Wasiat di Balik Gerbang
Bab 10
Ribuan orang tampak seperti kawanan semut hitam yang tumpah ke halaman kapur pesantren. Lautan manusia ini tidak bersuara, hanya deru napas dan sesekali isak tertahan yang terdengar di antara desir angin laut yang membawa aroma garam. Aku mengikat kain sarung lebih kencang, lalu mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan. Di pelataran masjid, Hilmi berdiri di depan ribuan jemaah. Suaranya yang lantang, terlatih, dan penuh wibawa memimpin talqin. Meski aku tahu ia memiliki ambisi yang selama ini menyakiti Emily, aku tidak bisa memungkiri bahwa saat ini, hanya dialah yang mampu meredam kekacauan emosi para pelayat.
Aku tidak berada di barisan depan. Aku memilih berada di area parkir dermaga, mengarahkan kapal-kapal kayu agar tidak saling berbenturan saat menurunkan penumpang dari pulau seberang. Setelah itu, aku berlari kecil menuju tangki air, memastikan suplai untuk wudu para tamu tidak habis. Tugas-tugas sepele ini, mengangkat jeriken dan mengatur lalu lintas manusia, adalah caraku menjaga agar pesantren tetap bernapas di tengah duka yang melumpuhkan.
"Pratama, istirahatlah sebentar. Kau terlihat seperti mayat hidup," ujar Ustaz Rasyid saat berpapasan denganku di dekat sumur. Beliau menepuk bahuku pelan. Tangannya terasa hangat, kontras dengan kulitku yang basah oleh keringat.
"Masih banyak yang harus dipastikan, Ustaz. Airnya hampir habis," jawabku singkat. Aku kembali memikul beban berat itu menuju barisan keran di sisi timur.
Saat matahari mulai tergelincir ke arah barat, meninggalkan semburat jingga di atas atap asrama yang kusam, kerumunan mulai mencair. Tanah halaman yang semula padat kini berubah menjadi debu yang beterbangan setiap kali ada kaki melangkah. Aku berdiri di dekat gerbang besi, menatap ke arah pintu masuk utama. Kelelahan mulai menggerogoti kakiku, namun rasa cemas di dada lebih tajam daripada pegal di otot-ototku.
Sebuah mobil tua yang sudah lama tidak kulihat berhenti tepat di depan gerbang. Mesinnya menderu batuk sebelum akhirnya benar-benar mati. Seseorang turun dari kursi kemudi. Sosok itu terlihat lebih tua, rambutnya memutih di bagian pelipis, namun langkahnya masih tegap. Pak Haris.
Ayahku berdiri di sana, menatap gerbang besi yang dulu dibangun Kiai Mahfud dengan tangannya sendiri. Ia tidak langsung menoleh padaku. Ia hanya menatap pilar kiri yang kini tampak retak dimakan usia.
"Dulu, aku yang mengaduk semen untuk pilar kiri ini, Pratama," suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara deburan ombak di kejauhan. Ia menoleh, menatap mataku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada beban sejarah yang ia bawa, sesuatu yang selama puluhan tahun ia pendam rapat-rapat di bengkelnya yang sunyi di Sumberjati. Tanpa aba-aba, ia merentangkan tangan, memelukku dengan erat, bau oli dan minyak kayu putih yang familiar seketika menusuk indra penciumanku.
Pelukan Ayah terasa berat dan kaku, seolah ia sedang menahan beban yang tak sanggup ia taruh di tanah. Aku membalas pelukan itu dengan tenaga yang tersisa. Bahunya terasa lebih ringkih dibanding terakhir kali kami bertemu di bengkel Sumberjati setahun silam. Setelah beberapa saat, ia melepaskan rengkuhannya dan kembali menatap pilar gerbang dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang mencari retakan yang baru saja Raka temukan dalam permainan anak-anaknya.
"Abah, kenapa baru sampai sekarang?" tanyaku pelan, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar.
Ayah tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati pilar kiri itu, menyentuh permukaannya yang kasar dengan telapak tangannya yang kapalan. Ia meraba setiap guratan semen, seakan sedang membaca prasasti yang hanya bisa dipahami oleh orang yang meracik bahannya sendiri dua puluh tujuh tahun yang lalu.
"Dulu di sini, di balik lapisan semen ini, ada catatan kecil yang terselip sebelum kami meratakannya dengan kawat," ucapnya tanpa menoleh padaku. "Kiai Mahfud adalah orang yang sangat teliti, Pratama. Ia tidak pernah membangun sesuatu tanpa meninggalkan tanda bagi mereka yang kelak akan menggantikannya."
Aku tertegun. Jadi, selama ini Ayah tahu apa yang tersimpan di gerbang itu. Bramantyo Wibawa tidak salah, mereka memang mengejar sejarah yang selama ini terkubur dalam adukan semen dan doa.
