadi kuli di pelabuhan," lanjutnya dengan suara yang lebih stabil. "Di sana uangnya lebih pasti, meski harus bergelut dengan panas dan air asin setiap hari."
Rustam melangkah mendekati rak timur yang selama ini jarang tersentuh. Ia menunjuk fondasi yang tampak agak menonjol dibanding bagian lainnya. "Dulu, Bapak yang membangun fondasi ini bersama beberapa tukang batu lainnya. Ia sering bercerita tentang bagian ini setiap kali pulang melaut."
Ia berjongkok, meraba celah di antara batu bata yang tampak disusun dengan pola tidak biasa. Aku memerhatikan setiap gerakannya dengan seksama. Ada semacam rasa hormat yang ia tunjukkan pada dinding tua itu, seolah ia sedang menyentuh warisan yang tak boleh dilupakan.
"Ada batu bertanda di bawah rak timur," katanya, sambil menoleh ke arahku dengan tatapan serius. "Bapak bilang itu dititipkan, bukan dikubur."
Aku tertegun mendengar kalimatnya. Kata-kata itu menggantung di udara, seberat debu yang menari-nari dalam berkas cahaya matahari sore yang menembus celah jendela. Rustam tidak berbohong, aku tahu itu dari cara suaranya bergetar tipis saat menyebut nama ayahnya. Tangannya yang kasar dengan kuku-kuku yang menghitam oleh debu kapur masih menempel pada celah dinding.
"Apa maksudmu dititipkan?" tanyaku, memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat. Bau tanah basah dan sisa cat tembok lama menguar dari balik rak itu.
Rustam menarik tangannya, lalu berdiri tegak. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan. "Bapak tidak pernah bilang apa isinya, Mbak. Beliau hanya berpesan agar bagian ini jangan pernah dibongkar sembarangan. Katanya, fondasi ini dibangun untuk menahan sesuatu yang lebih berharga daripada gedung itu sendiri."
Aku menatap rak kayu yang tampak kokoh namun menyimpan rahasia di bawahnya. Selama ini, perpustakaan adalah tempat pelarianku dari tuntutan pinangan dan urusan yayasan yang mencekik. Aku tidak pernah menyangka bahwa tepat di bawah kakiku, ada sesuatu yang disembunyikan dengan sengaja oleh orang-orang seperti Pak Sanusi.
"Apakah orang lain tahu tentang ini?" tanyaku lagi, suaraku nyaris berbisik. Aku teringat pada Haji Hamid yang begitu terobsesi dengan denah tanah pesantren. Jika beliau tahu ada sesuatu yang tersembunyi di sini, mungkin perpustakaan ini sudah lama dihancurkan.
Rustam menggeleng pelan. "Hanya Bapak dan beberapa orang kepercayaannya saat itu. Setelah Bapak hilang di laut, saya adalah satu-satunya yang memegang cerita ini. Saya tidak ingin rahasia ini jatuh ke tangan orang yang hanya akan menjadikannya alat tukar dengan uang."
Aku menatapnya lekat-lekat. Rustam, yang selama ini kukenal sebagai santri pendiam yang jarang bicara di kelas, ternyata memikul beban sejarah yang begitu besar. Ia memilih keluar karena keterbatasan biaya, sebuah tragedi yang nyata dan menyakitkan, namun di saat yang sama ia menjaga amanah yang mungkin bisa mengubah segalanya.
"Jika kamu pergi sekarang, bagaimana jika mereka mulai merenovasi bagian timur ini tanpa seizin kita?" tanyaku, kecemasan mulai merambat naik.
Rustam tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang tidak menyentuh matanya. "Itu sebabnya saya memberi tahu Mbak Emily hari ini. Mbak adalah satu-satunya yang sering berada di sini, yang selalu menulis dengan lampu badai saat santri lain sudah terlelap. Mungkin, Mbak lah orang yang ditunggu untuk membuka tanda itu."
