Wasiat di Balik Gerbang
Bab 8
Pelabuhan Karang Asta pagi ini tidak seramai biasanya. Angin laut berhembus membawa bau amis ikan dan garam yang menyengat, menyapu wajahku saat aku berdiri di dekat tiang tambat. Kapal feri dari daratan utama baru saja bersandar, menurunkan belasan penumpang yang bergegas menuju pasar. Di antara kerumunan orang yang membawa barang belanjaan, seorang pria dengan kemeja katun rapi dan kacamata berbingkai tipis tampak mencolok. Ia tidak membawa tas besar, hanya sebuah map kulit cokelat yang terselip rapat di bawah lengannya. Langkahnya tenang, penuh perhitungan, seolah ia sudah menghitung berapa detik yang ia butuhkan untuk sampai ke hadapanku.
"Pratama, senang bertemu dengan Anda di sini," ujarnya sambil mengulurkan tangan. Senyumnya tipis, lebih mirip sebuah kontrak kerja daripada sapaan ramah. Aku menjabat tangannya. Kulit telapak tangannya terasa kering dan dingin.
"Bramantyo Wibawa," jawabku singkat. Aku tidak perlu bertanya dari mana ia tahu aku berada di sini. Zainal pasti sudah memberikan laporan detail mengenai pergerakanku.
"Mari, ada warung kopi di ujung sana yang cukup tenang untuk kita bicara," ajaknya sembari memberi isyarat ke kedai kayu yang atapnya mulai berlumut. Ia berjalan mendahuluiku, punggungnya tegak. Aku mengikutinya dengan perasaan yang tidak nyaman. Setiap langkah di atas papan kayu dermaga ini terasa seperti menyusuri garis batas yang sangat tipis antara keamanan dan kehancuran pesantren.
Di dalam warung, aroma kopi tubruk yang kuat segera memenuhi indra penciuman. Bram meletakkan mapnya di atas meja kayu yang baret-baret, lalu memesan dua kopi hitam kepada pemilik warung yang tampak mengantuk. Ia membuka map itu dengan perlahan, memamerkan lembaran fotokopi sertifikat lama yang kertasnya sudah menguning.
"Ini salinan sah dari dokumen kakek saya. Saya rasa Anda sudah cukup memahami apa implikasi hukumnya bagi tanah asrama putri yang sedang Anda kelola itu," katanya seraya menunjuk satu titik di dokumen tersebut. Ia tidak langsung menuntut pengosongan. "Keluarga saya tidak ingin menjadi pihak yang dianggap tidak punya hati. Kami siap melepaskan klaim ini sepenuhnya kepada Darul Hikmah. Kami menawarkan harga yang cukup masuk akal untuk ukuran tanah di lokasi strategis seperti ini. Dua miliar, Pratama. Itu angka yang sangat fair untuk sebuah perdamaian permanen."
Aku menatap kertas itu, lalu beralih menatap matanya. Tidak ada ketulusan di sana, hanya urusan angka dan kepentingan yang dibungkus dengan kesopanan yang rapi. Aku tahu dia sedang memancing reaksi, melihat seberapa jauh aku akan terdesak oleh nominal yang sebenarnya mustahil dipenuhi pesantren dalam waktu dekat.
Aku menyesap kopi hitamku. Rasanya pahit, tertinggal lama di lidah, namun lebih menenangkan daripada kata-kata yang baru saja diucapkan Bram. Aku menatap cairan hitam itu, mencoba mencari celah dalam tawarannya. Dua miliar adalah jumlah yang tidak masuk akal untuk pesantren yang baru saja kehilangan sosok pengasuh dan kini didera isu perpecahan. Bram sedang tidak menawarkan perdamaian, ia sedang menawarkan cara tercepat untuk menghancurkan kami dari dalam. Jika kami setuju, kami mengaku bahwa tanah itu milik mereka. Jika kami menolak, kami akan diseret ke pengadilan dengan bukti-bukti yang sengaja ia susun sedemikian rupa.
"Dua miliar adalah angka yang sangat besar untuk sebuah klaim yang selama puluhan tahun tidak pernah dipertanyakan," kataku tenang. Aku meletakkan cangkir kopi ke atas meja yang sudah mulai bergetar karena suara mesin kapal feri di luar sana. "Mengapa baru sekarang? Mengapa saat Abah sedang sakit keras dan yayasan sedang mencari jalan untuk mengalihkan aset?"
Bram tersenyum tipis. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatapku dengan tatapan yang terasa seperti pisau bedah. "Waktu adalah bagian dari strategi, Pratama. Namun, mari kita bicara jujur. Keluarga saya ingin mengakhiri beban sejarah ini. Kakek saya tidak pernah bermaksud membiarkan tanah ini terkatung-katung. Kami ingin aset ini kembali ke nilai ekonominya, atau setidaknya, kami ingin memastikan ada pihak yang mampu mengelolanya secara sah secara hukum. Jika pesantren tidak mampu membayar, saya yakin ada pihak lain yang sangat menginginkannya. Mungkin kawan Anda, H. Zainal, memiliki minat yang berbeda."