"Apa maksudnya, Bah?" desakku.
Ayah akhirnya menoleh, matanya redup namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan. "Kiai Mahfud bukan hanya membangun pesantren, dia sedang membangun ruang tunggu. Dan sekarang, waktu tunggunya sudah habis. Kamu dan Emily harus bersiap, karena apa yang ia tanam di bawah pilar ini tidak akan membiarkan tanah ini jatuh ke tangan orang yang salah."
Kami melangkah masuk ke dalam area pesantren yang kini terasa asing. Suasana duka masih menyelimuti tiap sudut, meski para pelayat sudah mulai surut. Di ruang tamu, kulihat Emily duduk di lantai, bersandar pada pilar kayu dengan tatapan kosong. Ia memegang amplop wasiat yang belum sempat dibuka, yang kini menjadi pusat dari segala kecemasan kami. Ketika Emily melihat Ayah, ia bangkit dengan sisa tenaga, menyalami tangan Ayah dengan takzim, lalu menunduk dalam-dalam.
"Kiai sudah tenang, Nak," ujar Ayah lembut sembari mengusap puncak kepala Emily.
Emily mengangguk pelan, air matanya jatuh kembali, namun ia berusaha tegar. "Faiz belum ada kabar, Bah. Teleponnya tidak aktif sejak pagi tadi."
Aku memperhatikan percakapan mereka, merasakan kehadiran Ayah membawa aura yang berbeda. Kedatangannya bukan sekadar untuk melayat sahabat lamanya, melainkan untuk menegaskan posisi kami dalam sengketa yang sudah dimulai sejak ia difitnah mencuri dana koperasi. Aku tahu, Pak Haris tidak pernah kembali ke tempat yang ia tinggalkan jika tidak ada sesuatu yang harus diselesaikan. Malam itu, pesantren terasa lebih sesak oleh rahasia.
Setelah membantu Ayah meletakkan tasnya di kamar tamu, aku kembali ke halaman. Udara malam terasa dingin, membawa aroma laut yang pekat. Aku berjalan menuju gerbang, tempat Ayah tadi berdiri. Aku ingin memastikan apa yang membuatnya begitu yakin bahwa tempat ini adalah kunci dari semua kekacauan ini. Aku meraba pilar kiri tersebut, mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan oleh mataku sebelumnya.
Di sela-sela semen yang agak keropos, jariku merasakan sesuatu yang menonjol. Sebuah potongan logam kecil, mungkin bekas kawat atau paku yang tertinggal saat pembangunan dulu. Aku mencoba mengungkitnya pelan dengan ujung kunci motor. Benda itu bergeser, dan di balik permukaannya, aku melihat segaris kertas yang sudah menguning terselip rapat di sana.
Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sadar bahwa aku baru saja memegang ujung dari tali kusut yang selama ini dicari oleh Bram, Zainal, dan bahkan Hilmi. Jika Ayah yang membangun pilar ini, berarti dia tahu persis siapa saja yang terlibat dalam transaksi tanah selatan dua puluh tujuh tahun lalu. Dan jika surat di tanganku ini benar-benar ada hubungannya dengan wasiat Kiai, maka posisi Faiz sebagai anak laki-laki yang merasa berhak akan segera diuji dengan kebenaran yang jauh lebih pahit dari sekadar surat hibah.
Aku memasukkan kertas itu ke saku celana, bergegas masuk ke dalam rumah sebelum ada yang melihatku. Di dalam, Emily sedang berbincang dengan Ustaz Rasyid tentang rencana pembacaan wasiat besok pagi. Suasana tampak tenang, namun di balik ketenangan itu, aku tahu ada badai yang sedang mengumpulkan kekuatannya.
"Pratama, ke mana saja kamu?" tanya Emily saat aku masuk.
"Hanya memastikan gerbang terkunci," jawabku singkat.
Aku menatap Emily, lalu berpaling ke arah kamar tempat Ayah beristirahat. Aku tahu, besok pagi, saat matahari terbit, kami tidak hanya akan kehilangan Kiai Mahfud secara fisik, tetapi juga akan kehilangan kepolosan kami tentang sejarah keluarga ini. Apa yang tertulis di kertas itu akan menentukan apakah pesantren ini akan tetap menjadi rumah bagi para santri atau sekadar aset yang diperebutkan di meja pengadilan.
Aku duduk di samping Emily, membiarkan keheningan mengisi ruang tamu. Kami berdua tahu bahwa kedatangan Ayah adalah pertanda bahwa masa lalu yang ia kubur di gerbang ini sudah saatnya untuk diungkap kembali. Dan saat aku memejamkan mata, aku bisa mendengar deru ombak yang menghantam karang di luar sana, seolah memperingatkan bahwa apa yang telah dibangun dengan iman tidak akan mudah dihancurkan oleh keserakahan manusia yang haus akan tanah dan kekuasaan.



