Wasiat di Balik Gerbang
Bab 4
Suara gemuruh mobil di depan gerbang utama pesantren tidak terdengar seperti mobil pengantar santri yang biasanya berderu pelan. Aku yang sedang memegang obeng di bengkel kecil dekat asrama segera meletakkan alat itu. Dari sela-sela pagar, aku melihat sebuah mobil MPV hitam berhenti, diikuti oleh van kecil yang membawa peralatan syuting. Dua orang keluar dengan kamera besar di pundak, sementara seorang pria dengan jubah putih bersih turun dari kursi penumpang, membetulkan letak pecinya dengan gerakan yang terlatih.
Itu Hilmi. Dia kembali setelah absen cukup lama, namun kali ini ia tidak datang sebagai santri yang pulang. Dia datang seperti seorang bintang yang sedang melakukan kunjungan resmi.
"Mas Pratama," panggil seorang santri senior yang berlari kecil ke arahku. Wajahnya tampak bingung. "Ustaz Hilmi membawa rombongan. Mereka bilang ingin mengambil gambar suasana pesantren untuk keperluan dokumentasi dakwah."
Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak bisa melarang mereka, namun firasatku tidak enak. Aku segera melepas sarung tangan kerjaku dan berjalan menuju pelataran utama. Di sana, Hilmi sudah dikerumuni santri-santri muda yang menatapnya dengan kekaguman luar biasa. Hilmi menyalami mereka satu per satu dengan senyum yang sangat terkontrol. Saat melihat Kiai Mahfud yang sedang duduk di kursi kayu di serambi ndalem, Hilmi segera mempercepat langkahnya, mencium tangan Kiai dengan takzim yang sangat dramatis.
"Alhamdulillah, Ustaz Hilmi pulang," suara Kiai Mahfud terdengar parau, namun masih memiliki wibawa yang cukup untuk menghentikan riuh rendah di halaman.
"Saya pulang karena amanah, Kiai. Saya tidak bisa membiarkan Darul Hikmah kehilangan arah," jawab Hilmi dengan nada yang sengaja dikeraskan agar bisa ditangkap oleh mikrofon yang dipegang salah satu krunya.
Hilmi kemudian berbalik menghadap kamera yang diarahkan tepat ke arah ruang perpustakaan dan gedung platform pendidikan di sisi timur. Dia tidak lagi menatap Kiai, melainkan menatap lensa kamera dengan tatapan yang tajam.
"Saudara sekalian, kita melihat bagaimana pesantren tua ini sedang dikepung oleh sesuatu yang tidak kita kenal," Hilmi mulai berbicara, suaranya lantang memecah kesunyian sore. "Layar-layar yang dipaksakan masuk ke ruang belajar ini telah menjadi berhala baru. Mereka memutus sanad, memutus hubungan batin, dan mengubah pesantren menjadi sekadar kantor penyedia layanan digital."
Aku berdiri di balik pilar, merasa darahku mendidih mendengar tuduhan itu. Aku melihat Nabil, pengembang muda kita, berdiri di sudut dengan wajah pucat, memegang ponselnya dengan tangan yang gemetar. Dia menatap layar yang menampilkan siaran langsung Hilmi di media sosial, di mana kolom komentar mulai dibanjiri hujatan terhadap pengelola pesantren saat ini.
Aku mendekati Nabil dengan langkah lebar, ingin memintanya segera mematikan sambungan internet atau setidaknya menjauh dari kerumunan, namun langkahku terhenti saat melihat jemarinya yang lincah mengetik di atas layar ponsel. Dia tidak mematikan siaran itu. Dia justru sedang menanggapi komentar-komentar pedas yang masuk dengan akun resmi Darul Hikmah. Aku menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang terasa menekan rusuk.
Aku tahu Nabil sedang berada di bawah tekanan hebat, tetapi tindakannya justru seperti menyiram bensin ke api yang sudah menyala terang. Hilmi masih terus berbicara, suaranya kini lebih lembut namun menusuk, seolah ia sedang membacakan sebuah naskah drama yang sudah ia hapalkan di luar kepala. Dia berjalan perlahan menyusuri serambi, memastikan setiap sudut pesantren yang tampak di kamera terlihat menyedihkan dan terabaikan. Aku melihat beberapa santri yang biasanya sangat rajin belajar kini justru berdiri terpaku, menonton Hilmi dengan mata yang berkaca-kaca, seolah-olah apa yang dikatakan pria itu adalah kebenaran yang selama ini mereka cari.
Aku memutuskan untuk tidak segera menegur Hilmi di depan santri. Itu hanya akan memberi bahan bakar lebih bagi narasi korban yang sedang ia bangun. Aku memutar arah, kembali ke bengkel, dan meraih segelas air putih yang sudah dingin di atas meja kerja. Tanganku sedikit gemetar.