Aku terdiam. Nama Zainal yang keluar dari mulutnya mengonfirmasi apa yang kulihat kemarin sore. Mereka berdua memang sedang bermain di atas papan yang sama. Aku memikirkan Emily. Jika dia tahu bahwa tanah asrama putri, tempat dia dibesarkan, sedang ditawar-tawarkan seperti barang dagangan di pasar oleh orang-orang yang mengaku memiliki hak, dia pasti akan hancur. Aku harus menahan informasi ini. Aku tidak boleh membiarkan ketakutan meracuni rumah kami sebelum waktunya.
"Kami tidak memiliki uang sebanyak itu, Bram," ucapku tegas. "Dan pesantren bukanlah entitas komersial yang bisa membeli tanah dengan harga pasar. Ini tanah wakaf. Ini tempat ibadah."
Bram menghela napas panjang, pura-pura kecewa. Ia menutup map kulitnya dengan gerakan pelan yang sistematis. "Sayang sekali. Saya datang ke sini dengan niat baik untuk membantu, namun sepertinya Anda lebih memilih untuk mempertahankan posisi yang tidak aman. Hukum tidak mengenal istilah wakaf jika tidak tercatat dalam sertifikat resmi. Anda tahu itu, Pratama. Anda pria terpelajar. Mengapa Anda membiarkan diri Anda terseret dalam masalah yang seharusnya bisa selesai dengan tanda tangan sederhana?"
Aku tidak menjawab. Aku berdiri dari kursi kayu yang reyot itu. Suara kursi yang bergeser di lantai kayu terdengar nyaring, memecah suasana warung yang kembali sepi. Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Setiap detik bersamanya terasa seperti sedang ditarik ke dalam pusaran yang tidak bisa aku menangkan lewat perdebatan logis. Bram tetap duduk, tenang, seolah dia adalah pemilik tempat ini.
"Saya harus kembali ke pesantren. Masih banyak yang harus saya kerjakan," kataku sembari melangkah pergi.
Bram tidak berusaha mencegahku. Ia hanya mengangguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk sampul map kulitnya dengan irama yang konstan. Aku berjalan keluar menuju motor yang kuparkir di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning. Angin laut bertiup lebih kencang, membawa debu pasir yang membuat mataku terasa perih. Aku tidak menoleh ke belakang, meski aku tahu dia sedang mengawasiku. Aku merasa punggungku seperti menjadi sasaran tembak.
Namun, tepat sebelum aku menyalakan kunci kontak motor, suara langkah kaki terdengar di belakangku. Aku berhenti dan berbalik. Bram berdiri beberapa meter dariku, menatap laut yang berwarna biru pekat di kejauhan.
"Pratama," panggilnya dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya. Nadanya tidak lagi terdengar seperti pengacara, melainkan seperti seseorang yang sedang membicarakan rahasia keluarga.
Aku menatapnya dengan waspada. "Ada lagi yang ingin Anda sampaikan?"
Ia membalikkan badan, menatapku lurus. Kali ini, tidak ada senyum tipis atau kesan formalitas yang kaku. Wajahnya tampak serius, hampir seperti seseorang yang sedang menagih utang yang sangat pribadi. "Ayah Anda, Pak Haris, dulu pernah menjadi orang kepercayaan di sini, bukan? Saya dengar beliau meninggalkan pulau ini dengan cara yang tidak menyenangkan."
Aku merasakan darahku berdesir tidak nyaman. Nama ayahku adalah tabu yang tidak pernah kubicarakan dengan siapa pun di pulau ini, terutama dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan masa lalu pesantren yang kelam.
"Itu masa lalu yang sudah lama selesai," jawabku dingin.
Bram melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang tadi kami jaga. "Mungkin selesai bagi Anda, tapi tidak bagi sejarah tanah ini. Ada banyak dokumen yang hilang, banyak catatan yang tidak pernah sampai ke tangan yang seharusnya. Saya hanya penasaran, apakah ayah Anda masih menyimpan buku kas koperasi yang dulu sempat dicari banyak orang?"
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada somasi yang dia layangkan kemarin. Buku kas koperasi. Itu adalah bukti utama yang bisa membersihkan nama ayahku dari tuduhan pencurian, sekaligus bukti yang bisa mengungkap siapa sebenarnya yang bermain di balik layar saat tanah pesantren ini mulai bermasalah dua puluh tujuh tahun lalu. Aku menelan ludah, berusaha menjaga wajahku tetap datar meskipun di dalam kepala, semua kepingan puzzle mulai terhubung dengan cara yang menakutkan. Bram tidak hanya mengejar tanah, dia sedang mengejar sejarah yang ayahku sembunyikan selama ini. Aku memutar kunci motorku, merasakan mesin bergetar di bawah tanganku. Aku tidak memberikan jawaban, namun tatapan mataku yang menegang menjadi pengakuan yang cukup baginya untuk tersenyum penuh kemenangan.



