Wasiat di Balik Gerbang
Bab 7
Aroma kayu tua dan debu buku yang menempel di perpustakaan pesantren selalu terasa seperti napas kedua bagi Abah. Sore ini, ruangan itu terasa lebih sesak. Aku berdiri di dekat jendela, mematikan deru suara angin laut yang menabrak dinding kapur. Di meja kayu jati yang permukaannya sudah halus dimakan usia, Abah duduk dengan punggung sedikit membungkuk. Di depannya, dua saksi dari warga desa dan Ustaz Rasyid duduk bersimpuh, menunggu kalimat yang akan mengubah arah nasib kami.
"Sudah siap semuanya?" suara Abah terdengar serak, namun tetap memiliki otoritas yang tidak bisa didebat.
Aku mengangguk pelan, sementara Pratama di sampingku meletakkan tangannya di bahu, memberiku dukungan tanpa kata. Abah menarik napas panjang, lalu mulai mendiktekan kalimat wasiatnya. Ia berbicara tentang amanah besar pesantren, tentang tanah yang masih terikat sengketa, dan tanggung jawab yang harus diemban oleh mereka yang tulus menjaga.
"Amanah pesantren ini, kupasrahkan kepada yang paling lama duduk di lantai perpustakaan ini," ucap Abah dengan nada datar. Ia menolak menyebut nama. Pandangannya menerawang ke deretan rak buku, seolah sedang menghitung setiap detik yang pernah dihabiskan di sana oleh anak-anaknya dan para santri.
"Kiai, sebaiknya disebutkan saja siapa yang dimaksud agar tidak terjadi perdebatan di masa depan," ujar Ustaz Rasyid dengan nada penuh kekhawatiran. Ia menatapku sekilas, lalu beralih ke Pratama.
Abah menggeleng lemah. "Wasiat ini seperti benih. Ia hanya akan tumbuh bagi mereka yang tahu di mana harus menanamnya. Jangan dipaksa untuk mekar sebelum waktunya."
Aku merasakan jemari Pratama menegang di bahuku. Kalimat itu ambigu, menyisakan ruang bagi siapapun untuk merasa terpilih atau justru merasa tersisih. Faiz, kakakku yang di Banjarmasin, pasti akan menafsirkan kalimat itu sebagai bentuk pengakuan atas haknya sebagai anak laki-laki yang pernah tumbuh di sini. Sementara itu, Ustaz Hilmi yang selama ini merasa paling setia mengabdi, tentu punya cara pandang sendiri.
Setelah para saksi membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai, mereka berpamitan dengan takzim. Satu per satu mencium punggung tangan Abah sebelum keluar dari perpustakaan. Keheningan kembali menyergap, menyisakan aku, Pratama, dan Abah yang kini tampak jauh lebih lelah. Abah tidak langsung beranjak. Ia meraih draf pertama yang tadi sempat ia tulis dengan tangan gemetarnya sendiri, lalu merobek kertas itu menjadi kepingan-kepingan kecil tanpa ragu. Mataku terbelalak saat melihat secarik kertas yang terlepas dari robekan itu. Di sana, tertulis sebuah nama dengan tinta hitam yang tegas. Nama itu bukan namaku, bukan pula nama Pratama atau Hilmi. Nama itu terasa asing, namun ada ganjalan yang tiba-tiba menyesakkan dadaku karena menyadari bahwa wasiat yang baru saja disahkan di depan saksi hanyalah sebuah pengalihan.
Jantungku berdenyut lebih kencang saat aku memungut kepingan kertas itu dari lantai kayu yang berdebu. Jemariku gemetar. Nama itu tertulis jelas, bukan nama anggota keluarga, bukan pula nama ustaz-ustaz yang selama ini mengabdi di Darul Hikmah. Nama itu adalah Damar Satrio. Aku mendongak, menatap Abah yang kini memejamkan mata, napasnya terdengar berat seperti ada beban besar yang baru saja ia lepaskan ke udara.
"Abah, apa artinya ini?" bisikku. Suaraku nyaris hilang ditelan keheningan ruangan. Pratama mengambil kertas itu dari tanganku. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah pucat pasi. Ia menatap deretan robekan kertas di lantai, lalu beralih menatap Abah yang masih bergeming.
"Emily, simpan itu. Jangan tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada Faiz sekalipun," jawab Abah dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia membuka matanya sedikit, menatap langit-langit perpustakaan yang lapuk. "Wasiat yang tadi disaksikan oleh Ustaz Rasyid adalah jalan bagi kalian untuk tetap bertahan. Namun, kertas yang kau pegang itu adalah alasan mengapa tanah ini bisa tetap ada sampai hari ini."
