— Bagian 1 · Judul Asli : Key to Durus al-Lughat-al-Arabiyyah… —
Disusun dari indeks kitab digital SantriOnline.
Bagian 1
Maktabah Raudhah al-Muhibbin
Judul Asli : Key to Durus al-Lughat-al-Arabiyyah Li Ghairi Natiqina Biha Part III
Penulis : DR. V. Abdur Rahim
Judul Terjemahan : Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah 3
Alih Bahasa : Ummu Abdillah al-Buthoniyah
Editor : Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah
Design Sampul : MRM Graph
Disebarluaskan melalui:
[Logo: RM with Arabic text "رَوْضَةُ الْمُحِبِّيْنَ" (Raudhatul Muhibbin)]
Website: http://www.raudhatulmuhibbin.org
e-Mail: redaksi@raduhatulmuhibbin.org
© Januari, 2009
TIDAK untuk tujuan KOMERSIL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala Puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikut mereka hingga hari kemudian. Amma ba'du.
Alhamdulillah, atas kemudahan dari Allah ﷻ, Maktabah Raudhah al-Muhibbin kembali dapat mempersembahkan kepada pembaca yang budiman terjemahan dari panduan Durusl Lughah al-Arabiyyah 3. Buku Panduan jilid 3 ini hanya memuat setengah bagian dari buku aslinya yang berbahasa Inggris (17 bab pelajaran, yang kami sesuaikan dengan buku utama Durusul Lughah al-Arabiyyah 3), yang memuat 34 bab pelajaran dengan menggabungkan penjelasan Durusul Lughah 3 dan 4. Adapun untuk Panduan Durusul Lughah 4, kami memohon kepada Allah ﷻ agar dimudahkan untuk menterjemahkannya sekaligus menyiapkan Buku utama yang dalam bentuk pdf seperti ketiga buku lainnya yang telah banyak beredar.
Berbeda dengan terjemahan dari dua buku panduan sebelumnya, pada panduan ini kami tidak lagi menterjemahkan kata secara menyeluruh. Misalnya kata جَلَسَ 'dia duduk' tidak lagi kami terjemahkan dengan 'dia (lk) (telah) duduk, karena kami yakin sepenuhnya setelah melewati dua bagian pelajaran sebelumnya, para pembaca sudah maklum bahwa kata kerja (fi'il) tersebut di atas berbentuk lampau (madhi) yang digunakan untuk orang ketiga tunggal laki-laki (dhamir mudzakar mufrad), dan merupakan pola dasar yang digunakan secara umum yang darinya kata-kata bentuk lain diturunkan. Demikian pula halnya, tidak semua kata kami tuliskan harakatnya secara lengkap, khususnya bagi kata-kata yang telah sering kali diulang dari Buku Pertama.
Berbagai kritik maupun saran untuk perbaikan Panduan ini dapat anda layangkan kepada kami ke <ins>redaksi@raudhatulmuhibbin.org</ins>.
Penerbit online:
Maktabah Raudhah al-Muhibbin Taman Baca Pencinta Ilmu
Pelajaran 1 ……………………………………………………. 1
Pelajaran 2 ……………………………………………………. 15
Pelajaran 3 ……………………………………………………. 19
Pelajaran 4 ……………………………………………………. 25
Pelajaran 5 ……………………………………………………. 27
Pelajaran 6 ……………………………………………………. 30
Pelajaran 7 ……………………………………………………. 31
Pelajaran 8 ……………………………………………………. 32
Pelajaran 9 ……………………………………………………. 35
Pelajaran 10 …………………………………………………... 39
Pelajaran 11 …………………………………………………... 42
Pelajaran 12 …………………………………………………... 47
Pelajaran 13 …………………………………………………... 52
Pelajaran 14 …………………………………………………... 56
Pelajaran 15 …………………………………………………... 58
Pelajaran 16 …………………………………………………... 65
Pelajaran 17 …………………………………………………... 70
ISIM MU'RAB الـمُـعـرَب مِن الأسماء
Kita telah melihat pada Buku 1 dan 2 bahwa sebagian besar isim dalam Bahasa Arab adalah mu'rab, yakni menunjukkan fungsinya di dalam kalimat dengan akhirannya (harakat akhir). Harakat akhir tersebut ada tiga, yaitu:
- Dhammah; untuk menunjukkan posisi rafa' الرَّفْع. Isim dengan akhiran rafa disebut marfu' مَرْفُوعٌ .
-
Fathah: untuk menunjukkan posisi nashab (النَّصْب). Isim yang berakhiran ini disebut manshub (مَنْصُوبٌ).
-
Kasrah: untuk menunjukkan posisi jar (الجَرّ). Isim dengan akhiran ini disebut majrur (مَجْرُورٌ).
Berikut contohnya:
| "Guru (itu) masuk" | دَخَلَ الْمُدَرِّسُ | Disini al-mudarris-u adalah مرفوع karena dia adalah pelaku/fa'il (الفاعل) |
|---|---|---|
| "Saya bertanya (kepada) guru (itu)" | سَأَلْتُ الْمُدَرِّسَ | Disini al-mudarris-a adalah منصوب karena dia berfungsi sebagai objek (المفعول به) |
| "Ini mobil milik guru (itu): | هذا سَيَّارَةُ الْمُدَرِّسِ | Disini al-mudarris-i adalah مجرور karena dia berfungsi sebagai mudhaf ilaih (مضاف إليه) |
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
Akhiran ini (dhammah, fathah dan kasrah) disebut عَلَامَـــات الإعْرَاب الأَصْلِيَّة 'tanda-tanda i'rab asli'. Terdapat juga akhiran yang disebut عَلامَات الإعْرَاب الفَرْعِيَّة (tanda-tanda i'rab far'i). Kelompok-kelompok isim berikut memiliki akhiran seperti berikut ini:
a. Jamak muannats salim (جَمْعُ المُؤَنَّثِ السَّـــالِم). Hanya akhiran nashabnya berbeda dalam kelompok ini. Ia berharakat kasrah dan bukan fathah. Contoh:
| "Kepala sekolah(pr) bertanya (kepada) guru-guru (pr)" | سَأَلَتْ المُدِيرَةُ المُدَرِّســـَات |
|---|
Disini, al-mudarrisât-i berharakat kasrah dan bukan fathah karena ia adalah jamak muannats salim. Perhatikan bahwa pada kelompok ini, akhiran nashab adalah sama dengan akhiran jar. Contoh:
| "Saya melihat mobil-mobil (itu)". Disini as-sayyarât-i adalah منصوب karena ia adalah obyek. | رَأَيْتُ السَّيَّـــــارَات |
|---|---|
| "Orang-orang keluar dari mobil-mobil (itu)". Disini as-sayyarât-i adalah مجرور karena ia didahului oleh huruf jar. | خَرَجَ النَّاسُ مِنَ السَّيَّـــــارَات |
b. Al-mamnu' minash sharf / Isim yang tidak boleh ditanwin (الممنوع من الصرف) : Pada kelompok ini, akhiran jar adalah fathah dan bukannya kasrah. Contoh:
| "Buku ini adalah buku Zainab". | هذا كِتَابُ زَيْنَبَ |
|---|
Disini Zainab-a berharakat fathah dan bukan kasrah karena ia termasuk Isim yang tidak boleh ditanwin (الممنوع من الصرف). Perhatikan bahwa pada kelompok ini, akhiran jar sama dengan akhiran nashab. Contoh:
| 'Saya bertanya (kepada) Zainab'. Disini Zainab-a adalah manshub (منصوب) karena dia merupakan obyek (المفعول به) | سَأَلْتُ زَيْنَبَ |
|---|---|
| 'Saya pergi (menemui) Zainab". Disini Zainab-a adalah مجرور karena ia didahului oleh huruf jar. | ذَهَبْتُ إلى زَيْنَبَ |
c. Isim yang lima (الأَسْمَاءُ الخَمْسَةُ): Yaitu أَبٌ، أَخٌ، حَمٌ<sup>1</sup>، فَمٌ، ذُو. Isim ini mengambil tanda-tanda i'rab far'i hanya apabila mereka berkedudukan sebagai مُضَافٌ dan مُضَافٌ إِلَيْهِ nya bukan dhamir mufrad mutakallim (kata ganti orang pertama tunggal). Dalam kelompok ini, akhiran rafa adalah waw, akhiran nashab adalah alif dan akhiran jar adalah ya.
