Wasiat di Balik Gerbang
Bab 6
Aroma kopi pahit dan cengkih yang tertinggal di cangkir porselen H. Zainal terasa menyesakkan. Aku duduk di salah satu kursi kayu jati yang berat di ruang tamu rumahnya yang megah. Selain aku, ada tiga pengurus yayasan lain yang tampak gelisah, sesekali membetulkan letak kopiah mereka. H. Zainal berdiri di depan jendela besar, menatap halaman rumahnya yang luas sebelum berbalik menghadap kami dengan wajah yang seolah menyimpan beban berat dunia.
"Kita semua tahu kondisi Darul Hikmah sedang di ujung tanduk," ucapnya memulai pembicaraan. Suaranya rendah, berat, dan penuh penekanan. "Video viral Ustaz Hilmi itu bukan sekadar kritik. Itu adalah sinyal bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaan. Kalau kita tidak segera mengamankan aset pesantren, termasuk tanah dan platform pendidikan itu, pihak luar akan masuk dan mengambil segalanya."
Aku menggeser posisi duduk, merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraannya. "Maksud Haji, mengamankan seperti apa?"
"Alihkan seluruh sertifikat tanah dan kendali platform ke bawah naungan Yayasan Amanah Darul Hikmah sepenuhnya," jawabnya cepat, seolah ini adalah solusi yang sudah ia matangkan berhari-hari. "Dengan begitu, aset ini punya payung hukum yang kuat. Tidak ada lagi yang bisa mengganggu gugat, termasuk ahli waris yang mungkin tiba-tiba menuntut hak di luar ketentuan pesantren."
Aku tertegun sejenak. Mendengar kata ahli waris disebut dengan nada seperti itu membuat tengkukku meremang. "Haji, tanah itu amanah dari Kiai Mahfud untuk pendidikan dan umat. Platform itu pun dibangun atas dasar kerja sama komunitas. Mengalihkan semuanya secara sepihak ke yayasan, tanpa restu langsung dari Kiai, rasanya tidak tepat."
Salah satu pengurus di sebelahku berdehem, mencoba mencari jalan tengah, namun aku tidak memberinya ruang. "Kiai masih ada. Beliau masih pengasuh kita. Segala kebijakan strategis, terutama yang menyangkut tanah dan masa depan platform, harus melalui persetujuan beliau," lanjutku tegas.
H. Zainal menatapku tajam. Tatapannya tidak lagi ramah seperti saat ia memberikan sumbangan untuk perayaan maulid tahun lalu. "Kiai sedang sakit, Pratama. Kita harus berpikir pragmatis. Jika kita menunggu, justru kita yang akan kehilangan segalanya saat orang-orang Wibawa mulai bergerak dengan somasi mereka."
"Saya tetap tidak bisa setuju jika tanpa restu Kiai," tegasku lagi sambil berdiri. Aku tidak ingin berdebat lebih panjang di sini, di bawah atap rumah yang mulai terasa asing bagiku. Aku memohon diri dengan sopan, menyalami mereka satu per satu, dan melangkah keluar menuju motor yang terparkir di halaman.
Udara sore di Karang Asta terasa lebih berat dari biasanya. Angin timur yang seharusnya membawa kesegaran, justru terasa menusuk kulit, membawa aroma garam yang pekat dan debu jalanan yang beterbangan. Aku menaiki motorku, memutar kunci kontak, dan mendengarkan deru mesin tua yang menyala dengan sedikit batuk. Pikiranku masih tertahan di ruang tamu H. Zainal yang dingin. Usulannya bukan sekadar langkah administratif. Itu adalah bentuk pengambilalihan terselubung yang dibungkus dengan narasi penyelamatan aset. Aku tahu betul bagaimana yayasan bekerja. Sekali tanah berpindah status dalam dokumen, pemilik aslinya akan kehilangan daya tawar. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi pada Darul Hikmah, terutama selama Kiai masih bernapas.
Aku mengendarai motorku pelan melewati jalanan beraspal yang retak. Di sepanjang jalan, aku melihat santri-santri yang pulang dari madrasah dengan wajah-wajah yang lelah namun tenang. Mereka tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh orang-orang dewasa di balik meja kayu jati tadi. Mereka hanya tahu bahwa besok pagi mereka akan kembali ke kelas, mendengarkan taklim, dan melanjutkan hidup seperti biasa. Apakah aku harus memikul beban ini sendirian? Emily, istriku, pasti punya firasat yang sama. Setiap kali kami berbicara tentang tanah, ada gurat kecemasan di matanya yang coba ia sembunyikan di balik senyum yang tetap terjaga.
Sesampainya di persimpangan yang memisahkan area desa dengan gerbang pesantren, aku memperlambat laju motorku. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. H. Zainal bukan orang yang mudah menyerah. Jika dia berani mengumpulkan pengurus yayasan dan melontarkan ide nekat itu di depan banyak orang, berarti dia sudah memiliki pegangan. Mungkin utang-utang kapalnya yang dipegang oleh pihak Wibawa benar-benar membuatnya terdesak. Jika dia kalah di satu sisi, dia akan mencari kemenangan di sisi lain. Dan di mata orang seperti Zainal, pesantren adalah aset yang bisa dikonversi menjadi rupiah kapan saja diperlukan.
