Bab 2 Gratis Novel Religi & Keluarga

Wasiat di Balik Gerbang

Surat dengan Kop Surabaya

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 2

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Wasiat di Balik Gerbang

Bab 2

Gratis

Bau kertas tua dan minyak mesin yang menempel di ujung jariku seolah beradu di udara sore ini. Aku baru saja memarkir motor di dekat pendopo ketika seorang kurir berseragam abu-abu menyodorkan amplop tebal dengan kop surat resmi. Wibawa dan Rekan. Aku mengenal nama itu sebagai kantor hukum yang pernah membuat kegaduhan di Sumberjati beberapa tahun lalu. Saat aku membuka lipatan kertas di dalamnya, mataku tertuju pada angka seribu empat ratus meter persegi. Itu luas tanah asrama putri di sisi selatan.

"Ada apa, Mas?" tanya Emily saat ia muncul dari arah dapur, mengusap tangan yang basah ke apron. Ia menatap amplop di tanganku dengan dahi berkerut.

Aku tidak langsung menjawab. Kuberikan surat itu padanya. Napas Emily seakan tertahan saat membaca kalimat somasi yang menuntut pengosongan lahan atas nama Raden Sastro Wibawa. Sinar matahari yang menyusup di sela pepohonan jatuh tepat di wajahnya yang mendadak pucat. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Tanah itu bukan sekadar aset. Di sana tempat puluhan santriwati menghafal kitab setiap malam, tempat doa-doa dipanjatkan, dan tempat ayah mertuaku menaruh harapan besar pada keberlangsungan pesantren.

"Kita harus bicara dengan Ayah," ucap Emily pelan. Suaranya bergetar meski ia berusaha tetap tenang.

Aku mengangguk. Kami melangkah menuju perpustakaan, tempat Kiai Mahfud menghabiskan sebagian besar waktunya akhir-akhir ini. Beliau duduk di kursi kayu jati yang menghadap ke jendela. Napasnya terdengar berat, sesekali diselingi batuk pendek yang ia tahan dengan sapu tangan. Begitu aku menunjukkan surat dari Bramantyo Wibawa itu, Kiai hanya menatapnya sekilas tanpa menunjukkan keterkejutan. Seolah beliau sudah lama menanti kedatangan lembaran kertas ini.

"Simpan di laci paling bawah meja itu, Pratama," suara Kiai Mahfud serak, nyaris berbisik. Beliau menunjuk laci kayu di bawah rak buku yang penuh dengan naskah kuno.

Aku ragu sejenak. "Tapi Kiai, ini somasi. Jika kita diam, mereka bisa menuntut secara hukum dan membawa kasus ini ke pengadilan. Kita butuh jawaban untuk melawan klaim mereka."

Kiai Mahfud memejamkan mata, tangannya bergerak pelan memberi isyarat agar aku tidak mendebat. "Simpan saja. Belum waktunya untuk dibuka. Biarkan mereka bermain dengan kertas-kertas itu. Tugasmu hanya menjaga pesantren tetap tenang."

Aku berjalan menuju meja, menarik laci paling bawah yang terasa berat karena debu dan ketidakpastian. Saat laci itu terbuka sedikit, aku melihat tumpukan amplop serupa dengan kop surat yang sama tertumpuk rapi di dalamnya. Ada tiga buah. Semuanya dalam kondisi tersegel, bersih dari bekas sobekan, dan seolah sengaja dibiarkan membusuk oleh waktu di balik kayu tua itu.

Aku tertegun sejenak dengan tangan masih memegang gagang laci. Bunyi gesekan kayu yang berderit pelan memenuhi keheningan perpustakaan. Tiga amplop itu tidak terlihat seperti surat yang baru datang kemarin sore, melainkan sudah menetap di sana selama musim-musim yang panjang. Kertasnya sedikit menguning, menyatu dengan aroma kayu lapuk dan debu buku yang akrab di ruangan ini. Aku menoleh ke arah Kiai Mahfud, namun beliau tampak kembali memejamkan mata, membiarkan napasnya mengatur irama di tengah udara yang terasa berat. Emily berdiri tepat di belakangku, jemarinya mencengkeram lengan bajuku dengan tekanan yang cukup kuat untuk menunjukkan kegelisahannya.

"Ayah, surat-surat ini..." suaraku tertahan di tenggorokan. Aku tidak sanggup melanjutkan kalimat. Bagaimana mungkin seorang pengasuh pesantren membiarkan somasi hukum menumpuk tanpa tindakan selama bertahun-tahun? Ini bukan sekadar kelalaian. Ini adalah keputusan sadar yang sengaja diambil untuk membiarkan ancaman itu tetap diam di tempatnya.

Kiai Mahfud membuka mata perlahan. Pandangannya tidak tertuju pada kami, melainkan pada rak kitab di depannya. "Dunia hukum punya bahasanya sendiri, Pratama. Namun, pesantren punya bahasanya sendiri untuk bertahan. Tidak semua yang tertulis di atas kertas memiliki kekuatan yang sama dengan apa yang diikrarkan di atas tanah ini."

"Tapi Bramantyo Wibawa bukan orang yang akan diam setelah mengirimkan surat keempat, Kiai," sanggahku lembut, berusaha menjaga nada tetap hormat. Aku teringat reputasi keluarga Wibawa yang dikenal tidak pernah melepaskan mangsa setelah mereka mencium bau aset yang menguntungkan. "Jika kita tidak memberikan respons, mereka bisa membawa polisi atau juru sita ke depan gerbang kita."