| 'Apa yang ayah Bilal katakan?' Perhatikan bahwa أَبُو dengan waw, bukan أَبُ (abu) | مَاذَا قَالَ أَبُـو بِـلاَلٍ |
|---|---|
| 'Saya mengenal ayah Bilal'. Perhatikan bahwa أَبَا dengan alif, bukan أَبَ (aba) | أَعْرِفُ أَبَـا بِـلاَلٍ |
| 'Saya pergi (menemui) ayah Bilal'. Perhatikan bahwa أَبِي dengan ya, bukan أَبِ (abi) | ذَهَبْتُ إِلَى أَبِي بِـلاَلٍ |
مُضَافٌ إِلَيْهِ dapat berupa dhamir. Contoh:
| 'Dimana saudaramu (lk) pergi?' (akhu-ka) | أَيْنَ ذَهَبَ أَخُوكَ ؟ |
|---|---|
| 'Saya tidak melihat saudaramu (lk)' (akhâ-ka) | مَا رَأَيْتُ أَخَاكَ |
| 'Siapa nama saudaramu (lk)?' (akhî-ka) | مَا اسْمُ أَخِيكَ |
Jika مُضَافٌ إِلَيْهِ adalah dhamir murfad mutakallim, maka isim yang lima tersebut tidak mengalami perubahan. Contoh:
| 'Saudaraku (lk) belajar di universitas' | يَدْرُسُ أَخِي بِالجَامِعَةِ |
|---|---|
| 'Apakah anda (lk) mengenal saudaraku (lk)?' | أَتَعْرِفُ أَخِي ؟ |
| 'Ambillah alamat dari saudaraku (lk)' | خُذِ العُنْوَانَ مِنْ أَخِي |
Kata فَمٌ (mulut) dapat digunakan dalam dua cara: dengan mim, dan tanpa mim. Ketika digunakan dengan mim, maka ia menggunakan tanda-tanda i'rab asli. Contoh:
| 'Mulutmu bersih' | فَمُكَ نَظِيفٌ |
|---|
<sup>1</sup> حَمٌ berarti keluarga laki-laki dari suami, seperti saudara laki-lakinya atau ayahnya.
| 'Buka mulutmu' | اِفْتَحْ فَمَكَ |
|---|---|
| 'Apa (yang ada) dalam mulutmu?' | مَا ذَا فِي فَمِكَ ؟ |
Jika mim dihilangkan maka berubah seperti isim yang lima (الأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ), contohnya :
| 'Mulutmu kecil' | فُوكَ صَغِيرٌ |
|---|---|
| 'Buka mulutmu' | اِفْتَحْ فَاكَ |
| 'Apa (yang ada) dalam mulutmu?' | مَا ذَا فِي فِيكَ ؟ |
Kelima isim tersebut memiliki tanda-tanda i'rab far'i hanya apabila mereka berkedudukan sebagai مُضَافٌ sebagaimana yang kita lihat. Selain itu mereka memiliki tanda-tanda i'rab asli. Contoh:
| 'Dia adalah seorang saudara laki-laki' | هُوَ أَخٌ | 'Dimana saudara laki-laki (itu)?' | أَيْنَ الْأَخُ ؟ |
|---|---|---|---|
| 'Saya melihat seorang saudara (lk)' | رَأَيْتُ أَخًا | 'Saya bertanya (kpd) saudara laki-laki (itu)' | سَأَلْتُ الْأَخَ |
| "Ini rumah seorang saudara laki-laki | هٰذَا بَيْتُ أَخٍ | Dia seorang saudara laki-laki | هُوَ أَخٌ |
| "Ini mobil saudara laki-laki | هٰذِهِ سَيَّارَةُ الْأَخِ | Saya melihat seorang saudara laki-laki | رَأَيْتُ أَخًا |
d. Jamak mudzakar salim (جَمْعُ الْمُذَكَّرِ سَلِيمٌ) : Kelompok ini memiliki –û(na) (ـُو atau نُو) sebagai akhiran rafa' dan –î (na) (ـِي atau يِن) sebagai akhiran nashab/jar. Contoh:
| 'Para guru (itu) memasuki kelas'.<br/>Di sini al-mudaris- ûna adalah مَرْفُوعٌ . | دَخَلَ الْمُدَرِّسُونَ الْفَصْلَ |
|---|---|
| 'Saya tidak bertanya (kepada) para guru'.<br/>Di sini al-mudarris-îna adalah مَنْصُوبٌ | مَـا سَـأَلْتُ الْمُدَرِّسِـينَ |
| 'Dimana ruang para guru?'<br/>Disini al-mudarris-îna adalah مَجْرُورٌ | أَيْنَ غُرْفَةُ الْمُدَرِّسِـينَ |
Perhatikan bahwa kelompok nashab memiliki akhiran yang sama dengan kelompok jar.
Huruf ن dari -û(na) dan -î(na) dihilangkan jika isim tersebut berupa مُضَافٌ. Contoh:
| 'Dimana para pengajar Al-Qur'an itu?' | أَيْنَ مُدَرِّسُو القُرْآنِ ؟ |
|---|---|
| 'Apakah anda melihat para pengajar Al-Qur'an itu? | أَرَأَيْتَ مُدَرِّسِي القُرْآنِ |
Anda akan belajar lebih banyak mengenai penghilangan nun pada Pelajaran 9.
e. Mutsanna (الْمُثَنَّى) : Mutsanna berharakat –â(ni) (انِ) sebagai akhiran rafa'. dan –
ai(ni) (يْنِ) sebagai akhiran nashab/jar. Contoh:
| 'Apakah kedua guru baru (itu) sudah datang?' (al-mudarris- âni) | أَجَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الْجَدِيدَانِ ؟ |
|---|---|
| 'Apakah anda melihat kedua guru baru (itu)?' (al-mudarris-aini) | أَرَأَيْتَ الْمُدَرِّسَيْنِ الْجَدِيدَيْنِ ؟ |
| 'Saya (sedang) bertanya tentang kedua guru baru (itu)' (al-mudarris-aini) | أَسْأَلُ عَنِ الْمُدَرِّسَيْنِ الْجَدِيدَيْنِ |
Huruf ن pada –â(ni) dan –ai(ni) dihilangkan apabila isim-nya berupa مُضَافٌ. Contoh:
| 'Dimana kedua saudari Bilal belajar' (ukht-â) | أَيْنَ تَدْرُسُ أُخْتَا بِـلاَلٍ ؟ |
|---|---|
| 'Apakah kalian mengenal kedua saudari Bilal? (ukht-ai) | أَتَعْرِفُونَ أُخْتَيْ بِـلاَلٍ ؟ |
| 'Apakah anda (pr) menulis kepada kedua saudari Bilal?' (ukht-ai) | أَكَتَبْتِ إِلَى أُخْتَيْ بِـلاَلٍ ؟ |
Anda akan belajar lebih banyak mengenai penghilangan nun pada Pelajaran 9.
Ada tiga kelompok isim yang harakat akhirnya tidak terlihat karena sebab fonetik (kebiasaan dalam pe-lafadz-an/pengucapan), yaitu:
a. Maqsur (الْمَقْصُورُ) : Ini adalah isim yang memiliki akhiran –â yang panjang ( ى / alif lazimah), seperti الْفَتَى ، الْعَصَا ، الْمُسْتَشْفَى . Ketiga akhiran tersebut tersembunyi dalam isim maqsur, contoh:
| 'Anak muda (itu) membunuh ular berbisa dengan tongkat' | قَتَلَ الْفَتَى الأَفْعَـى بِالْعَصَا |
|---|
Disini الْفَتَى (al-fatâ) adalah sebagai الْفَاعِلُ, tetapi tidak memiliki akhiran –u (dhommah); الأَفْعَى (al-af'â) adalah sebagai مَفْـعُـولٌ بِـهِ tetapi tidak memiliki akhiran –a
(fathah), dan العصا (al-ashâ) didahului oleh huruf jar, oleh sebab itu dia adalah مجرور tetapi tidak memiliki akhiran –i (kasroh). Bandingan kalimat tersebut dengan yang berikut:
| (qatala-l-walad-u-l-hayyat-a bi-l-ûd-i) | قَتَلَ الْوَلَدُ الْحَيَّةَ بِـالْعُودِ |
|---|
Pada isim tersebut di atas, semua harakat akhirnya terlihat.
b. Mudhaf kepada kata ganti orang pertama tunggal (المضاف إلى ياء المتكلّم) seperti زَمِيلِي. Dalam kelompok ini, ketiga jenis akhiran juga tersembunyi. Contoh:
| 'Kakekku mengundang guru-guruku dan teman-teman kelasku.' | دَعَا جَدِّي أُسْتَاذِي مَعَ زُمَلَائِي |
|---|
Disini, جَدِّي (jadd-î) adalah الفاعل , أُسْتَاذِي (ustâdz-î) adalah مَفْعُـول بِـه dan زُمَلَائِي (zumalâ-î) adalah مُضَـاف إلَيْـه . Tetapi tidak satupun dari ketiganya memiliki akhiran. Bandingkan dengan yang berikut:
| 'Kakekmu mengundang gurumu dan teman-teman kelasmu.' | دَعَا جَدُّكَ أُسْتَاذَكَ مَعَ زُمَلَائِكَ |
|---|
Disini, جَدُّكَ memiliki akhiran –u (dhommah), أُسْتَاذَكَ memiliki akhiran –a (fathah), dan زُمَلَائِكَ memiliki akhiran –i(kasroh).
c. Manqus (المَنْقُوص) : Ini adalah isim yang asalnya berakhiran 'ya', contoh: القَاضِي "hakim", المُحَامِي "pengacara', الجَانِي 'terdakwa'. Dalam kelompok ini akhiran – u(dhommah) dan –i(kasroh) tersembunyi, tetapi akhiran –a(fathah) terlihat. Contoh:
| 'Hakim bertanya (kepada) pengacara tentang terdakwa' | سَأَلَ القَاضِي المُحَامِيَ عَنِ الجَانِي |
|---|
Disini القَاضِي (al-qadhiy) berbentuk مَرْفُوع dan الجَانِي (al-jâniy) berbentuk مَجْرُور tidak memiliki akhiran, tetapi المُحَامِيَ (al-muhâmîy-a) berbentuk مَنْصُوب memiliki akhiran –a(fathah).
