Bab 5 Gratis Novel Religi & Keluarga

Wasiat di Balik Gerbang

Telepon ke Banjarmasin

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 5

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Wasiat di Balik Gerbang

Bab 5

Gratis

Layar ponselku meredup berkali-kali saat aku menekan tombol panggil. Jemariku yang gemetar menempelkan benda itu ke telinga, mendengarkan nada sambung yang panjang dan hampa. Jarak antara Karang Asta dan Banjarmasin terasa lebih dari sekadar bentangan laut. Di seberang sana, hanya ada bunyi deru mesin kapal dan riuh rendah suara pasar yang tertangkap samar oleh mikrofon. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua berakhir dengan kotak suara yang dingin. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup di dada sebelum menyentuh ikon hijau untuk ketiga kalinya.

"Halo? Siapa ini?" Suara seorang perempuan terdengar. Latar belakangnya bising, ada suara anak-anak kecil berebut mainan dan denting piring.

"Mbak Rahmi? Ini Emily. Saya anak Kiai Mahfud," ucapku pelan, berusaha menjaga suaraku tetap datar meski kerongkonganku terasa tercekat. Ada jeda panjang. Suara di seberang tiba-tiba senyap, seolah pemilik ponsel itu baru saja menjauh dari keramaian.

"Emily? Adik Faiz?" suara Rahmi berubah, lebih rendah dan hati-hati. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Bapak?"

Aku memejamkan mata. Bayangan wajah Ayah yang pucat di ranjang rumah sakit melintas. "Ayah sedang tidak sehat, Mbak. Beliau ingin bicara dengan Mas Faiz. Bisa tolong sambungkan?"

Aku mendengar suara Rahmi membujuk seseorang di kejauhan. "Mas, ini Emily. Adikmu menelepon." Kemudian, suara berat seorang laki-laki mengambil alih. Itu suara yang sudah dua puluh tahun tidak pernah menyapa telingaku secara langsung. Suara Faiz terdengar dingin, penuh jarak yang dibangun dengan sengaja.

"Apa maumu, Emily?" tanyanya tanpa salam. "Kalau soal kabar kesehatan Bapak, aku sudah tahu dari orang lain. Apa lagi yang kalian inginkan?"

Aku menggenggam pinggiran meja dapur erat-erat, menahan diri agar tidak menangis. "Ayah minta Mas Faiz pulang. Hanya itu. Beliau ingin bicara langsung."

"Aku akan pulang kalau memang ada yang perlu ditandatangani," sahut Faiz tajam. "Kalau hanya untuk menanggung rindu yang terlambat, aku tidak punya waktu. Usahaku di sini sedang sulit, dan aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawab hanya karena panggilan mendadak."

Telepon ditutup dengan bunyi klik yang menyakitkan. Aku meletakkan ponsel di atas meja kayu dengan tangan gemetar. Aku tidak menyadari Nyai Maryam berdiri di ambang pintu dapur sejak tadi, memperhatikan dari balik bayang-bayang lemari pendingin. Beliau mendekat, tangannya yang kurus memegang bahuku dengan lembut.

"Dia tidak berubah, Emily. Keras kepalanya masih sama seperti saat ia pergi dulu," ucap Ibu pelan. Beliau menghela napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada yang membuatku terpaku di tempat. "Rahmi sudah menulis surat kepadaku setiap lebaran selama sepuluh tahun terakhir. Ia tidak pernah absen, meski Faiz tidak pernah tahu isi surat-surat itu."

Aku menatap Ibu dengan napas tertahan. Sepuluh tahun. Selama itu Rahmi menyimpan penghubung antara kami, sementara Faiz membiarkan jarak tumbuh menjadi jurang yang lebar. Ibu kembali melangkah menuju meja, jemarinya yang terbiasa memilah beras kini menyentuh layar ponselku yang mati. Beliau tidak menekan apa pun, hanya mengusap permukaannya dengan ibu jari, seolah sedang membaca pesan yang tak kasatmata di sana.

"Mengapa Ibu baru mengatakannya sekarang?" tanyaku, suaraku nyaris berbisik.

Ibu menatapku, matanya yang redup menyimpan sisa-sisa badai yang pernah menghantam pesantren ini bertahun-tahun silam. "Karena surat itu bukan milikku, Emily. Rahmi memintaku merahasiakannya. Ia menulis bukan untuk mengadu, melainkan untuk memastikan bahwa di sini, di pulau ini, masih ada pintu yang belum terkunci rapat. Ia mengirim kabar tentang Faiz, tentang kesulitan usaha kayu mereka, dan tentang cucu-cucuku yang belum pernah kupeluk."

Aku tersandar pada meja kayu yang permukaannya terasa dingin. Pikiranku berkelabat pada isi surat yang mungkin telah dibaca Ibu di balik bilik kamar. Jika Rahmi tahu Faiz akan datang hanya jika ada sesuatu yang perlu ditandatangani, mungkin surat terakhirnya berisi tentang keterpurukan yang sudah tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Aku teringat pada tawaran H. Zainal beberapa hari lalu, tentang yayasan yang ingin mengambil alih aset. Apakah mungkin Faiz terjepit di antara kewajiban kepada keluarganya dan ego laki-laki yang memaksanya untuk terus melawan?

"Faiz tidak tahu soal surat itu?" tanyaku lagi.