Pratama menarik napas dalam, mencoba menguasai diri. "Abah, Damar adalah orang yang menyomasi tanah pesantren ini. Mengapa namanya ada di dalam draf wasiat Abah? Apa hubungan kakeknya dengan Abah di masa lalu?"
Abah tidak langsung menjawab. Ia justru meminta bantuan Pratama untuk memapahnya menuju kursi goyang di pojok ruangan. Aku segera mendekat, membantu menggeser kursi agar Abah bisa duduk dengan lebih nyaman. Aroma minyak kayu putih yang selalu melekat pada pakaian Abah kini terasa lebih menyengat, bercampur dengan bau apek buku-buku lama yang tersusun rapi di rak.
"Dunia ini lebih rumit daripada sekadar sengketa waris, Pratama," ujar Abah sambil menatap jendela yang terbuka. Dari sana, tampak bayangan gerbang pesantren yang sudah retak di beberapa bagian. "Tanah ini tidak pernah benar-benar menjadi milik kita dalam catatan negara. Ia adalah titipan yang dibeli dengan harga yang tidak bisa diukur dengan uang. Nama itu di sana sebagai pengingat bahwa ada utang budi yang belum sempat kutuntaskan sebelum mereka mencoba mengambil kembali apa yang sebenarnya sudah tidak mereka miliki."
Aku merasa pening. Semua teka-teki ini mulai saling mengunci. Konflik yang selama ini kami hadapi, mulai dari somasi Bram hingga keinginan Faiz untuk menjual tanah, seolah hanyalah permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Aku menatap Pratama, mencari jawaban di matanya, namun ia pun tampak sama bingungnya dengan diriku.
"Jika wasiat ini adalah kamuflase, maka apa yang sebenarnya harus kami lakukan jika Faiz datang membawa akta hibah yang ia miliki?" tanyaku penuh harap.
Abah tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa menyakitkan untuk dilihat. "Faiz punya kertas, tapi dia tidak punya sejarah. Kalian punya sejarah, tapi kalian kekurangan keberanian untuk mengakuinya. Ingatlah, wasiat itu bukan tentang siapa yang berhak atas tanah, tapi tentang siapa yang mampu menjaga martabat pesantren saat tanahnya hilang sekalipun."
Aku terdiam. Kalimat itu seperti tamparan halus. Selama ini kami sibuk mempertahankan aset, sementara Abah justru lebih memikirkan keberlangsungan nilai yang kami bawa. Aku teringat pada Faiz. Kakakku itu sudah dalam perjalanan. Ia datang dengan membawa beban utang dan harapan untuk diakui sebagai laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Apakah ia akan sanggup menanggung beban yang lebih berat dari sekadar utang finansial jika ia tahu rahasia di balik wasiat ini?
"Ibu sudah tahu soal ini?" tanyaku lagi.
Abah menggeleng pelan. "Ibumu hanya tahu bahwa aku ingin memastikan kalian aman. Jangan buat dia terbebani dengan masa lalu yang sudah kututup rapat-rapat."
Kami menghabiskan sisa sore itu dalam diam. Aku tidak berani bertanya lebih jauh, sementara Pratama sibuk merapikan kembali buku-buku di meja, seolah berusaha mengembalikan keteraturan di tengah kekacauan pikiran kami. Saat azan maghrib berkumandang dari masjid pesantren, suara itu terdengar seperti pengingat bahwa di balik segala sengketa duniawi, ada hal yang jauh lebih kekal.
Pratama membantuku mengumpulkan kepingan kertas itu. Ia menyatukannya dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya. "Kita akan bicarakan ini nanti, setelah Faiz sampai," bisiknya padaku.
Aku mengangguk, namun pikiranku masih tertuju pada nama yang tertulis di kertas itu. Damar Satrio. Nama seorang pria yang kini berada di balik jeruji besi, namun pengaruhnya terasa begitu nyata di sini, di ruang perpustakaan tempat Abah menghabiskan separuh hidupnya.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, aku sempat menoleh ke arah meja tempat Abah mendiktekan wasiat tadi. Di sana, di atas tumpukan kertas yang sudah ditandatangani, aku melihat secarik kertas kecil yang tertinggal. Aku mendekatinya, dan saat aku membacanya, jantungku seolah berhenti. Itu adalah draf pertama yang tadi dikira Abah sudah habis dirobek, namun ternyata masih ada satu potongan besar yang memuat kalimat utuh tentang siapa yang sebenarnya diharapkan Abah untuk meneruskan pesantren. Nama itu muncul di sana, tertulis dengan tinta yang belum benar-benar kering, dan itu bukan nama siapa pun yang hadir di ruangan ini.