Jika manqus mengambil tanwin ia akan kehilangan huruf terakhir ya, contoh: قَاضٍ yang asalnya adalah قَاضِيٌ . Setelah akhiran –u(dhommah) dan ya hilang, ia menjadi qâdhi-n (qâdhiy-u-n 🡪 qâdhi-n) Namun demikian 'ya' kembali lagi pada bentuk manshub, contoh:
| 'Ini seorang hakim' | هَذَا قَاضٍ | 'Saya bertanya (kepada) seorang hakim' | سَأَلْتُ قَاضِيًا |
|---|
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
| 'Ini rumah seorang hakim' | هذا بَيْتُ قاضٍ |
|---|
Perhatikan bahwa 'ya' pada manqus dipertahankan hanya pada tiga kasus berikut:
-
Jika ia memiliki tanda ma'rifah –al, contoh: القاضي ، الوادي ، المُحامي
-
Jika ia berupa مُضـــاف , contoh: قاضِيْ مَكَّةَ 'qâdhi Makkah', مُحامِي الدِّفَاعِ
'pengacara pembela', وادِي العَقِيْقِ 'lembah Aqiq (di Madina al-Munawarah).
- Jika berbentuk منصوب , contoh: عَبَرْتُ وَادِيًا 'Saya melewati lembah', سَأَلْتُ قاضِيًا
'Saya bertanya kepada seorang hakim', أُرِيْدُ ثَانِيًا 'Saya menginginkan yang kedua'.
Kita telah melihat bahwa sebagian besar kata benda dalam Bahasa Arab adalah mu'rab. Sebagian adalah kelompok mabni, yakni mereka tidak menunjukkan fungsinya (dalam kalimat) dengan perubahan pada akhirannya.
- Dhamir (الضَّمَائِرُ), seperti: هُوَ ، أَنْتَ، أَنَا . Demikian juga –tu **(تَ)**dan –hu (هُ) dalam رَأَيْتُهُ adalah dhamir. Juga –ka (كَ) dalam كِتَابُكَ dan –ha (هَا) dalam بَيْتُـهَـا adalah dhamir.
Anda mungkin melihat bahwa ada dua jenis dhamir. Satu jenis digunakan sebagai dhamir rafa' dan yang lainnya adalah dhamir nashab dan jar. Contoh:
| 'Kami (adalah) pelajar' | نَحْنُ طُلاَّبٌ |
|---|---|
| 'Apakah anda melihat kami?' | أَرَأَيْتَـنَـا ؟ |
| 'Ini (adalah) rumah kami' | هذا بَيْتُنَا |
Tetapi, perubahan yang dialami oleh dhamir tidak memiliki pola. Maka setiap bentuk dhamir dipandang sebagai kesatuan yang terpisah. Itu sebabnya mengapa dhamir dikelompokkan sebagai mabni meskipun ia mengalami perubahan yang menunjukkan fungsinya di dalam kalimat.
_________________________________________________________________ 7
-
Isim-isim Isyarah (kata penunjuk) (أَسْمَاء الإِشَارَةِ) seperti: هَذَا، هَذِهِ، ذَلِكَ، هَؤُلاَءِ، أُولَئِكَ, tetapi هَذَانِ dan هَاتَانِ adalah mu'rab (مُعْرَبٌ).
-
Isim-isim maushul (kata sambung) (الأَسْمَاءُ الْمَوْصُولَةُ) seperti: الَّذِي، الَّتِي، الَّذِينَ، اللاَّتِي , tetapi اللَّذَانِ dan اللَّتَانِ adalah mu'rab (مُعْرَبٌ).
-
Beberapa kata tanya seperti: مَنْ، أَيْنَ، مَا، مَتَى، كَيْفَ
-
Beberapa kata keterangan (الظُّرُوفُ), seperti: إِذَا، حَيْثُ، أَمْسِ، الآنَ
-
Isim-isim fi'il (أَسْمَاءُ الْفِعْلِ): adalah isim yang memiliki arti kata kerja, seperti أُفٍّ artinya 'Saya kesal', آهٍ artinya 'saya (merasa) sakit', آمِينَ artinya 'terimalah'.
-
Bilangan majemuk Yaitu: أَحَدَ عَشَرَ sampai تِسْعَةَ عَشَرَ berikut bentuk muannats-nya. Hanya bagian pertama dari إِثْنَـــــــاعَشَرَ dan إِثْنَـــــــتَاعَشَرَ yang berbentuk mu'rab (sebagaimana yang dijelaskan dalam Panduan 2).
Berkenaan dengan isim mu'rab, maka kita katakan ia (berbentuk) marfu, manshub atau majrur, tetapi berkenaan dengan mabni kita katakan:
فِي مَحَلِّ رَفْعٍ، فِي مَحَلِّ نَصْبٍ ، فِي مَحَلِّ جَرٍّ
yakni ia berada pada posisi rafa', nashab atau jar, karena mabni tidak dapat disebut marfu, manshub atau majrur, tetapi ia menempati kedudukan marfu, manshub atau majrur. Dan jika mabni digantikan oleh mu'rab, maka ia akan menjadi marfu, manshub atau majrur. Contoh: dalam رَأَيْتُ بِلاَلاً isim بِلاَلاً adalah manshub karena ia adalah مَفْعُولٌ بِهِ, tetapi dalam رَأَيْتُ هَذَا isim هَذَا berada pada posisi nashab (فِي مَحَلِّ نَصْبٍ) karena ia menempati kedudukan yang sama sebagaimana manshub بِلاَلاً.
- Pisahkanlah mu'rab dari mabni.
- Apakah tanda-tanda i'rab asli dari isim?
- Apakah tanda-tanda i'rab far'i dari kelompok berikut ini? a) Asma'ul Khamsah (isim yang lima) b) Jamak mudzakar salim
c) Mutsanna
- Apakah akhiran jar dari الممنوع من الصرف (isim-isim yang tidak bisa ditanwin)?
- Apakah akhiran nashab dari Jamak Muannats Salim?
- Gunakanlah isim maqsur ke dalam tiga kalimat dengan menjadikannya marfu pada kalimat pertama, manshub pada kalimat kedua dan majrur pada kalimat ketiga.
- Gunakanlah isim manqus dengan ya ke dalam tiga kalimat dengan menjadikannya marfu pada kalimat pertama, manshub pada kalimat kedua dan majrur pada kalimat ketiga.
- Gunakanlah isim manqus tanpa ya ke dalam tiga kalimat dengan menjadikannya marfu pada kalimat pertama, manshub pada kalimat kedua dan majrur pada kalimat ketiga.
- Gunakanlah mudhaf terhadap kata ganti orang pertama tunggal (المضاف إلى ياء المتكلم) dalam tiga kalimat dengan menjadikannya marfu pada kalimat pertama, manshub pada kalimat kedua dan majrur pada kalimat ketiga.
- Sebutkan i'rab<sup>2</sup> kata-kata yang digarisbawahi berikut ini.
Isim berbentuk marfu bila ia adalah:
1,2.Mubtada atau Khabar. Contoh: اللهُ أَكْبَرُ 'Allah Maha Besar'.
-
Isim kâna, contoh: كَانَ البَابُ مَفْتُوحًا 'Pintu itu (telah) terbuka.'
-
Khabar inna, contoh: إِنَّ اللهَ غَفُورٌ 'Sesungguhnya Allah Maha Pengampun'
-
Fa'il, contoh: خَلَقَنَـا اللهُ 'Allah menciptakan kita'
-
Na'ibul fa'il<sup>3</sup>, contoh: خُلِقَ الإِنْسَانُ مِنْ طِينٍ 'Manusia diciptakan dari tanah'
Isim berbentuk manshub bila ia adalah:
- Isim inna, contoh: أَنَّ اللهَ غَفُورٌ 'Sesungguhnya Allah Maha Pengampun'
<sup>2</sup> Menyebutkan i'rab dari isim adalah menyebutkan keadaannya atau bentuknya, harakat akhirnya dan sebab-sebab ia berada pada keadaan tersebut. Contoh: سَأَلْتُ المُسْلِمَاتِ Kita katakan: المُسْلِمَاتِ ia berbentuk manshub karena merupakan مَفْعُولٌ بِهِ dan berharakat akhir kasrah karena ia adalah jamak muannats salim.
