Wasiat di Balik Gerbang
Bab 1
Lampu meja kayu itu berpendar kuning, menerangi deretan angka yang menari di atas lembar laporan keuangan pesantren bulan ini. Aku menyesap teh hangat yang mulai mendingin, jemariku masih menekan kalkulator dengan ritme monoton yang kini terasa mengganggu kesunyian malam. Mataku terpaku pada satu entri ganjil di bawah pos pengeluaran darurat.
"Ayah, dua puluh juta ini untuk keperluan apa?" tanyaku pelan saat Kiai Mahfud masuk ke ruang kerja, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
Ayah tidak langsung menjawab. Beliau duduk di kursi goyang kesayangannya, menarik napas panjang yang terdengar berat seperti gesekan daun kering di lantai teras. Beliau menunjuk kolom yang baru saja aku tandai dengan pulpen merah.
"Itu untuk tanah selatan, Emily," jawab Ayah lirih, suaranya parau namun tegas.
Aku mengernyit, memutar kursi menghadapnya. Tanah selatan adalah bagian dari asrama putri yang selama ini kami anggap sudah beres urusannya. Tidak ada proyek pembangunan di sana, pun tidak ada renovasi mendesak yang direncanakan tahun ini.
"Tanah selatan? Bukankah itu sudah tidak ada urusan lagi sejak belasan tahun lalu?" tanyaku lagi, berusaha menekan nada curiga agar tidak terdengar seperti tuduhan.
Ayah hanya terdiam, matanya menatap jendela yang terbuka. Angin malam berhembus membawa aroma garam dari laut Karang Asta, menggoyangkan tirai perpustakaan hingga menutupi sebagian rak kitab. Tiba-tiba, tubuh beliau terbatuk hebat. Suaranya pecah, memenuhi ruangan dengan gema yang menyakitkan. Aku bergegas mendekat, menyodorkan air putih yang ia tolak dengan lambaian tangan.
Aku terpaku melihat sapu tangan putih yang kini ternoda warna merah pekat setelah Ayah menutup mulutnya. Beliau segera meremas sapu tangan itu, menyembunyikannya di balik lipatan sarung, lalu menatapku dengan sorot mata yang meminta agar aku tidak bersuara.
"Jangan bilang siapa-siapa, apalagi Pratama," bisik Ayah di sela sela napas yang memburu. Beliau memaksakan diri berdiri, menyandarkan tubuh pada meja, lalu menatap kitab yang terbuka di hadapannya seolah mencari perlindungan di balik lembaran kertas tua itu.
Aku masih terpaku di tempat, ketakutan mulai merambat naik ke tenggorokan. Ini bukan sekadar batuk biasa. Ada beban yang lebih berat dari sekadar angka dalam laporan keuangan yang baru saja aku hitung. Aku ingin memanggil Pratama, ingin membawa Ayah ke dokter secepat mungkin, namun tangan beliau mencengkeram lenganku dengan sisa tenaga yang mengejutkan.
"Ini urusan tua, Emily. Jangan kau libatkan suamimu sebelum aku sendiri yang membuka jalan pintasnya," ucap Ayah dengan nada yang tidak memberi ruang untuk membantah.
Aku berusaha mengatur napas, mencoba menetralkan degup jantung yang berpacu liar di balik dada. Di hadapanku, Ayah masih bersandar di sudut meja, matanya memejam, seolah mengumpulkan sisa kekuatan untuk menegakkan tubuh. Cahaya lampu meja yang kekuningan menyorot wajahnya yang makin hari makin tirus. Garis-garis keriput di sekitar matanya tampak lebih dalam, seperti guratan sejarah yang enggan terhapus oleh waktu. Aku ingin memprotes, ingin sekali berteriak bahwa sebagai anak, aku memiliki hak untuk cemas. Namun, didikan Ayah selama ini menanamkan kesabaran yang sering kali justru menjadi belenggu bagiku.
"Ayah, setidaknya izinkan aku memanggilkan tabib atau dokter ke sini," bisikku memohon.
Ayah membuka matanya, menatapku lurus. Ada ketenangan yang menakutkan di sana. Beliau tidak menjawab pertanyaanku, melainkan menggeser posisi duduknya agar bisa meraih kitab di atas meja. Jemarinya yang kurus menyentuh sampul kulit kitab itu dengan lembut, seolah menyentuh benda paling berharga di dunia. "Tanah itu bukan sekadar lempung dan pasir, Emily. Di sana tertanam janji yang belum sempat aku lunasi. Jika aku mengatakannya sekarang, kau hanya akan membawa beban itu ke dalam tidurmu. Lebih baik kau lanjutkan pekerjaanmu, biarkan aku menyelesaikan sisa malam ini dengan tenang."
Aku tidak bisa membantah. Aku tahu, ketika Ayah sudah menggunakan nada bicara seperti itu, tidak ada ruang untuk negosiasi. Aku kembali duduk di kursiku, berpura-pura fokus pada kalkulator, padahal pikiranku melayang ke arah asrama putri di sisi selatan pesantren. Selama ini, aku mengira semua aset sudah aman di bawah yayasan. Pratama pun, suamiku yang selalu teliti dalam urusan administrasi, tidak pernah menyinggung soal masalah hukum di tanah selatan. Apakah ini alasan Ayah selalu memintaku memastikan Pratama tidak terlalu jauh mencampuri urusan surat-surat lama?
