Wasiat di Balik Gerbang
Bab 9
Lampu minyak di sudut kamar meredup, menyisakan aroma kayu manis dan obat herbal yang pekat di udara. Aku duduk di atas tikar pandan, menyandarkan punggung pada tiang kayu jati yang dingin. Raka tertidur pulas di kaki ranjang, napasnya teratur dan tenang, kontras dengan deru napas Abah yang terdengar memberat setiap kali udara malam menusuk masuk lewat celah ventilasi. Di tanganku, tasbih kayu butut milik Abah berputar pelan. Aku melafalkan ayat-ayat pendek dengan suara yang sebisa mungkin kuatur agar tidak bergetar. Setiap kali aku berhenti, keheningan di kamar ini terasa mencekik, seolah dinding-dinding rumah tua ini sedang menahan sesak yang sama dengan paru-paru Abah.
"Emily," suara Abah memecah sunyi. Sangat pelan, hampir berupa bisikan yang tertiup angin pantai dari luar jendela.
Aku segera mendekat, meletakkan punggung tanganku di dahi Abah yang terasa hangat. Aku membantu beliau sedikit bangkit, menumpuk bantal di belakang punggungnya agar posisinya lebih nyaman. "Ada apa, Abah? Butuh minum?"
Beliau menggeleng pelan, lalu tangannya yang kurus dan gemetar meraih sebuah amplop cokelat dari balik selimut. Kertasnya terasa tebal, bertekstur kasar, dan segel lilin merah di sana tampak kusam dimakan waktu. Abah menekan amplop itu ke tanganku dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Jangan dibuka sebelum Faiz datang," ucap Abah dengan tatapan yang begitu tajam, seolah ia sedang menitipkan kunci surga. "Dan ingat, jangan biarkan dia pulang sebelum dia membukanya sendiri di depanmu."
Aku menatap amplop itu, lalu menatap wajah Abah yang pucat. Nama Faiz tertera di sana dengan tulisan tangan Abah yang tegas, meski kini tampak sedikit miring di ujung hurufnya. Aku ingin bertanya, ingin meminta penjelasan mengapa harus ada syarat yang terasa begitu berat untuk kakakku sendiri, namun melihat tatapan Abah, aku tahu ini bukan saatnya untuk mendebat.
"Aku mengerti, Abah," jawabku lirih. Aku menyelipkan amplop itu ke bawah tumpukan kain di lemari kecil, tepat di sebelah tempat penyimpanan dokumen penting pesantren.
Abah memejamkan mata, membiarkan tubuhnya kembali rebah. "Dunia ini penuh dengan gerbang, Nak. Kadang kita harus menutup satu agar yang lain bisa terbuka dengan benar. Jangan takut pada apa yang tertulis di dalam kertas itu."
Aku kembali duduk, melanjutkan lantunan ayat. Angin laut bertiup lebih kencang, menggoyangkan dedaunan di luar jendela. Raka menggeliat dalam tidurnya, memeluk guling dengan erat. Di luar sana, di kejauhan, aku membayangkan sebuah kapal sedang membelah ombak, membawa seseorang yang sudah dua puluh tahun pergi, menuju rumah yang ia sebut asing.
Aku terus menjaga Abah sepanjang malam. Sesekali aku bangkit untuk mengganti kain kompres di dahinya atau sekadar membasahi bibirnya yang kering dengan air zam-zam. Setiap detak jarum jam di dinding kayu itu terdengar seperti palu yang menghantam gendang telingaku. Aku teringat pesan Abah tentang amplop itu. Faiz. Nama yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bayang-bayang di rumah ini. Kakakku itu pergi membawa luka, dan sekarang, Abah memintaku menjadi saksi atas rahasia yang mungkin akan menutup atau justru melebarkan luka itu.
Pratama datang sekitar pukul dua dini hari. Ia masuk dengan langkah yang diredam, membawa segelas teh hangat yang ia taruh di meja kecil. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk di lantai kayu, tangannya mengusap punggungku dengan lembut. Kami berbagi keheningan yang penuh dengan ketidakpastian. Di luar, suara ombak yang menghantam karang terdengar lebih riuh daripada biasanya. Angin timur yang membawa hawa dingin menusuk masuk, membuat lampu minyak di atas meja bergetar hebat sebelum akhirnya padam, menyisakan kegelapan yang hanya ditembus oleh cahaya remang dari lampu teras.
"Apakah kau sudah memberitahu Ibu?" bisikku, mataku tak lepas dari dada Abah yang naik turun dengan ritme yang semakin tidak beraturan.
"Ibu sedang di dapur, menyiapkan sedikit bubur kalau-kalau Abah siuman nanti," jawab Pratama pelan. Ia menatapku dengan sorot mata yang teduh namun lelah. "Dia tahu waktunya sudah dekat. Tidak perlu ada yang dikatakan lagi."