<sup>3</sup> Na'ibul fa'il adalah subyek dari kata kerja yang berbentuk pasif. Lihat Pelajaran 3.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
Khabar kâna, contoh: كَانَ الطَّعَامُ لَذِيذًا 'Makanan (itu) enak'
-
Maf'ul bihi, contoh: فَهِمْتُ الدَّرْسَ 'Saya telah memahami pelajaran (itu)'
-
Maf'ul fihi<sup>4</sup>, contoh:
'Ayahku telah melakukan perjalanan pada malam hari '
سَافَرَ أَبِي لَيْلًا
'Guru (itu) duduk di (kantor) kepala sekolah'
جَلَسَ الْمُدَرِّسُ عِنْدَ الْمُدِيرِ
-
Maf'ul lahu<sup>5</sup>, contoh: مَاخَرَجْتُ مِنَ الْبَيْتِ خَوْفًا مِنَ الْحَرِّ 'Saya tidak keluar rumah (karena) takut akan panas'.
-
Maf'ul ma'ahu<sup>6</sup>, contoh: 'Saya berjalan menyusuri gunung'
سِرْتُ وَالْجِبَالَ
'Saya pergi ke pasar bersama Khalid'
ذَهَبْتُ وَخَالِدًا إِلَى السُّوقِ
-
Maf'ul mutlaq<sup>7</sup>, contoh: اُذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا 'Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak'
-
Hal, contoh: جَدِّي يُصَلِّي قَاعِدًا 'Kakekku shalat dengan duduk'.
-
Tamyiz, contoh: أَنَا أَحْسَنُ مِنْكَ خَطًّا 'Saya lebih baik dari anda dalam tulisan tangan.'
-
Mustatsna, contoh: حَضَرَ الطُّلَّابُ كُلُّهُمْ إِلَّا حَامِدًا 'Semua pelajar hadir kecuali Hamid'.
-
Munâda, contoh: يَا عَبْدَ اللهِ ! 'Hai Abdullah!'
Isim berbentuk majrur bila ia :
<sup>4</sup> Maf'ul fihi (الْمَفْعُولُ فِيهِ) adalah keterangan waktu atau tempat. Lihat Pelajaran 12.
<sup>5</sup> Ma'ul lahu (الْمَفْعُولُ لَهُ) adalah kata benda yang menjadikan sebab untuk melakukan sesuatu
<sup>6</sup> Maf'ul ma'ahu (الْمَفْعُولُ مَعَهُ) adalah isim atau kata benda yang datang setelah waw yang artinya 'bersama dengan'.
<sup>7</sup> Maf'ul mutlaq (الْمَفْعُولُ الْمُطْلَقُ) adalah مَصْدَرٌ dari kata kerja yang terdapat dalam kalimat. Lihat Pelajaran 28.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
Mudhaf ilaihi, contoh: اَلْقُرْآنُ كِتَابُ اللهِ 'Al-Qur'an adalah kitab Allah.'
-
Didahului oleh huruf jar, contoh: الطُّلَابُ فِي الْفَصْلِ 'Para pelajar itu (berada) di dalam kelas.'
Ada empat jenis dari tata bahasa yang tidak memiliki i'rab yang independen dengan sendirinya, mereka tergantung kepada isim lainnya dalam hal i'rab-nya. Mereka adalah:
a) Na'at (النَّعْتُ), yakni kata sifat. Ia mengikuti man'ut (الْمَنْعُوتُ) dalam i'rab-nya. Man'ut adalah isim atau kata benda yang disifati, contoh:
| 'Apakah siswa yang baru (itu) (telah) hadir?' | أَحَضَرَ الطَّالِبُ الْجَدِيدُ؟ |
|---|---|
| 'Kepala sekolah mencari murid yang baru (itu)' | يَطْلُبُ الْمُدِيرُ الطَّالِبَ الْجَدِيدَ |
| 'Ini adalah buku tulis siswa yang baru (itu) | هٰذَا دَفْتَرُ الطَّالِبِ الْجَدِيدِ |
Pada kalimat di atas, na'at الجديد mengikuti man'ut الطالب dalam i'rab-nya.
b) Taukid (التَّوْكِيـدُ), yakni isim yang menunjukkan penekanan seperti كُلُّهُمْ mereka semua, نَفْسُهُ dia sendiri, contoh:
| 'Para siswa (itu) hadir semuanya' | حَضَرَ الطُّلَابُ كُلُّهُمْ |
|---|---|
| 'Saya bertanya (kepada) semua siswa (itu)' | سَأَلْتُ الطُّلَابَ كُلَّهُمْ |
| 'Saya memberi salam kepada semua siswa (itu)' | سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلَابِ كُلِّهِمْ |
| 'Kepala sekolah (itu) sendiri yang memgatakan ini kepadaku' | قَالَ لِيَ الْمُدِيرُ نَفْسُهُ |
| 'Saya bertanya (kepada) kepala sekolah (itu) sendiri' | سَأَلْتُ الْمُدِيرَ نَفْسَهُ |
| 'Saya memberi salam kepada kepala sekolah (itu) sendiri.'⁸ | سَلَّمْتُ عَلَى الْمُدِيرِ نَفْسِهِ |
Disini taukid (كُلٌّ ، نَفْسٌ) mengikuti muakkad (الطُّلَابُ، الْمُدِيرُ). Muakkad (الْمُؤَكَّدُ) adalah isim yang diberi penekanan.
<sup>8</sup> Lihat Panduan Buku 2, Pelajaran 18 : 3. Disana taukid ditulis ta'kid. Kedua istilah ini digunakan.
c) Ma'tuf (المعطوف), yaitu isim yang dihubungkan dengan isim lainnya dengan kata sambung و "dan", contoh:
| 'Hamid dan temannya (telah) pergi' | ذَهَبَ حَامِدٌ وَصَدِيقُهُ |
|---|---|
| 'Kepala sekolah mencari Hamid dan temannya' | طَلَبَ المُدِيرُ حَامِداً وَصَدِيقَهُ |
| 'Dimanakah buku-buku Hamid dan temannya?' | أَيْنَ كُتُبُ حَامِدٍ وَصَدِيقِهِ |
d) Badal (البدل)<sup>9</sup>, yaitu isim yang saling menggantikan satu sama lain. Contoh:
| 'Apakah saudaramu Hasyim (telah) lulus?' | أَنَجَحَ أَخُوكَ هَاشِمٌ |
|---|---|
| 'Saya mengenal saudaramu Hasyim' | أَعْرِفُ أَخَاكَ هَاشِماً |
| 'Dimana kamar saudaramu Hasyim'? | أَيْنَ غُرْفَةُ أَخِيكَ هَاشِمٍ |
| 'Apakah siswa ini (telah) lulus?' | أَنَجَحَ هذَا الطَّالِبُ ؟ |
| 'Saya mengenal siswa ini' | أَعْرِفُ هذَا الطَّالِبَ |
| 'Dimana kamar siswa ini?' | أَيْنَ غُرْفَةُ هذَا الطَّالِبِ ؟ |
Anda telah mempelajari pada Buku 2 (Pelajaran 10) bahwa kata kerja atau fi'il dalam bahasa Arab memiliki tiga bentuk: madhi, mudhari dan amr. Fi'il madhi dan amr tidak mengalami perubahan. Maka keduanya adalah mabni. Sedangkan mudhari mengalami perubahan untuk menunjukkan fungsinya di dalam kalimat. Maka mudhari adalah mu'rab. Sebagaimana isim, ia memiliki tiga keadaan, yaitu marfu', manshub dan majzum. Anda juga telah mempelajarinya di Buku 2 (Pelajaran 18 dan 21).<sup>10</sup>
Mudhari adalah mabni jika di-isnad-kan pada kata ganti orang kedua dan ketiga jamak feminin. Contoh:
<sup>9</sup> Lihat Pelajaran 21. (Yakni pelajaran 4 pada Buku Panduan 4 yang akan menyusul, insya Allah). <sup>10</sup> Marfu dan manshub adalah keadaan yang biasa dimiliki oleh isim dan fi'il, sedangkan majrur khusus untuk isim dan majzum untuk fi'il.
| 'Saudara-saudara perempuan (itu) sedang menulis'<br/>'Apa yang kalian tulis saudari-saudari?' | الْأَخَوَاتُ يَكْتُبْـنَ<br/>مَاذَا تَكْتُبْـنَ يَا أَخَوَاتُ ؟ |
|---|
Kedua bentuk ini tidak berubah.