Kiai Mahfud terbatuk lagi, kali ini lebih lama. Emily segera mendekat, menyodorkan segelas air putih hangat yang ia bawa dari dapur. Ayah mertuaku itu menyesapnya pelan sebelum kembali berbicara dengan suara yang lebih parau. "Mereka hanya mengejar angka di atas kertas, sementara kita menjaga amanah yang dititipkan melalui keringat dan doa para pendahulu. Jika kamu takut pada surat-surat itu, maka kamu akan selalu merasa sebagai tamu di rumahmu sendiri. Sekarang, tutup lacinya. Mari kita selesaikan hari ini dengan salat Maghrib berjamaah. Jangan biarkan keresahan dunia luar masuk ke dalam shaf kita."

Kami tidak punya pilihan. Aku mendorong laci itu hingga tertutup rapat. Bunyi klik dari penguncinya terdengar final, menutup rahasia yang seharusnya mungkin menjadi kunci keselamatan tanah kami. Aku melangkah keluar dari perpustakaan dengan pikiran yang berkecamuk. Emily berjalan di sampingku, langkahnya tidak lagi seringan biasanya. Kami menyeberangi pelataran pesantren yang mulai dipenuhi santri menuju masjid. Suara azan Maghrib mulai berkumandang dari menara, membelah senja yang jingga di cakrawala pulau ini. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang tajam, namun aku justru mencium aroma kertas lama yang masih melekat di ujung jariku.

Selesai salat, aku tidak langsung kembali ke rumah. Aku duduk di serambi masjid, memperhatikan santri-santri yang lalu lalang dengan sarung dan peci. Semuanya tampak tenang, seolah tidak ada ancaman yang sedang mengintai tanah tempat mereka berpijak. Aku membayangkan jika mereka tahu bahwa tanah asrama putri yang mereka tempati setiap hari sebenarnya sedang diperebutkan oleh pihak luar dengan dasar hukum yang kuat. Apakah ketenangan ini akan runtuh? Apakah aku, sebagai menantu yang paling lama duduk di sini, hanya akan menjadi penonton saat aset ini disita?

Emily menghampiriku setelah selesai mengaji bersama santriwati. Ia duduk di sebelahku, memperhatikan wajahku yang mungkin terlihat sangat lelah. "Tadi aku melihat Ayah menatapmu cukup lama saat kamu keluar dari perpustakaan," bisiknya. "Beliau tidak pernah setenang itu jika masalahnya sepele. Aku rasa ada sesuatu yang beliau simpan, sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sengketa tanah dengan keluarga Wibawa."

"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanyaku.

"Ayah tidak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh meja kerjanya, apalagi laci bawah itu," jawab Emily sambil menatap arah perpustakaan. "Sejak aku kecil, laci itu selalu dianggap sebagai tempat penyimpanan catatan pribadi yang tidak boleh dibuka siapa pun, bahkan oleh Ibu. Dan sekarang, beliau membiarkanmu melihat isinya. Itu bukan kebetulan, Pratama. Mungkin itu adalah sebuah undangan untuk mencari tahu."

Aku tersenyum kecut. Undangan atau jebakan? Jika benar ini sebuah undangan, maka pertanyaannya adalah kapan aku harus berani melanggar perintah Kiai untuk tidak membuka surat-surat itu. Kepercayaan yang beliau berikan padaku selama ini adalah segalanya. Namun, tanggung jawabku terhadap keselamatan masa depan pesantren dan Emily menuntutku untuk bertindak lebih jauh daripada sekadar menjadi pengikut yang patuh.

Malam itu, setelah Raka tertidur di ayunan kain, aku kembali ke perpustakaan. Ruangan itu kosong dan gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalanan yang menembus kaca jendela. Aku berjalan pelan, menghindari lantai kayu yang berderit. Tujuanku jelas. Laci bawah itu seolah memanggil, menuntut untuk dibongkar rahasianya. Namun, tepat saat tanganku menyentuh pegangan laci, aku terhenti. Aku teringat wajah Kiai Mahfud yang pucat dan mata beliau yang penuh dengan keteguhan. Apakah aku sanggup menanggung beban kebenaran yang tersimpan di balik amplop-amplop itu jika ternyata isinya justru menghancurkan segalanya?

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa tidak beraturan. Jika memang ini adalah bagian dari wasiat yang belum selesai, maka biarlah aku menemukannya di saat yang tepat. Aku memutuskan untuk tidak membuka laci itu malam ini. Aku membalikkan badan dan meninggalkan perpustakaan dengan tangan kosong.

Namun, saat aku berjalan keluar, aku menyadari bahwa keputusanku untuk tetap diam justru membuat hatiku semakin tidak tenang. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti sedang berjalan di atas tanah yang perlahan-lahan retak. Aku tahu, cepat atau lambat, isi di dalam laci itu akan menuntut untuk dikeluarkan. Dan saat hari itu tiba, aku harus siap dengan segala konsekuensi yang akan menyertainya.

Aku kembali ke kamar, namun bayangan tiga amplop yang tersimpan di laci bawah itu terus menari di kepalaku, karena di laci itu sudah ada tiga surat serupa bertahun sebelumnya yang belum dibuka.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.