Aku mengangguk. Kami berdua tahu bahwa rumah ini sedang bersiap untuk sebuah kehilangan besar. Bukan hanya kehilangan sosok seorang ayah, tapi kehilangan jangkar yang selama ini menjaga Darul Hikmah tetap pada posisinya di tengah guncangan zaman. Aku memikirkan wasiat yang tertulis di draf yang kutemukan kemarin. Nama itu, yang tertulis dengan tinta yang belum kering, terus berputar di kepalaku. Apakah Abah benar-benar ingin aku yang memegang kendali? Aku, seorang anak perempuan yang selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap di pesantren ini?
Raka terbangun karena suara isakan kecilku yang tak sengaja lolos. Ia merangkak mendekat, menempelkan pipinya yang hangat ke lenganku. Bocah itu tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia merasakan ketegangan yang merambat di udara. Ia membelai tangan kakeknya yang terbaring lemah, lalu menoleh padaku dengan mata yang masih mengantuk.
"Yai kenapa, Bu?" tanyanya polos.
Aku tidak sanggup menjawab. Aku hanya mencium kening Raka dan menyuruhnya kembali tidur di samping Pratama. Abah tiba-tiba terbatuk, suaranya parau dan menyakitkan. Aku segera menyangga kepalanya agar ia bisa bernapas lebih lega. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan bercak noda usia. Ia tidak melihat ke arahku, melainkan ke arah jendela yang terbuka lebar, seolah sedang menunggu seseorang yang sangat ia rindukan.
"Faiz," gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi derit pintu yang terbuka sedikit. Aku menahan napas. Apakah Abah bisa merasakan kehadiran Faiz? Atau apakah itu hanya sisa-sisa ingatan sebelum kesadaran itu benar-benar padam?
Aku teringat akan janji yang aku buat. Jangan biarkan dia pulang sebelum dia membukanya. Aku memandang lemari kayu di sudut ruangan tempat amplop itu disembunyikan. Aku merasa seperti penjaga gerbang yang sedang memegang kunci menuju masa lalu yang tidak pernah diinginkan siapa pun untuk diungkit. Jika Faiz membaca isinya, apakah ia akan membenci kami? Ataukah ia justru akan menemukan kedamaian yang selama ini ia cari di tanah perantauan?
Pratama berdiri, ia berjalan ke arah jendela dan menutupnya sedikit untuk menghalau angin malam yang terlalu tajam. Ia kembali ke sisiku, memegang tanganku erat. Kami berdua berdoa, bukan meminta kesembuhan yang mustahil, melainkan meminta kemudahan bagi Abah untuk melepas segala beban hidupnya. Aku membacakan surah-surah yang dulu sering Abah ajarkan saat aku masih kecil. Suaraku menyatu dengan detak jantung yang semakin melambat di ranjang itu.
"Abah, aku ada di sini," bisikku di telinganya. "Semuanya akan baik-baik saja. Amanah ini, aku akan menjaganya sesuai dengan apa yang Abah inginkan."
Abah tidak menjawab, namun sudut matanya sedikit bergetar. Tangannya yang dingin menggenggam jemariku untuk terakhir kalinya. Aku merasakan sisa kekuatan yang dialirkan ke telapak tanganku, sebuah pesan tanpa kata yang hanya bisa dimengerti oleh seorang anak yang telah mengabdi seumur hidupnya. Aku tidak lagi merasa takut. Rasa takut itu telah digantikan oleh sebuah kepasrahan yang mendalam, sebuah penerimaan bahwa setiap gerbang yang dibangun oleh manusia pada akhirnya harus dilewati sendirian.
Di luar, langit mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi abu-abu pucat. Suara jangkrik di pekarangan pesantren perlahan digantikan oleh suara burung-burung pagi yang mulai bersahutan. Saat azan Subuh berkumandang dari masjid pesantren yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah kami, aku merasakan satu tarikan napas panjang yang kemudian terhenti selamanya. Tidak ada lagi guncangan di dadanya.
Tidak ada lagi suara desah napas yang berat. Kamar itu seketika menjadi hening, seolah dunia ikut berhenti untuk menghormati kepergian beliau. Aku memeluk tubuh yang perlahan mendingin itu, air mataku akhirnya tumpah, membasahi kain kafan imajiner yang telah lama disiapkan Abah. Di saat bersamaan, aku tahu bahwa di ujung sana, di atas kapal yang bahkan belum melepas tambatannya di dermaga Banjarmasin, Faiz masih tertidur lelap, tidak menyadari bahwa gerbang yang ingin ia buka telah kehilangan kuncinya selamanya.