Keempat bentuk memiliki akhiran –u(dhommah) pada bentuk marfu, -a(fathah) pada bentuk manshub, dan kehilangan harakat akhirnya pada bentuk majzum.
Marfu: يَكْتُـبُ ، تَكْتُـبُ ، أَكْتُـبُ ، نَكْتُـبُ (yaktub-u, taktub-u, aktub-u, naktub-u)
Manshub: لَنْ يَكْـتُبَ ، لَنْ تَكْـتُبَ ، لَنْ أَكْـتُبَ ، لَنْ نَكْـتُبَ (lan yaktub-a, lan taktub-a, lan aktub-a, lan naktub-a)
Majzum: لَمْ يَكْتُبْ ، لَمْ تَكْتُبْ ، لَمْ أَكْتُبْ ، لَمْ نَكْتُبْ (lam yaktub, lam taktub, lam aktub, lam naktub)
Ini adalah tanda-tanda asli (الْعَلَامَاتُ الْأَصْلِيَةُ). Ada pula tanda-tanda far'i ( الْعَلَامَاتُ الْفَرْعِيَةُ). Ini terdapat pada fi'il atau bentuk fi'il berikut:
a) Dalam fi'il yang lima (الْأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ), keberadaan huruf akhir nun adalah bentuk akhiran marfu, dan penghilangan huruf terkahir nun adalah bentuk akhiran manshub dan majzum. Contoh:
Marfu: يَكْتُبَانِ، تَكْتُبَانِ، يَكْتُبُونَ، تَكْتُبُونَ، تَكْتُبِينَ (yaktubâ-ni, taktubâ-ni, yaktubû-na, taktubû-na, taktubî-na)
Manshub: لَنْ يَكْتُبَا، لَنْ تَكْتُبَا، لَنْ يَكْتُبُوا، لَنْ تَكْتُبُوا، لَنْ تَكْتُبِي (lan yaktubâ, lan taktubâ, lan yaktubû, lan taktubû, lan taktubî)
Majzum: لَمْ يَكْتُبَا، لَمْ تَكْتُبَا، لَمْ يَكْتُبُوا، لَمْ تَكْتُبُوا، لَمْ تَكْتُبِي (lam yaktubâ, lam taktubâ, lam yaktubû, lam taktubû, lam taktubî)
b) Pada fi'il naqis akhiran majzum adalah penghilangan huruf ketiga yang berupa huruf mu'tal (lihat Buku 2 Pelajran 28). Secara Fonetik (pengucapan) menghasilkan dari bunyi vokal panjang menjadi pendek. Contoh:
يَتْـلُـو (yatlû) → لَمْ يَتْـلُ (lam yatlu)
يَبْـكِـي (yabkî) → لَمْ يَبْـكِ (lam yabki)
يَنْـسَـى (yansâ) → لَمْ يَنْـسَ (lam yansa)
a) Pada fi'il naqis akhiran berikut tersembunyi:
- Harakat akhir –u (dhommah) pada bentuk rafa' pada fi'il yang berakhiran ya, waw dan alif. Contoh:
أَمْشِي 'Saya berjalan' (amsyî) أَتْلُـو 'Saya membaca (atlû), أَنْسَـى 'Saya lupa
(ansâ) dari aslinya أَنْسَىُ ، أَتْلُوُ ، أَمْشِيُ
- Harakat akhir –a(fathah) pada bentuk nashab pada fi'il yang berakhiran alif, contoh:
أُرِيدُ أَنْ أَنْسَى 'Saya ingin melupakan' (ansâ). Tetapi (harakat akhir tersebut) muncul
pada fi'il yang berakhiran ya dan waw, contoh: أُرِيدُ أَنْ أَمْشِيَ 'Saya ingin berjalan'
(amsyiy-a), أُرِيدُ أَنْ يَتْلُوَ 'Saya ingin membaca' (atluw-a)
b) Sukun dari jazm dalam fi'il mudha'af (fi'il yang huruf kedua dan ketiganya sama), contoh: لَمْ أَحُجَّ 'Saya belum mengerjakan haji'. Disini أَحُجُّ (ahujj-u) kehilangan
dhammah setelah لَمْ dan menjadi لَمْ أَحُجْ (ahujj). Karena di dalamnya terdapat
pertemuan dua sukun (التِقَاءُ السَّاكِنَيْنِ), fathah ditambahkan sehingga menjadi لَمْ أَحُجَّ (lam ahujj-a). Lihat juga Buku 2, Pelajaran 28.
- Pisahkanlah yang mu'rab dari yang mabni.
- Apakah bentuk akhiran tanda-tanda asli pada fi'il mudhari?
- Apakah bentuk akhiran tanda-tanda far'i pada fi'il yang lima?
- Apakah bentuk akhiran jazm dari fi'il naqis?
- Apakah bentuk akhiran rafa' pada fi'il naqis?
- Apakah bentuk akhiran nashab pada fi'il naqis yang berakhiran alif?
- Apakah bentuk akhiran jazm pada fi'il mudha'af?
[decorative border pattern]
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
- Waw dapat berupa huruf sebagaimana di dalam وَلَدَ, وَلَدٌ dan dapat berupa kata sebagaimana di dalam 'Dimana Bilal dan Hamid?'؟ أَيْنَ بِلَالٌ وَ حَامِدٌ
Kata وَ memiliki banyak arti. Pada pelajaran ini kami menyebutkan tiga diantaranya, yaitu:
a) 'Dan' sebagaimana di dalam:
'Saya ingin sebuah buku dan sebuah pulpen' أُرِيدُ كِتَابًا وَقَلَمًا
'Az-Zubair dan Hamid keluar' خَرَجَ الزُّبَيْرُ وَحَامِدٌ
Kata وَ dalam kalimat ini adalah sebagai kata penghubung ( حَرْفُ الْعَطْفِ ).
b) 'Demi' sebagaimana digunakan dalam sumpah, contoh: 'Demi Allah, saya tidak melihatnya'. وَاللهِ مَارَأَيْتُهُ Kata وَ disini adalah sebagai حَرْفُ الْجَرِّ.
c) Bentuk ketiga dari waw disebut waw al-hal. Ia adalah prefiks (awalan) dari anak kalimat yang berupa jumlah ismiyyah ( الْجُمْلَةُ الْإِسْمِيَّةُ ). Kalimat ini menjelaskan keadaan dimana sebuah pekerjaan pada kalimat utama dilakukan. Contoh:
| 'Saya memasuki masjid ketika imam sedang ruku'. | دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَالْإِمَامُ يَرْكَعُ |
|---|---|
| 'Ayahku meninggal ketika saya masih kecil' | مَاتَ أَبِي وَأَنَا صَغِيرٌ |
| 'Guru (itu) memasuki kelas (dengan) membawa banyak buku' | دَخَلَ الْمُدَرِّسُ الْفَصْلَ وَهُوَ يَحْمِلُ كِتَابًا كَثِيرَةً |
| 'Anak (itu) datang kepadaku sambil menangis' | جَاءَنِي الْوَلَدُ وَهُوَ يَبْكِي |
| 'Jangan makan ketika engkau kenyang' | لَا تَأْكُلْ وَأَنْتَ شَبْعَانُ |
Perhatikan, jika khabar dari jumlah ismiyyah (الْجُمْلَةُ الْإِسْمِيَّةُ) adalah fi'il, maka harus berbentuk mudhari.
- Kita telah melihat pada Buku 2 (Pelajaran 1) bahwa لَعَلَّ menunjukkan harapan atau kekhawatiran. Contoh:
| 'Saya harap dia baik-baik saja' | لَعَلَّهُ بِخَيْرٍ | Pengertian harapan disebut التَّرَجِّي |
|---|
| 'Saya khawatir dia sakit' | لَعَلَّهُ مَرِيضٌ | Pengertian kekhawatiran disebut الإِشْفَاق |
|---|
Contoh lain dari الإِشْفَاق adalah hadits Nabi صلى الله عليه وسلم :
| 'Saya khawatir saya tidak akan melaksanakan haji setelah tahunku ini.' | لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ عَامِي هَذَا |
|---|
- إِلَيْكُمْ أَمْثِلَةٌ أُخْرَى 'Ambillah beberapa contoh lagi'. Disini إِلَيْكُمْ adalah اسم الفعل.
Tersusun dari kata depan إِلَى dan dhamir ـكُم. Namun bentuk ini berarti 'ambillah' dan
أَمْثِلَةٌ adalah منصوب karena berfungsi sebagai مفعول به. Penyiar Radio dan TV berkata
إِلَيْكُمْ نَشْرَةَ الأَخْبَارِ yang secara lafazh berarti 'Ambillah buletin berita'.
