Wasiat di Balik Gerbang
Bab 3
Bau antiseptik menyambut kami tepat di pintu ruang tunggu rumah sakit kota. Pratama menggenggam lenganku dengan erat, sementara napas Ayah terdengar berat, seperti ada gesekan pasir di dalam dadanya setiap kali beliau mencoba menarik udara. Kami baru saja menyeberangi selat dengan kapal feri paling pagi. Kursi tunggu berbahan besi dingin itu terasa menusuk di balik gamis yang kukenakan. Aku memandangi jemari Ayah yang kurus, jemari yang selama hidupnya lebih sering memegang buku dan membelai kepala para santri, kini gemetar hebat di atas pangkuannya.
"Sudah waktunya, Emily," bisik Ayah tiba-tiba, suaranya parau. Beliau menatap pintu ruang periksa yang masih tertutup rapat.
Pratama mengusap punggung mertuanya dengan lembut. "Sabar, Yai. Kita tunggu dokter sebentar lagi. Mungkin hanya kelelahan biasa."
Ayah tidak membalas. Beliau hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa lebih mirip perpisahan daripada harapan. Tak lama kemudian, seorang dokter pria paruh baya memanggil nama Ayah. Kami masuk ke ruangan yang didominasi warna putih pucat. Setelah rangkaian pemeriksaan panjang, dokter itu meletakkan stetoskopnya dan menatap kami dengan sorot mata yang penuh kehati-hatian. Suasana ruang itu tiba-tiba terasa sangat menyesakkan.
"Hasil rontgen dan biopsi menunjukkan ada massa di paru-paru Bapak," ujar dokter itu pelan. Ia menjeda kalimatnya, membiarkan bunyi detak jam dinding memenuhi ruangan. "Kanker paru stadium lanjut. Secara medis, masa bertahan hidup biasanya berkisar tiga sampai enam bulan. Kita bisa memulai kemoterapi jika Bapak bersedia, tapi untuk kondisi saat ini, saya menyarankan kenyamanan pasien menjadi prioritas utama."
Dunia di sekitarku seolah kehilangan warnanya. Pratama terdiam kaku di sampingku, tangan kanannya mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jarinya memutih. Aku menoleh pada Ayah, mengharapkan beliau menunjukkan keterkejutan atau mungkin ketakutan. Namun, beliau justru tampak tenang, seolah berita itu hanyalah konfirmasi atas sesuatu yang sudah lama beliau simpan di balik tirai perpustakaan.
"Alhamdulillah," ucap Ayah lirih, nyaris seperti gumaman doa. Beliau menatapku, lalu beralih ke Pratama. "Jangan menangis di depan pasienmu, Emily. Masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum gerbang itu benar-benar tertutup."
Perjalanan pulang terasa sepuluh kali lebih lama dari biasanya. Angin laut yang membawa aroma garam dan sisa-sisa debu dermaga menerpa wajah kami saat kapal mulai bergerak membelah ombak. Ayah duduk di sudut geladak, memandangi pulau Karang Asta yang mulai terlihat samar di kejauhan. Pratama berdiri di dekatnya, menjaga agar angin tidak terlalu kencang mengenai tubuh Ayah yang ringkih. Tiba-tiba, Ayah menoleh ke arahku dengan tatapan tajam yang menuntut perhatian penuh.
"Emily, nanti setelah kita sampai di rumah, telepon kakakmu," perintahnya tegas.
Aku tertegun. Nama itu seperti duri yang tersangkut di tenggorokan kami selama dua dekade, nama yang selalu dihindari dalam setiap percakapan keluarga, bahkan saat lebaran atau pengajian besar. Selama ini, Ayah selalu menyebutnya 'si sulung' atau sekadar menghela napas jika ada kerabat yang bertanya tentang keberadaan Faiz. Namun hari ini, di atas dek kapal yang bergetar karena mesin, Ayah mengucapkannya dengan intonasi yang begitu jernih.
"Ayah yakin?" tanyaku pelan, memastikan bahwa angin laut tidak sedang mempermainkan pendengaranku.
Ayah tidak menjawab langsung. Beliau justru memejamkan mata, membiarkan rambut putihnya diterbangkan angin. "Dunia ini terlalu luas untuk menyembunyikan penyesalan, Emily. Waktu tidak akan memutar balik jarum jam, tapi setidaknya kita bisa berhenti menahannya di sini."
Pratama yang sedari tadi diam membatu, perlahan mendekat. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh tanda tanya. Ia tahu apa arti nama itu bagi keluargaku, dan ia tahu betul betapa beratnya beban yang baru saja dijatuhkan di bahu kami. Pratama tidak bertanya pada Ayah, ia hanya menatapku seolah berkata bahwa apa pun keputusanku, ia akan berdiri di belakangku.
"Aku tidak punya nomornya, Yah," ucapku dengan nada yang lebih mendekati bisikan. Sebenarnya aku berbohong. Aku memiliki nomor itu, tersimpan di dalam buku telepon usang yang jarang kubuka, nomor yang pernah kucatat dari surat-surat Rahmi yang datang secara berkala ke pesantren.
