Kesultanan Mataram Islam
Kekuasaan Islam pedalaman Jawa yang menata politik agraris pasca-Demak/Pajang.
Ibu kota
Kota Gede, Plered, Kartasura, lalu pecah
Wilayah inti
Jawa tengah–timur
Uraian sejarah
Mataram Islam menggeser gravitasi dari pesisir Demak ke pedalaman Jawa. Sultan Agung menjadi tokoh penting konsolidasi. Tekanan VOC dan dinamika internal berujung fragmentasi politik lewat perjanjian kolonial, namun jejak Islam di pedalaman tetap berlanjut lewat pesantren dan budaya.
Warisan
Konfigurasi politik Jawa (Kesultanan/Yogya–Solo setelah Giyanti), Islam kejawen vs syariat, dan memori pesantren pedalaman.
Sorotan
- •Sultan Agung
- •Integrasi pedalaman
- •Perjanjian Giyanti (1755)
Tokoh penting
Ibrah untuk santri
- ✓Pedalaman dan pesisir punya logika politik berbeda
- ✓Kolonial memecah lewat diplomasi
- ✓Pesantren menjaga Islam meski istana pecah
Bola dunia wilayah (skema)
Seret untuk memutar · gulir untuk zoomGeser mendatar untuk memutar
Peta Wilayah
Wilayah bersifat skematik, bukan batas politik presisi. Sorotan mengikuti wilayah inti yang diringkas untuk dinasti ini.
Ibu kota: Kota Gede, Plered, Kartasura, lalu pecah
Wilayah disorot
Ringkasan data: Jawa tengah–timur.
Sumber sejarah (kronik)
- 1. Kitab Babad Tanah Jawi — naskah Keraton Mataram (abad 17–18 M) , Panembahan Senopati s.d. Amangkurat
- 2. Kitab Babad ing Sangkala — kronik Mataram bertarikh (1738 M)