Ini bukan lagi sekadar sengketa tanah atau perbedaan pendapat mengenai metode pengajaran. Ini adalah serangan terhadap eksistensi kami. Kiai Mahfud masih duduk di kursi kayunya, menatap ke arah Hilmi dengan tatapan yang sulit kuartikan. Apakah beliau melihat anak didiknya yang dulu ia besarkan dengan penuh kasih sayang kini berubah menjadi lawan, ataukah beliau sudah memprediksi bahwa hari ini akan tiba?
Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku harus bicara dengan Emily. Aku melangkah menuju rumah utama, melewati dapur yang mulai mengeluarkan aroma tumis bawang dan cabai, tanda Nyai Maryam sedang menyiapkan makan malam. Suara di halaman perlahan mereda seiring dengan berakhirnya sesi pengambilan gambar Hilmi yang cukup dramatis.
Aku mendapati Emily duduk di meja makan, menatap kosong ke arah jendela yang menghadap ke halaman pesantren. Dia tidak menoleh saat aku masuk. Dia sudah tahu. Dia sudah mendengar setiap kata yang diucapkan Hilmi melalui pengeras suara yang entah bagaimana dipasang oleh kru kamera tersebut.
"Dia membawa kamera seolah sedang meliput perang, Mas," suara Emily pelan, nyaris seperti bisikan. Dia tidak menatapku, matanya masih terpaku pada pilar-pilar gerbang yang kini tampak seperti saksi bisu dari kekacauan yang akan datang. Aku duduk di hadapannya, menangkupkan kedua tangan di meja. "Hilmi tidak sedang berdakwah, Em. Dia sedang membangun panggung untuk dirinya sendiri di atas kehancuran nama baik kita."
Emily mengangguk pelan. Dia sudah lelah, aku bisa melihatnya dari guratan di sudut matanya yang semakin kentara. "Ayah tidak bereaksi. Beliau hanya diam sejak tadi. Aku takut diamnya Ayah justru akan memperburuk keadaan karena Hilmi akan menganggap diam itu sebagai pembenaran atas segala fitnahnya."
Kami berdua terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hanya suara debur ombak di kejauhan dan kicau burung malam yang masuk melalui celah ventilasi. Aku terpikir soal somasi Bramantyo Wibawa di laci meja perpustakaan. Apakah Hilmi tahu soal itu? Apakah ada kaitan di antara keduanya? Aku tidak memiliki jawaban. Yang kupunya hanyalah tumpukan kertas yang semakin hari semakin terasa seperti bom waktu.
"Aku akan menemui Nabil," kataku akhirnya, memecah kesunyian. "Dia mulai membalas komentar-komentar itu dengan akun pesantren. Ini berbahaya."
Emily menatapku dengan cemas. "Jangan keras-keras padanya, Mas. Dia masih muda dan dia merasa apa yang dia buat adalah hidupnya. Baginya, platform itu bukan sekadar kode, itu adalah cara dia menebus kesalahannya di masa lalu."
Aku mengangguk paham. Aku meninggalkan Emily di ruang makan dan melangkah kembali ke arah perpustakaan tempat Nabil berada. Suasana pesantren terasa mencekam. Beberapa santri yang biasanya berkumpul di depan laptop untuk diskusi materi pelajaran kini membubarkan diri dengan wajah tertunduk. Mereka tampak bingung, terbelah antara rasa hormat kepada Ustaz Hilmi yang mereka kenal sejak kecil dan rasa terima kasih kepada sistem yang memudahkan mereka belajar selama ini.
Saat aku sampai di ambang pintu perpustakaan, aku melihat cahaya layar ponsel Nabil menerangi wajahnya yang berkeringat. Dia masih mengetik dengan kecepatan yang tidak wajar. Dia benar-benar sedang bertempur di dunia maya, melawan ratusan orang yang tidak ia kenal, membela sesuatu yang mungkin tidak akan bisa ia pertahankan sendirian. Aku berdiri di belakangnya untuk beberapa saat, memperhatikan bagaimana kata-kata kasar dari orang-orang asing itu meluncur deras, dan bagaimana Nabil membalasnya dengan kalimat-kalimat defensif yang malah membuat orang-orang semakin marah. Dia sudah tidak lagi menggunakan bahasa yang santun, melainkan emosi yang meledak-ledak.
Aku meletakkan tanganku di bahunya. Nabil tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai. Dia menoleh padaku dengan mata yang memerah. "Mereka tidak tahu apa-apa, Mas! Mereka hanya menonton video satu menit dan merasa berhak menghakimi kita semua!"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya menarik kursi di sampingnya dan duduk dengan tenang. Aku tidak memintanya berhenti, karena aku tahu saat ini dia sedang merasa sendirian di tengah badai. Namun, aku harus melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku menggeser kursiku sedikit lebih dekat ke arah layar ponselnya untuk membaca beberapa baris komentar terakhir yang masuk. Angka jumlah penonton di video Hilmi yang tertera di pojok kiri atas membuatku menahan napas. Jumlah itu sudah melampaui apa yang bisa kubayangkan untuk sebuah konten dakwah biasa. Malam itu video itu ditonton dua ratus ribu orang, dan Pratama menemukan Nabil membalas komentar dengan akun pesantren.