Ia berbalik, mengambil tas kain lusuh yang berisi beberapa pakaian dan satu buku catatan yang sudah koyak. Tidak ada lagi yang perlu ia selesaikan di sini. Masa depannya sebagai santri sudah diputus oleh angka-angka di buku kas yang tidak mampu dilunasi keluarganya.
Aku mencoba meraih lengannya, namun ia menghindar dengan sopan. Ada jarak yang tak terlihat di antara kami, jarak antara mereka yang masih bisa bertahan di dalam gerbang pesantren dan mereka yang harus berjuang di dermaga yang keras. "Tunggu, Rustam. Apakah benar-benar tidak ada cara lain?"
"Uang sembilan ratus ribu bukan angka kecil bagi Ibu, Mbak. Saya tidak mau menambah beban beliau lagi dengan meminjam dari rentenir pasar," jawabnya tegas. Langkahnya mantap menuju pintu keluar perpustakaan, meninggalkan bau amis laut yang samar di udara.
Aku terpaku sendirian di antara rak-rak buku. Suara langkahnya menjauh, semakin pelan, hingga akhirnya benar-benar hilang ditelan kebisingan suara santri yang sedang bersiap untuk salat Asar di masjid. Aku merasa seolah-olah fondasi perpustakaan ini baru saja bergetar, merespons kepergian seseorang yang selama ini menjaganya.
Aku mendekati rak timur itu. Tanganku gemetar saat menyentuh permukaan batu bata yang dingin. Benar, ada satu bagian yang terasa berbeda. Permukaannya tidak rata, ada ukiran geometris yang disamarkan dengan lapisan kapur tua. Jika bukan karena petunjuk Rustam, aku tidak akan pernah menyadarinya.
Di luar, azan Asar mulai berkumandang. Suaranya membelah udara sore yang panas, memanggil siapa saja untuk segera menghadap pemilik segalanya. Namun, aku masih bergeming. Pikiranku melayang pada Faiz yang baru saja pergi karena menolak tunduk pada keinginan Ayah, dan sekarang Rustam yang pergi karena kemiskinan yang dipaksakan.
Aku sadar, kepergian mereka bukan sekadar perpindahan tempat. Mereka membawa potongan-potongan kebenaran yang selama ini terkubur di bawah tanah pesantren ini. Haji Hamid dan yayasannya mungkin menguasai sertifikat dan angka di atas kertas, tetapi mereka tidak akan pernah memiliki apa yang tersimpan di balik dinding ini.
Aku berlutut di lantai, merasakan dingin yang menjalar dari balik papan kayu. Tiba-tiba, sebuah ketakutan melintas di benakku. Jika aku membuka ini sekarang, apakah aku siap menanggung konsekuensinya? Apakah aku siap menjadi orang yang membuka sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan oleh Kiai?
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang beradu dengan suara azan. Aku harus memastikan tidak ada pengurus yayasan yang mengawasi. Aku harus berhati-hati agar setiap langkahku tidak terendus oleh mereka yang menginginkan tanah ini untuk kepentingan pribadi.
Aku teringat pada surat-surat tanpa nama yang selama ini kusembunyikan di sela-sela buku. Mungkin, inilah jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini tertulis di sana. Tentang keadilan yang sempat hilang, tentang nama-nama yang dirobek dari buku kas, dan tentang janji yang harus ditepati.
Aku berdiri, membersihkan debu dari rok panjangku. Hari ini aku kehilangan seorang kawan, namun aku mendapatkan kunci untuk sebuah pintu yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Aku akan menunggu waktu yang tepat, saat malam benar-benar sunyi dan lampu badai menjadi satu-satunya saksi.
Aku melangkah keluar dari perpustakaan, menyisakan rahasia besar di rak paling ujung. Keputusan Rustam untuk pergi memang menyakitkan, tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar ijazah yang tak sempat ia raih.
Aku tahu, setelah ini, aku tidak akan pernah bisa melihat dinding pesantren dengan cara yang sama lagi. Ada kebenaran yang tertanam di dalamnya, menunggu tangan yang tepat untuk menyentuhnya dan membongkar cerita yang selama ini terkubur rapat oleh rasa malu dan fitnah yang berkepanjangan.