Langkah kaki terdengar dari arah pintu perpustakaan. Pratama muncul dengan membawa nampan berisi segelas air hangat dan sedikit camilan. Ia tersenyum tipis saat melihatku, namun tatapannya segera beralih kepada Ayah yang masih duduk di dekat meja. Suamiku itu selalu tahu kapan harus datang dan kapan harus diam. Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat kursi goyang, lalu mengangguk hormat pada Ayah.
"Sudah malam, Kiai. Sebaiknya istirahat agar besok bisa lebih segar," ujar Pratama sopan.
Ayah hanya mengangguk kecil. Beliau tidak menoleh pada Pratama, matanya tetap tertuju pada kitab yang terbuka. Aku memperhatikan Pratama yang kemudian berdiri di dekatku, tangannya yang hangat menyentuh bahuku sejenak untuk menanyakan kabar. Ada rasa bersalah yang menyelinap saat aku harus berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku menatap Pratama, melihat ketulusan di wajahnya, lalu menatap sapu tangan berdarah yang kini terselip rapat di balik sarung Ayah.
"Aku akan segera menyusul, Mas," kataku pelan.
Pratama mengerti dan segera beranjak keluar, meninggalkan kami berdua dalam kesunyian yang kembali pekat. Suara jangkrik di luar jendela terdengar lebih nyaring, seolah-olah dunia di luar sana sedang menunggu sesuatu yang akan pecah. Ayah kemudian berdiri dengan tertatih. Beliau berjalan mendekat ke arahku, menepuk bahuku sekali, sebuah isyarat yang jarang beliau lakukan kecuali dalam momen-momen yang sangat genting.
"Emily, ingatlah satu hal," suaranya kini terdengar lebih parau, nyaris seperti bisikan angin di sela daun pohon kelapa. "Apa yang tampak sebagai milik kita saat ini, mungkin sebenarnya adalah titipan yang sewaktu-waktu harus dikembalikan kepada pemilik sahnya. Jangan terlalu melekat pada tembok-tembok asrama itu. Yang paling penting adalah apa yang ada di dalam hati kalian saat harus melepasnya nanti."
Aku berdiri, hendak memapah beliau ke kamarnya, namun beliau menolak dengan halus. Beliau melangkah perlahan menuju pintu perpustakaan yang gelap. Sebelum kakinya menapak keluar, beliau berhenti sejenak. Tanpa berbalik, beliau menatap lurus ke kegelapan lorong pesantren.
"Ayah, jangan bicara seolah-olah Ayah akan pergi jauh," ucapku dengan suara yang bergetar.
Ayah menoleh sedikit, memberikan senyum yang paling tipis yang pernah kulihat. Senyum itu bukan senyum yang menenangkan, melainkan senyum seseorang yang sudah selesai dengan perhitungannya sendiri. Beliau menarik napas panjang, menatapku dengan sorot mata yang sarat dengan tanggung jawab yang tidak kumengerti.
"Dunia ini tempat singgah yang riuh, Emily. Dan aku sudah terlalu lelah mendengar kebisingan dari masa lalu yang terus mengetuk gerbang kita," ucap beliau sebelum akhirnya melangkah pergi.
Aku berdiri mematung di tengah ruangan yang terasa luas dan dingin. Aku mendekati meja, membereskan lembaran keuangan yang berantakan. Saat tanganku menyentuh buku catatan Ayah yang tertinggal, aku melihat sebuah nama yang tercatat berkali-kali di margin halaman: sebuah nama yang mengingatkanku pada kakakku yang sudah dua puluh tahun tidak pulang. Aku menutup buku itu dengan tangan gemetar.
Aku menyusul Ayah ke kamarnya, memastikan beliau sudah berbaring dengan tenang di atas tikar pandannya. Kamar itu berbau khas, campuran antara minyak kayu putih dan aroma buku tua. Ayah sudah memejamkan mata, napasnya terdengar teratur, meski aku tahu di balik keheningan itu, paru-parunya sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak ingin beliau bagi. Aku menarik selimut hingga sebatas dada beliau, merasa seperti anak kecil yang sedang menjaga ayahnya di tengah badai.
Aku berbalik hendak keluar kamar untuk mematikan lampu, namun suara Ayah menghentikanku. Beliau belum tidur. Matanya yang sayu menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang kosong, seolah sedang membaca tulisan-tulisan yang tak terlihat di sana. Aku kembali mendekat, duduk di sisi tikar, dan menggenggam jemari beliau yang dingin.
"Ayah, tidurlah," kataku lembut.
Ayah meremas jemariku, kekuatannya masih ada, meski tidak sekuat dulu. Beliau menoleh, menatap wajahku dengan saksama, seolah ingin merekam setiap inci wajah putrinya sebelum semuanya berubah. Suasana kamar menjadi hening, hanya suara gesekan nyamuk di luar kelambu yang terdengar. Beliau menatapku lama, sangat lama, sampai aku merasa ada sesuatu yang hendak beliau lepaskan dari pundaknya dan dipindahkan ke pundakku.
"Emily," panggilnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Aku mendekatkan telingaku ke bibirnya. Aku menunggu pesan yang mungkin akan menjelaskan segalanya, tentang uang dua puluh juta itu, tentang tanah selatan, dan tentang ketakutan yang kulihat di matanya tadi malam. Namun, Ayah tidak memberikan jawaban yang kuharapkan. Beliau justru memberikan beban yang membuat lututku terasa lemas seketika.
"Kalau aku pergi sebelum urusan itu selesai, kalian yang membayar."