Dhamir berubah sesuai dengan orang yang dituju. Contoh:
| 'Ambillah buku ini Ibrahim' | إِلَيْكَ هَذَا الْكِتَابَ يَا إِبْرَاهِيمُ |
|---|---|
| 'Ambillah sendok ini saudariku' | إِلَيْكِ الْمِلْعَقَ يَا أُخْتِي |
| 'Ambillah buku tulis ini saudari-saudari' | إِلَيْكُنَّ هَذِهِ الدَّفَاتِرَ يَا أَخَوَاتٍ |
- Kata أَشْيَاءُ 'sesuatu' adalah الممنوع من الصرف karena bentuk asalnya adalah أَشْيِئَاءُ
dengan pola أَغْنِيَاءُ، أَنْبِيَاءُ، أَصْدِقَاءُ.
- Fi'il Madhi juga digunakan untuk mengekspresikan harapan. Contoh: رَحْمَةُ اللهِ
'Semoga Allah merahmatinya', غَفَرَ اللهُ لَهُ 'Semoga Allah mengampuninya', شَفَاهُ اللهُ
'Semoga Allah menyembuhkannya'.
Fi'il Madhi dalam konteks ini dibuat menjadi bentuk negatif dengan awalan لَا. Contoh:
| 'Semoga Allah tidak menampakkan keburukan kepadamu!' | لَا أَرَاكَ اللهُ مَكْرُوهًا |
|---|---|
| 'Semoga Allah tidak membinasakan mulutmu'¹¹ | لَا فَضَّ اللهُ فَاكَ |
- هَلْ مِنْ سُـؤَالٍ؟ 'Ada pertanyaan?' Susunan lengkap dari kalimat ini adalah seperti
ini: هَلْ مِنْ سُؤَالٍ عِنْدَكَ؟ 'Apakah anda mempunyai pertanyaan?' Disini سُؤَالٍ adalah
<sup>11</sup> Yakni Allah menjaga lisannya. Hal ini dikatakan untuk penghargaan terhadap keindahan
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
mubtada dan عِنْدَكَ adalah khabar, dan مِنْ dalam susunan kalimat ini disebut مِنَ الزَّائِدَةُ (min tambahan), dan digunakan untuk menekankan maksud dari kalimat. Ada dua syarat untuk menggunakan min tambahan, yaitu:
-
Kalimat harus mengandung pengingkaran, larangan atau pertanyaan. Bentuk pertanyaan hanya dengan menggunakan harf هَلْ.
-
Isim yang mengikuti min tambahan harus berbentuk nakirah. Contoh:
Bentuk ingkar:
| "Tidak seorangpun yang absen | مَا غَابَ مِنْ أَحَدٍ | 'Saya tidak melihat seorang pun' | مَا رَأَيْتُ مِنْ أَحَدٍ |
|---|
Bentuk larangan:
| 'Jangan keluar seorang pun | لَا يَخْرُجْ مِنْ أَحَدٍ | 'Jangan menulis apapun' | لَا تَكْتُبْ مِنْ شَيْءٍ |
|---|
Bentuk pertanyaan:
| 'Ada pertanyaan?' | هَلْ مِنْ سُؤَالٍ ؟ | 'Ada yang baru?' | هَلْ مِنْ جَدِيدٍ ؟ |
|---|
Dalam Al-Qur'an (50:30): يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ
"Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam : "Apakah kamu sudah penuh ?" Dia menjawab : " Masih ada tambahan ?"
Perhatikan, isim yang mengikuti min tambahan adalah majrur karena adanya مِنْ dan kehilangan harakat akhir asalnya. Contoh: dalam مَا رَأَيْتُ أَحَدًا kata أَحَدًا adalah manshub karena ia berupa مَفْعُولٌ بِهِ, tetapi setelah penambahan min, ia kehilangan akhiran nashab-nya dan mengambil akhiran jar meskipun fungsinya tetap sebagaimana sebelumnya. Dalam cara yanag sama dalam مَاحَضَرَ أَحَدٌ kata أَحَدٌ adalah marfu karena ia adalah فَاعِلٌ. Setelah penambahan min أَحَدٍ menjadi majrur, meskipun ia tetap berfungsi sebagai فَاعِلٌ dalam kalimat.
- لَدَى (ladâ) adalah zarf ( الظَّرْفُ = keterangan) dan memiliki arti yang sama dengan عِنْدَ. Contoh: 'Apa yang anda punya? مَاذَا لَدَيْكَ ؟. Perhatikan bahwa alif dari لَدَى berubah menjadi yâ ketika مُضَافٌ إِلَيْهِ adalah dhamir : لَدَى الْبَابِ (ladâ), tetapi (berbeda dengan) لَدَيْكَ (ladai-ka).
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
دَخَلْتُ عَلَى الْمُدِيرِ berarti 'Saya masuk (menemui) kepala sekolah di kantornya.'
-
Bentuk jamak dari مَعْنَى (makna/arti) adalah مَعَانٍ dan dengan bentuk ma'rifah . الْمَعَانِي. Disini ada beberapa isim lagi yang bentuk jamak-nya menurut pola ini: جَارِيَةٌ (anak gadis): (الْجَوَارِي) جَوَارٍ; لَيْلَةٌ (malam): لَيَلٍ (اللَّيَالِي) ; نَادٍ (klub) نَوَادٍ (النَّوَادِي). Isim ini adalah mu'rab sebagaimana bentuk manqus (lihat Pelajaran 1), contoh:
Marfu: 'Waw memiliki banyak makna' لِلْوَاوِ مَعَانٍ كَثِيرَةٌ (ma'âni-n)
Manshub: 'Saya tahu banyak makna waw' أَعْرِفُ لِلْوَاوِ مَعَانِيَ كَثِيرَةً (ma'âniy-a)
Majrur: 'Waw digunakan dalam banyak makna' تَأْتِي الْوَاوُ لِمَعَانٍ كَثِيرَةٍ
(ma'âni-n) Berikut beberapa contoh dengan –al.
Marfu: 'Makna-maknanya banyak' الْمَعَانِي كَثِيرَةٌ (al-ma'âni)
Manshub: 'Apakah anda menulis makna-maknanya?' أَكَتَبْتَ الْمَعَانِيَ ؟ (al-ma'âniy-a)
Majrur: 'Saya menanyakan makna-maknanya kepada guru' سَأَلْتُ الْمُدَرِّسَ عَنِ الْمَعَانِي (al-ma'âni)<sup>12</sup>
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Pelajarilah contoh-contoh waw al-hal.
- Berilah satu garis bawah pada waw al-athof (waw yang berarti 'dan') dan dua garis dibawah waw al-hal.
- Sebutkanlah setiap waw dalam kalimat-kalimat berikut.
- Lengkapilah setiap kalimat berikut dengan menggunakan anak kalimat hal (waw + jumlah ismiyyah).
- Buatlah setiap kalimat berikut menjadi anak kalimat hal dan lengkapilah dengan sebuah pokok kalimat.
- Apa yang ditunjukkan oleh لَعَلَّ dalam setiap kalimat berikut?<sup>13</sup>
- Pelajarilah contoh-contoh اسْمُ الْفِعْلِ.
<sup>12</sup> Lihat juga Pelajaran 34. <sup>13</sup> Penomoran pertanyaan dalam panduan ini mengikuti penomoran pada buku Durus Lughah. Nomor yang tidak mengandung pertanyaan tidak disertakan.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
Berikanlah contoh dari pelajaran mengenai penggunaan fi'il madhi untuk mengungkapkan keinginan.
-
Buatlah kalimat dengan pola yang terdapat pada contoh dengan menggunakan هل dan min tambahan (مِنَ الزَّائِدَةُ)
-
Pelajarilah penggunaan لَدَى.
-
Apakah lawan dari kata مَرِيضٌ ?
-
Berikanlah bentuk madhi pada setiap kata kerja berikut.
-
Berikanlah bentuk mufrad dari setiap isim berikut.
-
Berikanlah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
-
Apakah perbedaan antara عَبْدٌ dan عُبَيْدٌ ? Disebut apakah bentuk عُبَيْدٌ tersebut ?
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
- Kalimat Pasif (اَلْفِعْلُ الْمَبْنِيُّ لِلْمَجْهُولِ): Berikut contoh kalimat pasif dalam Bahasa Indonesia: "Tentara itu membunuh mata-mata ----> 'Mata-mata itu dibunuh'. Dalam kalimat pasif, subyek kalimat dihilangkan, dan obyek menempati posisi subyek. Mari kita lihat bagaimana hal ini diungkapkan dalam Bahasa Arab:
Kalimat aktif: (اَلْفِعْلُ الْمَبْنِيُّ لِلْمَعْلُومِ): قَتَلَ الْجُنْدِيُّ الْجَاسُوسَ
Kalimat pasif: (اَلْفِعْلُ الْمَبْـنِـيُّ لِلْمَجْهُولِ): قُـتِـلَ الْجَاسُوسُ
Perhatikan bahwa dalam kalimat pasif, fa'il (الْجُنْدِيُّ) telah dihilangkan, dan maf'ul bihi menempati posisinya, dan menjadi marfu. Sekarang ia disebut نَائِبُ الْفَاعِلِ.