Aku meminggirkan motor di bawah naungan pohon kersen yang rindang. Aku perlu menenangkan diri sebelum pulang. Menghadapi Emily dengan kemarahan atau kegelisahan hanya akan menambah beban yang sudah dia pikul sebagai anak Kiai. Ibu mertuaku, Nyai Maryam, juga masih berada di sana, di kediaman utama, menjaga Kiai dengan ketelatenan yang tak pernah surut. Aku menarik napas panjang, mencoba membuang rasa sesak di dada. Aku ingat pesan Pak Haris, ayahku, tentang kejujuran dalam bekerja. Dia selalu bilang bahwa tanah yang dikelola dengan niat salah tidak akan pernah memberi berkah, meski di atasnya berdiri bangunan megah.
Aku menyalakan kembali mesin motor dan hendak melaju, namun pandanganku teralihkan ke arah jalan yang baru saja kulewati. Dari kejauhan, aku melihat sebuah sedan hitam metalik dengan pelat nomor Surabaya meluncur pelan keluar dari halaman rumah H. Zainal. Mobil itu tampak mencolok di antara kendaraan-kendaraan lokal yang biasanya berlalu-lalang. Aku terdiam sejenak, mematikan mesin kembali. Jarak rumah Zainal ke sini cukup jauh, namun posisi mobil itu sangat jelas terlihat di bawah sinar matahari yang mulai meredup.
Siapa yang menemui Zainal setelah aku pergi? Apakah itu Bramantyo Wibawa? Jika benar dia, maka apa yang mereka bicarakan setelah aku menolak usulan pengalihan aset? Pertanyaan itu berputar di kepalaku, lebih cepat dari detak jantung yang tiba-tiba berpacu. Aku harus tahu apa yang terjadi. Aku memutar balik motorku, tidak menuju ke arah pesantren, melainkan memutar arah ke jalan tikus yang bisa memotong jalur utama menuju kediaman Zainal. Jika mereka benar-benar bersekongkol, maka perang ini tidak lagi terjadi di ruang rapat, tetapi sudah masuk ke dalam rumah kami sendiri.
Aku mengendap lewat jalan setapak yang biasa digunakan oleh warga desa untuk menuju kebun. Aku memarkirkan motor di balik semak-semak, lalu berjalan kaki mendekati area yang bisa memantau halaman depan rumah Zainal. Dari balik pohon kelapa, aku melihat pria bersetelan rapi keluar dari mobil sedan tersebut. Dia tidak sendiri. Ada seorang pria lain yang tampak lebih muda, mungkin asistennya, membawakan tas kerja besar. Wajah pria itu sangat familiar dari foto-foto yang pernah kulihat di dokumen somasi yang dikirimkan ke pesantren beberapa hari lalu. Itu Bramantyo Wibawa.
Mereka bersalaman dengan H. Zainal. Tidak ada ketegangan di wajah mereka, justru tampak seperti rekan bisnis yang baru saja mencapai kata sepakat. Zainal mengangguk mantap, sementara Bramantyo memberikan sebuah amplop tebal yang segera dimasukkan ke dalam saku jasnya. Aku menahan napas, berusaha agar tidak bersuara. Pemandangan itu lebih buruk dari yang kubayangkan. Zainal tidak hanya ingin mengalihkan aset ke yayasan, dia sedang menjual akses kepada musuh utama kami. Jika tanah itu sudah berada di bawah kendali yayasan yang sudah disusupi oleh kepentingan Wibawa, maka secara hukum, pesantren tidak punya pijakan lagi.
Aku mundur perlahan, menjaga jarak agar tidak tertangkap basah. Kakiku terasa berat saat melangkah kembali ke tempat motor diparkir. Segala rencana yang kupikirkan di jalan tadi terasa sia-sia. Bagaimana aku bisa membela pesantren jika pengurus yayasannya sendiri sudah memilih untuk berkhianat? Aku harus segera bicara dengan Emily. Kami harus menemukan cara agar Kiai tahu tentang ini, meskipun itu berarti kami harus mengganggu masa istirahatnya yang berharga. Kiai harus tahu bahwa pagar di sekitar rumahnya sedang dijebol dari dalam.
Aku menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga gelap. Hari esok akan menjadi hari yang panjang. Faiz akan datang, Hilmi masih berkeliaran dengan kameranya, dan sekarang Bramantyo sudah menancapkan kakinya di rumah orang yang seharusnya melindungi kami. Aku teringat wasiat yang masih menggantung di udara, wasiat yang belum sempat Kiai sampaikan secara utuh kepada kami. Apakah wasiat itu adalah jawaban atas semua kekacauan ini? Aku harus pulang. Aku harus menguatkan Emily. Kami tidak boleh kalah sebelum benar-benar berjuang. Aku menjalankan motorku, membelah senja dengan tekad yang baru saja ditempa oleh kecurigaan yang kini telah berubah menjadi kepastian yang pahit.