Ayah membuka matanya. Tatapannya kini terasa jauh lebih tajam daripada saat di rumah sakit tadi. "Kamu punya. Kamu selalu menyimpannya, bukan?"
Aku tersentak. Bagaimana mungkin Ayah tahu? Selama ini aku mengira rahasiaku menyimpan surat-surat dari Rahmi adalah sesuatu yang tidak terendus siapa pun. Aku merasa wajahku memanas, bukan karena terik matahari, melainkan karena rasa malu yang bercampur dengan keterkejutan. Ternyata, selama ini Ayah memperhatikan setiap gerak-gerikku, bahkan rahasia sekecil apa pun yang kusimpan di balik laci meja kerjaku.
"Telepon dia begitu kita sampai di rumah," ulang Ayah. Suaranya tidak lagi memerintah, melainkan memohon. "Katakan padanya, gerbang pesantren sudah terlalu tua untuk menahan beban yang lebih berat lagi."
Perjalanan sisa di atas kapal itu kuhabiskan dengan menatap hamparan air yang berkilauan. Pikiranku melayang ke Banjarmasin, ke tempat yang belum pernah aku kunjungi, di mana Faiz mungkin sedang bergelut dengan utang-utangnya, dan Rahmi mungkin sedang menatap jendela sambil menunggu kabar dari kami. Bagaimana cara memulainya? Bagaimana jika dia menolak? Bagaimana jika kedatangannya justru menjadi pemicu kehancuran bagi Darul Hikmah yang sedang limbung akibat somasi keluarga Wibawa?
Sesampainya di dermaga kecil Karang Asta, matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan semburat jingga yang kontras dengan dinding kapur rumah-rumah nelayan. Kami berjalan kaki menembus kerumunan pedagang ikan yang mulai berkemas. Pratama memapah Ayah dengan sangat hati-hati. Aku berjalan di samping mereka, merasa seolah setiap langkahku menuju pesantren adalah langkah menuju medan perang yang tidak aku siapkan.
Begitu tiba di rumah utama, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Nyai Maryam menyambut kami di ambang pintu dengan raut wajah yang cemas. Beliau tahu kami pergi ke rumah sakit, dan beliau bisa membaca ketegangan di wajah kami tanpa harus bertanya.
"Bagaimana?" tanya Nyai Maryam lirih, tangannya sigap mengambil alih tas yang dibawa Pratama.
Ayah hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat agar kami tidak perlu menjelaskan apa pun di depan santri yang lalu lalang. Beliau langsung masuk ke kamar, meninggalkan aku dan Pratama di ruang tamu yang temaram. Aku mematung di dekat telepon rumah yang terpasang di dinding, alat yang sudah berbulan-bulan hanya digunakan untuk urusan yayasan atau pesanan katering pesantren.
Pratama mendekat, ia meletakkan tangannya di bahuku. "Emily, jika kamu belum siap, aku bisa melakukannya untukmu."
Aku menggeleng. "Tidak, ini bagianku. Ayah memintanya padaku."
Aku mengambil napas panjang. Jemariku gemetar saat menekan angka demi angka yang sudah dihafal di luar kepala. Suara sambungan terdengar nyaring di keheningan ruang tamu. Satu, dua, tiga nada tunggu berlalu. Aku hampir saja menutup telepon saat tiba-tiba suara serak seorang perempuan menjawab dari seberang sana.
"Halo? Ini siapa?"
Itu suara Rahmi. Aku mengenali suaranya dari gaya bicaranya yang sopan meski diwarnai logat yang khas. Aku membeku sejenak, tenggorokanku terasa kering.
"Rahmi, ini Emily," jawabku dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Ada jeda yang cukup panjang di sana. Suara napas Rahmi terdengar berat, seolah dia baru saja menahan sesuatu yang sangat besar di dadanya. "Emily? Ya Allah, Emily? Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Kiai?"
Aku menatap pintu kamar Ayah yang tertutup rapat. Aku bisa mendengar suara batuk Ayah dari balik kayu pintu itu, suara yang kini memiliki makna vonis bagi kami semua. Aku memejamkan mata, membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
"Ayah memintaku meneleponmu, Rahmi," kataku pelan. "Dia ingin Faiz pulang."
Sunyi. Tidak ada suara lagi di ujung telepon sana, selain suara angin yang menerpa antena rumah di Banjarmasin. Namun, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, aku tidak merasa takut lagi. Aku baru saja membuka pintu yang selama ini kami kunci rapat-rapat. Ayah tidak lagi menyebutnya dengan kata ganti yang samar, beliau menyebut nama itu dengan utuh, dan kini nama itu bergaung di rumah kami, di kapal pulang Kiai menyuruh Emily menelepon kakaknya, dan ini pertama kali dalam dua puluh tahun ia menyebut nama Faiz tanpa berhenti di tengah.