Dalam Bahasa Indonesia, kita dapat mengatakan: 'Mata-mata itu dibunuh' atau 'Mata-mata itu dibunuh oleh tentara'. Bentuk kalimat yang kedua tidak memungkinkan dalam Bahasa Arab. Kata kerja asalnya mengalami perubahan tertentu ketika diubah ke bentuk
pasif. Dalam madhi, huruf pertama berharakat dhammah dan huruf kedua kasrah. Dalam mudhari, huruf mudhara'ah<sup>14</sup> berharakat dhammah, dan huruf kedua fathah. Contoh:
Madhi: 'Dia (lk) telah membunuh' قَتَلَ ; 'Dia telah dibunuh' قُتِلَ (qatala : qutila)<sup>15</sup>.
Jika huruf kedua asalnya adalah kasrah, maka dia tetap kasrah, contoh: 'Dia (lk) telah minum' شَرِبَ : ' telah diminum' شُرِبَ ; 'Dia (lk) telah mendengar' سَمِعَ ; 'ia telah didengar' سُمِعَ .
Mudhari: 'Dia membunuh' يَقْتُلُ ; 'ia dibunuh' يُقْتَلُ
Jika huruf kedua pada asalnya berharakat fathah, maka dia tetap fathah, contoh: 'Dia membuka' يَفْتَحُ , 'ia dibuka' يُفْتَحُ, 'dia membaca' يَقْرَأُ, 'ia dibaca' يُقْرَأُ
Anda telah mengetahui bahwa jika waw adalah huruf pertama, maka ia dihapus (dihilangkan) dalam bentuk mudhari (lihat Panduan 2 Pelajaran 26). Akan tetapi waw tersebut dikembalikan pada bentuk pasifnya. Contoh: 'Dia menemukan' يَجِدُ ; 'ia ditemukan' يُوجَدُ ; 'dia melahirkan (anak)' يَلِدُ ; 'dia dilahirkan' يُولَدُ .
Berikut beberapa contoh dari kalimat pasif.
| 'Manusia diciptakan dari tanah' | خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ طِينٍ |
|---|---|
| 'Pada tahun berapa anda dilahirkan?' | فِي أَيِّ عَامٍ وُلِدْتَ ؟ |
| 'Ribuan orang terbunuh dalam perang' | يُقْتَلُ آلَافٌ مِنَ النَّاسِ فِي الْحُرُوبِ |
| 'Orang beriman tidak akan dipatuk (ular) dari lubang yang sama dua kali' (hadits), yakni tidak mengulang kesalahan yang sama | لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ |
| 'Buku ini tidak ditemukan di toko buku | لَا يُوجَدُ هَذَا الْكِتَابُ فِي الْمَكْتَبَاتِ |
| 'Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan' (QS Al-Ikhlas : 3) | لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ |
<sup>14</sup> Huruf-huruf أَ، تَ، يَ yang mengawali mudhari seperti dalam يَكْتُبُ، تَكْتُبُ، أَكْتُبُ، نَكْتُبُ disebut huruf mudhara'ah. Hal ini telah dikombinasikan untuk membetukan kata أَتَيْنَ (mereka telah datang).
<sup>15</sup> Kata kerja pasif yang digunakan pada contoh ini berbentuk mudzakkar yang tidak kami sertakan dalam penerjemahan setiap katanya (pent.)
Jika نَائِبُ الْفَاعِلِ adalah muannats, maka kata kerjanya juga harus muannats. Contoh:
| 'Apa (yang) ditanyakan (kepada) Aminah?<br/>'Surat al-Fatihah dibaca di setiap raka'at' | عَمَّ سُئِلَتْ آمِنَةُ ؟<br/>تُقْرَأُ سُورَةُ الفَاتِحَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ |
|---|
Jika بِهِ مَفْعُولٌ adalah kata ganti, hal tersebut menunjukkan digunakan bentuk rafa' sebagaimana yang dijelaskan pada Latihan 7 pada Buku Durusul Lughah 3. Contoh:
قَتَلَهُمُ الْمُجْرِمُونَ 'Orang jahat membunuh mereka' → قُـتِـلُـوا 'Mereka dibunuh'
سَأَلَنِي الْمُدِيرُ 'Kepala Sekolah menanyaiku' → سُـئِـلْـتُ 'Aku ditanya'
- وُلِدْتُ عَامَ سَبْعَةٍ وَ سِتِّينَ وَتِسْعِـمَـائَةٍ وَأَلْفٍ لِلْمِـيـلَادِ 'Saya dilahirkan pada tahun 1967 M'. Disini kata عَامَ adalah manshub karena ia adalah بِهِ مَفْعُولٌ, yakni isim yang menunjukkan keterangan waktu. Ia tidak memiliki tanwin karena ia berkedudukan sebagai mudhaf. Berikut beberapa contoh:
| 'Saya akan belajar bahasa Prancis tahun depan'<br/>' Saya berada di Maca pada hari Jum'at<br/>'Kemana anda (akan) pergi malam ini? | سَأَدْرُسُ اللُّغَةَ الْفُرَنْسِيَّةَ الْعَامَ الْقَادِمَ إِنْ شَاءَ اللهُ<br/>كُنْتُ فِي مَكَّةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ<br/>أَيْنَ تَذْهَبُ هَذَا الْمَسَاءَ |
|---|
- Beberapa isim alam tertentu memiliki الْ (al-) seperti اَلْحَسَنُ ، الْحُسَيْنُ ، الزُّبَيْرُ.
Apabila harf يَا digunakan bersamanya, maka الْ dihilangkan. Contoh: يَا حَسَنُ (bukan: يَا الْحَسَنُ)
- هِنْدِيٌّ berarti 'India'. Ini dibentuk dari الْهِنْدُ dengan menambahkan يٌّ (-iyy-un) di akhir. Proses ini disebut nasab (اَلنَّسَبُ), dan isim (yang terjadi) setelah penambahan يٌّ ini disebut mansub (اَلْمَنْسُوبُ).<sup>16</sup>
<sup>16</sup> Jangan dipertukarkan dengan manshub (مَنْصُوب) yakni dengan huruf ص.
![Logo image with Arabic text]
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
Perhatikan bahwa beberapa isim tertentu mempunyai bentuk mansub yang tidak beraturan, contoh: أَخُوهُ (layaknya saudara) dari أَخٌ -- أَبُوهُ (kebapakan) dari أَبٌ -- نَبِـيُّـهُ (kenabian) dari نَبِـيٌّ.
- أُخَرُ (ukhar-u) adalah jamak dari أُخْرَى. Ia adalah الممنوع من الصرف. Jamak dari bentuk mudzakar آخَرُ adalah آخَرُونَ. Berikut beberapa contoh tambahan:
| 'Bilal dan seorang siswa lain tidak hadir hari ini' | غَابَ الْيَوْمَ بِلَالٌ وَ طَالِبٌ آخَرُ |
|---|---|
| 'Bilal dan siswa-siswa lainnya tidak hadir hari ini' | غَابَ الْيَوْمَ بِلَالٌ وَ طُلَّابٌ آخَرُونَ |
| 'Zainab dan seorang siswi lain tidak hadir' | غَابَتْ زَيْنَبُ وَ طَالِبَةٌ أُخْرَى |
| 'Zainab dan siswi-siswi yang lain tidak hadir' | غَابَتْ زَيْنَبُ وَ طَالِبَـــاتٌ أُخَرُ |
Di dalam Al-Qur'an (2:184): وَعَلَى فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
"Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." Karena kata أَيَّامٍ adalah isim ghairu aqil, maka bentuk mufrad أُخْرَى juga dapat digunakan. Contoh: الْفَنَادِقُ غَالِيَةٌ هَذِهِ الْأَيَّامَ ، وَلَكِنَّهَا رَخِيصَةٌ فِي أَيَّامٍ أُخْرَى
"Hotel-hotel mahal pada hari-hari ini, tetapi murah di pada hari-hari lainnya."
-
صَلَّـى 'Dia mengerjakan shalat'. Bentuk mudhari adalah يُصَلِّي dan amr adalah صَلِّ. Ungkapan صَلَّى بِـنَـا berarti 'Dia memimpin kami shalat', yakni dia adalah imam shalat kami. Maka صَلِّ بِـنَـا berarti 'pimpinlah kami dalam shalat sebagai imam'.
-
إِمَّا ... وَإِمَّا berarti 'bisa ... atau' contoh: 'Isim dapat berupa mduzakar atau muannats' الْإِسْمُ إِمَّا مُذَكَّرٌ وَإِمَّا مُؤَنَّثٌ; 'Anda yang mengunjungiku atau saya yang mengunjungimu' إِمَّا تَزُورِنِي وَإِمَّا أَزُورُكَ
-
I'rab untuk ثَلَاثُمِائَةٍ sampai تِسْعُمِائَةٍ lihat Panduan 2 Pelajaran 24 (g).