Ibu menggeleng pelan. "Laki-laki seperti kakakmu, Emily, terkadang membangun benteng di sekeliling hatinya sendiri. Ia merasa perlu menjadi pelindung, menjadi orang yang tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Ia tidak sadar bahwa dalam usahanya menjadi kuat, ia justru memutus aliran kasih sayang yang seharusnya bisa menopangnya."

Pratama masuk ke dapur tak lama kemudian. Ia baru saja selesai memeriksa santri di asrama dan wajahnya tampak kelelahan. Ia mendapati kami berdua berdiri dalam diam, dengan atmosfer yang terasa berat. Ia menatapku sejenak, lalu beralih kepada Ibu dengan tatapan penuh hormat.

"Bagaimana, Emily?" tanya Pratama sambil menggeser kursi kayu untuk duduk. "Apa dia bersedia datang?"

Aku menatap suamiku. "Dia akan datang, tapi dengan syarat. Dia ingin ada sesuatu yang ditandatangani."

Pratama terdiam. Ia tampak memahami implikasi dari jawaban itu tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Sebagai seseorang yang telah bertahun-tahun mengelola administrasi pesantren dan mengawasi setiap gerak-gerik tanah di sekitar sini, ia tahu persis apa arti tanda tangan bagi seseorang yang sedang terlilit utang.

"Kalau begitu, kita harus menyiapkan semuanya dengan hati-hati," jawab Pratama tenang. "Jangan sampai kita memberikan apa yang tidak seharusnya, tapi juga jangan sampai kita menutup pintu rapat-rapat saat dia memang sedang membutuhkan bantuan."

Ibu berdiri, lalu berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah pelataran pesantren. Di luar, suara santri yang sedang melantunkan hafalan di masjid terdengar sayup-sayup, menembus keheningan dapur. "Dia bukan datang untuk menuntut tanah, Pratama. Dia datang karena dia tidak punya tempat lain untuk berlabuh. Tapi jangan biarkan dia merasa bahwa ini adalah kemenangan baginya. Pesantren ini bukan milik pribadi siapa pun."

Aku berjalan mendekati Ibu dan menyentuh punggung tangannya. Ada rasa sakit yang menyelinap saat menyadari bahwa Faiz, darah daging Bapak, merasa perlu menjadikan pesantren sebagai komoditas demi menyelamatkan harga dirinya di Banjarmasin.

"Apa yang harus kita lakukan dengan surat-surat Rahmi, Bu?" tanyaku.

Ibu menatapku dalam. "Simpan baik-baik. Surat-surat itu adalah bukti bahwa selama ini ada niat baik yang tertahan di balik kebungkaman. Mungkin nanti, ketika Faiz sampai di sini dan melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang telah ia tinggalkan, surat-surat itu akan menjadi kunci untuk membuka hatinya."

Aku tertegun. Selama ini aku mengira Faiz pergi karena ia tidak lagi peduli, karena ia membenci Bapak yang lebih memilih mengurus pesantren daripada dirinya. Namun, mendengar tentang Rahmi dan surat-surat itu, aku mulai menyadari bahwa Faiz mungkin hanya sedang tersesat di dalam mimpinya sendiri. Ia ingin membuktikan kepada Bapak bahwa ia bisa mandiri, tapi ia justru terjebak dalam ketergantungan yang lebih dalam pada dunia yang tidak ia pahami.

"Aku akan menemui Pak Sukardi besok," kata Pratama tiba-tiba, memecah lamunanku. "Kita perlu memastikan dokumen tanah yang ia pegang tetap dalam posisi yang benar. Jika Faiz membawa akta hibah yang selama ini ia ceritakan, kita tidak bisa hanya diam dan menerima begitu saja tanpa verifikasi hukum yang jelas."

"Jangan libatkan hukum terlalu jauh, Pratama," sela Ibu tajam. "Ini urusan keluarga. Jika kau membawanya ke pengacara, kau hanya akan menambah tembok di antara mereka. Biarkan mereka duduk di sini, di lantai perpustakaan ini, seperti yang selalu dilakukan Bapak dengan siapa pun yang datang mencari jawaban."

Pratama mengangguk takzim. Ia sangat menghormati Ibu, sama seperti ia menghormati Bapak. Baginya, Darul Hikmah adalah tempat di mana adab selalu berada di atas legalitas. Namun, aku tahu di dalam hati Pratama, ada kekhawatiran besar bahwa jika ia tidak bertindak, pihak-pihak luar seperti H. Zainal atau keluarga Wibawa akan memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkan apa yang telah dibangun Bapak selama berpuluh tahun.

Aku melangkah ke arah wastafel, membasuh wajahku yang terasa panas. Air dingin yang menyentuh kulit membuatku sedikit lebih sadar akan realitas yang harus kuhadapi besok. Faiz akan datang. Itu adalah janji sekaligus ancaman bagi stabilitas pesantren.

Saat aku berbalik, Ibu masih berdiri di sana, menatap kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Emily," panggilnya lirih.

"Ya, Bu?"

"Rahmi sebenarnya sudah menulis surat kepadaku setiap lebaran selama sepuluh tahun terakhir, dan di setiap surat itu, ia selalu bertanya apakah Faiz masih boleh pulang ke sini tanpa harus merasa menjadi orang asing."

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.