___________________________________________________________________ 22
- اليَهُود adalah isim jamak jenis (اِسْمُ الجِنْسِ الجَمْعِيُّ). Isim ini terdiri dari dua jenis:
a) Isim yang membuat mufrad-nya dengan tambahan يّ (iyy-un), contoh: عَرَب 'orang-orang Arab': عَرَبِيٌّ 'orang Arab'; تُـرْكٌ 'orang-orang Turki': تُرْكِيٌّ 'orang Turki'; إِنْكِلِيزٌ 'orang-orang Inggris': إِنْكِلِيزِيٌّ 'orang Inggris'. Perhatikan bahwa يّ ini bukan يّ nasab yang baru saja kita pelajari pada poin 4.
b) isim yang membentuk mufradnya dengan tambahan ta' marbuthoh (ة), contoh: تُفَّاحٌ 'apel': تُفَّاحَةٌ 'sebuah apel; شَجَرٌ 'pepohonan': شَجَرَةٌ 'sebatang pohon'; سَمَكٌ 'ikan': سَمَكَةٌ 'seekor ikan'
Untuk mengetahui penggunaan mufrad dan jamak, perhatikan kalimat berikut ini:
Jika dokter bertanya kepadamu buah apa yang anda sukai, anda menjawab: أُحِبُّ المَوْزَ 'Saya suka pisang'. Dan jika dia bertanya kepadamu berapa banyak anda makan (pisang) setelah makan siang? Anda katakan: أَكَلْتُ مَوْزَةً 'Saya makan satu buah pisang'.
Dalam cara yang sama anda katakan: أُحِبُّ العَرَبَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَبِيٌّ 'Saya mencintai bangsa Arab karena Nabi adalah orang Arab'.
Perhatikan bahwa bentuk mutsanna (dual) dibentuk dari bentuk mufrad, contoh: عَرَبِيَّـانِ 'dua (orang) Arab' (bukan عَرَبَانِ); مَوْزَتَانِ 'dua pisang' (bukan مَوْزَانِ).
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
- Berilah garis bawah pada نائب الفاعل pada kalimat berikut ini.
- Gantilah kata kerja berikut dari madhi kepada bentuk pasif.
- Gantilah kata kerja berikut dari mudhari kepada bentuk pasif.
- Bacalah contoh, dan kemudian gantilah kalimat-kalimat berikut ke dalam bentuk kalimat pasif.
- Pelajarilah bangaimana mengubah kalimat menjadi bentuk pasif ketika obyek (مفعول به) adalah dhamir (kata ganti).
- Tunjukkanlah نائب الفاعل pada kalimat berikut.
- Ubahlah kalimat-kalimat berikut ke dalam bentuk pasif.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
Tulislah semua kalimat dalam bentuk pasif yang terdapat dalam pelajaran ini, dan tunjukkanlah نَائِبُ الْفَاعِلِ pada setiap kalimat tersebut.
-
Latihan pengucapan: Guru bertanya kepada setiap siswa: ؟ فِي أَيِّ عَامٍ وُلِدْتَ ('Pada tahun berapa anda lahir?')<sup>17</sup> dan para siswa menjawab :
وُلِدْتُ عَامَ ... لِلْهِجْرَةِ/ لِلْمِيلَادِ
-
Gunakanlah يَا sebelum nama-nama berikut.
-
Tulislah bentuk mansub setiap isim berikut ini.
-
Tunjukkanlah semua bentuk mansub yang terdapat dalam pelajaran utama.
-
Pelajarilah penggunaan يَسْتَطِيعُ , yang berarti 'dia bisa/dapat'.
-
Pelajarilah kata صَلَّى 'dia mengerjakan shalat'.
-
Pelajarilah nama-nama bulan dalam Bahasa Arab.
-
Pelajarilah penggunaan إِمَّا ... وَإِمَّا berarti 'bisa ... atau'.
-
Apa arti الْحَرْبُ الْعَالَمِيَّةُ الْأُولَى / الثَّانِيَـةُ ? Kapan الْحَرْبُ (berbentuk) mudzakar atau muannats? Bagaimana anda dapat mengetahui gender dari kata tersebut?
-
Tulislah bentuk mudhari dari setiap kata berikut ini.
-
Tulislah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
-
Gunakanlah setiap kata berikut ke dalam kalimat.
-
Pelajarilah i'rab ثَلَاثُمِائَـةٍ sampai تِسْعُمِائَـةٍ kemudian bacalah angka-angka pada kalimat berikut dengan benar.
-
Pelajarilah bentuk isim jamak jenis (اِسْمُ الْجِنْسِ الْجَمْعِيُّ).
[Decorative border pattern]
<sup>17</sup> Kata وُلِدْتَ diucapkan وُلِـتَ karena asimilasi dari د dan ت .
Pada bagian ini kita memelajari:
- اِسْمُ الْفَاعِل (Isim fa'il): Dalam Bahasa Indonesia, orang yang membaca disebut 'pembaca' dan orang yang menulis disebut 'penulis'. Dalam Bahasa Arab isim dengan pola fa-il-un (فَاعِلٌ) diperoleh dari fi'il untuk menunjukkan orang yang melakukan pekerjaan. Contoh:
'Dia menulis' كَتَبَ : 'Penulis' كَاتِبٌ ; 'Dia mencuri' سَرَقَ : 'Pencuri' سَارِقٌ ; 'Dia menyembah' عَبَدَ : 'Penyembah' عَابِدٌ ; 'Dia menciptakan' خَلَقَ : 'Pencipta' خَالِقٌ .
Dalam Al-Qur'an (6:95) ﴿إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى﴾ "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan."
- اسم المفعول (isim maf'ul = obyek penderita): Ini adalah isim dengan pola maf'ûl-un (مَفْعُولٌ)<sup>18</sup> diperoleh dari fi'il untuk menunjukkan sesuatu yang dikenai pekerjaan. Contoh: 'Dia membunuh' قَتَلَ : 'orang yang (telah) dibunuh' مَقْتُولٌ ; 'dia menciptakan' خَلَقَ : 'dia/sesuatu yang diciptakan' مَخْلُوقٌ ; 'dia senang' سَرَّ : 'dia yang (dibuat) senang' مَسْرُورٌ ; 'dia mematahkan' كَسَرَ : 'dia/sesuatu yang dipatahkan' : مَكْسُورٌ .
Nabi ﷺ bersabda: لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Pencipta (Allah)"
- 'Saya tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan' مَا أَنَا بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُ . مَا disini disebut مَا الْحِجَازِيَّةُ (mâ hijâzî) dan bertindak seperti لَيْسَ. Digunakan dalam jumlah ismiyah, dan setelahnya khabar berubah menjadi manshub. Khabar juga dapat menggunakan tambahan 'ba' (بِـ) yang menjadikannya berbentuk majrur. Contoh:
مَا الْبَيْتُ بِجَدِيدٍ / مَا الْبَيْتُ جَدِيدًا : الْبَيْتُ جَدِيدٌ sebagaimana kita katakan,
لَيْسَ الْبَيْتُ بِجَدِيدٍ / لَيْسَ الْبَيْتُ جَدِيدًا
<sup>18</sup> Pola ini dapat ditampilkan dengan pola ma12ûl-un, yakni tambahan ma dilekatkan pada huruf pertama fi'il dan huruf kedua diikuti û yang panjang (nomor 1 untuk ف, 2 untuk ع, 3 untuk ل -pent.)
Terdapat di dalam Al-Qur'an (12:31) ﴿مَا هَـٰذَا بَشَرًا﴾ "ini bukanlah manusia".
Disini khabar berbentuk manshub. Kita juga memiliki contoh khabar dengan ba (بِـ) misalnya dalam QS 2:74 ﴿ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴾ "Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Pelajarilah pembentukan اِسْمُ الْفَاعِلِ
- Buatlah isim fa'il dari setiap fi'il berikut.
- Buatlah garis di bawah أَسْمَاءُ الْفَاعِلِينَ <sup>19</sup> pada kalimat berikut.
- Pelajarilah pembentukan اسم المَفْعُول .
- Bentuklah اسم المَفْعُول dari setiap fi'il berikut.
- Buatlah satu garis di bawah أَسْمَاءُ الْفَاعِلِينَ dan dua garis di bawah أَسْمَاءُ الْمَفْعُولِينَ pada kalimat berikut.
- Pelajarilah penggunaan kata اِشْتَرَى (dia telah membeli).
- Pelajarilah ma hijâzi, kemudian tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan ma hijâzi, sebagaimana yang ditunjukkan di dalam contoh.
- Tulislah bentuk mudhari dari setiap fi'il berikut.
- Tulislah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
[decorative ornamental divider]
<sup>19</sup> Bentuk jamak dari اسم الفاعل adalah أَسْمَاءُ الْفَاعِلِينَ
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3



